Posted in Novel

YOU’RE THE INSPIRATION (part 8)

Sesampainya di rumah, Anton berjalan cepat menuju kamarnya.  Di ruang tengah ia sempat bertemu Daniel yang sedang duduk asyik memainkan game watch didampingi Asih yang duduk terkantuk-kantuk di sebelahnya.  Anton melewati mereka tanpa menyapa.  Hatinya sedang kacau sehingga malas untuk sekedar berbasa-basi atau tersenyum.

Di dalam kamar, Anton membaringkan badannya di atas tempat tidur lalu memejamkan matanya.  Adegan saat ia berhadap-hadapan dengan Rini, kata-kata yang ia ucapkan dan sorot mata Rini terus menerus terbayang di kepalanya.  Hingga akhirnya ia pun tertidur.  Dalam mimpinya, ia mengulang kejadian yang dialaminya tadi, namun sekarang dengan skenario yang berbeda.  Ia menghalangi jalan Rini, Rini berhenti dan tersenyum menatapnya.

“Ada apa?” Rini tersenyum ramah.

“Bu Ana sudah menentukan kamu sebagai wakil dari kelas untuk lomba cepat tepat.  Kenapa tidak mau?”

Rini tertawa.

“Oh, itu hanya salah paham saja.  Saya bisa, kok.”

Mereka saling berpandangan mesra.

Lalu terdengar suara anak kecil menangis.  Mula-mula pelan, lama-lama sangat keras diselingi suara teriakan.

Anton terbangun dari tidurnya.  Tapi suara teriakan dan tangisan itu tidak hilang.  Ia pun membuka pintu kamarnya dan terkejut dengan apa yang dilihatnya.

Daniel sedang menangis keras sambil berteriak-teriak histeris.  Kepalanya dibenturkannnya berkali-kali ke dinding. Kakek memeluk anak itu dari belakang.  Tubuh rentanya tampak tidak berdaya menghadapi tenaga Daniel yang begitu besar.  Di sebelahnya, Asih terlihat  panik dan terisak-isak.

Anton segera berlari mendekati mereka. Ia menggantikan kakeknya memeluk Daniel dan menjauhkannya dari dinding.  Sepintas Anton melihat game watch di kaki Daniel.  Ia memberi isyarat pada Asih untuk mengambilkan game watch itu.  Namun ketika mainan itu dinyalakan, sudah tidak bisa.  Rupanya baterenya habis.  Kakek segera berlari ke kamar.  Keluar dari kamar beliau membawa jam tangan dan obeng.  Beliau segera membuka tempat batere game watch, mengganti baterenya dengan batere jam tangannya.  Setelah game watch menyala, beliau memberikannya pada Daniel.  Seketika bocah itu menghentikan amukannya, dan langsung duduk serius memainkan game watch di tangannya.  Dahinya lebam, namun anehnya ia tidak tampak kesakitan.

Anton pun melepaskan pelukannya.  Peluh mengalir di keningnya.  Ia nyaris kehabisan tenaga.  Dipandangi game watch di tangan Daniel.  Bocah itu sama sekali tidak tahu aturan permainannya, namun ia terlihat begitu serius menekan tombol-tombol yang tersedia.  Rupanya gambar-gambar dinamis dan suara game watch sangat menarik perhatiannya. Dan kemarahan Daniel ternyata dipicu karena batere game watch yang habis!

Anton melihat ke arah kakeknya.  Pria tua itu tampak lelah sekali.  Ia segera membimbing kakeknya memasuki kamar dan membaringkannya di tempat tidur.  Anton memandangi kakeknya dengan perasaan cemas.  Ini untuk ke-2 kalinya ia melihat Daniel marah sehebat itu.  Dan tentunya ini bukanlah hal yang mudah bagi orang setua kakek.

“Nanti malam, kita harus menghubungi Tante Ledya.  Mulai besok dia jangan menitipkan Daniel di rumah ini lagi,”seru Anton.

Kakek membuka matanya lalu menatap Anton tajam.

“Tidak.  Kalau kau merasa lelah pada Daniel, ya sudah.  Tidak usah dekat-dekat dengannya.”

“Saya memikirkan kakek. Setiap hari kakek harus mengurusi Daniel dengan segala kelakuannya yang ajaib itu.   Kakek sudah tua, dan seharusnya bisa melewati masa tua dengan tenang dan bahagia!” Anton mulai merasa jengkel.  Suaranya meninggi.

“Siapa bilang aku tidak bahagia?”tukas kakek cepat.”Lagipula, badanku masih kuat dan sekarang hanya butuh istirahat sebentar saja.”

“Tapi, Daniel itu tidak seperti anak biasa, Kek.  Anak itu aneh!”

“Dia tidak aneh….,”desis kakek.”Kau saja yang tidak bisa memahaminya.”

Anton menatap kakeknya dengan putus asa.

“Apakah tante Ledya tidak ada keluarga?  Bukankah lebih baik Daniel diurus keluarganya sendiri?”tanyanya lirih.

Kakek menghela nafas.  Tatapannya matanya mulai terlihat melunak.

“Tante Ledya dibuang oleh keluarganya,” jawab kakek pelan. “Ia menikah dengan pria yang tidak disetujui keluarganya.  Setelah suaminya meninggal dunia, wanita itu sudah tidak punya siapa-siapa lagi.”

“Apakah kakek kasihan padanya, sehingga mengorbankan diri kakek sendiri?”

“Tidak,”kakek terdiam sejenak. “Aku melakukannya, …………… karena aku merasa bahagia melakukannya.”

Kakek menepuk bahunya pelan.

“Aku menyayangi anak itu.  Daniel sudah seperti cucuku sendiri.”

Anton tidak dapat berkata apa-apa lagi.  Rasa haru dan bangga melihat ketulusan hati kakeknya serta rasa cemas, berbaur di dadanya.

Malamnya, Anton tidak bisa tidur.  Semua ucapan kakek tadi terekam kuat di kepalanya.

 “Dia tidak aneh.  Kau saja yang tidak bisa memahaminya.”

Percakapannya dengan Rini pun masih terngiang.

 “………Kamu memang sangat aneh.”

Semuanya silih berganti menggaung di telinganya.

Anton pun memutuskan, besok ia harus minta maaf pada Rini.

Advertisements

Author:

I'm a lucky wife, very happy mom and grateful civil servant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s