Posted in Novel

YOU’RE THE INSPIRATION (part 5)

Suara kokokan ayam telah membuatnya terjaga.  Rini terbangun dan melirik jam dinding di kamarnya yang telah menunjukkan pukul lima pagi.

Gadis itu duduk di tempat tidurnya dan menyibakkan rambutnya yang panjang lalu menggelungnya. Sebelum berdiri, ia menarik nafasnya dalam-dalam dan  termenung.

Tadi malam ia memimpikan hal yang sama seperti hari-hari sebelumnya.      Bertemu mas Armand, berjalan-jalan dengannya serta bercakap-cakap mengenai apa-apa yang telah ia lalui hari ini.  Di akhir mimpinya ia melepaskan kerinduannya dengan memeluk tubuh lelaki itu dengan sangat erat.  Rasa rindu di dadanya begitu membuncah.  Ia ingin terus memeluknya dan tidak akan pernah membiarkan lelaki itu pergi lagi dari sisinya. Namun lagi-lagi mimpi itu terputus, membuat segala harapan dan impiannya sirna.   Ia harus  kembali pada kehidupan nyata serta menjalani segala aktivitas rutinnya.

Ia harus segera mandi, shalat Subuh, sarapan, lalu berangkat sekolah.  Pulang sekolah, serangkaian les  privat menantinya.  Les piano,  bahasa Inggris, bahasa Jerman dan bahasa Jepang bergantian setiap hari.  Setelah itu ia baru bisa melakukan hal-hal yang disukainya.  Bermain piano, membaca buku atau menonton video.

–Ah, kenapa harus ada pagi hari?  Kenapa harus terbangun dari tidur?- keluhnya dalam hati.

Usai mandi dan berbenah diri,  dibersihkan kaca matanya, lalu dikenakannya.  Buku-buku serta peralatan tulisnya dibereskan lalu dimasukkan ke dalam tas Snow White kesayangannya.  Tas itu merupakan hadiah ulang tahun dari mas Armand 5 tahun yang lalu.  Snow White merupakan salah satu tokoh favoritnya dan ia senang sekali menerima hadiah tersebut.

Usai menyiapkan peralatan, Rini segera berjalan keluar kamar.  Di ruang makan, sang ayah, Heru Herlambang, seorang pengusaha yang sudah dapat dikategorikan sebagai konglomerat  serta penulis beberapa buku ekonomi best seller,  tengah duduk dan memulai sarapannya.

Sudah sebulan lebih Rini tidak bertemu dengan ayahnya.  Terakhir mereka bertemu sebelum ia berangkat ke Inggris menemui ibunya.  Ayahnya sangat sibuk dan baru tad malam sempat menginap di rumah ini.  Pria berusia 55 tahun itu,  tampak letih dan lebih kurus dibanding terakhir bertemu.  Namun, sorot matanya berseri-seri.  Rupanya kehadiran tante Anita sejak 2 bulan yang lalu, benar-benar membuatnya bahagia.

Tante Anita, wanita berusia 35 tahun, duduk di sebelah sang ayah.  Kulitnya putih bersih, hidungnya mancung dengan mata yang bulat serta tubuh yang tinggi semampai  membuat tante Anita tampak sangat menawan.  Wajah aslinya jauh lebih cantik dibandingkan bila melihatnya di film-film yang dibintanginya maupun foto-fotonya di majalah.  Orangnya pun sangat ramah.

“Apa kabar Rini?”tegur tante Anita.

Rini tidak menjawab.   Ia hanya mengangguk dan tersenyum kecil kepada ayahnya dan tante Anita. Setelah itu ia pun duduk di berhadapan dengan mereka berdua. Pelan-pelan Rini menyantap rotinya.   Suasana hening.

“Bagaimana sekolahmu?” ayah Rini memulai percakapan.

“Baik.”Rini menjawab pelan.

Suasana hening kembali.  Bila menjadi pembicara di televisi ataupun seminar, ayahnya terlihat percaya diri dan tegas dalam berbicara.  Beliau terkenal sangat cerdas dan selalu menjawab setiap pertanyaan dengan cepat dan tepat.  Namun entah kenapa, bila berbicara dengannya, beliau seperti kehilangan ide.  Terlihat sangat kaku dan tidak leluasa.  Kadang-kadang Rini ingin menanyakan hal ini.  Namun ia tidak dapat mengungkapkannya.

“Rini mau teh ?”  pertanyaan tante Anita memecahkan keheningan.

Rini mengangguk sambil melirik sekilas ke arah wanita ayu itu yang tengah  menuangkan teh ke cangkirnya.

“Papa rasa kamu berhenti saja les pianonya.  Sekarang konsentrasi penuh mempelajari bahasa asing dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk sekolah di luar negri tahun depan,”Heru berkata cepat, seolah-olah tengah menutupi kegugupannya.

Rini bernafas lega.  –Baguslah-, pikirnya.  Wanita tua itu sungguh-sungguh membuatnya bosan.  Bu Gita, guru pianonya,  seseorang yang sangat cerewet dan angkuh.  Ia selalu menganggap dirinya paling pintar dan senang meremehkan orang lain.   Tiga tahun belajar piano dengannya merupakan mimpi buruk bagi Rini.

“Rencananya Rini mau mengambil jurusan apa?” tante Anita masih berusaha membuka percakapan dengannya.

Rini membisu.  Ia mendengar pertanyaan itu, namun mulutnya seperti terkunci.

“Ia akan mengambil jurusan ekonomi.”

-Bagus.  Papa sudah menjawabnya-. Rini tersenyum dalam hati.

“Apakah Rini tertarik?”Tante Anita bertanya sambil memandang ke arah Rini lalu memandang ke arah Heru Herlambang.  Sepertinya ia bingung harus mengajukan pertanyaan ini pada siapa.

Rini mulai merasa tidak nyaman.  Tante Anita terlalu banyak mengajukan pertanyaan padanya, sedangkan ia benar-benar tidak ingin  menjawabnya.   Ia tidak ingin berbicara pada siapa pun.  Ia hanya ingin diam.

“Ia pasti bisa.  IQ-nya 140.  Ia akan dengan mudah mempelajari apa saja,”  jawab Heru Herlambang sambil  membersihkan mulutnya dengan serbet dan bersiap untuk beranjak pergi.

“Kenapa ia tidak pernah menjawab?” sekilas Rini mendengar tante Anita berbisik pada ayahnya.

“Dia memang begitu.  Tidak suka berbicara,” Heru Herlambang menjawab pendek.  Lalu menatap ke arah Rini.

“Papa pergi dulu.  Mungkin 2 minggu lagi Papa ke sini lagi.  Pak Dedi seperti biasanya akan rutin menghubungimu untuk menanyakan segala keperluanmu.”

Sesaat Rini membalas tatapan ayahnya.   Mata mereka saling beradu selama sedetik, dan setelah itu serempak mereka memalingkan kepalanya ke arah lain.

Sesungguhnya Rini ingin sekali memeluk tubuh lelaki itu, serta mengungkapkan kerinduannya.    Namun badannya tidak mau bergerak.  Sang ayah duduk begitu dekat dengannya, namun ia merasa jauh.  Dan ia sungguh-sungguh tidak berdaya.  Samar-samar ia melihat ayahnya dan tante Anita berjalan menuju pintu keluar dan  pergi meninggalkannya.

Rini menatap ke arah dinding kosong di hadapannya. Ada sesuatu yang mendesak di dadanya.  Kapan mas Armand pulang? Kenapa ia tidak pernah pulang?  Kenapa ia harus menjalani semua ini sedirian?  Kenapa ia begitu sedih?  Kenapa air matanya tidak pernah bisa mengalir?  Kenapa ia tidak tahu jawabannya? Kenapa ia tidak pernah tahu dirinya?  Kenapa dan kenapa….?

Jakarta, September 1980

“Ada apa? Kenapa kamu belum tidur?”

……….

“Kamu mimpi buruk?”

……….

“Hey, jangan menangis.  Kau kan sudah besar.”

“Aku mimpi mama pergi meninggalkan kita.”

“Itu hanya  mimpi, sayang.  Sini, mari kupeluk.”

“Aku takut.”

“Ada aku yang menemanimu.  Tidak ada yang perlu kamu takutkan lagi.”

Advertisements

Author:

I'm a lucky wife, very happy mom and grateful civil servant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s