Posted in Novel

YOU’RE THE INSPIRATION (part 1)

Pertengahan Juli Thn. 1990.  Kota Bandung.

Pulang.  Hanya kata itu yang ada di benaknya.  Dilangkahkan kakinya cepat, menyusuri jalan kecil  menuju rumahnya.  Langkahnya melambat ketika mendekati sebuah rumah bertatanan kuno type 60, dengan halaman kecil di depannya yang ditanami rerumputan dan beberapa pohon kecil.  Rumah yang sejak  ia kecil, menjadi tempatnya berteduh.

Tepat di jalanan depan rumahnya, 6 orang bocah lelaki berusia sekitar 7-10 thn tampak asyik bermain bola.  Mereka terlihat begitu bersemangat  saling merebut bola untuk menendangnya ke gawang lawan masing-masing.  Suara teriakan dan tawa terdengar riuh di tengah sore hari yang cerah.  Sesekali mereka membubarkan diri bila terlihat ada mobil atau sepeda motor yang lewat.  Aktivitas itu seketika terhenti ketika mereka melihatnya datang.  6 pasang mata menatapnya takjub.

“Aa Anton pulang….!!!”

“Aa Anton sudah pulang….!!!”

Silih berganti suara anak-anak itu memanggil namanya.

Anton, seorang remaja berusia 17 thn., tersenyum ramah.  Senang rasanya bisa berjumpa dengan mereka lagi.  Selama libur panjang sekolah, kurang lebih 1  bulan, ia  pergi meninggalkan rumah ini.

“Aa Anton, bagaimana mendaki gunungnya?….. Ketemu harimau nggak?” Tony dengan  tubuh tambunnya, berlari mendekati Anton diikuti  teman-temannya yang berlari di belakangnya.

“Aa Anton, bawa oleh-oleh nggak dari Jakarta?”  Wahyu, bocah kelas 5 SD,  tubuhnya kecil dan kurus namun kakinya sangat kencang bila menendang bola,  menatap Anton penuh harap.

Anton merendahkan tubuhnya dan tersenyum.  Wajahnya masih menyiratkan kelelahan.

“Ini oleh-oleh buat kalian,”diangkatnya tas plastik di tangan kanannya yang berisi 10 batang coklat.  “Tapi ceritanya nanti ya.  Capek, nih!”

Tanpa dikomando anak-anak itu langsung berebut untuk mendapatkan coklat-coklat tersebut.   Walaupun coklat tersebut sudah agak lembek, namun mereka tidak peduli dan tetap menikmatinya dengan riang.

Anton tidak dapat menahan senyumnya melihat kelakuan teman-teman ciliknya.  Ia benar-benar bersyukur karena sempat membeli coklat-coklat itu di terminal bis ketika tiba di Bandung.  Padahal beberapa hari yang lalu  ia sempat berpikir bahwa ia tidak akan bisa membeli oleh-oleh untuk teman-teman ciliknya itu.

Liburan panjang yang diisi dengan kegiatan klub pecinta alam sekolah yang ditekuninya dan setelah itu pergi ke Jakarta tempat ayah, ibu dan adiknya tinggal, cukup menguras uang bulanannya.   Syukurlah, sebelum pulang ke Bandung, ayahnya memberikan jatah uang jajan bulanannya plus bonus dari ibunya karena selama di Jakarta ia sering membantu beliau mengirim  kue-kue kepada para pembeli yang telah memesannya.

Anton berjalan masuk ke  teras rumahnya.  Di sana tampak seorang lelaki tua dengan rambutnya yang telah memutih semua, tengah duduk dengan asiknya memandangi pria-pria kecil itu berebut bola, sambil sesekali menghirup air di cangkir yang tengah dipegangnya.  Kerut-kerut di wajahnya seolah terkalahkan oleh pancaran matanya yang teduh dan ramah serta senyumnya yang selalu terkulum.

“Assalamualaikum……,”  Anton memberi salam.  Lelaki tua itu memandangnya sambil tersenyum.

“Waalaikumsalam…..”

“Kakek, apa kabar?”  disalami dan dicium tangan kakeknya dengan perasaan rindu.

“Alhamdulillah baik. Kau sendiri bagaimana….?” Kakek mengamati wajah Anton.”Sebulan tidak bertemu, kau jadi  bertambah gemuk, ya. Dan….tambah hitam” beliau tertawa kecil.

Banyak  hal yang ingin Anton ceritakan.  Tapi badannya yang berkeringat serta tas ransel di punggungnya yang mulai terasa berat, mengingatkannya untuk cepat-cepat masuk ke dalam rumah dan berbenah.  Ia meminta izin pada kakek untuk masuk ke dalam rumah.

“Anton….”  Baru berjalan beberapa langkah, kakek memanggilnya,  “Fifi beberapa kali menelponmu.”

“Oh…, apa katanya?”

Kakek menggeleng.

“Tidak ada.  Dia hanya berbicara denganmu.”

Anton tersenyum kecut lalu melanjutkan langkahnya memasuki rumah.  Di ruang tengah tampak 2 anak perempuan, Nana dan Ayu, tengah menonton televisi,  Mereka adalah anak-anak tetangganya.  Kedua gadis kecil itu tampak senang melihat kedatangan Anton.  Tapi Anton sudah terlalu lelah. Setelah menyapa mereka berdua, tanpa basa-basi  diberikannya 2 batang coklat yang tersisa, lalu ia pun masuk kamar.

Pandangan matanya terpaku pada sepucuk surat  di atas meja belajarnya.  Ia langsung mengambil dan membukanya.

“Aku benar-benar ingin bicara denganmu.  Berilah aku kesempatan.  Fifi.”

Anton menghela nafasnya.  Beberapa detik kemudian surat tersebut diremasnya lalu dibuang ke keranjang sampah.

Usai berbenah, mandi, dan sholat, direbahkan tubuhnya di ranjang.  Pikirannya melayang.  Besok hari Senin, ia sudah masuk sekolah kembali.  Statusnya pun berubah.  Sekarang ia sudah menjadi anak kelas 3 SMA. Paling senior di sekolahnya.   Rasanya tidak sabar menunggu besok tiba.  Ia ingin cepat-cepat bertemu teman-temannya serta melihat kembali almamaternya tercinta.

Siapa yang akan menjadi teman-teman sekelasnya nanti?  Apakah akan seseru dan sekompak teman-teman sekelasnya waktu masih di kelas 2? Ia juga ingin tahu raut-raut wajah anak-anak kelas yang baru masuk.  Berapa banyak  yang  akan tertarik menjadi anggota pecinta alam yang dipimpinnya? Dan satu lagi…… Bagaimana gadis-gadisnya?  Apakah cantik-cantik?  Apakah kali ini ia akan menemui wanita idamannya.  Seorang wanita cantik, berkulit putih, tinggi langsing dan….energik.  Anton tertawa dalam hati.

Sejak kelas 4 SD, ia sudah mengagumi wanita cantik.  Dan dari dulu hingga sekarang kriteria  favoritnya tidak berubah.  Putih, tinggi, langsing, energik, mirip dengan sosok ibunya yang sangat dikaguminya.

Kelas 5 SD Anton mulai mempelajari bagaimana menyenangkan hati wanita. Menginjak kelas 6, beberapa gadis kecil  sudah mulai menunjukkan perhatian padanya.  Bahkan kala itu, ia pernah menerima surat cinta dari seorang gadis kelas 3 SMP!  Wajahnya yang tampan, sikapnya yang ramah serta kecerdasannya,  membuatnya banyak disukai lawan jenisnya.  Anton menyukai dan menikmati perhatian yang diberikan para gadis itu kepadanya.  Namun ia masih terlalu malu untuk menunjukkannya.  Ketika SMP, seiring dengan semakin banyak teman-teman wanita yang memperhatikannya, ia mulai memberanikan diri memilih salah satu yang sesuai dengan kriterianya.

Kelas 3 SMP adalah saat pertama kali ia mencoba pacaran dan hanya bertahan  4 bulan.  Setelah itu berlalu begitu saja, tanpa kesan.  Kelas 1 SMA, ia menjalin hubungan dengan Candra, kakak kelas 2 tahun di atasnya.  Setelah menjalin hubungan selama 6 bulan, mereka putus baik-baik.  Anton merasa kehilangan, tapi hanya sebentar.  Kisahnya dengan Candra pun segera dilupakannya.

Pengalaman terakhir Anton dengan wanita terjadi sekitar 5 bulan yang lalu.  Fifi, anak kelas sosial, salah seorang anggota cheer leaders sekolahnya dengan tidak malu-malu menunjukkan ketertarikannya pada Anton.  Gadis itu sangat cantik, modis, energik, benar-benar sesuai dengan kriteria wanita idaman Anton. Setelah 2 minggu Fifi dengan gencar mendekati Anton, akhirnya hati Anton  luluh juga.  Mereka pun berpacaran.

Namun kisah kasih tersebut hanya berjalan selama tiga bulan.  Fifi sangat pecemburu dan berulang kali mereka bertengkar gara-gara hal itu.  Dua minggu sebelum liburan sekolah yang lalu, Anton pergi menemani Nina, teman sekelasnya, mencari kado ulang tahun  untuk salah seorang teman mereka. Karena terburu-buru, Anton tidak sempat memberitahu Fifi.  Tetapi, entah bagaimana, ternyata akhirnya Fifi mengetahui hal ini.  Mereka pun bertengkar hebat.  Hingga akhirnya Anton tidak tahan lagi,  saat itu juga ia memutuskan Fifi.

Keputusan Anton benar-benar membuat Fifi syok.  Gadis itu terus menerus menangis dan  memohon supaya Anton tidak meninggalkannya.  Sebetulnya Anton tidak tega melihat Fifi seperti itu. Tetapi sikap dan ucapan Fifi saat itu benar-benar telah menyakiti hatinya.  Sehingga walaupun  sedih melihat Fifi yang terlihat begitu terpukul, Anton tetap bertahan dengan keputusannya.

Liburan sekolah selama sebulan lebih benar-benar dimanfaatkan Anton untuk mengobati luka di hatinya.  Ia pergi meninggalkan kota Bandung dan berusaha melupakan sosok Fifi yang selama beberapa bulan telah mengisi hatinya.

Namun rupanya Fifi tidak pernah menyerah.  Selama Anton di Jakarta pun, gadis itu berulang kali menghubunginya, meskipun Anton tidak pernah mau menerimanya.   Anton sudah trauma untuk berhubungan kembali dengan mantan kekasihnya itu.  Walaupun terkadang hati kecilnya tersentuh juga melihat perjuangan Fifi yang tak kenal lelah untuk mendapatkan kembali dirinya.

Advertisements

Author:

I'm a lucky wife, very happy mom and grateful civil servant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s