Posted in Novel

YOU’RE THE INSPIRATION (part 4)

Seminggu pertama di sekolah, dijalani Anton dengan penuh kesibukan. Ia dipilih secara mutlak oleh teman-teman sekelasnya untuk menjadi ketua kelas. Ia pun ikut sibuk sebagai panitia penataran siswa kelas 1 yang baru masuk.    Selain itu sebagai ketua klub pecinta alam, ia bertanggung jawab untuk mempersiapkan klubnya dalam mengikuti acara demo ekstra kurikuler yang diadakan di hari akhir penataran.

Setelah seminggu, Anton baru dapat bernafas dengan leluasa.  Kesibukannya sudah jauh berkurang dan ia bertekad untuk lebih serius dengan pelajaran di sekolahnya.  Karena itu, hari Senin ia sengaja berangkat lebih pagi.  Dengan datang pagi-pagi, ia berharap semangat belajarnya dapat lebih meningkat.

Sesampainya di sekolah, ternyata suasana kelasnya masih terasa lengang. Teman-teman sekelasnya belum ada yang datang.  Dilirik jam tangannya, baru pukul 06.15.  Biasanya mereka berdatangan mulai pukul 06.30.  Anton memilih duduk di bangku nomor 2 dari belakang.  Setelah itu ia mengecek papan tulis dan persediaan kapur tulis.  Sebagai ketua kelas ia merasa ikut bertanggung jawab dengan kesiapan perlengkapan untuk belajar mengajar.

“Seharusnya ada peraturan bahwa tidak ada yang boleh menjadi ketua kelas selama 3 tahun berturut-turut,”  Anton mengeluh dalam hati.  Sudah suratan nasib kalau setiap tahun ia selalu terpilih menjadi ketua kelas.

Anton melangkah keluar kelas dan berjalan-jalan menghirup udara segar.  Ketika melewati lapangan olah raga, Anton tersenyum sendiri.  Di sini, hari Sabtu 2 hari yang lalu, ia dan teman-temannya telah sukses melakukan pertunjukan rock climbing dan reppling.  Anton sangat berterima kasih pada semua teman-temannya yang telah membantunya menyiapkan segala sesuatu dengan begitu sempurna.

Melewati kantin, Anton merasa jantungnya berdebar. Masih lekat dalam ingatannya, dulu ia dan Fifi sering berduaan di kantin.  Saling bertukar cerita, bercanda riang, sembari mata Anton menikmati keindahan sosok wanita yang kala itu menjadi kekasihnya.    Tidak bisa dipungkiri kalau saat-saat itu cukup manis untuk dikenang.  Sekejab kemudian, Anton menggeleng-gelengkan kepalanya.  Ia masih belum dapat melupakan sakit hatinya mengingat tuduhan-tuduhan Fifi dulu kepadanya, akibat kecemburuan yang membabi buta.

Anton berjalan terus hingga melewati aula yang letaknya terpisah dari gedung sekolahnya.  Di dekat aula, langkahnya terhenti.  Dari dalam samar-samar terdengar suara denting piano. Pelan-pelan ia mendekati pintu aula dan berusaha untuk konsentrasi mendengarkan.

Air, sebuah lagu  klasik berirama lambat, karya komponis John Sebastian Bach, mengalun begitu indahnya.  Kebetulan Anton mengenal lagu ini.

Nada-nada yang dimainkan begitu halus dan sangat menyentuh.  Anton merasa seolah-olah sedang berada di dalam sebuah gedung opera yang megah, dengan lampu yang redup, dan ratusan penonton yang sedang meneteskan air matanya karena terharu.  Anton tidak bisa bermain musik, namun ia tahu bahwa tidak sembarang orang bisa bermain piano seperti ini.   Pastinya ia adalah seseorang yang perasaannya sangat halus dan lembut.

Diam-diam Anton mengintip ke dalam aula dan melihat  ke arah piano yang terletak di dekat panggung.  Dan….. ia benar-benar merasa ‘surprised’.  Tampak seorang gadis berkaca mata tebal, berambut panjang dikepang, dengan baju yang dikancing sampai leher dan wajahnya yang tanpa ekspresi, sedang duduk memainkan jemarinya di atas piano.  Sangat jauh berbeda dari sosok yang ia bayangkan  tadi.

“Bagus sekali ya, Cep Anton…..”ada yang berbisik di telinganya dengan logat Sunda yang sangat kental.

Anton terkejut dan menoleh.  Seraut wajah tua dan lugu menatapnya sambil tersenyum.  Ternyata Mang Dana, penjaga sekolah.

“Eh, Mang Dana. Kumaha…damang?” Anton tersenyum ramah pada Mang Dana. Suaranya dibuat selirih  mungkin.  Ia tidak mau, Rini Handayani, gadis yang bermain piano tadi, mengetahui dirinya tengah mengintip.

“Neng Rini pagi-pagi suka main piano di sini,”bisik lelaki tua itu lagi.

“Setiap hari?”

Mang Dana menggeleng.

“Tidak.  Kira-kira 2-3 kali seminggu.”

Anton terdiam heran.  -Bukankah Rini anak seorang konglomerat.  Apakah dia tidak mampu membeli piano, sehingga pagi-pagi harus datang ke sekolah untuk bermain piano?-pikirnya.

“Dia senang mendengarkan gema di aula bila sedang bermain piano.  Dulu dia pernah mengatakan itu pada saya,” ujar Mang Dana. Sepasang mata tuanya berusaha meyakinkan Anton, sepertinya ia tahu apa yang sedang dipikirkan Anton.

Gema?  Anton juga mendengar gema itu.  Dan ia baru menyadari bahwa gema itu juga berperan membuat alunan nada piano terdengar lebih anggun dan menyentuh.

“Mang Dana pernah ngobrol dengan Rini?”Anton bertanya heran.”Apa dia mau berbicara?”

“Ya, kadang-kadang kami berbicara sebentar kalau Neng Rini sedang meminta kunci aula pada saya,”penjaga sekolah itu tertawa lebar.

Usai mendengarkan satu lagu, Anton kembali ke kelasnya.   Diam-diam ia memperhatikan Rini yang masuk 5 menit sebelum bel berbunyi.   Gadis dengan tas ransel bergambar Snow White itu berjalan tanpa menyapa ataupun menoleh pada siapa pun yang dilewatinya.  Dan seperti biasa, ia duduk paling depan, pojok kiri, yang merupakan tempat favoritnya.  Setelah  menyiapkan buku-buku serta alat tulisnya Rini pun termenung memandang  ke luar dari balik jendela kaca yang dekat dengan tempat duduknya.  Anton mencoba melihat ke arah yang dipandangi Rini, namun ia hanya mendapati rerumputan dan pepohonan di samping sekolah, tidak ada yang lain.

“Betul-betul gadis yang misterius…,” pikir Anton.  Ingin rasanya Anton menyapa Rini dan bertanya lebih banyak tentang kehebatannya bermain piano.  Sejurus kemudian  ia menggeleng-gelengkan kepalanya dan menyadari  kekonyolan dirinya.  Sepertinya ia terlalu hanyut dengan permainan piano tadi, sehingga merasa penasaran.  Rini tidak pernah tertarik untuk berinteraksi dengan orang lain, jadi sia-sia saja bila mengajak gadis itu berbicara.  Lagipula, Rini adalah seorang gadis yang aneh dan tidak menarik,  dan Anton pun tidak mau memikirkan Rini lagi.

Namun beberapa hari kemudian, ketika jam istirahat, Anton mendengar nama Rini disebut-sebut oleh teman-teman perempuannya yang tengah bergerombol.  Mereka rupanya sedang membahas hasil wawancara Heru Herlambang, ayah Rini, di sebuah majalah terbitan terbaru.  Anton pura-pura membaca buku di dekat mereka dan diam-diam mendengarkan percakapan tersebut.

“……Heru Herlambang mengaku bercerai baik-baik dengan istrinya.  Padahal sebenarnya istrinya berselingkuh dengan pria bule dan kabur ke Inggris untuk menikah dengan selingkuhannya itu………Anak sulungnya  meninggal bukan karena sakit liver seperti yang diakuinya, tetapi karena overdosis………”

“Kok kamu tau, Cha?” sela Jeni.  Matanya terbelalak penuh rasa ingin tahu.

“Dari tanteku.  Beliau sudah hampir 3 tahun menjadi guru piano si  Snowblack,”Icha menjawab dengan bangga.

“Wah, Snowblack pintar main piano, donk!”celetuk Rosi.

“Tidak.  Dia seorang pianis yang buruk.  Kata tanteku,  permainan pianonya sangat kaku.    Tidak pakai perasaan. “

“Dia kan memang tidak punya perasaan….,”.timpal Yuke.

Mereka semua tertawa.

Rasa penasaran Anton pun timbul lagi.

Advertisements

Author:

I'm a lucky wife, very happy mom and grateful civil servant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s