Posted in Novel

YOU’RE THE INSPIRATION (part 14)

“Hai,”sapa Anton sambil duduk di sebelah Rini.

Tepat jam enam kurang sepuluh ia tiba di aula.  Namun rupanya Rini lebih dulu tiba.  Gadis itu segera menoleh dan tersenyum malu-malu.  Jemarinya terus bergerak mengalunkan sebuah lagu klasik bertempo sedang.

Usai satu lagu, Anton bertepuk tangan.  Seperti biasa, permainan piano Rini selalu dapat membuatnya terkesan.

 “Tuan putri, maukah kau memainkan sebuah lagu untukku?”pinta Anton dengan gaya bercanda.

Rini menganggukkan kepalanya.

“Lagu apa?”

 “I Saw Her Standing There-nya The Beatles.  Kamu pasti tahu kan?”

Anton menangkap keraguan di wajah gadis itu.

 “Ayolah, please…. Sekali-sekali kamu perlu memainkan jenis lagu seperti itu.  Jangan lagu sedih terus, dong,”bujuk Anton.

Sejurus kemudian terdengar lagu  bernada gembira hasil karya The Beatles tersebut berkumandang melalui dentingan piano.  Awalnya terdengar kaku, namun lama-lama Rini mulai tampak rileks dan bisa memainkan lagu tersebut dengan nyaris sempurna.   Ketika refrain, Anton ikut bernyanyi.

Selesai lagu tersebut, mereka berdua saling berpandangan.  Sorot mata Rini tidak dapat menyembunyikan keriangan di hatinya. Tampak jelas ia begitu menikmati suasana gembira yang tercipta.

“Ternyata kamu tidak hanya pandai memainkan lagu-lagu sedih saja,”puji Anton yang disambut dengan senyuman Rini.

 “Rini, Sabtu besok, pulang sekolah, aku ke rumahmu ya,”pinta Anton di akhir pertemuan mereka.

Rini mengangguk.  Sinar matanya tampak semakin menghangat.

Setelah itu bel tanda masuk berdentang dan mereka berdua pun jalan sendiri-sendiri menuju ruang kelas mereka.

Rini kembali menjalani kesendiriannya di kelas, sedangkan Anton kembali berkumpul dan bercanda riang dengan teman-temannya.  Namun di dalam kelas, berulang kali Anton mencuri pandang ke arah Rini.  Beberapa kali mereka saling bertemu pandang, lalu diam-diam Anton menyunggingkan senyumnya. Rini pun, walau malu-malu, memberikan balasan yang sama.

“Sabtu besok anak-anak baru akan mengadakan latihan fisik.  Kau jangan sampai tidak datang, ya,”sebelum pulang sekolah Ino mengingatkan  Anton sekaligus menyindir karena ia tidak menghadiri latihan Sabtu lalu.

 “Aku tidak bisa,”jawab Anton.

   “Kenapa?”

“Eeeh….Sabtu besok keluargaku datang dari Jakarta,” Anton merasa hidungnya bertambah panjang seperti Pinokio.  Ia telah berbohong pada sahabatnya sendiri.

“Apa kau tidak bisa meninggalkan ayah atau ibumu sebentar saja,”Ino tampak kecewa.

Anton memandang Ino dengan tatapan menyesal.

“Sori, No.  Hari Minggu pagi mereka sudah harus pulang.  Jadi Sabtu sore kami harus bertemu.”

Ino mengangkat bahu.

“Ya sudah.  Tapi hari Minggu kau datang ke rumah Sandra, kan?”

Anton menepuk dahinya.  Ia baru ingat kalau hari Minggu besok, Sandra, anak kelas 3 sosial hendak mengadakan pesta kebun untuk merayakan hari ulang tahunnya bersama teman-teman dekatnya, termasuk Anton dan Ino yang sering bertemu dengannya di beberapa kegiatan sekolah.

 “Teman-teman Sandra oke-oke, lho.  Beberapa di antaranya kurasa sesuai dengan seleramu,”Ino berbisik di telinga Anton.

 “Kalau begitu, kau saja yang mendekati mereka.  Siapa tahu nyambung,”sahut Anton acuh tak acuh.  Entah kenapa ia sedikit pun tidak berminat bertemu dengan cewek-cewek cantik yang disebut Ino.

Ino langsung terbelalak.

“Hey, tumben.  Sejak kapan kau tidak tertarik pada wanita cantik?” Ino tampak penasaran.

“Tidak.  Aku hanya ingin serius belajar dan tidak mau berhubungan dengan wanita dulu,”jawab Anton pendek sambil memalingkan wajahnya.  Ia tidak mau Ino melihat kebohongan di dalam matanya.

-Tidak mau berhubungan dengan wanita?  Kalau begitu, siapa Rini?    Apa yang kau inginkan dari gadis itu?  Kenapa kau mendekatinya? Sungguhkah hanya sebuah pertemanan?- pertanyaan ini berulang kali menggema di hati Anton.  Namun saat ini ia belum dapat menentukan jawabannya.

snowwhite

Sumber gambar : http://wallpapercave.com/snow-white-wallpapers

Advertisements
Posted in Novel

YOU’RE THE INSPIRATION (part 13)

Sudah empat hari berlalu semenjak kedatangan Anton ke rumah Rini.  Dan itu artinya, sudah empat malam Anton sulit tidur karena bayang-bayang gadis itu tidak pernah mau pergi dari kepalanya. Semua yang dialaminya bersama gadis itu, terutama ketika Anton bermain ke rumahnya, sangat berkesan bagi Anton.  Dan kini ia begitu merindukan saat-saat seperti itu dapat terulang kembali.   Namun ia tidak tahu bagaimana caranya dapat kontak lagi dengan Rini.

Sebenarnya, sejak kemarin  Anton selalu datang cepat ke sekolah dan menunggu Rini di aula.  Namun ia harus gigit jari karena Rini sama sekali tidak muncul.   Dan Anton benar-benar dibuat senewen karenanya.

Ia tidak tahu nomor telpon Rini.  Sedangkan untuk menegur gadis itu di kelas, Anton sama sekali tidak berani.  Ia malu pada teman-temannya.  Di dalam kelas, Anton hanya berani memandangi Rini dari kejauhan dan berharap akan ada keajaiban hingga ia bisa berhubungan kembali dengan gadis itu.

  “Heh, kerjain yang benar ya, nanti aku nyontek,”bisikan Ino yang duduk di dekatnya menyadarkan Anton dari lamunannya.

Anton membuka kertas ulangan geometri yang baru saja dibagikan di atas mejanya.  Di  depan kelas tampak Pak Dawud, guru geometri tengah duduk di meja guru sambil mengawasi murid-muridnya mengerjakan soal-soal ulangan yang ia berikan.  Matanya sangat tajam, seolah-olah siap menerkam siapa saja yang berani menyontek atau membuka buku.

Anton menggaruk-garukkan kepalanya.  Ia mulai mengerjakan soal-soal ulangan satu demi satu.  Tadi malam ia sudah berusaha keras untuk belajar, namun ia sulit untuk berkonsentrasi sehingga sekarang pun ia kesulitan untuk mengerjakan soal-soal tersebut.  Dalam hati ia menyumpah-nyumpah, bagaimana mungkin dengan soal sesulit ini mereka hanya diberi waktu 1 jam untuk mengerjakannya.

Anton berhenti mengerjakan soal ketika didengarnya teman-temannya ribut.  Rupanya mereka sedang terheran-heran bercampur takjub.  Tidak sampai 40 menit, Rini telah menyelesaikan ulangannya dan menyerahkannya lembaran kertas ulangan pada Pak Dawud sebelum ia ke luar kelas.

“Gile!  Si Snow Black memang jenius,”komentar Hari yang duduk tidak jauh dari Anton.

“Ya, karena terlalu jenius sampai sulit menatap mata orang lain!”timpal Leo, yang diikuti cekikikan teman-teman sekelas lainnya.

Rini tampak tidak peduli mendengar celetukan-celetukan usil yang ditujukan padanya.  Ia melangkah ke luar kelas dengan wajah tanpa ekspresi.

Melihat Rini berjalan sendirian dan suasana di luar kelas begitu sepi siang itu, tiba-tiba Anton seperti melihat sebuah celah.  Setelah memantapkan hatinya, Anton pun maju ke depan kelas.

“Mau ke mana?”tanya pak Dawud dengan pandangan menyelidik.

“Ini Pak, eee….saya kebelet,”jawab Anton gugup. Tangannya memegang perutnya seolah-olah sedang menahan untuk ke belakang.

“Bohong Pak, dia mau nyontek, Pak!”

“Iya, Pak.  Jangan  boleh ke belakang, Pak!” teriakan teman-teman sekelasnya bersahut-sahutan memekakkan telinga Anton..

Anton melotot pada teman-temannya namun mereka malah semakin seru menggodanya.

Pak Dawud memukul-mukul meja di depannya beberapa kali dengan raut wajah marah.

“Hey, kalian ini anak-anak TK atau SMA?”seru Pak Dawud.

Suasana kelas sontak menjadi hening.  Siapa yang tidak kenal Pak Dawud, guru paling sadis di sekolah itu.

Pak Dawud melihat ke arah Anton, “Kamu boleh ke kamar mandi.  Tapi jangan lama-lama, ya!  Dan kalau sampai ketahuan kamu menyontek…. Tidak ada ampun.  Mengerti?”

Anton mengangguk dan  dengan senyum kemenangan ia pun pergi keluar kelas.   Anton berjalan cepat mencari jejak Rini.  Dan seperti yang sudah ia duga,  Rini tampak sedang membaca buku di perpustakaan sekolah.

Perpustakaan siang itu sepi, sehingga Anton pun memberanikan diri mendekati Rini dan berdiri di dekat gadis itu.  Rini tampak terkejut melihat kehadiran Anton.

“Kapan main piano di aula lagi?”tanya Anton cepat.

“Eh…aku tidak tahu,”sahut Rini.

“Bagaimana kalau besok pagi. Kamu bisa kan?Please….”pinta Anton terburu-buru.

Rini mengangguk dengan wajah bingung.

Anton tersenyum senang lalu pamit pada Rini.  Ia cepat-cepat berjalan ke luar dari perpustakaan dan kembali ke kelasnya.

Hatinya berbunga-bunga.  Ia merasa senang sekali.  Dengan semangat ia mengerjakan soal-soal geometri yang belum ia selesaikan.  Entah kenapa, tiba-tiba otaknya menjadi begitu encer dan soal-soal di hadapannya menjadi begitu mudah.  Ia pun dapat menyelesaikannya dengan cepat.

aiss-picture

Picture by Aisyah Diah Larasati

Posted in Novel

YOU’RE THE INSPIRATION (part 12)

“Apakah rasanya kurang enak?”tanya kakek sambil menghabiskan makanan di piringnya dengan lahap.

Anton segera tersadar dari lamunannya dan pelan-pelan menyantap hidangan di depannya. Kalau tidak ingat kakek telah susah payah memasak untuknya, ingin rasanya ia berhenti makan. Malam ini ia benar-benar merasa tidak lapar.

“Bagaimana di sekolah tadi?”kakek bertanya lagi.

“Ya, seperti biasanya.”

Kakek berhenti makan lalu memandang Anton dengan sorot tidak percaya.

“Sungguhkah?”suara bariton kakek terdengar pelan dan menyelidik.  Seperti biasa, perasaan lelaki tua itu sangat peka dan selalu saja dapat menangkap kegundahan di hatinya.

Anton meletakkan sendok dan garpunya lalu  menarik nafas dalam.

“Kakek ……….,”Anton merasa ragu melanjutkan ucapannya. Namun sorot mata kakeknya yang begitu bersahabat membuat keraguannya memudar.

“Saya mempunyai teman sekelas, perempuan.  Dia sangat tertutup, pendiam dan senang menyendiri, sama sekali tidak mempunyai teman.  Teman-teman sering mengejeknya dan menjulukinya Snow Black.“

“Hm…lalu….?”

“Ayah ibunya bercerai. Gosip yang beredar katanya perceraian mereka karena ibunya kawin lari dengan seorang bule.  Tiga tahun yang lalu, kakak satu-satunya yang sangat dekat dengannya meninggal dunia.  Kabarnya ia tewas karena overdosis.”

“Sekarang dia tinggal dengan siapa?”

“Dia tinggal di sebuah rumah yang sangat besar dengan beberapa orang pembantunya.  Ayahnya tinggal di Jakarta dan hanya sesekali menengoknya.”

 Anton menghentikan ceritanya dan merenung seperti memikirkan sesuatu.

“Apa yang ingin kau tanyakan?”sela kakek.

“Bagaimana dia bisa bertahan menjalani kehidupan yang seperti itu?  Mengapa ia kelihatan bukan seperti orang yang sedang menanggung beban berat?  Mengapa ia seperti tidak membutuhkan siapa pun?”

Anton menarik nafas sebentar sebelum melanjutkan ucapannya.

“Apa yang sebenarnya ia rasakan?  Apa yang ada dalam hatinya?”

 “Mengapa tidak kau tanyakan sendiri padanya?”kakek balik bertanya.

“Dia sangat acuh, dingin dan nyaris tidak pernah menatap ataupun membalas sapaan teman-temannya.  Sikapnya itu membuat kami malas berhubungan dengannya. Tapi anehnya…”

Tiba-tiba bayangan wajah Rini berkelebat di kepala Anton. Anton tidak dapat melupakan kejadian siang tadi, ketika gadis itu menitikkan air mata dan kelihatan begitu sedih  di hadapannya.  Sungguh kontras dengan sikapnya sehari-hari yang begitu acuh tak acuh dan seperti tidak membutuhkan siapa pun.

“Ada yang ingin kau ceritakan?”kakek memandang Anton lembut.

Akhirnya Anton menceritakan seluruh pengalamannya bersama Rini.  Sejak ia marah pada gadis itu karena menolak berpartisipasi menjadi anggota cepat tepat hingga kejadian selama ia main di rumah Rini.

Sosok Rini sangat unik sekaligus membingungkan bagi Anton.  Suatu waktu ia nampak seperti wanita berhati baja yang seolah-olah bisa meng-handle segala masalahnya seorang diri. Namun di lain waktu ia nampak begitu ringkih dan tidak berdaya, membuat orang yang berada di dekatnya ingin memeluk serta menentramkannya.

Pelan-pelan Anton mengangkat kepalanya lalu menatap kakek dengan wajah penuh ingin tahu.

“Menurut kakek, dia orangnya seperti apa?”

Kakek tidak langsung menjawab dan berpikir sejenak.

 “Sepertinya dia tidak jauh berbeda dibandingkan gadis remaja lain yang seusia dengannya,” komentar kakek.

Anton membelakkan matanya.

“Kenapa kakek berpendapat seperti itu?  Jelas-jelas dia sangat berbeda….”

“Dia juga punya perasaan seperti kalian semua.  Dia juga butuh kehadiran seorang teman, butuh untuk diperhatikan, didengarkan dan dimengerti. ”

 “Kalau begitu, mengapa ia malah menutup diri dari teman-temannya?”

 “Menurutmu apa yang harus ia lakukan?”

“Seandainya saja ia mau bersikap lebih ramah dan terbuka, tentu akan banyak teman yang bersimpati padanya.  Mereka pun pasti tidak akan pernah mengejek atau menertawakannya.”

“Bagaimana kalau ia tidak bisa?”

“Mengapa ia tidak bisa?”

“Tidak semua orang mampu mengungkapkan apa yang mereka rasakan. “

“Tapi sikapnya itu membuat orang jadi salah paham  padanya.”

Kakek tersenyum dan menatap Anton dalam.

“Bagaimana ia bisa berbagi rasa dengan orang-orang yang tidak pernah bersikap tulus dan selalu berprasangka buruk padanya? Apa reaksi kalian setelah mendengar gosip-gosip miring tentang keluarganya?  Apa kalian harus menunggu ia bersikap ramah terlebih dahulu baru bisa  merasakan kesedihannya?”

Anton memandang kakek dengan bingung.

“Saya tidak mengerti….”

Kakek menepuk-nepuk bahu Anton.

“Kau tidak akan pernah mengerti kalau kau tidak berusaha untuk mengerti.  Tetapi ketidakmengertianmu bukanlah alasan sehingga kau bisa berprasangka buruk padanya.”

“Saya ingin berteman dengannya.  Apa yang harus saya lakukan?”

“Bersikaplah tulus padanya.  Biarkan semua berjalan seperti air yang mengalir.  Bila ia merasa nyaman, tanpa dipaksa pun, ia akan bercerita banyak padamu.”

Anton tercenung.  Ucapan-ucapan kakek begitu mengena di hatinya.  Sepertinya kakek benar.

Sejurus kemudian kakek menatap Anton dengan pandangan menyelidik.

“Apakah kau menyukainya?”

Wajah Anton langsung memerah.  Ia tidak menduga akan langsung ditembak seperti itu.

“Tidak, saya hanya kasihan sama dia.  Tidak lebih.”

Melihat Anton gelagapan seperti itu, kakek terkekeh.  Beliau meneguk minuman di depannya lalu menatap Anton dengan tatapan penuh arti.

 “Sungguh?”

Anton mengangguk mantap.  Ia tidak pernah bermimpi sekali pun memiliki pacar berpenampilan tidak menarik dan sama sekali tidak mempunyai teman seperti Rini.  Apa kata teman-temannya nanti.

Di mata teman-temannya, Rini hanya memiliki 2 buah kelebihan, yaitu otaknya yang encer dan hartanya yang melimpah.  Selebihnya, Rini adalah gadis yang sama sekali tidak menarik, membosankan dan bahkan beberapa temannya menyebut gadis itu menyeramkan.  Jika ia sampai mempunyai hubungan khusus dengan putri konglomerat tersebut, ia pasti akan ditertawakan dan bukannya tidak mungkin mereka malah akan mencurigai  serta berpandangan miring terhadapnya. Seolah-olah ia hanya memanfaatkan kekayaan dan kepintaran gadis itu saja.  Tentu saja Anton tidak mau hal itu terjadi.

Kakek berdiri dan mengangkat piring-piring di atas meja.

“Kek, tadi pagi saya tidak melihat Daniel.”

“Tante Ledya hari ini cuti kerja.  Sejak pagi Daniel bermain dengan ibunya.”

“Kek, apa tante Ledya pernah membawa Daniel ke psikiater?”

“Ehm…sepertinya belum pernah.  Kenapa?”

“Ah, tidak.  Hanya ingin tahu.”

Posted in Novel

YOU’RE THE INSPIRATION (part 11)

“Silakan masuk, Mas Anton,”Pak Hari  membukakan pintu mobil.  Lelaki tegap berusia sekitar 40 tahun itu tersenyum ramah padanya.

Sejenak Anton tertegun mengamati interior mobil.  Ia sungguh-sungguh merasa takjub.  Ia pernah beberapa kali menaiki mobil teman-temannya yang berasal dari kalangan berada, namun tidak ada satu pun yang memiliki mobil semewah ini.  Tampak Rini telah menunggunya di dalam mobil.

Anton memandang ke arah Rini, wajahnya menunjukkan kekaguman.

“Mobilmu bagus sekali.  Kamu sungguh-sungguh beruntung,”pujinya tulus.

Rini tidak menyahut.  Wajahnya tetap tanpa ekspresi.

Pak Hari menyalakan mesin mobil dan mereka pun meluncur pergi menuju rumah Rini.

Di tengah rintikan hujan, mobil terus melaju ke arah utara kota Bandung.  Mereka sudah lebih dari setengah jam perjalanan, hingga akhirnya tiba di sebuah kompleks perumahan mewah.

Mobil berhenti tepat di depan sebuah rumah besar berpagar putih.  Seorang satpam membukakan pintu pagar dan Pak Hari melajukan mobil hingga ke halaman rumahnya yang luas.

Anton berjalan beriringan dengan Rini yang mengajaknya masuk ke dalam rumah bercat putih gading dan bertingkat tiga..

Bagian dalam rumah Rini sangat megah.  Langit-langit rumahnya tinggi, dihiasi lampu-lampu kristal.  Sofa, karpet dan segala barang serta hiasan yang terdapat di dalamnya terlihat sangat berkelas dan harganya pasti sangat mahal.

“Betul-betul seperti istana,”gumam Anton takjub.

Seorang wanita tua  muncul di hadapan mereka dan dengan hormat mengambil  tas Rini seraya menanyakan apa saja yang harus disiapkan.  Logat Jawanya sangat kental.  Rini memanggilnya bibi dan  berbicara sebentar dengan pembantunya itu, lalu mengajak Anton menaiki tangga.  Di dinding dekat tangga ada bingkai foto besar bergambar foto Rini berdua dengan ayahnya.

“Kamu tinggal dengan siapa saja di rumah ini?”tanya Anton.

“Bersama  beberapa orang pembantu.  Ayahku kadang-kadang menginap di sini.”

“Ada berapa pembantu di rumahmu?”.

“Enam orang.”

 “Oya?  Banyak sekali.  Apa saja tugas mereka?”

“Satu orang sebagai kepala rumah tangga, satu orang juru masak, 3 orang pembersih rumah dan 1 orang tukang kebun.“

 Rini melihat ke arah Anton.

 “Ada berapa pembantu di rumahmu?” Rini balik bertanya.

“Tidak ada,”Anton tertawa kecil.  “Aku mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri.”

Di tingkat dua mereka memasuki sebuah ruangan besar yang berisi lemari-lemari tinggi.  Beratus-ratus buku tertata rapi di dalam lemari itu.  Di setiap lemari ditempel kertas-kertas yang menginformasikan jenis-jenis buku yang tersedia.  Ruangan itu berhubungan dengan sebuah ruangan yang lebih kecil di sebelahnya, yang berisi ratusan atau mungkin ribuan kaset serta piringan hitam yang tertata rapi di raknya masing-masing.   Di sana juga ada sebuah piano, keyboard, radio tape  dan komputer.  Mereka berjalan ke ruangan kecil tersebut.

“Ini ruang musik,”Rini menjelaskan.

“Ini pasti ruangan favoritmu!”tebak Anton.

Rini tersenyum kecil .

“Apakah sampai sekarang kamu masih suka menciptakan lagu?” Anton bertanya sambil memencet tuts piano.

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Tidak ada inspirasi,”jawab Rini cepat.  Setelah itu ia pun pamit untuk berganti pakaian.

Anton keluar menuju balkon yang menghadap ke halaman belakang.  Badannya menggigil menahan dingin.  Rumah Rini yang terletak di daerah atas kota Bandung serta cuaca mendung, membuat suhu udara menjadi begitu rendah.

Ia mengamati ke bawah dan terkagum-kagum melihatnya.  Tampak sebuah kolam renang besar, dikelilingi rerumputan serta beberapa pohon dan tanaman bunga.  Bagaikan sebuah telaga di tengah hutan kecil yang indah.

Anton masuk lagi ke ruangan perpustakaan dan mencari lemari yang berisi kumpulan cerita bergambar. Ia menemukannya dan mulai mengamati buku yang ada satu persatu.  Koleksi cergam Rini ternyata cukup lengkap, rata-rata memakai bahasa Inggris.  Rini rupanya sangat menggemari cerita-cerita dongeng.  Ada satu rak khusus yang memuat kisah-kisah  dongeng dari dalam maupun luar negeri.  Satu cerita yang sama bisa tersedia dalam beberapa versi  maupun bahasa, yaitu Inggris, Indonesia dan Jerman.

Tiba-tiba mata Anton tertumbuk pada sebuah bingkai foto yang entah sengaja atau tidak, diletakkan di antara  kumpulan buku-buku dongeng tersebut.  Ia mengambil bingkai foto tersebut dan memperhatikan foto di dalamnya.  Ternyata foto Rini ketika masih kecil dan seorang lelaki muda yang sedang merangkulnya.  Tanggal di foto tersebut menunjukkan bahwa foto itu diambil 5 tahun yang lalu.  Rambut Rini sebahu terurai, tidak menggunakan kaca mata dan sedang tersenyum.  Pria yang bersamanya kelihatannya berusia sekitar 20 tahunan.  Rambutnya agak gondrong.  Di telinga kirinya terpasang anting.   Wajahnya agak mirip dengan Rini, tetapi kulitnya putih.

Terdengar pintu terbuka dan seorang wanita tua, yang tadi dipanggil bibi oleh Rini, memasuki ruangan sambil membawa dua cangkir teh beserta beberapa toples kue.  Ia meletakkannya di atas meja lalu melihat ke arah Anton.

“Silakan diminum, Den,”ujar wanita itu penuh hormat.

Anton tersenyum seraya mengucapkan terima kasih.

 “Bibi, ini foto siapa, ya?” Anton menunjukkan foto yang baru saja ia temukan.

   Wanita itu tampak terkejut melihatnya.  Ada ketakutan di wajahya.

“Di mana Aden  menemukan foto ini?  Kalau tuan besar tahu, pasti marah,”bisiknya.

 “Memangnya lelaki di foto ini siapa?”tanya Anton heran.

Wanita itu melihat ke kiri dan kanan, seolah-olah takut bila ada yang mendengarkan.

 “Itu Den Armand, kakaknya Non Rini.  Dia sudah meninggal 3 tahun yang lalu.”

“Kenapa Pak Heru marah bila melihat foto ini?”

Bibi itu terdiam sejenak, menghela nafasnya.

“Sejak Den Armand meninggal, Tuan besar minta semua fotonya dan barang-barangnya disimpan di gudang.  Tidak ada yang boleh ketinggalan,”tuturnya pelan.

“Kenapa?”

“Karena tuan besar tidak ingin Non Rini mengingat kakaknya lagi,”wajah bibi itu terlihat sedih.”Non Rini sangat sedih sejak kakaknya pergi.”

“Apakah Rini sangat dekat dengan kakaknya?”

Bibi itu mengangguk.

“Den Armand sangat menyayangi dan melindungi adiknya.  Sayang….” Bibi itu tidak melanjutkan ucapannya. Ia melihat Rini muncul dari balik pintu, sehingga ia pun segera pamit pergi.

Sore itu Rini mengenakan kaus berkerah berwarna biru muda dan celana hitam.  Ia berjalan mendekati Anton dan berhenti tepat di depan rak buku di mana Anton sedang berdiri.  Gadis itu mengamati buku-buku di dalam rak tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

“Buku ini memuat  salah satu cerita favorit saya,” Anton berusaha memecahkan kesunyian sambil menunjukkan buku yang berjudul “Hans Christian Andersen Fairy Tales”, yang merupakan kumpulan cerita dongeng karya penulis kenamaan H.C. Andersen.

Rini tidak menyahut.  Namun sorot matanya menunjukkan kalau ia tertarik dengan pembicaraan Anton.

 “Kamu tahu kisah Puteri Sejati?” Anton melanjutkan ucapannya.

Rini mengangguk.  Ia mengingatnya.  Itu kisah tentang seorang pangeran yang mencari putri sejati untuk dijadikan istrinya.  Ia mencari ke mana-mana, namun tidak dapat menemukannya.  Suatu hari, di tengah hujan lebat ada seorang wanita  datang padanya, badannya penuh lumpur, namun wajahnya cantik sekali.   Sang ratu, ibunda pangeran, yakin bahwa wanita ini adalah putri sejati yang selama ini dicari pangeran.  Beliau menguji wanita itu dengan cara menaruh sebutir kapri di bawah tempat tidurnya, bahkan kasur itu ditumpuk hingga 20 kasur dan 20 seprei.  Esoknya wanita tersebut mengeluh tidak bisa tidur karena badannya terasa sakit  dan memar.  Ratu pun yakin kalau ia telah menemukan wanita sejati yang diinginkan putranya, yaitu wanita yang perasaannya sangat peka. Akhirnya sang pangeran menikahi wanita itu.

“Pertama kali saya membaca cerita itu pada waktu kelas 4 SD.  Saya sangat terkesan membacanya   Saat itu saya sedang naksir teman sekelas yang rumahnya tidak jauh dari rumah saya.  Sewaktu bermain ke rumahnya, diam-diam saya menaruh sebutir kapri dibawah kasur tempat tidurnya   Esok harinya ketika bertemu dia di sekolah,  saya bertanya, ‘Apakah tidurmu nyenyak semalam?’   Lalu………….”  Anton berhenti bercerita dan tersenyum-senyum sendiri.

“Lalu………..?” sela Rini ingin tahu.

“Lalu,….. dia menjawab bahwa tidurnya sangat nyenyak.  Dan sejak saat itu saya tidak pernah memikirkan gadis itu lagi.”

Rini tertawa geli hingga giginya terlihat.  Anton tertegun memandangnya.   Ia merasa sangat terpesona.   Ini pertama kalinya ia melihat Rini tertawa.  Dan bila tertawa, Rini ternyata sangat manis.

Gadis itu menghentikan tawanya ketika menyadari Anton tengah memperhatikannya.  Pipinya bersemu merah dan terlihat gugup.  Selama beberapa saat mereka berdua saling berpandangan.  Anton merasakan getaran-getaran halus di sekujur tubuhnya.  Ia seperti tersihir melihat keindahan di depan matanya.  Keindahan yang selama ini tersembunyi.

Beberapa saat kemudian Rini menundukkan kepalanya dan menghindari tatapan Anton.  Dengan wajah tersipu, ia mengajak Anton ke bawah untuk menyantap makan siang yang telah disediakan.  Anton pun  mengikuti langkah gadis itu menuju meja makan dan berjalan di belakangnya.

 Di meja makan telah tersedia berbagai macam hidangan.  Rini pun mempersilakan Anton untuk memulai makan siangnya.

Sambil menyantap makan siang, sesekali Anton mencuri pandang ke arah Rini.  Wajah dingin gadis itu sudah semakin mencair.   Sorot matanya pun mulai menunjukkan kehangatan.  Walaupun masih belum dapat berbicara panjang lebar, namun Rini sudah lebih sering tersenyum dan menatapnya.  Anton sangat senang melihatnya.

“Rini …. Boleh aku menanyakan sesuatu?” tiba-tiba Anton teringat  pembicaraannya dengan bibi tadi dan ia merasa penasaran.

 Rini menatap Anton.  Sorot matanya mengisyaratkan bahwa ia tidak keberatan.

Anton menarik nafas sebentar.  Ia sadar bahwa ia  telah mulai memasuki wilayah yang sensitif dan harus berhati-hati.

 “Apakah kakakmu, eee……siapa namanya…?”

  “Mas Armand”

 “Ya, mas Armand.  Apakah ia suka bermain piano seperti dirimu?”

  “Tidak.”

Anton memperhatikan wajah gadis itu.  Rini tampak biasa-biasa saja, tidak terlihat kaget atau sedih dengan pertanyaannya tadi.

“Apakah mas Armand senang mendengarkan permainan pianomu?”

 “Ya…”

“Rini, sedekat apa dirimu dengan mas Armand?”Anton bertanya lembut.  “Kenapa kamu terlihat begitu sedih?”

Raut wajah Rini mulai berubah.  Sepertinya ia tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu.  Anton pun menyadarinya.

“Maaf, saya terlalu lancang.  Kamu tidak usah menjawab kalau tidak mau……..” Anton menatap Rini dengan perasaan bersalah.

Rini menggeleng pelan.

“Tidak apa-apa,” ujarnya lirih.

Rini termenung seperti sedang mengenang sesuatu.  Ada senyuman kecil di bibirnya.

 “Mas Armand lebih tua 12 tahun dariku …dia menyukai lagu-lagu The Beatles. ”

Anton mendengarkan dengan penuh perhatian.

“Semua orang menganggap  dirinya brengsek.  Tapi………bagiku…….dia adalah seorang pangeran,” mata Rini menerawang jauh.  Terlihat kerinduan di dalamnya.

“Waktu itu kami masih tinggal di Jakarta.  Suatu hari papa dan mama bertengkar hebat.  Aku ketakutan dan  menangis sendirian,” Rini berhenti sejenak.  Sepertinya ia sulit untuk meneruskan kata-katanya.

 “Mas Armand sedang merayakan tahun baru bersama teman-temannya di Puncak.  Tengah malam ia menelpon hendak mengucapkan selamat tahun baru padaku.  Ia bertanya mengapa aku menangis………… .”

“Lalu…….”Anton begitu penasaran ingin mendengar lebih lanjut.

“Setelah mendengar jawabanku, malam itu juga ia pulang.  Sesampainya di rumah ia langsung memelukku.  Seharian ia menemani dan menghiburku. Ia mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.”

Rini menghentikan ceritanya.  Tiba-tiba ia merasakan kerinduan yang amat sangat.  Dadanya terasa sesak.   Kapan lagi ia dapat merasakan hangatnya pelukan kakaknya itu?  Kapan lagi  bisa memegang tangannya, mendengar suaranya, melihat senyumnya….? Di mana ia dapat menemuinya…? Ada di mana mas Armand sekarang?  Apakah ia baik-baik saja?  Kenapa ia pergi?

Mata Rini berkaca-kaca dan setetes air mata mengalir.   Begitu banyak yang ia rasakan.  Begitu banyak yang ia pendam.  Dan ia sungguh-sungguh tidak tahu harus bagaimana.  Air matanya terus mengalir.  Setetes demi setetes dan tanpa isakan.  Ia membuka kaca matanya dan menangis dalam diam.

Anton menatap Rini dengan rasa empati yang mendalam.  Ia mulai memahami gadis ini dan  betul-betul bisa merasakan  kesedihannya.

 “Berceritalah terus, Rini.  Aku akan mendengarkan,” bisik Anton.

Rini menggeleng.

“Aku harus melupakannya.  Papa menyuruhku begitu.”

“Kamu tidak mungkin melupakan seseorang yang sangat kamu sayangi.”

Rini menatap Anton selama beberapa saat, lalu menggelengkan kepalanya.  Ia menghapus air mata yang mengalir di pipinya dengan kedua tangannya lalu melanjutkan makannya. Tangisannya berhenti dan wajahnya kembali tanpa ekspresi, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Anton benar-benar bingung melihatnya.

Usai makan, Anton menatap Rini.   Sejak menangis tadi, Rini tidak mengucapkan sepatah kata pun padanya.  Anton jadi tidak enak dan khawatir Rini marah padanya.

“Maaf, tadi aku sudah membuatmu menangis,”ungkap Anton.

“Tidak apa-apa,”jawab Rini lemah.

“Kalau begitu aku pulang dulu.  Terima kasih sudah mau menerima kedatanganku. ”

Rini mengangguk.

Baru berjalan beberapa langkah, Anton membalikkan badannya. Ia ingin melihat wajah Rini sekali lagi. Ternyata Rini pun tengah memandanginya. Sinar mata gadis itu tampak begitu sedih.  Mereka sempat bertatapan selama beberapa detik hingga akhirnya Rini memalingkan wajahnya.  Anton merasa jantungnya berdegup lebih cepat. Entah kenapa, Anton merasa sepertinya di balik sikapnya yang dingin, sebenarnya Rini begitu rapuh dan butuh perlindungan.

“Rini, kalau kau butuh teman untuk bercerita, hubungi aku ya….” ucap Anton tulus.

Rini tersenyum dan mengangguk.  Sinar matanya mengisyaratkan rasa terima kasih.

Sepanjang jalan pulang, Anton sibuk menenangkan hatinya.  Ada perasaan aneh tumbuh di hatinya.  Suatu rasa yang begitu halus, dan begitu menyentuh. Rasa ingin memahami, melindungi dan….. menyayangi.  Perasaan itu sangat tulus, tumbuh perlahan dari sudut hatinya yang paling dalam.

Jakarta, 1 Januari 1986

“Kenapa  mereka sering bertengkar?”

“Mereka sedang berbeda pendapat.”

”Mengapa harus berteriak?  Mengapa piring-piring dipecahkan?  Kita tidak pernah seperti itu bila sedang berbeda pendapat.””

“Kita bukan suami istri. ”

”Kalau begitu, aku tidak mau menikah.”

“Jangan begitu.  Suatu saat kau akan menemukan pangeran pujaanmu dan kalian akan hidup bahagia untuk selamanya.”

“Aku takut.”

“Tidak ada yang perlu kau takutkan.  Semua akan baik-baik saja.”

“Jangan tinggalkan aku.”

“Tidak akan.  Aku sangat menyayangimu.”

flower

Sumber gambar : http://image.desk7.net/Flower%20Wallpapers/11818_1280x800.jpg

Posted in Novel

YOU’RE THE INSPIRATION (part 10)

             snow-white

Sumber gambar : http://www.picswalls.com/pic/snow-white-wallpapers/

 

            Sudah 3 hari berturut-turut, Anton menunggu Rini  di aula setiap pagi. Namun gadis itu tidak pernah muncul.

Anton teringat ucapan Mang Dana, bahwa 2-3 kali seminggu Rini bermain piano di sana.  Anton ingin meminta maaf tetapi tidak mau diketahui teman-teman lainnya.  Ia merasa harga dirinya turun bila teman-temannya melihat ia meminta maaf pada Rini.         “Mencari siapa, Cep?”Mang Dana tiba-tiba muncul di sampingnya.

“Ah, enggak.  Hanya mau melihat-lihat aula saja,”Anton tersipu malu.

“Sudah beberapa hari ini Neng Rini tidak bermain piano di sini,”Mang Dana menatapnya penuh arti.

Anton tersenyum seraya beranjak pergi.  Tiba-tiba ia melihat Rini dari jauh sedang berjalan mendekati aula.  Anton segera berlari ke balik pohon dan bersembunyi.  Ia mengamati Rini yang dengan tenang memasuki ruang aula.  Mang Dana sempat menyapa gadis itu dan dibalasnya dengan sedikit senyum serta anggukan kecil.   Ketika Rini sudah memasuki aula, Anton segera keluar dari persembunyiannya seraya memberi isyarat jari telunjuk di bibirnya pada Mang Dana.  Penjaga sekolah itu tersenyum dan mengangkat ibu jari tangan kanannya ke arah Anton, lalu pergi.

Dari balik pintu terdengar sebuah lagu lembut mengalun.  Terasa asing di telinga Anton.  Entah lagu apa.  Namun hati Anton bergetar mendengarnya.  Ia bisa merasakan sebuah kesedihan terpancar lewat nadanya.   Dirinya seolah-olah sedang berada di  sebuah ruang yang gelap dan tiada berujung.  Anton terhanyut dalam rasa duka, hingga akhirnya ia tersadar ketika lagu itu usai dimainkan.

Anton cepat-cepat memasuki aula ketika Rini sedang bersiap memainkan lagu kedua.  Gadis itu melihat sebentar ke arahnya dengan wajah terkejut, lalu menunduk sambil memandangi tuts-tuts piano.

Anton duduk di kursi dekat piano.  Suasana hening, hingga akhirnya Anton memulai percakapan.

“Maaf, mengganggu.”

Anton sempat terdiam beberapa saat menunggu jawaban.  Namun Rini tetap membisu.

“Saya datang ke sini, karena mau meminta maaf.  Saya sudah berlaku kasar padamu beberapa hari yang lalu,”ucapnya tulus.

Rini sama sekali tidak berkomentar.

“Saya juga keterlaluan mengatakan kamu orang aneh.  Apakah kamu mau memaafkan saya?”tambah Anton.

“Tidak apa-apa,”jawab Rini lalu berdiri dan beranjak pergi .

Anton segera memegang lengan Rini, dan menahannya supaya tidak pergi.

“Kamu sungguh-sungguh tidak marah?”

Rini mengangguk .

Anton semakin merasa menyesal.  Raut wajah gadis itu terlihat begitu pasrah dan sedikit pun tidak terlihat marah.

“Saya betul-betul merasa tidak enak.  Kalau kamu tidak keberatan, siang ini saya ingin mentraktir kamu makan siang.  Ini untuk menebus rasa bersalah saya.” Anton menatap penuh harap.

Rini tidak menjawab.

“Saya mohon padamu untuk tidak menolaknya.  Tiga hari berturut-turut saya menunggumu di sini.  Selain untuk minta maaf, saya juga ingin berteman denganmu.  Saya harap kamu mau menerima undangan saya.”

“Di mana?” gadis itu bertanya pelan.

“Kalau di restoran pizza di jalan Mawar bagaimana?”Anton bertanya antusias.

Rini terlihat ragu-ragu., namun akhirnya ia mengangguk.  Anton pun tersenyum lega.

Bel tanda masuk sekolah berbunyi.  Rini segera bergegas pergi meninggalkan Anton tanpa mengucapkan sepatah kata pun.  Tiba-tiba Anton teringat sesuatu dan memanggil Rini yang sudah berada di dekat pintu aula.

“Rini, lagu apa yang kamu mainkan tadi?”

“Requiem.”

“Requiem…? Saya baru pertama kali mendengarnya.  Siapa yang menciptakannya?”

“Saya sendiri,”Rini langsung berbalik pergi.

####*****####

 

Anton tiba terlebih dahulu di restoran yang dituju.  Dipilihnya meja yang terletak di pojok dan dekat jendela kaca yang menghadap ke lapangan parkir. Pulang sekolah tadi ia segera bergegas menuju restoran ini.  Ia pergi cepat-cepat karena tidak ingin teman-temannya tahu.  Bahkan ia sengaja memilih restoran pizza ini yang letaknya cukup jauh dari sekolahnya, tentunya dengan harapan tidak akan berjumpa dengan siapa pun yang dikenalnya di sini.

Sebenarnya, sebelum naik angkot tadi, ia bertemu Rini yang hendak menaiki mobil sedan mewahnya.  Rini sempat menawarinya untuk pergi bersama-sama menggunakan mobilnya.  Namun Anton menolak.  Melihat mobil mewah Rini membuatnya gugup.  Ia berani bertaruh, orang-orang di Indonesia yang memiliki mobil ini pasti bisa dihitung dengan jari.

Seorang pelayan mendekatinya memberikan daftar menu.  Anton membuka daftar menu tersebut dan melihat daftar harga makanan dengan sedikit cemas   Uang yang dibawanya tidaklah banyak.  Itu pun merupakan sisa uang jajannya bulan ini.  Namun setelah melihat daftar harga makanan, ia bernafas lega.  Sepertinya uangnya cukup, asal hanya memesan 2 porsi pizza dan minuman saja.  Tidak menambah.

Anton terheran-heran dengan dirinya sendiri.  Uangnya tidak banyak, namun nekat mentraktir anak seorang konglomerat.   Rasa gengsinya membuatnya nekat.  Seandainya Rini gadis biasa, tentu ia akan mentraktirnya makan bakso di kantin-kantin murah yang biasa ia datangi.

Dari  balik kaca Anton melihat mobil Rini telah tiba.  Sopir Rini, seorang pria tua dan berpakaian rapi, segera turun dan membukakan pintu mobil bagi majikannya.  Rini turun dan melangkah pelan menuju restoran.  Langkahnya sangat anggun dan teratur.  Seperti langkah seorang gadis bangsawan.  Tiba di meja Anton, ia langsung duduk tanpa berbasa basi sedikit pun.

Rini memesan pizza ukuran kecil serta sebotol air mineral.  Persis sama dengan yang dipesan Anton.  Sambil menunggu pesanan tiba, Rini melepaskan kaca matanya dan dibersihkannya dengan tisu.

Anton mengamati wajah Rini dengan seksama.  Wajah gadis itu biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa.  Apalagi penampilannya yang begitu bersahaja dan kuno, membuatnya tampak tidak menarik dibandingkan gadis-gadis lain di sekolahnya.  Namun entah kenapa, Anton merasa perlu untuk mengenalnya lebih jauh.  Gadis ini sungguh-sungguh membuatnya penasaran.

Tiba-tiba Rini mengangkat kepalanya, dan kedua mata mereka saling bertemu.  Jantung Anton berdegup kencang.  Ini pertama kalinya ia melihat mata Rini yang tidak menggunakan kaca mata.  Sorot mata gadis itu terlihat muram dan letih.   Rini rupanya menyadari Anton memperhatikan matanya.  Ia tampak   gugup dan segera mengenakan kaca matanya.

“Permainan piano kamu bagus sekali,”puji Anton tulus.  Ia berusaha mencairkan suasana.  “Saya pikir kamu jenius di bidang Matematika dan Fisika saja.  Namun ternyata itu belum apa-apa dibandingkan kejeniusanmu bermusik. “

“Terima kasih,” Rini mulai terlihat tenang.

“Sejak kapan kamu bisa menciptakan lagu?”tanya Anton lagi.

“Kelas 6 SD.”

“Oya?  Dan lagu tadi, eee…. Requiem, kapan kamu buat?”

“Tiga tahun yang lalu.”

“Bukankah Requiem itu lagu kematian.  Kenapa kamu memilih judul itu?”

“Kakak saya meninggal 3 tahun yang lalu.”

Anton terdiam. Ia teringat pembicaraan Icha dengan teman-temannya waktu itu.  Ia merasa sudah memasuki wilayah yang sensitif dan harus berhati-hati.  Anton pun mengalihkan pembicaraan.

“Selain bermain musik, apa lagi hobby-mu?”

“Membaca buku.”

“Oya?  Apa buku favoritmu?”

“Cinderella, Snow White, Sleeping Beauty……..”

Anton tertawa geli.  Ia jadi teringat tas ransel dan alat-alat tulis Rini yang bergambar Snow White.  -Gadis ini betul-betul unik-, pikirnya.

“Bukankah itu cerita dongeng untuk anak kecil?  Apakah sampai sekarang kamu masih menyukainya?”

Rini tidak langsung menjawab.  Ia tampak bingung melihat Anton tertawa.  Anton pun segera menghentikan tawanya dan menatap gadis itu serius.

“Maaf, saya tidak bermaksud menertawakanmu,” sesal Anton.

“Saya suka akhir ceritanya,” ujar Rini.

Anton berusaha mengingat akhir cerita dari ke-3 cerita dongeng tersebut.

“Akhirnya sang pangeran dan putri pun hidup bahagia untuk selama-lamanya…?”ucap Anton meminta persetujuan Rini.

Rini mengangguk pelan.  Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kalau ia sedang bercanda.

”Kamu sangat menyukai musik dan buku.  Boleh saya tahu apa yang paling tidak  kamu sukai?”

“Bangun tidur.”

Percakapan mereka terhenti, karena pelayan datang dan meletakkan 2 loyang pizza pesanan mereka.  Mereka pun mulai menikmati hidangannya masing-masing.

Diam-diam Anton memperhatikan Rini.  Gaya makan gadis itu tampak sangat anggun.  Caranya memegang pisau, garpu dan mengunyah betul-betul menunjukkan bahwa ia bukan orang biasa.  Sungguh kontras dengan penampilannya yang sederhana dan ketinggalan zaman.

“Saya seperti wartawan saja.  Bertanya-tanya terus padamu,”  Anton menatap mata Rini ramah,  “Kamu tidak mau bertanya pada saya?”

Rini berpikir sejenak.

“Apakah hidupmu menyenangkan?”

“Tentu saja!” jawab Anton mantap.

“Kenapa?”

“Saya mempunyai keluarga yang istimewa, memiliki teman-teman yang baik…….”

“Ceritakan tentang keluargamu,” potong Rini cepat.

Dengan senang hati Anton menceritakan tentang keluarganya.   Tentang ayahnya yang agak pendiam dan berprofesi sebagai guru SMA; ibunya yang sangat ramah dan senang membuat kue-kue; adiknya yang pemalu dan lebih muda 6 tahun darinya; kakeknya yang disukai banyak orang; rumahnya yang menjadi base camp anak-anak kecil di lingkungannya; tak lupa persahabatan kakeknya dengan Daniel.

Awalnya Rini lebih banyak menundukkan kepalanya sambil pelan-pelan mengunyah pizza di hadapannya.  Tak lama kemudian, ia sesekali  menatap mata Anton dan langsung menunduk bila Anton balas menatapnya.  Lama-lama Rini menjadi lebih sering mengangkat kepalanya dan  berkonsentrasi   mendengarkan cerita Anton.  Sorot mata gadis itu yang semula terlihat hampa dan muram, perlahan-lahan mulai terlihat  bersinar dan hidup.  Anton sungguh surprised melihatnya.

Anton berhenti bercerita setelah menyadari pizza di hadapannya sudah hampir habis.      Ia sempat terheran sendiri mengingat asyiknya ia bercerita tadi.    Walaupun Rini sama sekali tidak berkomentar, namun Anton merasa gadis itu sangat terkesan dengan ceritanya dan ia menjadi senang karenanya.

“Kamu koleksi buku cerita apa saja?”  Anton mengganti topik pembicaraan.

“Banyak.”

“Apa saya boleh melihatnya?”

Rini menghentikan makannya dan menatap Anton penuh tanda tanya.

“Saya juga suka mengoleksi buku cerita, terutama cerita bergambar.  Tapi koleksi buku saya tidak banyak, eee………”Anton merasa jantungnya berdebar kencang.  Entah kenapa, tiba-tiba ia merasa sangat gugup.  ”Apa saya boleh melihat koleksi buku di rumahmu?”

Rini menghabiskan potongan pizza terakhir di piringnya, lalu bertanya lirih.

“Kapan?”

“Kalau Sabtu nanti, sepulang sekolah, kamu ada acara?”

Rini menggeleng.

“Saya boleh ke rumahmu?”

Rini mengangguk pelan.

“Terima kasih,” Anton tersenyum senang.

Usai makan, Anton mengantar Rini sampai mobil.  Pak Hari, sopir Rini dengan sigap membukakan pintu mobil.  Rini mengucapkan terima kasih pada sopirnya itu dan  segera duduk di dalamnya.  Namun ketika pintunya hendak ditutup, Rini menahannya dan melihat ke arah Anton.

“Apakah sudah pernah dibawa ke psikiater?”

Anton mengernyitkan dahinya.  Ia tidak mengerti.

“Siapa?”

“Daniel.  Apakah ia sudah pernah diperiksa ke psikiater?”

“Sepertinya belum.  Kenapa?  Apakah menurutmu Daniel gila?”

“Tidak.  Sama sekali tidak,“ Rini menggeleng, lalu menutup kaca mobilnya dan mobilnya pun perlahan hilang dari pandangan Anton.

Dengan langkah lambat, Anton berjalan menuju tempat pemberhentian kendaraan umum.  Pertemuannya dengan Rini menimbulkan kesan tersendiri baginya.  Gadis itu sangat unik dan misterius.  Sorot matanya seperti menyimpan sesuatu.   Dia pun selalu menjawab pendek-pendek pada setiap pertanyaan, bahkan terkadang tidak menjawab.  Jawabannya kadang-kadang terdengar aneh, namun Anton bisa merasakan bahwa Rini sangat jujur dengan jawaban-jawabannya.

Hari Sabtu masih dua hari lagi.  Entah kenapa, tiba-tiba ia merasa tidak sabar menunggu hari Sabtu tiba.

Posted in Novel

YOU’RE THE INSPIRATION (part 9)

       Rini menggerakkan jemarinya di atas tuts piano.  Ia menggerakkan sesuai dengan aliran di hatinya.  Piano adalah sahabat terbaiknya.  Bila ia merasa sedih, kecewa, marah maupun gembira, ia akan mengungkapkan lewat alunan nada yang dimainkannya.  Hanya lewat piano ia dapat mengekspresikan dirinya.

            Anton Ananta.  Lelaki itu terlihat begitu marah padanya.  Matanya berapi-api dan suaranya mendesis tajam.  Meski demikian, ia tetap terlihat sangat tampan.  Wajahnya putih dan bersih, alisnya tebal, matanya agak sipit, hidungnya mancung serta bibirnya tipis, merupakan perpaduan yang nyaris sempurna.   Beberapa kali Rini mendengar gadis-gadis di sekolahnya membicarakan Anton.  Sepertinya banyak wanita yang terpesona padanya dan ingin mendapatkan perhatian darinya.

        Rini tidak pernah tertarik dengan ketampanan Anton.  Ia hanya penasaran dengannya.  Beberapa kali Anton maju ke depan kelas dan berbicara di hadapan teman-temannya, bahkan pria itu pernah tiga kali menyapanya.    Sorot mata Anton  terlihat begitu percaya diri dan berseri-seri.  Melihat pancaran mata lelaki itu membuatnya gugup sekaligus terkesan.  Ingin rasanya Rini berdiri di balik mata pria itu dan mencari tahu apa saja yang dilihatnya.  Kenapa ia bisa terlihat selalu gembira.  Seandainya mata Anton adalah sebuah danau, Rini ingin sekali berenang di dalamnya.

            Dan tadi,…… Anton berdiri dekat di hadapannya.  Bau parfumnya pun tercium jelas.  Anton sangat marah.  Ia menyadari hal itu.  Dan ia merasa sedih karenanya.

     Rini tidak pernah bermaksud  menyakiti hati teman-temannya, apalagi membuat mereka marah.  Ia hanya tidak berdaya melawan dirinya sendiri.  Ia tidak sanggup berkumpul dengan mereka, karena …… bila mereka tertawa, ia tidak bisa tertawa.  Bila mereka tersenyum, ia tidak bisa tersenyum.

     Ia seperti hidup dalam sebuah tabung kaca.  Dari balik tabung ia dapat melihat dunia dengan jelas, namun semua terpisah darinya.   Ia hidup dalam dunianya sendiri.  Dunia yang selalu muram……dan kelam.  Ia ingin keluar, tapi tidak bisa.  Ia ingin tahu bagaimana caranya melepaskan diri, namun tidak ada yang membimbingnya.  Ia ingin tahu kenapa dan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya, tetapi tidak ada seorang pun yang menjelaskan padanya.

     Tadi Anton mengatakan bahwa ia dapat membeli segalanya dengan harta miliknya.  Seandainya perkataan Anton benar, alangkah senangnya.  Ia ingin semua yang hilang darinya dapat kembali lagi.  Apakah bisa?  Apakah ada di dunia ini yang dapat mewujudkan keinginannya?

Jakarta, Juni 1979

“Happy birthday to you….happy birthday to you…happy birthday, happy birthday, happy birthday to you……. Ayo  tiup lilinnya!”

…………….

“Eeit…nanti dulu.  Sebelum tiup lilin, sebutkan dulu keinginanmu!”

“Ehmm……aku ingin…..”

“Apa?  Suaramu pelan sekali.  Coba ulangi.”

“Aku ingin menikah….”

“Ha..? Hahaha……Menikah?  Menikah dengan siapa?”

“Dengan seorang pangeran.”

“Oya?  Hm.. pasti pangeran itu tampan, pintar dan baik hati.”

“Ya, ia tampan, pintar dan baik hati sepertimu.”

“Aku?  Aku tidak pintar.  Tahun lalu saja aku tidak naik kelas.”

“Itu karena gurumu tidak tahu kehebatanmu.”

“Oya?”

“Ya, kau pintar bernyanyi, pintar  membacakan cerita ……..Kau adalah kakak paling hebat di seluruh dunia.”

“Sssttt…jangan keras-keras.  Semua orang akan menertawakanmu.”

“Kenapa mereka tertawa?”

“Karena menurut mereka aku ini jahat.  Aku anak nakal dan sering merepotkan papa dan mama.”

“Mereka salah.  Kau tidak seperti itu.  Kau adalah orang paling baik yang pernah kutemui. ”

Posted in Novel

YOU’RE THE INSPIRATION (part 8)

Sesampainya di rumah, Anton berjalan cepat menuju kamarnya.  Di ruang tengah ia sempat bertemu Daniel yang sedang duduk asyik memainkan game watch didampingi Asih yang duduk terkantuk-kantuk di sebelahnya.  Anton melewati mereka tanpa menyapa.  Hatinya sedang kacau sehingga malas untuk sekedar berbasa-basi atau tersenyum.

Di dalam kamar, Anton membaringkan badannya di atas tempat tidur lalu memejamkan matanya.  Adegan saat ia berhadap-hadapan dengan Rini, kata-kata yang ia ucapkan dan sorot mata Rini terus menerus terbayang di kepalanya.  Hingga akhirnya ia pun tertidur.  Dalam mimpinya, ia mengulang kejadian yang dialaminya tadi, namun sekarang dengan skenario yang berbeda.  Ia menghalangi jalan Rini, Rini berhenti dan tersenyum menatapnya.

“Ada apa?” Rini tersenyum ramah.

“Bu Ana sudah menentukan kamu sebagai wakil dari kelas untuk lomba cepat tepat.  Kenapa tidak mau?”

Rini tertawa.

“Oh, itu hanya salah paham saja.  Saya bisa, kok.”

Mereka saling berpandangan mesra.

Lalu terdengar suara anak kecil menangis.  Mula-mula pelan, lama-lama sangat keras diselingi suara teriakan.

Anton terbangun dari tidurnya.  Tapi suara teriakan dan tangisan itu tidak hilang.  Ia pun membuka pintu kamarnya dan terkejut dengan apa yang dilihatnya.

Daniel sedang menangis keras sambil berteriak-teriak histeris.  Kepalanya dibenturkannnya berkali-kali ke dinding. Kakek memeluk anak itu dari belakang.  Tubuh rentanya tampak tidak berdaya menghadapi tenaga Daniel yang begitu besar.  Di sebelahnya, Asih terlihat  panik dan terisak-isak.

Anton segera berlari mendekati mereka. Ia menggantikan kakeknya memeluk Daniel dan menjauhkannya dari dinding.  Sepintas Anton melihat game watch di kaki Daniel.  Ia memberi isyarat pada Asih untuk mengambilkan game watch itu.  Namun ketika mainan itu dinyalakan, sudah tidak bisa.  Rupanya baterenya habis.  Kakek segera berlari ke kamar.  Keluar dari kamar beliau membawa jam tangan dan obeng.  Beliau segera membuka tempat batere game watch, mengganti baterenya dengan batere jam tangannya.  Setelah game watch menyala, beliau memberikannya pada Daniel.  Seketika bocah itu menghentikan amukannya, dan langsung duduk serius memainkan game watch di tangannya.  Dahinya lebam, namun anehnya ia tidak tampak kesakitan.

Anton pun melepaskan pelukannya.  Peluh mengalir di keningnya.  Ia nyaris kehabisan tenaga.  Dipandangi game watch di tangan Daniel.  Bocah itu sama sekali tidak tahu aturan permainannya, namun ia terlihat begitu serius menekan tombol-tombol yang tersedia.  Rupanya gambar-gambar dinamis dan suara game watch sangat menarik perhatiannya. Dan kemarahan Daniel ternyata dipicu karena batere game watch yang habis!

Anton melihat ke arah kakeknya.  Pria tua itu tampak lelah sekali.  Ia segera membimbing kakeknya memasuki kamar dan membaringkannya di tempat tidur.  Anton memandangi kakeknya dengan perasaan cemas.  Ini untuk ke-2 kalinya ia melihat Daniel marah sehebat itu.  Dan tentunya ini bukanlah hal yang mudah bagi orang setua kakek.

“Nanti malam, kita harus menghubungi Tante Ledya.  Mulai besok dia jangan menitipkan Daniel di rumah ini lagi,”seru Anton.

Kakek membuka matanya lalu menatap Anton tajam.

“Tidak.  Kalau kau merasa lelah pada Daniel, ya sudah.  Tidak usah dekat-dekat dengannya.”

“Saya memikirkan kakek. Setiap hari kakek harus mengurusi Daniel dengan segala kelakuannya yang ajaib itu.   Kakek sudah tua, dan seharusnya bisa melewati masa tua dengan tenang dan bahagia!” Anton mulai merasa jengkel.  Suaranya meninggi.

“Siapa bilang aku tidak bahagia?”tukas kakek cepat.”Lagipula, badanku masih kuat dan sekarang hanya butuh istirahat sebentar saja.”

“Tapi, Daniel itu tidak seperti anak biasa, Kek.  Anak itu aneh!”

“Dia tidak aneh….,”desis kakek.”Kau saja yang tidak bisa memahaminya.”

Anton menatap kakeknya dengan putus asa.

“Apakah tante Ledya tidak ada keluarga?  Bukankah lebih baik Daniel diurus keluarganya sendiri?”tanyanya lirih.

Kakek menghela nafas.  Tatapannya matanya mulai terlihat melunak.

“Tante Ledya dibuang oleh keluarganya,” jawab kakek pelan. “Ia menikah dengan pria yang tidak disetujui keluarganya.  Setelah suaminya meninggal dunia, wanita itu sudah tidak punya siapa-siapa lagi.”

“Apakah kakek kasihan padanya, sehingga mengorbankan diri kakek sendiri?”

“Tidak,”kakek terdiam sejenak. “Aku melakukannya, …………… karena aku merasa bahagia melakukannya.”

Kakek menepuk bahunya pelan.

“Aku menyayangi anak itu.  Daniel sudah seperti cucuku sendiri.”

Anton tidak dapat berkata apa-apa lagi.  Rasa haru dan bangga melihat ketulusan hati kakeknya serta rasa cemas, berbaur di dadanya.

Malamnya, Anton tidak bisa tidur.  Semua ucapan kakek tadi terekam kuat di kepalanya.

 “Dia tidak aneh.  Kau saja yang tidak bisa memahaminya.”

Percakapannya dengan Rini pun masih terngiang.

 “………Kamu memang sangat aneh.”

Semuanya silih berganti menggaung di telinganya.

Anton pun memutuskan, besok ia harus minta maaf pada Rini.

Posted in Novel

YOU’RE THE INSPIRATION (part 7)

       Tiga minggu berlalu, Anton semakin menikmati kebersamaan dengan teman-teman sekelasnya.  Ada Afandi dan Leo yang suka melucu; Hans yang sering terlambat; Jeni, cewek seksi dan genit; Anjas, cowok serius dan pintar yang ternyata bisa diajak gila juga; tak ketinggalan Ino, sahabatnya yang kalem tapi bila mengeluarkan celetukan bisa membuat teman-teman sekelasnya terpingkal-pingkal. Masih banyak lagi teman lainnya dengan karakter mereka masing-masing yang memberi warna keceriaan di kelas 3 Fisika 2.

      Sebagai ketua kelas, Anton selalu berusaha membuat teman-teman sekelasnya kompak.   Dan nampaknya usahanya cukup berhasil.  Karena mereka tampak saling akrab satu sama lainnya.  Namun masih ada yang mengganjal bagi Anton, yaitu Rini Handayani.  Sifat Rini yang suka mengisolasi diri, membuat kekompakan kelasnya menjadi tidak sempurna.

     Sosok Rini masih menjadi misteri bagi Anton.  Kadang-kadang secara diam-diam ia suka memperhatikan gadis itu.  Rini selalu duduk menyendiri di bangku paling kiri depan.  Ia juga selalu menggunakan tas ransel bergambar Snow White dan alat-alat tulisnya pun bergambar tokoh dongeng terkenal karya Walt Disney itu.  Sebenarnya Anton ingin mengenal Rini lebih jauh.  Percakapan teman-temannya yang ia dengar beberapa waktu lalu menumbuhkan rasa penasaran dalam dirinya.  Benarkah cerita-cerita miring itu?  Apakah itu semua menjadi penyebab keanehan sikap Rini ?

      Ia juga  sempat menanyakan pada beberapa orang yang pernah menjadi teman sekelas gadis itu waktu kelas 1 atau 2. Dan tanggapan mereka semua nyaris sama.  Mereka senantiasa menggambarkan betapa gadis itu sangat tidak berperasaan dan menyeramkan.

      Tiga kali Anton mencoba menyapa Rini, namun selalu ditanggapi dengan dingin.  Rini tidak tampak seperti orang yang bersedih atau pun sedang menanggung beban berat.  Ia lebih mirip orang yang tidak membutuhkan siapa pun.  Wajahnya kaku, tanpa ekspresi., acuh dan tidak pernah mau menyapa atau berpandangan dengan teman-temannya.

      Terkadang Anton berpikir, mungkin apa yang dikatakan orang-orang memang benar, gadis itu tidak punya perasaan.  Sehingga masalah apapun yang ia alami, tidak akan membawa pengaruh banyak bagi dirinya.  Selain itu, tentu saja,  karena  hartanya melimpah, ia  dapat memiliki segalanya yang dinginkan,  dan  tidak memerlukan bantuan orang lain.  Setelah sapaannya yang ketiga kali dianggap bagai angin lalu oleh Rini,  Anton akhirnya memilih mengikuti jejak teman-temannya yang lain untuk tidak memperdulikan gadis itu.   Bahkan beberapa kali  ia ikut tertawa ketika teman-temannya membuat celetukan-celetukan bernada mengejek yang ditujukan pada Rini ketika gadis itu lewat di depan mereka.

     Namun sesekali terbersit sebuah pertanyaan dalam dirinya, mengapa orang yang tidak berperasaan seperti itu mampu memainkan piano dengan begitu indahnya dan menyentuh hati?

   Menjelang perayaan 17 Agustusan, sebagaimana tahun-tahun yang lalu, sekolah mengadakan berbagai kegiatan dan lomba antar kelas untuk  merayakannya.  Anton selaku ketua kelas, tidak kalah sibuk menyiapkan tim-tim di kelasnya.

      Bu Ana, guru Biologi dan juga wali kelas  3 Fisika 2, memberi kebebasan penuh bagi siswa-siswanya untuk menentukan jago-jagonya yang akan berlaga.  Namun khusus untuk lomba cepat tepat antar kelas, Bu Ana sendiri yang menentukannya.

       Anjasmara, Enriko dan Rini Handayani merupakan para siswa yang dipilih oleh wali kelas tersebut sebagai anggota tim utama.  Nama-nama tersebut diumumkan sendiri oleh Bu Ana ketika beliau tengah mengajar.  Beliau juga meminta Anton untuk membantu kesiapan tim serta menyiapkan supporter dan Anton pun menyatakan kesanggupannya.

            Ketika bel pulang sekolah berbunyi,  Anton segera membereskan buku-bukunya di atas meja dan sekilas ia melihat Anjas dan Riko sedang mendekati bangku Rini lalu mengajak gadis itu berbicara.

            “Anton, bagaimana ini?” Anton mengangkat kepalanya.  Anjas dan Riko telah berdiri di dekatnya.  Wajah mereka terlihat bingung dan kesal.

            “Kenapa?” Anton bertanya heran.

            “Rini tidak mau.  Kita ganti orang aja ya? Bagaimana kalau Mirna atau Bili?” jawab Riko.

            “Apa alasannya?”

            “Dia bilang tidak ada alasan.  Pokoknya dia tidak mau,” Anjas menjawab.

            “Sudahlah, Ton! Orang pintar di kelas kita kan tidak hanya dia.  Kalau kita paksa, dia bisa besar kepala.   Aku hubungi Mirna, ya?” Riko mulai terlihat tidak sabar.

            Anton memandang ke arah Rini.  Gadis itu terlihat sudah mau beranjak pergi.  Tiba-tiba ia merasa jengkel.

            “Tidak!  Aku mau bicara dulu dengan dia!“

         Anton bergegas mendekati Rini yang tengah berjalan ke luar kelas.  Dihalanginya langkah Rini.  Mereka sempat bertatapan sebentar.   Rini tampak terkejut,  tapi hanya sebentar.  Gadis itu memalingkan wajahnya sambil berjalan ke arah kiri untuk menghindari tubuh Anton.  Sekali lagi Anton menghalangi langkahnya. Matanya menatap tajam.

            “Ada apa?” akhirnya keluar juga ucapan dari mulut Rini.

            “Bu Ana sudah menentukan kamu sebagai wakil dari kelas untuk lomba cepat tepat. Kenapa tidak mau?” Anton menjawab perlahan, nada suaranya terdengar sedikit emosional.

       “Tidak ada alasan,”Rini menjawab pelan.  Tidak ada ekspresi penyesalan atau perasaan bersalah di wajahnya.

       “Tidak mungkin.  Kau pasti punya alasan,“ paksa Anton.

       Rini tidak berkomentar sedikit pun.  Emosi Anton naik lagi.

      “Saya tahu,  kamu sangat pintar dan putri seorang konglomerat.  Kamu sudah memiliki segalanya, sehingga kamu sama sekali tidak membutuhkan teman-teman kamu kan?  Bahkan untuk membela nama kelas pun kamu tidak mau,” seru Anton dengan ketus.

      Namun Rini masih diam seribu bahasa. Wajahnya tetap tanpa ekspresi dan matanya menatap kosong ke arah lain.  Kesabaran Anton pun habis.

 “Ternyata benar kata teman-teman, kamu memang sangat aneh!” Anton mengucapkannya dengan nada sinis.  Ia berharap Rini akan terpancing emosinya dan mau berbicara panjang lebar dengannya.

      Namun dugaannya salah.  Wajah Rini sama sekali tidak berubah.  Ia hanya  balas menatap Anton selama beberapa saat dengan sorot mata yang sungguh sulit diartikan.  Dan entah kenapa Anton menjadi gugup dibuatnya.  Rini menatapnya, tapi Anton merasa Rini tidak sungguh-sungguh menatapnya.  Gadis ini sekarang sedang berdiri begitu dekat dengannya, tetapi ia merasa gadis itu tidak sepenuhnya berdiri di dekatnya.

        Rini memalingkan wajahnya lalu pergi meninggalkan Anton tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Bahunya sempat menyentuh bahu Anton.   Tiba-tiba  Anton merasa menyesal dengan ucapan-ucapannya tadi.

         Sepanjang perjalanan menuju rumah, Anton tidak bisa berkonsentrasi.  Kata-kata yang ia ucapkan pada Rini terngiang terus di telinganya.  Dan sorot mata Rini ketika memandang dirinya tidak mau hilang dari pikirannya.  Ada rasa sesal di dadanya.  Kenapa ia bisa begitu emosional?  Kenapa Rini tidak marah setelah mendengar kata-katanya yang kasar itu?  Apa sebenarnya yang ada dalam benak gadis itu?

Posted in Novel

YOU’RE THE INSPIRATION (part 6)

Tok….tok…tok…..

Anton melirik jam di dinding. Jarumnya telah menunjukkan pukul 8 malam.  Ia pun berjalan menuju pintu sambil mencoba menebak-nebak siapa yang malam-malam datang ke rumahnya.

Setelah pintu dibuka, Anton langsung terbelalak.

“Fifi?  Ada apa malam-malam ke mari?”Anton tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya.

Fifi tidak langsung menjawab.  Ia memandang Anton dengan lesu. Wajahnya tampak pucat.

“Kau tidak pernah mau menerima telpon dariku,  selalu menghindariku di sekolah, tidak pernah membalas suratku…,”Fifi berkata dengan terbata-bata.  Matanya menyiratkan kepedihan hatinya, “Apa lagi yang harus kulakukan?”

Anton menghela nafas dalam.  Ia membuka lebar pintu rumahnya dan mempersilakan Fifi masuk, namun gadis itu menolaknya.  Dan akhirnya mereka berdua duduk di teras.

Dari teras Anton bisa melihat sebuah mobil kecil berwarna biru muda diparkir didepan pagar rumahnya.

“Kau menyetir sendiri ke sini?”Anton membuka percakapan.

Fifi mengangguk pelan.

Anton cukup terharu mendengarnya.  Rumah Fifi lumayan jauh dari rumahnya, dan tentu saja merupakan pengorbanan yang besar bagi seorang gadis pergi malam-malam seperti ini demi untuk menemuinya.

“Ada apa?”tanya Anton.

Fifi tidak menjawab.  Ia hanya menangis sesenggukan.  Air mata berlinangan di  pipinya.  Ia menangis terus seolah-olah sedang menumpahkan segala kegundahan yang dipendamnya selama ini.

Tubuh Anton terasa kaku.  Rasa kasihan, menyesal dan tidak tega bercampuk aduk di hatinya.  Ia terus mengamati Fifi tanpa tahu harus berbuat apa.  Setelah tangis Fifi mereda, Anton  berdiri dan masuk ke dalam rumah.  Anton membuat secangkir teh hangat lalu keluar dan diletakkannya di depan Fifi yang tampaknya sudah semakin mereda tangisannya.

“Minumlah,”ujar Anton pelan sambil menatap Fifi dengan lembut.

Fifi menghirup teh perlahan-lahan.  Dadanya masih naik turun, menunjukkan isakannya yang belum hilang.  Lima menit kemudian , gadis itu mulai tampak tenang.  Dan sudah mulai bisa menguasai dirinya.

“Anton, berapa kali aku harus meminta maaf padamu?  Apakah begitu sulit bagimu untuk memaafkan?”di akhir kalimat, suara Fifi seperti tercekik.  Ia sudah mau menangis lagi.

“Aku sudah memaafkanmu,”jawab Anton pelan.

Fifi terbelalak.

“Sungguh?’ sinar mata Fifi menunjukkan rasa tidak percaya.

Anton mengangguk.  Dia tidak berbohong, karena kehadiran Fifi malam ini benar-benar telah memupus segala kemarahannya.   Bagaimana mungkin ia menolak memaafkan seorang gadis cantik yang malam-malam datang ke rumahnya sambil menangis?

“Apakah….. apakah itu artinya kita bisa bersama lagi?”Fifi bertanya penuh harap.

Anton menunduk.  Ia bingung untuk menjawabnya.  Ia menyukai Fifi.  Gadis itu sangat cantik dan menarik.  Perhatian serta pengorbanan yang diberikan pun benar-benar membuat Anton merasa tersanjung.  Namun, untuk merajut kembali hubungan mereka, Anton masih sangat bimbang.  Kalau boleh jujur, saat ini Anton sedang menikmati kesendiriannya.  Ia merasa bebas melakukan apa pun dan ternyata hal itu sangat menyenangkan.

“Kenapa kau tidak menjawab?  Apakah sudah ada yang lain?”desak Fifi.

Anton menggeleng.

“Tidak,”jawab Anton tegas.

“Lalu, kenapa?”

“Fifi…”Anton berkata lirih, “Saat ini aku sedang tidak ingin berhubungan dengan siapa pun.”

“Kenapa? Apakah kau trauma berpacaran?”

“Tidak juga.  Aku hanya butuh waktu untuk sendiri.”

“Sampai kapan?”Fifi tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya.

Anton mengangkat bahunya.

“Tidak tahu.”

Fifi menggenggam tangan Anton lalu menatapnya dalam.  Anton bisa menangkap kalau gadis itu benar-benar jatuh cinta padanya.

“Tapi kau masih suka padaku kan? Iya kan?”Fifi bertanya dengan gaya merajuk sebagaimana ciri khasnya selama ini.

Anton memandangi wajah Fifi selama beberapa saat.

-Hanya lelaki bodoh yang tidak menyukai wanita secantik kamu-pikir Anton.

“Anton, kok diam saja?  Tolong jawab pertanyaanku.”

Dengan ragu-ragu Anton mengangguk.  Ia tidak tahu apakah keputusannya untuk bersikap jujur malam itu tepat atau tidak.

Wajah Fifi langsung berseri-seri.  Ia tersenyum manis.

“Kalau begitu, aku akan menunggumu.  Aku akan menunggu sampai kau siap, “ucap Fifi mantap.

“Fifi, jangan begitu….. Aku jadi merasa terbebani.”

Fifi berdiri dari duduknya sambil tersenyum.

“Bagus, kalau kau merasa terbebani.  Itu yang kuharapkan,”Fifi tertawa sambil mengerling manja.

“Maksudmu…?”

Fifi tersenyum penuh arti lalu mengecup pipi Anton.  Setelah itu ia langsung melambaikan tangannya meninggalkan Anton yang perasaannya menjadi tak menentu.

Di dalam kamar, Anton melamun sambil mengusap-usap pipi bekas kecupan Fifi tadi.  Dadanya serasa mau meledak dan hatinya berbunga-bunga.  Gadis itu betul-betul sangat menggoda.   Dulu, hal itu pula yang membuat Anton menyukainya.  Kalau tadi Anton begitu yakin ia sangat menikmati kesendiriannya.  Sekarang ia jadi bimbang.

-Haruskah aku menerima Fifi sekarang?  Atau minggu depan?  Atau bulan depan?-

Namun menjelang tidur Anton sudah bisa mengendalikan gemuruh di hatinya dan mulai berpikir jernih.  Ia berusaha menghitung-hitung untung dan ruginya bila ia mulai berpacaran lagi, hingga akhirnya ia pun mantap dengan keputusannya.  Paling tidak ia butuh waktu 3 bulan untuk menguji kesungguhan Fifi.  Ia harus yakin kalau gadis itu benar-benar telah berubah. Anton masih menyukai Fifi dan sudut-sudut hatinya masih mendambakan dapat menjalin asmara dengan gadis itu lagi.

Sekarang, mumpung masih sendiri,  ia ingin menikmati kebebasannya dulu.  Bebas untuk berkumpul dengan teman-temannya kapan saja ia mau.  Dan bebas untuk menikmati pemandangan gadis-gadis cantik dan menarik di sekelilingnya.  tanpa harus merasa bersalah pada siapa pun.

Posted in Novel

YOU’RE THE INSPIRATION (part 5)

Suara kokokan ayam telah membuatnya terjaga.  Rini terbangun dan melirik jam dinding di kamarnya yang telah menunjukkan pukul lima pagi.

Gadis itu duduk di tempat tidurnya dan menyibakkan rambutnya yang panjang lalu menggelungnya. Sebelum berdiri, ia menarik nafasnya dalam-dalam dan  termenung.

Tadi malam ia memimpikan hal yang sama seperti hari-hari sebelumnya.      Bertemu mas Armand, berjalan-jalan dengannya serta bercakap-cakap mengenai apa-apa yang telah ia lalui hari ini.  Di akhir mimpinya ia melepaskan kerinduannya dengan memeluk tubuh lelaki itu dengan sangat erat.  Rasa rindu di dadanya begitu membuncah.  Ia ingin terus memeluknya dan tidak akan pernah membiarkan lelaki itu pergi lagi dari sisinya. Namun lagi-lagi mimpi itu terputus, membuat segala harapan dan impiannya sirna.   Ia harus  kembali pada kehidupan nyata serta menjalani segala aktivitas rutinnya.

Ia harus segera mandi, shalat Subuh, sarapan, lalu berangkat sekolah.  Pulang sekolah, serangkaian les  privat menantinya.  Les piano,  bahasa Inggris, bahasa Jerman dan bahasa Jepang bergantian setiap hari.  Setelah itu ia baru bisa melakukan hal-hal yang disukainya.  Bermain piano, membaca buku atau menonton video.

–Ah, kenapa harus ada pagi hari?  Kenapa harus terbangun dari tidur?- keluhnya dalam hati.

Usai mandi dan berbenah diri,  dibersihkan kaca matanya, lalu dikenakannya.  Buku-buku serta peralatan tulisnya dibereskan lalu dimasukkan ke dalam tas Snow White kesayangannya.  Tas itu merupakan hadiah ulang tahun dari mas Armand 5 tahun yang lalu.  Snow White merupakan salah satu tokoh favoritnya dan ia senang sekali menerima hadiah tersebut.

Usai menyiapkan peralatan, Rini segera berjalan keluar kamar.  Di ruang makan, sang ayah, Heru Herlambang, seorang pengusaha yang sudah dapat dikategorikan sebagai konglomerat  serta penulis beberapa buku ekonomi best seller,  tengah duduk dan memulai sarapannya.

Sudah sebulan lebih Rini tidak bertemu dengan ayahnya.  Terakhir mereka bertemu sebelum ia berangkat ke Inggris menemui ibunya.  Ayahnya sangat sibuk dan baru tad malam sempat menginap di rumah ini.  Pria berusia 55 tahun itu,  tampak letih dan lebih kurus dibanding terakhir bertemu.  Namun, sorot matanya berseri-seri.  Rupanya kehadiran tante Anita sejak 2 bulan yang lalu, benar-benar membuatnya bahagia.

Tante Anita, wanita berusia 35 tahun, duduk di sebelah sang ayah.  Kulitnya putih bersih, hidungnya mancung dengan mata yang bulat serta tubuh yang tinggi semampai  membuat tante Anita tampak sangat menawan.  Wajah aslinya jauh lebih cantik dibandingkan bila melihatnya di film-film yang dibintanginya maupun foto-fotonya di majalah.  Orangnya pun sangat ramah.

“Apa kabar Rini?”tegur tante Anita.

Rini tidak menjawab.   Ia hanya mengangguk dan tersenyum kecil kepada ayahnya dan tante Anita. Setelah itu ia pun duduk di berhadapan dengan mereka berdua. Pelan-pelan Rini menyantap rotinya.   Suasana hening.

“Bagaimana sekolahmu?” ayah Rini memulai percakapan.

“Baik.”Rini menjawab pelan.

Suasana hening kembali.  Bila menjadi pembicara di televisi ataupun seminar, ayahnya terlihat percaya diri dan tegas dalam berbicara.  Beliau terkenal sangat cerdas dan selalu menjawab setiap pertanyaan dengan cepat dan tepat.  Namun entah kenapa, bila berbicara dengannya, beliau seperti kehilangan ide.  Terlihat sangat kaku dan tidak leluasa.  Kadang-kadang Rini ingin menanyakan hal ini.  Namun ia tidak dapat mengungkapkannya.

“Rini mau teh ?”  pertanyaan tante Anita memecahkan keheningan.

Rini mengangguk sambil melirik sekilas ke arah wanita ayu itu yang tengah  menuangkan teh ke cangkirnya.

“Papa rasa kamu berhenti saja les pianonya.  Sekarang konsentrasi penuh mempelajari bahasa asing dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk sekolah di luar negri tahun depan,”Heru berkata cepat, seolah-olah tengah menutupi kegugupannya.

Rini bernafas lega.  –Baguslah-, pikirnya.  Wanita tua itu sungguh-sungguh membuatnya bosan.  Bu Gita, guru pianonya,  seseorang yang sangat cerewet dan angkuh.  Ia selalu menganggap dirinya paling pintar dan senang meremehkan orang lain.   Tiga tahun belajar piano dengannya merupakan mimpi buruk bagi Rini.

“Rencananya Rini mau mengambil jurusan apa?” tante Anita masih berusaha membuka percakapan dengannya.

Rini membisu.  Ia mendengar pertanyaan itu, namun mulutnya seperti terkunci.

“Ia akan mengambil jurusan ekonomi.”

-Bagus.  Papa sudah menjawabnya-. Rini tersenyum dalam hati.

“Apakah Rini tertarik?”Tante Anita bertanya sambil memandang ke arah Rini lalu memandang ke arah Heru Herlambang.  Sepertinya ia bingung harus mengajukan pertanyaan ini pada siapa.

Rini mulai merasa tidak nyaman.  Tante Anita terlalu banyak mengajukan pertanyaan padanya, sedangkan ia benar-benar tidak ingin  menjawabnya.   Ia tidak ingin berbicara pada siapa pun.  Ia hanya ingin diam.

“Ia pasti bisa.  IQ-nya 140.  Ia akan dengan mudah mempelajari apa saja,”  jawab Heru Herlambang sambil  membersihkan mulutnya dengan serbet dan bersiap untuk beranjak pergi.

“Kenapa ia tidak pernah menjawab?” sekilas Rini mendengar tante Anita berbisik pada ayahnya.

“Dia memang begitu.  Tidak suka berbicara,” Heru Herlambang menjawab pendek.  Lalu menatap ke arah Rini.

“Papa pergi dulu.  Mungkin 2 minggu lagi Papa ke sini lagi.  Pak Dedi seperti biasanya akan rutin menghubungimu untuk menanyakan segala keperluanmu.”

Sesaat Rini membalas tatapan ayahnya.   Mata mereka saling beradu selama sedetik, dan setelah itu serempak mereka memalingkan kepalanya ke arah lain.

Sesungguhnya Rini ingin sekali memeluk tubuh lelaki itu, serta mengungkapkan kerinduannya.    Namun badannya tidak mau bergerak.  Sang ayah duduk begitu dekat dengannya, namun ia merasa jauh.  Dan ia sungguh-sungguh tidak berdaya.  Samar-samar ia melihat ayahnya dan tante Anita berjalan menuju pintu keluar dan  pergi meninggalkannya.

Rini menatap ke arah dinding kosong di hadapannya. Ada sesuatu yang mendesak di dadanya.  Kapan mas Armand pulang? Kenapa ia tidak pernah pulang?  Kenapa ia harus menjalani semua ini sedirian?  Kenapa ia begitu sedih?  Kenapa air matanya tidak pernah bisa mengalir?  Kenapa ia tidak tahu jawabannya? Kenapa ia tidak pernah tahu dirinya?  Kenapa dan kenapa….?

Jakarta, September 1980

“Ada apa? Kenapa kamu belum tidur?”

……….

“Kamu mimpi buruk?”

……….

“Hey, jangan menangis.  Kau kan sudah besar.”

“Aku mimpi mama pergi meninggalkan kita.”

“Itu hanya  mimpi, sayang.  Sini, mari kupeluk.”

“Aku takut.”

“Ada aku yang menemanimu.  Tidak ada yang perlu kamu takutkan lagi.”