Posted in Novel

YOU’RE THE INSPIRATION (part 7)

       Tiga minggu berlalu, Anton semakin menikmati kebersamaan dengan teman-teman sekelasnya.  Ada Afandi dan Leo yang suka melucu; Hans yang sering terlambat; Jeni, cewek seksi dan genit; Anjas, cowok serius dan pintar yang ternyata bisa diajak gila juga; tak ketinggalan Ino, sahabatnya yang kalem tapi bila mengeluarkan celetukan bisa membuat teman-teman sekelasnya terpingkal-pingkal. Masih banyak lagi teman lainnya dengan karakter mereka masing-masing yang memberi warna keceriaan di kelas 3 Fisika 2.

      Sebagai ketua kelas, Anton selalu berusaha membuat teman-teman sekelasnya kompak.   Dan nampaknya usahanya cukup berhasil.  Karena mereka tampak saling akrab satu sama lainnya.  Namun masih ada yang mengganjal bagi Anton, yaitu Rini Handayani.  Sifat Rini yang suka mengisolasi diri, membuat kekompakan kelasnya menjadi tidak sempurna.

     Sosok Rini masih menjadi misteri bagi Anton.  Kadang-kadang secara diam-diam ia suka memperhatikan gadis itu.  Rini selalu duduk menyendiri di bangku paling kiri depan.  Ia juga selalu menggunakan tas ransel bergambar Snow White dan alat-alat tulisnya pun bergambar tokoh dongeng terkenal karya Walt Disney itu.  Sebenarnya Anton ingin mengenal Rini lebih jauh.  Percakapan teman-temannya yang ia dengar beberapa waktu lalu menumbuhkan rasa penasaran dalam dirinya.  Benarkah cerita-cerita miring itu?  Apakah itu semua menjadi penyebab keanehan sikap Rini ?

      Ia juga  sempat menanyakan pada beberapa orang yang pernah menjadi teman sekelas gadis itu waktu kelas 1 atau 2. Dan tanggapan mereka semua nyaris sama.  Mereka senantiasa menggambarkan betapa gadis itu sangat tidak berperasaan dan menyeramkan.

      Tiga kali Anton mencoba menyapa Rini, namun selalu ditanggapi dengan dingin.  Rini tidak tampak seperti orang yang bersedih atau pun sedang menanggung beban berat.  Ia lebih mirip orang yang tidak membutuhkan siapa pun.  Wajahnya kaku, tanpa ekspresi., acuh dan tidak pernah mau menyapa atau berpandangan dengan teman-temannya.

      Terkadang Anton berpikir, mungkin apa yang dikatakan orang-orang memang benar, gadis itu tidak punya perasaan.  Sehingga masalah apapun yang ia alami, tidak akan membawa pengaruh banyak bagi dirinya.  Selain itu, tentu saja,  karena  hartanya melimpah, ia  dapat memiliki segalanya yang dinginkan,  dan  tidak memerlukan bantuan orang lain.  Setelah sapaannya yang ketiga kali dianggap bagai angin lalu oleh Rini,  Anton akhirnya memilih mengikuti jejak teman-temannya yang lain untuk tidak memperdulikan gadis itu.   Bahkan beberapa kali  ia ikut tertawa ketika teman-temannya membuat celetukan-celetukan bernada mengejek yang ditujukan pada Rini ketika gadis itu lewat di depan mereka.

     Namun sesekali terbersit sebuah pertanyaan dalam dirinya, mengapa orang yang tidak berperasaan seperti itu mampu memainkan piano dengan begitu indahnya dan menyentuh hati?

   Menjelang perayaan 17 Agustusan, sebagaimana tahun-tahun yang lalu, sekolah mengadakan berbagai kegiatan dan lomba antar kelas untuk  merayakannya.  Anton selaku ketua kelas, tidak kalah sibuk menyiapkan tim-tim di kelasnya.

      Bu Ana, guru Biologi dan juga wali kelas  3 Fisika 2, memberi kebebasan penuh bagi siswa-siswanya untuk menentukan jago-jagonya yang akan berlaga.  Namun khusus untuk lomba cepat tepat antar kelas, Bu Ana sendiri yang menentukannya.

       Anjasmara, Enriko dan Rini Handayani merupakan para siswa yang dipilih oleh wali kelas tersebut sebagai anggota tim utama.  Nama-nama tersebut diumumkan sendiri oleh Bu Ana ketika beliau tengah mengajar.  Beliau juga meminta Anton untuk membantu kesiapan tim serta menyiapkan supporter dan Anton pun menyatakan kesanggupannya.

            Ketika bel pulang sekolah berbunyi,  Anton segera membereskan buku-bukunya di atas meja dan sekilas ia melihat Anjas dan Riko sedang mendekati bangku Rini lalu mengajak gadis itu berbicara.

            “Anton, bagaimana ini?” Anton mengangkat kepalanya.  Anjas dan Riko telah berdiri di dekatnya.  Wajah mereka terlihat bingung dan kesal.

            “Kenapa?” Anton bertanya heran.

            “Rini tidak mau.  Kita ganti orang aja ya? Bagaimana kalau Mirna atau Bili?” jawab Riko.

            “Apa alasannya?”

            “Dia bilang tidak ada alasan.  Pokoknya dia tidak mau,” Anjas menjawab.

            “Sudahlah, Ton! Orang pintar di kelas kita kan tidak hanya dia.  Kalau kita paksa, dia bisa besar kepala.   Aku hubungi Mirna, ya?” Riko mulai terlihat tidak sabar.

            Anton memandang ke arah Rini.  Gadis itu terlihat sudah mau beranjak pergi.  Tiba-tiba ia merasa jengkel.

            “Tidak!  Aku mau bicara dulu dengan dia!“

         Anton bergegas mendekati Rini yang tengah berjalan ke luar kelas.  Dihalanginya langkah Rini.  Mereka sempat bertatapan sebentar.   Rini tampak terkejut,  tapi hanya sebentar.  Gadis itu memalingkan wajahnya sambil berjalan ke arah kiri untuk menghindari tubuh Anton.  Sekali lagi Anton menghalangi langkahnya. Matanya menatap tajam.

            “Ada apa?” akhirnya keluar juga ucapan dari mulut Rini.

            “Bu Ana sudah menentukan kamu sebagai wakil dari kelas untuk lomba cepat tepat. Kenapa tidak mau?” Anton menjawab perlahan, nada suaranya terdengar sedikit emosional.

       “Tidak ada alasan,”Rini menjawab pelan.  Tidak ada ekspresi penyesalan atau perasaan bersalah di wajahnya.

       “Tidak mungkin.  Kau pasti punya alasan,“ paksa Anton.

       Rini tidak berkomentar sedikit pun.  Emosi Anton naik lagi.

      “Saya tahu,  kamu sangat pintar dan putri seorang konglomerat.  Kamu sudah memiliki segalanya, sehingga kamu sama sekali tidak membutuhkan teman-teman kamu kan?  Bahkan untuk membela nama kelas pun kamu tidak mau,” seru Anton dengan ketus.

      Namun Rini masih diam seribu bahasa. Wajahnya tetap tanpa ekspresi dan matanya menatap kosong ke arah lain.  Kesabaran Anton pun habis.

 “Ternyata benar kata teman-teman, kamu memang sangat aneh!” Anton mengucapkannya dengan nada sinis.  Ia berharap Rini akan terpancing emosinya dan mau berbicara panjang lebar dengannya.

      Namun dugaannya salah.  Wajah Rini sama sekali tidak berubah.  Ia hanya  balas menatap Anton selama beberapa saat dengan sorot mata yang sungguh sulit diartikan.  Dan entah kenapa Anton menjadi gugup dibuatnya.  Rini menatapnya, tapi Anton merasa Rini tidak sungguh-sungguh menatapnya.  Gadis ini sekarang sedang berdiri begitu dekat dengannya, tetapi ia merasa gadis itu tidak sepenuhnya berdiri di dekatnya.

        Rini memalingkan wajahnya lalu pergi meninggalkan Anton tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Bahunya sempat menyentuh bahu Anton.   Tiba-tiba  Anton merasa menyesal dengan ucapan-ucapannya tadi.

         Sepanjang perjalanan menuju rumah, Anton tidak bisa berkonsentrasi.  Kata-kata yang ia ucapkan pada Rini terngiang terus di telinganya.  Dan sorot mata Rini ketika memandang dirinya tidak mau hilang dari pikirannya.  Ada rasa sesal di dadanya.  Kenapa ia bisa begitu emosional?  Kenapa Rini tidak marah setelah mendengar kata-katanya yang kasar itu?  Apa sebenarnya yang ada dalam benak gadis itu?

Advertisements

Author:

I'm a lucky wife, very happy mom and grateful civil servant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s