Posted in Novel

YOU’RE THE INSPIRATION (part 10)

             snow-white

Sumber gambar : http://www.picswalls.com/pic/snow-white-wallpapers/

 

            Sudah 3 hari berturut-turut, Anton menunggu Rini  di aula setiap pagi. Namun gadis itu tidak pernah muncul.

Anton teringat ucapan Mang Dana, bahwa 2-3 kali seminggu Rini bermain piano di sana.  Anton ingin meminta maaf tetapi tidak mau diketahui teman-teman lainnya.  Ia merasa harga dirinya turun bila teman-temannya melihat ia meminta maaf pada Rini.         “Mencari siapa, Cep?”Mang Dana tiba-tiba muncul di sampingnya.

“Ah, enggak.  Hanya mau melihat-lihat aula saja,”Anton tersipu malu.

“Sudah beberapa hari ini Neng Rini tidak bermain piano di sini,”Mang Dana menatapnya penuh arti.

Anton tersenyum seraya beranjak pergi.  Tiba-tiba ia melihat Rini dari jauh sedang berjalan mendekati aula.  Anton segera berlari ke balik pohon dan bersembunyi.  Ia mengamati Rini yang dengan tenang memasuki ruang aula.  Mang Dana sempat menyapa gadis itu dan dibalasnya dengan sedikit senyum serta anggukan kecil.   Ketika Rini sudah memasuki aula, Anton segera keluar dari persembunyiannya seraya memberi isyarat jari telunjuk di bibirnya pada Mang Dana.  Penjaga sekolah itu tersenyum dan mengangkat ibu jari tangan kanannya ke arah Anton, lalu pergi.

Dari balik pintu terdengar sebuah lagu lembut mengalun.  Terasa asing di telinga Anton.  Entah lagu apa.  Namun hati Anton bergetar mendengarnya.  Ia bisa merasakan sebuah kesedihan terpancar lewat nadanya.   Dirinya seolah-olah sedang berada di  sebuah ruang yang gelap dan tiada berujung.  Anton terhanyut dalam rasa duka, hingga akhirnya ia tersadar ketika lagu itu usai dimainkan.

Anton cepat-cepat memasuki aula ketika Rini sedang bersiap memainkan lagu kedua.  Gadis itu melihat sebentar ke arahnya dengan wajah terkejut, lalu menunduk sambil memandangi tuts-tuts piano.

Anton duduk di kursi dekat piano.  Suasana hening, hingga akhirnya Anton memulai percakapan.

“Maaf, mengganggu.”

Anton sempat terdiam beberapa saat menunggu jawaban.  Namun Rini tetap membisu.

“Saya datang ke sini, karena mau meminta maaf.  Saya sudah berlaku kasar padamu beberapa hari yang lalu,”ucapnya tulus.

Rini sama sekali tidak berkomentar.

“Saya juga keterlaluan mengatakan kamu orang aneh.  Apakah kamu mau memaafkan saya?”tambah Anton.

“Tidak apa-apa,”jawab Rini lalu berdiri dan beranjak pergi .

Anton segera memegang lengan Rini, dan menahannya supaya tidak pergi.

“Kamu sungguh-sungguh tidak marah?”

Rini mengangguk .

Anton semakin merasa menyesal.  Raut wajah gadis itu terlihat begitu pasrah dan sedikit pun tidak terlihat marah.

“Saya betul-betul merasa tidak enak.  Kalau kamu tidak keberatan, siang ini saya ingin mentraktir kamu makan siang.  Ini untuk menebus rasa bersalah saya.” Anton menatap penuh harap.

Rini tidak menjawab.

“Saya mohon padamu untuk tidak menolaknya.  Tiga hari berturut-turut saya menunggumu di sini.  Selain untuk minta maaf, saya juga ingin berteman denganmu.  Saya harap kamu mau menerima undangan saya.”

“Di mana?” gadis itu bertanya pelan.

“Kalau di restoran pizza di jalan Mawar bagaimana?”Anton bertanya antusias.

Rini terlihat ragu-ragu., namun akhirnya ia mengangguk.  Anton pun tersenyum lega.

Bel tanda masuk sekolah berbunyi.  Rini segera bergegas pergi meninggalkan Anton tanpa mengucapkan sepatah kata pun.  Tiba-tiba Anton teringat sesuatu dan memanggil Rini yang sudah berada di dekat pintu aula.

“Rini, lagu apa yang kamu mainkan tadi?”

“Requiem.”

“Requiem…? Saya baru pertama kali mendengarnya.  Siapa yang menciptakannya?”

“Saya sendiri,”Rini langsung berbalik pergi.

####*****####

 

Anton tiba terlebih dahulu di restoran yang dituju.  Dipilihnya meja yang terletak di pojok dan dekat jendela kaca yang menghadap ke lapangan parkir. Pulang sekolah tadi ia segera bergegas menuju restoran ini.  Ia pergi cepat-cepat karena tidak ingin teman-temannya tahu.  Bahkan ia sengaja memilih restoran pizza ini yang letaknya cukup jauh dari sekolahnya, tentunya dengan harapan tidak akan berjumpa dengan siapa pun yang dikenalnya di sini.

Sebenarnya, sebelum naik angkot tadi, ia bertemu Rini yang hendak menaiki mobil sedan mewahnya.  Rini sempat menawarinya untuk pergi bersama-sama menggunakan mobilnya.  Namun Anton menolak.  Melihat mobil mewah Rini membuatnya gugup.  Ia berani bertaruh, orang-orang di Indonesia yang memiliki mobil ini pasti bisa dihitung dengan jari.

Seorang pelayan mendekatinya memberikan daftar menu.  Anton membuka daftar menu tersebut dan melihat daftar harga makanan dengan sedikit cemas   Uang yang dibawanya tidaklah banyak.  Itu pun merupakan sisa uang jajannya bulan ini.  Namun setelah melihat daftar harga makanan, ia bernafas lega.  Sepertinya uangnya cukup, asal hanya memesan 2 porsi pizza dan minuman saja.  Tidak menambah.

Anton terheran-heran dengan dirinya sendiri.  Uangnya tidak banyak, namun nekat mentraktir anak seorang konglomerat.   Rasa gengsinya membuatnya nekat.  Seandainya Rini gadis biasa, tentu ia akan mentraktirnya makan bakso di kantin-kantin murah yang biasa ia datangi.

Dari  balik kaca Anton melihat mobil Rini telah tiba.  Sopir Rini, seorang pria tua dan berpakaian rapi, segera turun dan membukakan pintu mobil bagi majikannya.  Rini turun dan melangkah pelan menuju restoran.  Langkahnya sangat anggun dan teratur.  Seperti langkah seorang gadis bangsawan.  Tiba di meja Anton, ia langsung duduk tanpa berbasa basi sedikit pun.

Rini memesan pizza ukuran kecil serta sebotol air mineral.  Persis sama dengan yang dipesan Anton.  Sambil menunggu pesanan tiba, Rini melepaskan kaca matanya dan dibersihkannya dengan tisu.

Anton mengamati wajah Rini dengan seksama.  Wajah gadis itu biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa.  Apalagi penampilannya yang begitu bersahaja dan kuno, membuatnya tampak tidak menarik dibandingkan gadis-gadis lain di sekolahnya.  Namun entah kenapa, Anton merasa perlu untuk mengenalnya lebih jauh.  Gadis ini sungguh-sungguh membuatnya penasaran.

Tiba-tiba Rini mengangkat kepalanya, dan kedua mata mereka saling bertemu.  Jantung Anton berdegup kencang.  Ini pertama kalinya ia melihat mata Rini yang tidak menggunakan kaca mata.  Sorot mata gadis itu terlihat muram dan letih.   Rini rupanya menyadari Anton memperhatikan matanya.  Ia tampak   gugup dan segera mengenakan kaca matanya.

“Permainan piano kamu bagus sekali,”puji Anton tulus.  Ia berusaha mencairkan suasana.  “Saya pikir kamu jenius di bidang Matematika dan Fisika saja.  Namun ternyata itu belum apa-apa dibandingkan kejeniusanmu bermusik. “

“Terima kasih,” Rini mulai terlihat tenang.

“Sejak kapan kamu bisa menciptakan lagu?”tanya Anton lagi.

“Kelas 6 SD.”

“Oya?  Dan lagu tadi, eee…. Requiem, kapan kamu buat?”

“Tiga tahun yang lalu.”

“Bukankah Requiem itu lagu kematian.  Kenapa kamu memilih judul itu?”

“Kakak saya meninggal 3 tahun yang lalu.”

Anton terdiam. Ia teringat pembicaraan Icha dengan teman-temannya waktu itu.  Ia merasa sudah memasuki wilayah yang sensitif dan harus berhati-hati.  Anton pun mengalihkan pembicaraan.

“Selain bermain musik, apa lagi hobby-mu?”

“Membaca buku.”

“Oya?  Apa buku favoritmu?”

“Cinderella, Snow White, Sleeping Beauty……..”

Anton tertawa geli.  Ia jadi teringat tas ransel dan alat-alat tulis Rini yang bergambar Snow White.  -Gadis ini betul-betul unik-, pikirnya.

“Bukankah itu cerita dongeng untuk anak kecil?  Apakah sampai sekarang kamu masih menyukainya?”

Rini tidak langsung menjawab.  Ia tampak bingung melihat Anton tertawa.  Anton pun segera menghentikan tawanya dan menatap gadis itu serius.

“Maaf, saya tidak bermaksud menertawakanmu,” sesal Anton.

“Saya suka akhir ceritanya,” ujar Rini.

Anton berusaha mengingat akhir cerita dari ke-3 cerita dongeng tersebut.

“Akhirnya sang pangeran dan putri pun hidup bahagia untuk selama-lamanya…?”ucap Anton meminta persetujuan Rini.

Rini mengangguk pelan.  Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kalau ia sedang bercanda.

”Kamu sangat menyukai musik dan buku.  Boleh saya tahu apa yang paling tidak  kamu sukai?”

“Bangun tidur.”

Percakapan mereka terhenti, karena pelayan datang dan meletakkan 2 loyang pizza pesanan mereka.  Mereka pun mulai menikmati hidangannya masing-masing.

Diam-diam Anton memperhatikan Rini.  Gaya makan gadis itu tampak sangat anggun.  Caranya memegang pisau, garpu dan mengunyah betul-betul menunjukkan bahwa ia bukan orang biasa.  Sungguh kontras dengan penampilannya yang sederhana dan ketinggalan zaman.

“Saya seperti wartawan saja.  Bertanya-tanya terus padamu,”  Anton menatap mata Rini ramah,  “Kamu tidak mau bertanya pada saya?”

Rini berpikir sejenak.

“Apakah hidupmu menyenangkan?”

“Tentu saja!” jawab Anton mantap.

“Kenapa?”

“Saya mempunyai keluarga yang istimewa, memiliki teman-teman yang baik…….”

“Ceritakan tentang keluargamu,” potong Rini cepat.

Dengan senang hati Anton menceritakan tentang keluarganya.   Tentang ayahnya yang agak pendiam dan berprofesi sebagai guru SMA; ibunya yang sangat ramah dan senang membuat kue-kue; adiknya yang pemalu dan lebih muda 6 tahun darinya; kakeknya yang disukai banyak orang; rumahnya yang menjadi base camp anak-anak kecil di lingkungannya; tak lupa persahabatan kakeknya dengan Daniel.

Awalnya Rini lebih banyak menundukkan kepalanya sambil pelan-pelan mengunyah pizza di hadapannya.  Tak lama kemudian, ia sesekali  menatap mata Anton dan langsung menunduk bila Anton balas menatapnya.  Lama-lama Rini menjadi lebih sering mengangkat kepalanya dan  berkonsentrasi   mendengarkan cerita Anton.  Sorot mata gadis itu yang semula terlihat hampa dan muram, perlahan-lahan mulai terlihat  bersinar dan hidup.  Anton sungguh surprised melihatnya.

Anton berhenti bercerita setelah menyadari pizza di hadapannya sudah hampir habis.      Ia sempat terheran sendiri mengingat asyiknya ia bercerita tadi.    Walaupun Rini sama sekali tidak berkomentar, namun Anton merasa gadis itu sangat terkesan dengan ceritanya dan ia menjadi senang karenanya.

“Kamu koleksi buku cerita apa saja?”  Anton mengganti topik pembicaraan.

“Banyak.”

“Apa saya boleh melihatnya?”

Rini menghentikan makannya dan menatap Anton penuh tanda tanya.

“Saya juga suka mengoleksi buku cerita, terutama cerita bergambar.  Tapi koleksi buku saya tidak banyak, eee………”Anton merasa jantungnya berdebar kencang.  Entah kenapa, tiba-tiba ia merasa sangat gugup.  ”Apa saya boleh melihat koleksi buku di rumahmu?”

Rini menghabiskan potongan pizza terakhir di piringnya, lalu bertanya lirih.

“Kapan?”

“Kalau Sabtu nanti, sepulang sekolah, kamu ada acara?”

Rini menggeleng.

“Saya boleh ke rumahmu?”

Rini mengangguk pelan.

“Terima kasih,” Anton tersenyum senang.

Usai makan, Anton mengantar Rini sampai mobil.  Pak Hari, sopir Rini dengan sigap membukakan pintu mobil.  Rini mengucapkan terima kasih pada sopirnya itu dan  segera duduk di dalamnya.  Namun ketika pintunya hendak ditutup, Rini menahannya dan melihat ke arah Anton.

“Apakah sudah pernah dibawa ke psikiater?”

Anton mengernyitkan dahinya.  Ia tidak mengerti.

“Siapa?”

“Daniel.  Apakah ia sudah pernah diperiksa ke psikiater?”

“Sepertinya belum.  Kenapa?  Apakah menurutmu Daniel gila?”

“Tidak.  Sama sekali tidak,“ Rini menggeleng, lalu menutup kaca mobilnya dan mobilnya pun perlahan hilang dari pandangan Anton.

Dengan langkah lambat, Anton berjalan menuju tempat pemberhentian kendaraan umum.  Pertemuannya dengan Rini menimbulkan kesan tersendiri baginya.  Gadis itu sangat unik dan misterius.  Sorot matanya seperti menyimpan sesuatu.   Dia pun selalu menjawab pendek-pendek pada setiap pertanyaan, bahkan terkadang tidak menjawab.  Jawabannya kadang-kadang terdengar aneh, namun Anton bisa merasakan bahwa Rini sangat jujur dengan jawaban-jawabannya.

Hari Sabtu masih dua hari lagi.  Entah kenapa, tiba-tiba ia merasa tidak sabar menunggu hari Sabtu tiba.

Advertisements

Author:

I'm a lucky wife, very happy mom and grateful civil servant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s