Posted in Novel

YOU’RE THE INSPIRATION (part 9)

       Rini menggerakkan jemarinya di atas tuts piano.  Ia menggerakkan sesuai dengan aliran di hatinya.  Piano adalah sahabat terbaiknya.  Bila ia merasa sedih, kecewa, marah maupun gembira, ia akan mengungkapkan lewat alunan nada yang dimainkannya.  Hanya lewat piano ia dapat mengekspresikan dirinya.

            Anton Ananta.  Lelaki itu terlihat begitu marah padanya.  Matanya berapi-api dan suaranya mendesis tajam.  Meski demikian, ia tetap terlihat sangat tampan.  Wajahnya putih dan bersih, alisnya tebal, matanya agak sipit, hidungnya mancung serta bibirnya tipis, merupakan perpaduan yang nyaris sempurna.   Beberapa kali Rini mendengar gadis-gadis di sekolahnya membicarakan Anton.  Sepertinya banyak wanita yang terpesona padanya dan ingin mendapatkan perhatian darinya.

        Rini tidak pernah tertarik dengan ketampanan Anton.  Ia hanya penasaran dengannya.  Beberapa kali Anton maju ke depan kelas dan berbicara di hadapan teman-temannya, bahkan pria itu pernah tiga kali menyapanya.    Sorot mata Anton  terlihat begitu percaya diri dan berseri-seri.  Melihat pancaran mata lelaki itu membuatnya gugup sekaligus terkesan.  Ingin rasanya Rini berdiri di balik mata pria itu dan mencari tahu apa saja yang dilihatnya.  Kenapa ia bisa terlihat selalu gembira.  Seandainya mata Anton adalah sebuah danau, Rini ingin sekali berenang di dalamnya.

            Dan tadi,…… Anton berdiri dekat di hadapannya.  Bau parfumnya pun tercium jelas.  Anton sangat marah.  Ia menyadari hal itu.  Dan ia merasa sedih karenanya.

     Rini tidak pernah bermaksud  menyakiti hati teman-temannya, apalagi membuat mereka marah.  Ia hanya tidak berdaya melawan dirinya sendiri.  Ia tidak sanggup berkumpul dengan mereka, karena …… bila mereka tertawa, ia tidak bisa tertawa.  Bila mereka tersenyum, ia tidak bisa tersenyum.

     Ia seperti hidup dalam sebuah tabung kaca.  Dari balik tabung ia dapat melihat dunia dengan jelas, namun semua terpisah darinya.   Ia hidup dalam dunianya sendiri.  Dunia yang selalu muram……dan kelam.  Ia ingin keluar, tapi tidak bisa.  Ia ingin tahu bagaimana caranya melepaskan diri, namun tidak ada yang membimbingnya.  Ia ingin tahu kenapa dan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya, tetapi tidak ada seorang pun yang menjelaskan padanya.

     Tadi Anton mengatakan bahwa ia dapat membeli segalanya dengan harta miliknya.  Seandainya perkataan Anton benar, alangkah senangnya.  Ia ingin semua yang hilang darinya dapat kembali lagi.  Apakah bisa?  Apakah ada di dunia ini yang dapat mewujudkan keinginannya?

Jakarta, Juni 1979

“Happy birthday to you….happy birthday to you…happy birthday, happy birthday, happy birthday to you……. Ayo  tiup lilinnya!”

…………….

“Eeit…nanti dulu.  Sebelum tiup lilin, sebutkan dulu keinginanmu!”

“Ehmm……aku ingin…..”

“Apa?  Suaramu pelan sekali.  Coba ulangi.”

“Aku ingin menikah….”

“Ha..? Hahaha……Menikah?  Menikah dengan siapa?”

“Dengan seorang pangeran.”

“Oya?  Hm.. pasti pangeran itu tampan, pintar dan baik hati.”

“Ya, ia tampan, pintar dan baik hati sepertimu.”

“Aku?  Aku tidak pintar.  Tahun lalu saja aku tidak naik kelas.”

“Itu karena gurumu tidak tahu kehebatanmu.”

“Oya?”

“Ya, kau pintar bernyanyi, pintar  membacakan cerita ……..Kau adalah kakak paling hebat di seluruh dunia.”

“Sssttt…jangan keras-keras.  Semua orang akan menertawakanmu.”

“Kenapa mereka tertawa?”

“Karena menurut mereka aku ini jahat.  Aku anak nakal dan sering merepotkan papa dan mama.”

“Mereka salah.  Kau tidak seperti itu.  Kau adalah orang paling baik yang pernah kutemui. ”

Advertisements

Author:

I'm a lucky wife, very happy mom and grateful civil servant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s