Posted in Novel

YOU’RE THE INSPIRATION (part 2)

Ketukan halus di pintu kamarnya, membuat Anton terjaga dari tidur.  Dilirik jam weker di sebelahnya, ternyata sudah jam 04.45 pagi.   Perlahan pintu kamar terbuka.  Kakek sudah berdiri di hadapannya.  Beliau tampak segar, sepertinya baru mandi.

“Bangun, Nak.   Sudah pagi….”

Anton mengangguk.  Kakek menutup kembali pintu kamar.

Anton pun bangkit dari peraduannya, membuka lemari pakaian, menyiapkan baju lalu menuju kamar mandi.  Sepintas dilihat kakeknya tengah di dapur menyiapkan makan pagi.   Usai  berpakaian, Anton mulai membersihkan rumah yang memang merupakan rutinitasnya di pagi hari.

Sambil menyapu lantai, pikiran Anton melayang.  Ia teringat janjinya pada ayah dan ibunya kalau tahun ini ia akan lebih serius belajar, agar tahun depan bisa masuk perguruan tinggi negri.  Kesibukannya sebagai ketua organisasi pecinta alam sekolah yang digelutinya, membuat nilai-nilai semester lalu banyak mengalami penurunan.  Biasanya ia selalu masuk 10 besar di kelasnya.  Namun sekarang ia hanya meraih peringkat 38 dari 54 siswa.

Anton jadi teringat kakeknya.  Kendati rangkingnya turun, beliau tidak pernah mencela atau pun menyalahkannya.  Bahkan beliau memuji Anton, karena di tengah kesibukannya yang begitu padat, Anton masih mampu meraih nilai-nilai yang lumayan, dan tidak ada angka merah.

Kakek adalah ayah dari ibu Anton.  Usianya 61 tahun, tetapi masih terlihat gagah.  Sebenarnya beliau bukan orang Bandung asli, melainkan orang Palembang.  Namun sejak lebih kurang 35 tahun yang lalu, beliau hijrah ke kota kembang.  Dan sekarang, caranya bertutur dalam bahasa Sunda, sudah tak dapat dibedakan dengan orang Sunda asli.

Kakek merupakan sosok yang sangat dikagumi dan dihormati  oleh Anton.  Beliau selalu menyapa setiap orang dengan ramah, menanyakan hal-hal yang mereka sukai, serta mendengarkan segala cerita maupun keluh kesah mereka dengan sungguh-sungguh.  Daya ingatnya juga luar biasa, karena beliau mampu mengingat nama dan wajah orang-orang  yang pernah ditemuinya.  Beliau menyimpan tanggal-tanggal hari ulang tahun anak-anak kecil di lingkungan rumah mereka, dan bila ada salah satu yang berulang tahun, beliau bersama anak-anak lainnya mengadakan kejutan-kejutan kecil untuk merayakannya.  Tidak heran, bila rumahnya sejak dulu selalu menjadi markas bagi anak-anak, terutama usia SD, yang berasal dari lingkungan tempat tinggalnya.  Mereka datang bergerombol atau sendiri-sendiri, baik hanya untuk sekedar nonton TV, berkumpul dengan teman-temannya atau belajar bersama.  Kakek selalu “welcome” dengan mereka semua.

Sejak lahir, Anton sudah tinggal di rumah ini  bersama kakek dan kedua orang tuanya.  Neneknya sudah lama tiada.  Enam  tahun kemudian, tak lama setelah kelahiran Andika, adik lelakinya,  ayahnya pindah kerja ke Jakarta disusul oleh ibu dan Andika 2 tahun kemudian.  Sedangkan Anton tetap di Bandung menemani kakeknya.

Kendati berjauhan, komunikasi dengan orang tuanya berjalan lancar.   Seminggu sekali ayah dan ibu menelponnya.  Satu atau dua bulan sekali mereka menengoknya di Bandung.   Bila bertemu, mereka selalu berbincang-bincang dengan akrab.  Ayah dan ibunya tidak hanya menempatkan diri sebagai orang tua namun juga sebagai sahabat baginya.

Mengingat keluarganya, sungguh membuat hati Anton nyaman.  Mereka merupakan keluarga sederhana. Kakek adalah seorang pensiunan kepala sekolah SD.  Ayah Anton adalah guru SMA negeri dan mempunyai pekerjaan sampingan sebagai guru privat, sedangkan ibunya berjualan kue-kue kecil buatannya.  Tetapi, di  tengah kesederhanaan, hidup mereka sangat bahagia.

Ups, -Anton tersadar dari lamunannya-, …….ada yang menabraknya.

Gagang pel yang baru saja mau ia gunakan jatuh.    Seorang bocah lelaki bertubuh gendut menerobos masuk pintu rumah Anton, menabraknya dan berlari cepat sekali ke dalam.  Sekilas Anton melihat pintu kamarnya tidak tertutup rapat. Dan bocah itu masuk ke dalamnya.

“O my God, tidak…….!“  desisnya dalam hati. Anton cepat-cepat berlari menuju kamarnya.  Ia teringat radio di kamarnya.

Sesampai di pintu kamar,  Anton bernafas lega.  Radionya sama sekali tidak disentuh.  Anak itu rupanya lebih tertarik dengan rak buku Anton.

Bocah tersebut berusia kira-kira 4 tahun, berkulit putIh, dan berwajah bulat.   Ia tampak asik menurunkan buku-buku dari raknya  Buku sekolah, buku cerita, diturunkan satu persatu.  Lalu disusunnya dan ditumpuk.  Bocah itu tertawa senang, kemudian mengitari tumpukan buku tersebut.  Setelah itu buku-buku tersebut diambil dan disimpan lagi di rak.  Dan Anton berani bertaruh,  bocah tersebut pasti akan melakukan hal yang sama lagi.  Menumpuk buku, mengitarinya, menaruh lagi di rak.  Begitu seterusnya.

“Daniel…..” tampak seorang perempuan berusia 20-an  dengan panik memanggil bocah tersebut .   Perempuan itu tampak asing bagi Anton.

“Mbak siapa?” sebenarnya Anton sudah dapat menebak jawabannya.  Tetapi ia tetap bertanya.

“Saya Asih, pembantu Bu Ledya.” Ia menjawab sambil memegang Daniel dan mencegahnya menurunkan buku-buku lagi.  Daniel tampak berontak.

“Sudah kerja berapa lama?” tanya Anton lagi.

“Dua minggu,” jawab Asih cepat.

Asih tampak gugup dan mulai terengah-engah.  Daniel ditariknya keluar dari kamar Anton.  Namun Daniel menolak dan memberontak sambil berteriak, hingga Asih kewalahan.

Anton langsung mengambil alih.  Daniel ia peluk erat dan ditatapnya.  Namun mata bocah itu terus memandang pintu kamar Anton sambil berteriak marah dengan bahasanya sendiri lalu mulai  menangis meronta-ronta.

Tenaga bocah itu sangat kuat, hingga  Anton harus dengan susah payah menariknya ke ruang TV.  Perlahan tangisan Daniel mereda dan  perhatiannya mulai beralih ke TV yang tengah menyala.  Ia terlihat  senang.  Beberapa saat kemudian ia berlari berputar di depan TV sambil tertawa-tawa.  Sepintas Anton melirik ke arah Asih yang masih tampak tegang.

Anton membereskan peralatan pelnya.  Tidak mungkin mengepel bila ada Daniel.  Karena ia akan terus berlari ke sana kemari dan bisa terpeleset.  –Seharusnya ia tidak datang sepagi ini-Anton mengomel dalam hati.

“Kalau setiap hari ia datang sepagi ini, berarti aku harus bangun jam 3 pagi…” keluhnya.

Sambil menyantap sarapannya, Anton melirik ke ruang tengah.  Kakek terlihat sedang mendekati Daniel yang tengah berlari-lari, sambil sesekali memanjat sofa.  Kakek memegang ke-2 lengan Daniel dengan erat lalu didudukkannya di sofa.  Beliau berusaha bertatapan dengan bocah itu.  Tangan  kanan kakek memegang wajah Daniel dan memaksanya dengan lembut supaya menatap matanya.  Setelah itu beliau mengucapkan beberapa kata secara lambat dan keras; sepertinya beliau berharap Daniel menirukannya; namun Daniel hanya menatap kakek sebentar lalu memberontak dan  berlari lagi.  Tapi kakek mencoba terus dan mencoba terus. Sesekali Daniel mau juga menirukan apa yang kakek ucapkan.   Beliau memang tidak kenal lelah.  Setiap saat berusaha mengajari   Daniel berbicara, ke toilet, memakai baju, dan sebagainya.  Sedikit demi sedikit memang ada kemajuan pada bocah itu, dibandingkan waktu pertama kali Anton melihatnya.  Namun setiap perintah yang diajarkan harus  berulang kali, dan membutuhkan waktu berminggu-minggu hingga akhirnya Daniel memahaminya.

Daniel adalah anak tunggal tante Ledya yang mengontrak rumah di sebelah rumah Anton semenjak 4 bulan yang lalu.  Tante Ledya seorang wanita cantik berambut panjang dan berkulit putih adalah seorang single parent.  Ia mengaku bekerja sebagai karyawati di sebuah salon dan  suaminya sudah meninggal.  Selebihnya tidak ada lagi yang dapat dikorek darinya, karena  ia sangat tertutup dan tidak pernah bergaul.  Tiap hari ia berangkat kerja dari pagi sampai malam.

Suatu siang kakek mendengar tangisan anak kecil dari arah rumah tante Ledya. Karena penasaran, beliau pun mengintip dari jendela rumah tersebut.    Dan beliau melihat sebuah pemandangan yang luar biasa.  Pembantu tante Ledya yang bertubuh tinggi-besar dan gemuk, sedang menonton televisi sambil menyantap makanan di depannya.  Dan….badannya yang besar itu tampak sedang menghimpit sesuatu ke ujung sofa.  Setelah diperhatikan, ternyata ia sedang menghimpit badan seorang bocah kecil, yaitu Daniel, ke ujung sofa, sehingga Daniel sulit bergerak.  Kaki dan tangan Daniel diikat dengan tali rafia.  Bocah itu terus menangis dan memberontak.

Saat itu juga kakek menggendor pintu rumah tante Ledya dengan keras.  Anton yang sedang berada di rumah pun ke luar menemui kakek.  Dan, selama bertahun-tahun hidup dengan kakek, baru pertama kali Anton melihat kakeknya semarah itu.  Hari itu juga beliau membawa Daniel ke klinik terdekat.  Untungnya tidak ada gangguan fisik yang berarti.

Malamnya kakek bertemu tante Ledya.  Mereka bercakap-cakap ditemani pak RT. Tante Ledya terlihat sangat shock dan menangis terus.  Ia mengaku sudah berulang kali berganti pembantu karena banyak yang tidak sabar menghadapi Daniel.  Tapi baru kali ini ada pembantu yang senekat itu.   Ia juga bercerita sudah beberapa kali membawa Daniel ke dokter maupun orang pinter.  Tapi hasilnya nihil.   Keterbatasan waktu dan biaya juga membuat tante Ledya tidak dapat berbuat banyak.

Sejak hari itu, atas permintaan kakek, tiap tante Ledya pergi bekerja, Daniel dan pembantunya selalu dititipkan pada kakek.  Dan sejak kehadiran Daniel di rumahnya, sejumlah kekacauan pun terjadi .  Hari pertama Daniel sudah berhasil memecahkan sebuah vas bunga dan merusak lampu di ruang tamu, karena ia berulang kali mematinyalakan lampu tersebut.  Setelah  peristiwa itu, malamnya Anton dan kakek membereskan rumah dan memastikan setiap barang berharga harus di luar jangkauan Daniel.   Esok harinya Anton menemukan pita kaset grup musik kesayangannya, Queen, sudah berjuntai di lantai, hampir putus.  Rupanya anak itu memanjat lemari dan mengambil sebuah kaset Queen.   Yang paling membuat pusing, Daniel juga suka –maaf- buang air besar dan kecil di sembarang tempat.  Benar-benar  menjengkelkan.  Para tetangga ada  yang mengatakan kalau Daniel kesambet jin, bahkan ada yang menuduh anak itu tidak waras.

Anton sering tidak habis pikir, kenapa kakek yang sudah tua mau direpotkan oleh anak ini.  Tetapi rupanya kakek betul-betul jatuh hati pada Daniel.   Beliau selalu menenangkan Anton dan menyuruhnya bersabar. Dari cara beliau memandang dan kesabarannya, terlihat ketulusan hatinya untuk menjalin hubungan dengan bocah tersebut.  Hal ini akhirnya meluluhkan hati Anton hingga akhirnya ia pun tidak banyak protes.

“Tidak berangkat, Ton?” pertanyaan kakek mengusik lamunan Anton.

“O, iya.  Sudah hampir setengah tujuh.”  Dicium tangan kakek.  Sebelum keluar, Anton sempat melirik Daniel yang sedang asik menyusun majalah-majalah dan menumpuknya.

“Assalamualaikum, Kek….”

“Waalaikumsalam….”

Advertisements

Author:

I'm a lucky wife, very happy mom and grateful civil servant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s