Posted in Novel

YOU’RE THE INSPIRATION (part 3)

Beberapa orang tampak berkerumun di depan pintu kelas 3 Fisika 2.  Mereka sibuk mencari apakah nama mereka tercantum di kertas yang ditempel di pintu masuk.  Anton segera bergabung.  Namanya tercantum di sana  dan ia ingin melihat nama-nama yang akan menjadi teman-teman sekelasnya nanti.   Hampir semua nama yang tercantum, cukup familiar baginya.  Beberapa nama merupakan teman-teman sekelasnya waktu kelas 1 dan kelas 2.   Beberapa nama lainnya adalah orang-orang yang aktif di berbagai kegiatan di sekolah. Anton mengenal hampir seluruh teman di sekolahnya, baik seangkatan maupun tidak.

 “Hai, Bos. Kita sekelas,”  seorang lelaki kurus dan berkaca mata menepuk bahu Anton.

Anton terkejut dan menoleh.   Setelah menyadari siapa yang menepuknya, ia pun tergelak.

“Hai Ino! Akhirnya kita bisa sekelas juga!” seru Anton seraya melakukan toss.

Ino adalah sahabatnya sekaligus teman sekelasnya selama di SMP. Waktu kelas 1 dan 2 SMA mereka tidak sekelas, namun mereka berdua menekuni kegiatan yang sama, yaitu pecinta alam.  Ino adalah wakil ketua organisasi tersebut.

“Eh, tadi aku ketemu Fifi di kantin,” kerling Ino dengan wajah menggoda.

“Oh ya?” sahut Anton acuh tak acuh.

 “Sepertinya Fifi belum bisa melupakanmu.  Beberapa kali dia menghubungiku, supaya….”

“Aku sedang tidak ingin membicarakan Fifi,”potong Anton.  Dipandangnya wajah Ino dengan serius,

Ino tersenyum maklum.  Topik pembicaraan pun beralih.  Mereka saling bertukar cerita mengenai segala hal, termasuk pengalaman liburan masing-masing.

Ketika sedang bercakap-cakap dengan serunya tanpa sengaja Anton melihat ke arah  jendela kelasnya dan tiba-tiba matanya tertumbuk pada sosok yang sangat asing di matanya.

“No, siapa gadis itu?  Murid baru, ya?”tanya Anton ingin tahu.

Ino melongok ke dalam kelas.

“Yang mana?”

“Itu yang duduk di bangku paling depan, pojok kiri.”

Ino memperhatikan ke arah yang ditunjuk Anton,  dan sejurus kemudian ia tertawa terbahak-bahak.

“Masak kau tidak tahu?  Itu kan si jenius Rini Handayani.”

Anton mengerutkan keningnya.

“Siapa dia?” nama itu terasa asing di telinga Anton.

“Kamu benar-benar tidak tahu?”Ino terlihat heran, “Dia itu anaknya pengusaha terkenal, Heru Herlambang.“

“Dia juga pemegang juara umum dan juara olimpiade Matematika tingkat nasional dan ASEAN,”tambah Ino lagi.

Anton baru ingat, bahwa ia pernah mendengar bahwa anaknya Heru Herlambang, salah seorang pembayar pajak terbesar di negeri ini, satu sekolah dan bahkan satu angkatan dengannya. Dulu sewaktu upacara bendera,  dari jarak jauh ia pernah melihat gadis itu sedang  menerima penghargaan dari sekolah atas prestasinya.  Tapi ia lupa namanya dan bahkan sudah lupa wajahnya.  Sepertinya orang-orang lebih banyak menyebut gadis itu sebagai anaknya Heru Herlambang, ketimbang menyebut namanya.

Sekali lagi Anton memperhatikan gadis itu dengan seksama dan ia hampir tak percaya dengan penglihatannya sendiri.  Gadis itu sama sekali tidak tampak seperti anak seorang pengusaha besar ternama.  Penampilannya sangat kuno dan sama sekali tidak menarik.  Tubuhnya sangat kurus dengan baju yang tampak kedodoran. Kemeja bajunya dikancing sampai atas hingga menutup lehernya. Rambutnya panjang dan dikepang.  Kulitnya gelap -sangat gelap malah- dan berkaca mata tebal.  Wajahnya menunduk terus memperhatikan sebuah buku tebal yang sedang dibacanya.  Sikapnya acuh dan sama sekali tidak peduli dengan sekitarnya.

“Dia teman sekelasku waktu kelas 2.  Kami menjulukinya ‘Snow Black.”

 “Snow Black?  Aneh sekali….’

“Dia selalu menggunakan tas punggung serta alat tulis bergambar Snow White, berkulit hitam dan sikapnya dingin seperti salju.  Jarang sekali tersenyum, berbicara dan bahkan menatap orang. Kami pikir dia cocok sekali menjadi temannya Snow White, yaitu Snow Black,” Ino tertawa.

Anton manggut-manggu.  Gadis itu sama sekali tidak menarik dan ia tidak mau tahu lebih banyak lagi tentang gadis ini.

“Oya, No, bagaimana persiapan untuk acara demo nanti?”

“Beres, bos!  Kau beruntung sekali memilki wakil ketua yang bisa diandalkan seperti aku.”

“Pokoknya kalau sampai gagal, kau orang pertama yang harus bertanggung jawab.”

“Hey, enak sekali!”protes Ino sengit,   “Selama liburan aku bekerja keras menggantikanmu mempersiapkan demo.  Sedangkan kau enak-enakan berlibur ke luar kota.”

“Ya, aku kan sedang menguji kemampuanmu,”tangkis Anton tidak mau kalah.

“Awas kau, ya.  Kalau demo nanti sukses, kau harus mentraktir aku satu bulan penuh.

“Wah, jangan, No.  Nanti aku tidak punya uang untuk kencan dengan cewek-cewek cantik,”ucap Anton dengan wajah memelas.

“Kau tidak punya modal, berani sekali menjadi playboy!”

 “Apa bedanya denganmu?”

“O, aku jauh lebih baik darimu.”

“Oh ya?”

“Ya. Karena belum pernah ada cewek yang menjadi korbanku.   Sedangkan korbanmu sudah tak terhingga.   Hahaha…..”

 “Hahaha….  Sialan kau.”

Advertisements

Author:

I'm a lucky wife, very happy mom and grateful civil servant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s