Posted in Novel

YOU’RE THE INSPIRATION (part 6)

Tok….tok…tok…..

Anton melirik jam di dinding. Jarumnya telah menunjukkan pukul 8 malam.  Ia pun berjalan menuju pintu sambil mencoba menebak-nebak siapa yang malam-malam datang ke rumahnya.

Setelah pintu dibuka, Anton langsung terbelalak.

“Fifi?  Ada apa malam-malam ke mari?”Anton tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya.

Fifi tidak langsung menjawab.  Ia memandang Anton dengan lesu. Wajahnya tampak pucat.

“Kau tidak pernah mau menerima telpon dariku,  selalu menghindariku di sekolah, tidak pernah membalas suratku…,”Fifi berkata dengan terbata-bata.  Matanya menyiratkan kepedihan hatinya, “Apa lagi yang harus kulakukan?”

Anton menghela nafas dalam.  Ia membuka lebar pintu rumahnya dan mempersilakan Fifi masuk, namun gadis itu menolaknya.  Dan akhirnya mereka berdua duduk di teras.

Dari teras Anton bisa melihat sebuah mobil kecil berwarna biru muda diparkir didepan pagar rumahnya.

“Kau menyetir sendiri ke sini?”Anton membuka percakapan.

Fifi mengangguk pelan.

Anton cukup terharu mendengarnya.  Rumah Fifi lumayan jauh dari rumahnya, dan tentu saja merupakan pengorbanan yang besar bagi seorang gadis pergi malam-malam seperti ini demi untuk menemuinya.

“Ada apa?”tanya Anton.

Fifi tidak menjawab.  Ia hanya menangis sesenggukan.  Air mata berlinangan di  pipinya.  Ia menangis terus seolah-olah sedang menumpahkan segala kegundahan yang dipendamnya selama ini.

Tubuh Anton terasa kaku.  Rasa kasihan, menyesal dan tidak tega bercampuk aduk di hatinya.  Ia terus mengamati Fifi tanpa tahu harus berbuat apa.  Setelah tangis Fifi mereda, Anton  berdiri dan masuk ke dalam rumah.  Anton membuat secangkir teh hangat lalu keluar dan diletakkannya di depan Fifi yang tampaknya sudah semakin mereda tangisannya.

“Minumlah,”ujar Anton pelan sambil menatap Fifi dengan lembut.

Fifi menghirup teh perlahan-lahan.  Dadanya masih naik turun, menunjukkan isakannya yang belum hilang.  Lima menit kemudian , gadis itu mulai tampak tenang.  Dan sudah mulai bisa menguasai dirinya.

“Anton, berapa kali aku harus meminta maaf padamu?  Apakah begitu sulit bagimu untuk memaafkan?”di akhir kalimat, suara Fifi seperti tercekik.  Ia sudah mau menangis lagi.

“Aku sudah memaafkanmu,”jawab Anton pelan.

Fifi terbelalak.

“Sungguh?’ sinar mata Fifi menunjukkan rasa tidak percaya.

Anton mengangguk.  Dia tidak berbohong, karena kehadiran Fifi malam ini benar-benar telah memupus segala kemarahannya.   Bagaimana mungkin ia menolak memaafkan seorang gadis cantik yang malam-malam datang ke rumahnya sambil menangis?

“Apakah….. apakah itu artinya kita bisa bersama lagi?”Fifi bertanya penuh harap.

Anton menunduk.  Ia bingung untuk menjawabnya.  Ia menyukai Fifi.  Gadis itu sangat cantik dan menarik.  Perhatian serta pengorbanan yang diberikan pun benar-benar membuat Anton merasa tersanjung.  Namun, untuk merajut kembali hubungan mereka, Anton masih sangat bimbang.  Kalau boleh jujur, saat ini Anton sedang menikmati kesendiriannya.  Ia merasa bebas melakukan apa pun dan ternyata hal itu sangat menyenangkan.

“Kenapa kau tidak menjawab?  Apakah sudah ada yang lain?”desak Fifi.

Anton menggeleng.

“Tidak,”jawab Anton tegas.

“Lalu, kenapa?”

“Fifi…”Anton berkata lirih, “Saat ini aku sedang tidak ingin berhubungan dengan siapa pun.”

“Kenapa? Apakah kau trauma berpacaran?”

“Tidak juga.  Aku hanya butuh waktu untuk sendiri.”

“Sampai kapan?”Fifi tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya.

Anton mengangkat bahunya.

“Tidak tahu.”

Fifi menggenggam tangan Anton lalu menatapnya dalam.  Anton bisa menangkap kalau gadis itu benar-benar jatuh cinta padanya.

“Tapi kau masih suka padaku kan? Iya kan?”Fifi bertanya dengan gaya merajuk sebagaimana ciri khasnya selama ini.

Anton memandangi wajah Fifi selama beberapa saat.

-Hanya lelaki bodoh yang tidak menyukai wanita secantik kamu-pikir Anton.

“Anton, kok diam saja?  Tolong jawab pertanyaanku.”

Dengan ragu-ragu Anton mengangguk.  Ia tidak tahu apakah keputusannya untuk bersikap jujur malam itu tepat atau tidak.

Wajah Fifi langsung berseri-seri.  Ia tersenyum manis.

“Kalau begitu, aku akan menunggumu.  Aku akan menunggu sampai kau siap, “ucap Fifi mantap.

“Fifi, jangan begitu….. Aku jadi merasa terbebani.”

Fifi berdiri dari duduknya sambil tersenyum.

“Bagus, kalau kau merasa terbebani.  Itu yang kuharapkan,”Fifi tertawa sambil mengerling manja.

“Maksudmu…?”

Fifi tersenyum penuh arti lalu mengecup pipi Anton.  Setelah itu ia langsung melambaikan tangannya meninggalkan Anton yang perasaannya menjadi tak menentu.

Di dalam kamar, Anton melamun sambil mengusap-usap pipi bekas kecupan Fifi tadi.  Dadanya serasa mau meledak dan hatinya berbunga-bunga.  Gadis itu betul-betul sangat menggoda.   Dulu, hal itu pula yang membuat Anton menyukainya.  Kalau tadi Anton begitu yakin ia sangat menikmati kesendiriannya.  Sekarang ia jadi bimbang.

-Haruskah aku menerima Fifi sekarang?  Atau minggu depan?  Atau bulan depan?-

Namun menjelang tidur Anton sudah bisa mengendalikan gemuruh di hatinya dan mulai berpikir jernih.  Ia berusaha menghitung-hitung untung dan ruginya bila ia mulai berpacaran lagi, hingga akhirnya ia pun mantap dengan keputusannya.  Paling tidak ia butuh waktu 3 bulan untuk menguji kesungguhan Fifi.  Ia harus yakin kalau gadis itu benar-benar telah berubah. Anton masih menyukai Fifi dan sudut-sudut hatinya masih mendambakan dapat menjalin asmara dengan gadis itu lagi.

Sekarang, mumpung masih sendiri,  ia ingin menikmati kebebasannya dulu.  Bebas untuk berkumpul dengan teman-temannya kapan saja ia mau.  Dan bebas untuk menikmati pemandangan gadis-gadis cantik dan menarik di sekelilingnya.  tanpa harus merasa bersalah pada siapa pun.

Advertisements

Author:

I'm a lucky wife, very happy mom and grateful civil servant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s