Posted in Novel

YOU’RE THE INSPIRATION (part 11)

“Silakan masuk, Mas Anton,”Pak Hari  membukakan pintu mobil.  Lelaki tegap berusia sekitar 40 tahun itu tersenyum ramah padanya.

Sejenak Anton tertegun mengamati interior mobil.  Ia sungguh-sungguh merasa takjub.  Ia pernah beberapa kali menaiki mobil teman-temannya yang berasal dari kalangan berada, namun tidak ada satu pun yang memiliki mobil semewah ini.  Tampak Rini telah menunggunya di dalam mobil.

Anton memandang ke arah Rini, wajahnya menunjukkan kekaguman.

“Mobilmu bagus sekali.  Kamu sungguh-sungguh beruntung,”pujinya tulus.

Rini tidak menyahut.  Wajahnya tetap tanpa ekspresi.

Pak Hari menyalakan mesin mobil dan mereka pun meluncur pergi menuju rumah Rini.

Di tengah rintikan hujan, mobil terus melaju ke arah utara kota Bandung.  Mereka sudah lebih dari setengah jam perjalanan, hingga akhirnya tiba di sebuah kompleks perumahan mewah.

Mobil berhenti tepat di depan sebuah rumah besar berpagar putih.  Seorang satpam membukakan pintu pagar dan Pak Hari melajukan mobil hingga ke halaman rumahnya yang luas.

Anton berjalan beriringan dengan Rini yang mengajaknya masuk ke dalam rumah bercat putih gading dan bertingkat tiga..

Bagian dalam rumah Rini sangat megah.  Langit-langit rumahnya tinggi, dihiasi lampu-lampu kristal.  Sofa, karpet dan segala barang serta hiasan yang terdapat di dalamnya terlihat sangat berkelas dan harganya pasti sangat mahal.

“Betul-betul seperti istana,”gumam Anton takjub.

Seorang wanita tua  muncul di hadapan mereka dan dengan hormat mengambil  tas Rini seraya menanyakan apa saja yang harus disiapkan.  Logat Jawanya sangat kental.  Rini memanggilnya bibi dan  berbicara sebentar dengan pembantunya itu, lalu mengajak Anton menaiki tangga.  Di dinding dekat tangga ada bingkai foto besar bergambar foto Rini berdua dengan ayahnya.

“Kamu tinggal dengan siapa saja di rumah ini?”tanya Anton.

“Bersama  beberapa orang pembantu.  Ayahku kadang-kadang menginap di sini.”

“Ada berapa pembantu di rumahmu?”.

“Enam orang.”

 “Oya?  Banyak sekali.  Apa saja tugas mereka?”

“Satu orang sebagai kepala rumah tangga, satu orang juru masak, 3 orang pembersih rumah dan 1 orang tukang kebun.“

 Rini melihat ke arah Anton.

 “Ada berapa pembantu di rumahmu?” Rini balik bertanya.

“Tidak ada,”Anton tertawa kecil.  “Aku mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri.”

Di tingkat dua mereka memasuki sebuah ruangan besar yang berisi lemari-lemari tinggi.  Beratus-ratus buku tertata rapi di dalam lemari itu.  Di setiap lemari ditempel kertas-kertas yang menginformasikan jenis-jenis buku yang tersedia.  Ruangan itu berhubungan dengan sebuah ruangan yang lebih kecil di sebelahnya, yang berisi ratusan atau mungkin ribuan kaset serta piringan hitam yang tertata rapi di raknya masing-masing.   Di sana juga ada sebuah piano, keyboard, radio tape  dan komputer.  Mereka berjalan ke ruangan kecil tersebut.

“Ini ruang musik,”Rini menjelaskan.

“Ini pasti ruangan favoritmu!”tebak Anton.

Rini tersenyum kecil .

“Apakah sampai sekarang kamu masih suka menciptakan lagu?” Anton bertanya sambil memencet tuts piano.

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Tidak ada inspirasi,”jawab Rini cepat.  Setelah itu ia pun pamit untuk berganti pakaian.

Anton keluar menuju balkon yang menghadap ke halaman belakang.  Badannya menggigil menahan dingin.  Rumah Rini yang terletak di daerah atas kota Bandung serta cuaca mendung, membuat suhu udara menjadi begitu rendah.

Ia mengamati ke bawah dan terkagum-kagum melihatnya.  Tampak sebuah kolam renang besar, dikelilingi rerumputan serta beberapa pohon dan tanaman bunga.  Bagaikan sebuah telaga di tengah hutan kecil yang indah.

Anton masuk lagi ke ruangan perpustakaan dan mencari lemari yang berisi kumpulan cerita bergambar. Ia menemukannya dan mulai mengamati buku yang ada satu persatu.  Koleksi cergam Rini ternyata cukup lengkap, rata-rata memakai bahasa Inggris.  Rini rupanya sangat menggemari cerita-cerita dongeng.  Ada satu rak khusus yang memuat kisah-kisah  dongeng dari dalam maupun luar negeri.  Satu cerita yang sama bisa tersedia dalam beberapa versi  maupun bahasa, yaitu Inggris, Indonesia dan Jerman.

Tiba-tiba mata Anton tertumbuk pada sebuah bingkai foto yang entah sengaja atau tidak, diletakkan di antara  kumpulan buku-buku dongeng tersebut.  Ia mengambil bingkai foto tersebut dan memperhatikan foto di dalamnya.  Ternyata foto Rini ketika masih kecil dan seorang lelaki muda yang sedang merangkulnya.  Tanggal di foto tersebut menunjukkan bahwa foto itu diambil 5 tahun yang lalu.  Rambut Rini sebahu terurai, tidak menggunakan kaca mata dan sedang tersenyum.  Pria yang bersamanya kelihatannya berusia sekitar 20 tahunan.  Rambutnya agak gondrong.  Di telinga kirinya terpasang anting.   Wajahnya agak mirip dengan Rini, tetapi kulitnya putih.

Terdengar pintu terbuka dan seorang wanita tua, yang tadi dipanggil bibi oleh Rini, memasuki ruangan sambil membawa dua cangkir teh beserta beberapa toples kue.  Ia meletakkannya di atas meja lalu melihat ke arah Anton.

“Silakan diminum, Den,”ujar wanita itu penuh hormat.

Anton tersenyum seraya mengucapkan terima kasih.

 “Bibi, ini foto siapa, ya?” Anton menunjukkan foto yang baru saja ia temukan.

   Wanita itu tampak terkejut melihatnya.  Ada ketakutan di wajahya.

“Di mana Aden  menemukan foto ini?  Kalau tuan besar tahu, pasti marah,”bisiknya.

 “Memangnya lelaki di foto ini siapa?”tanya Anton heran.

Wanita itu melihat ke kiri dan kanan, seolah-olah takut bila ada yang mendengarkan.

 “Itu Den Armand, kakaknya Non Rini.  Dia sudah meninggal 3 tahun yang lalu.”

“Kenapa Pak Heru marah bila melihat foto ini?”

Bibi itu terdiam sejenak, menghela nafasnya.

“Sejak Den Armand meninggal, Tuan besar minta semua fotonya dan barang-barangnya disimpan di gudang.  Tidak ada yang boleh ketinggalan,”tuturnya pelan.

“Kenapa?”

“Karena tuan besar tidak ingin Non Rini mengingat kakaknya lagi,”wajah bibi itu terlihat sedih.”Non Rini sangat sedih sejak kakaknya pergi.”

“Apakah Rini sangat dekat dengan kakaknya?”

Bibi itu mengangguk.

“Den Armand sangat menyayangi dan melindungi adiknya.  Sayang….” Bibi itu tidak melanjutkan ucapannya. Ia melihat Rini muncul dari balik pintu, sehingga ia pun segera pamit pergi.

Sore itu Rini mengenakan kaus berkerah berwarna biru muda dan celana hitam.  Ia berjalan mendekati Anton dan berhenti tepat di depan rak buku di mana Anton sedang berdiri.  Gadis itu mengamati buku-buku di dalam rak tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

“Buku ini memuat  salah satu cerita favorit saya,” Anton berusaha memecahkan kesunyian sambil menunjukkan buku yang berjudul “Hans Christian Andersen Fairy Tales”, yang merupakan kumpulan cerita dongeng karya penulis kenamaan H.C. Andersen.

Rini tidak menyahut.  Namun sorot matanya menunjukkan kalau ia tertarik dengan pembicaraan Anton.

 “Kamu tahu kisah Puteri Sejati?” Anton melanjutkan ucapannya.

Rini mengangguk.  Ia mengingatnya.  Itu kisah tentang seorang pangeran yang mencari putri sejati untuk dijadikan istrinya.  Ia mencari ke mana-mana, namun tidak dapat menemukannya.  Suatu hari, di tengah hujan lebat ada seorang wanita  datang padanya, badannya penuh lumpur, namun wajahnya cantik sekali.   Sang ratu, ibunda pangeran, yakin bahwa wanita ini adalah putri sejati yang selama ini dicari pangeran.  Beliau menguji wanita itu dengan cara menaruh sebutir kapri di bawah tempat tidurnya, bahkan kasur itu ditumpuk hingga 20 kasur dan 20 seprei.  Esoknya wanita tersebut mengeluh tidak bisa tidur karena badannya terasa sakit  dan memar.  Ratu pun yakin kalau ia telah menemukan wanita sejati yang diinginkan putranya, yaitu wanita yang perasaannya sangat peka. Akhirnya sang pangeran menikahi wanita itu.

“Pertama kali saya membaca cerita itu pada waktu kelas 4 SD.  Saya sangat terkesan membacanya   Saat itu saya sedang naksir teman sekelas yang rumahnya tidak jauh dari rumah saya.  Sewaktu bermain ke rumahnya, diam-diam saya menaruh sebutir kapri dibawah kasur tempat tidurnya   Esok harinya ketika bertemu dia di sekolah,  saya bertanya, ‘Apakah tidurmu nyenyak semalam?’   Lalu………….”  Anton berhenti bercerita dan tersenyum-senyum sendiri.

“Lalu………..?” sela Rini ingin tahu.

“Lalu,….. dia menjawab bahwa tidurnya sangat nyenyak.  Dan sejak saat itu saya tidak pernah memikirkan gadis itu lagi.”

Rini tertawa geli hingga giginya terlihat.  Anton tertegun memandangnya.   Ia merasa sangat terpesona.   Ini pertama kalinya ia melihat Rini tertawa.  Dan bila tertawa, Rini ternyata sangat manis.

Gadis itu menghentikan tawanya ketika menyadari Anton tengah memperhatikannya.  Pipinya bersemu merah dan terlihat gugup.  Selama beberapa saat mereka berdua saling berpandangan.  Anton merasakan getaran-getaran halus di sekujur tubuhnya.  Ia seperti tersihir melihat keindahan di depan matanya.  Keindahan yang selama ini tersembunyi.

Beberapa saat kemudian Rini menundukkan kepalanya dan menghindari tatapan Anton.  Dengan wajah tersipu, ia mengajak Anton ke bawah untuk menyantap makan siang yang telah disediakan.  Anton pun  mengikuti langkah gadis itu menuju meja makan dan berjalan di belakangnya.

 Di meja makan telah tersedia berbagai macam hidangan.  Rini pun mempersilakan Anton untuk memulai makan siangnya.

Sambil menyantap makan siang, sesekali Anton mencuri pandang ke arah Rini.  Wajah dingin gadis itu sudah semakin mencair.   Sorot matanya pun mulai menunjukkan kehangatan.  Walaupun masih belum dapat berbicara panjang lebar, namun Rini sudah lebih sering tersenyum dan menatapnya.  Anton sangat senang melihatnya.

“Rini …. Boleh aku menanyakan sesuatu?” tiba-tiba Anton teringat  pembicaraannya dengan bibi tadi dan ia merasa penasaran.

 Rini menatap Anton.  Sorot matanya mengisyaratkan bahwa ia tidak keberatan.

Anton menarik nafas sebentar.  Ia sadar bahwa ia  telah mulai memasuki wilayah yang sensitif dan harus berhati-hati.

 “Apakah kakakmu, eee……siapa namanya…?”

  “Mas Armand”

 “Ya, mas Armand.  Apakah ia suka bermain piano seperti dirimu?”

  “Tidak.”

Anton memperhatikan wajah gadis itu.  Rini tampak biasa-biasa saja, tidak terlihat kaget atau sedih dengan pertanyaannya tadi.

“Apakah mas Armand senang mendengarkan permainan pianomu?”

 “Ya…”

“Rini, sedekat apa dirimu dengan mas Armand?”Anton bertanya lembut.  “Kenapa kamu terlihat begitu sedih?”

Raut wajah Rini mulai berubah.  Sepertinya ia tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu.  Anton pun menyadarinya.

“Maaf, saya terlalu lancang.  Kamu tidak usah menjawab kalau tidak mau……..” Anton menatap Rini dengan perasaan bersalah.

Rini menggeleng pelan.

“Tidak apa-apa,” ujarnya lirih.

Rini termenung seperti sedang mengenang sesuatu.  Ada senyuman kecil di bibirnya.

 “Mas Armand lebih tua 12 tahun dariku …dia menyukai lagu-lagu The Beatles. ”

Anton mendengarkan dengan penuh perhatian.

“Semua orang menganggap  dirinya brengsek.  Tapi………bagiku…….dia adalah seorang pangeran,” mata Rini menerawang jauh.  Terlihat kerinduan di dalamnya.

“Waktu itu kami masih tinggal di Jakarta.  Suatu hari papa dan mama bertengkar hebat.  Aku ketakutan dan  menangis sendirian,” Rini berhenti sejenak.  Sepertinya ia sulit untuk meneruskan kata-katanya.

 “Mas Armand sedang merayakan tahun baru bersama teman-temannya di Puncak.  Tengah malam ia menelpon hendak mengucapkan selamat tahun baru padaku.  Ia bertanya mengapa aku menangis………… .”

“Lalu…….”Anton begitu penasaran ingin mendengar lebih lanjut.

“Setelah mendengar jawabanku, malam itu juga ia pulang.  Sesampainya di rumah ia langsung memelukku.  Seharian ia menemani dan menghiburku. Ia mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.”

Rini menghentikan ceritanya.  Tiba-tiba ia merasakan kerinduan yang amat sangat.  Dadanya terasa sesak.   Kapan lagi ia dapat merasakan hangatnya pelukan kakaknya itu?  Kapan lagi  bisa memegang tangannya, mendengar suaranya, melihat senyumnya….? Di mana ia dapat menemuinya…? Ada di mana mas Armand sekarang?  Apakah ia baik-baik saja?  Kenapa ia pergi?

Mata Rini berkaca-kaca dan setetes air mata mengalir.   Begitu banyak yang ia rasakan.  Begitu banyak yang ia pendam.  Dan ia sungguh-sungguh tidak tahu harus bagaimana.  Air matanya terus mengalir.  Setetes demi setetes dan tanpa isakan.  Ia membuka kaca matanya dan menangis dalam diam.

Anton menatap Rini dengan rasa empati yang mendalam.  Ia mulai memahami gadis ini dan  betul-betul bisa merasakan  kesedihannya.

 “Berceritalah terus, Rini.  Aku akan mendengarkan,” bisik Anton.

Rini menggeleng.

“Aku harus melupakannya.  Papa menyuruhku begitu.”

“Kamu tidak mungkin melupakan seseorang yang sangat kamu sayangi.”

Rini menatap Anton selama beberapa saat, lalu menggelengkan kepalanya.  Ia menghapus air mata yang mengalir di pipinya dengan kedua tangannya lalu melanjutkan makannya. Tangisannya berhenti dan wajahnya kembali tanpa ekspresi, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Anton benar-benar bingung melihatnya.

Usai makan, Anton menatap Rini.   Sejak menangis tadi, Rini tidak mengucapkan sepatah kata pun padanya.  Anton jadi tidak enak dan khawatir Rini marah padanya.

“Maaf, tadi aku sudah membuatmu menangis,”ungkap Anton.

“Tidak apa-apa,”jawab Rini lemah.

“Kalau begitu aku pulang dulu.  Terima kasih sudah mau menerima kedatanganku. ”

Rini mengangguk.

Baru berjalan beberapa langkah, Anton membalikkan badannya. Ia ingin melihat wajah Rini sekali lagi. Ternyata Rini pun tengah memandanginya. Sinar mata gadis itu tampak begitu sedih.  Mereka sempat bertatapan selama beberapa detik hingga akhirnya Rini memalingkan wajahnya.  Anton merasa jantungnya berdegup lebih cepat. Entah kenapa, Anton merasa sepertinya di balik sikapnya yang dingin, sebenarnya Rini begitu rapuh dan butuh perlindungan.

“Rini, kalau kau butuh teman untuk bercerita, hubungi aku ya….” ucap Anton tulus.

Rini tersenyum dan mengangguk.  Sinar matanya mengisyaratkan rasa terima kasih.

Sepanjang jalan pulang, Anton sibuk menenangkan hatinya.  Ada perasaan aneh tumbuh di hatinya.  Suatu rasa yang begitu halus, dan begitu menyentuh. Rasa ingin memahami, melindungi dan….. menyayangi.  Perasaan itu sangat tulus, tumbuh perlahan dari sudut hatinya yang paling dalam.

Jakarta, 1 Januari 1986

“Kenapa  mereka sering bertengkar?”

“Mereka sedang berbeda pendapat.”

”Mengapa harus berteriak?  Mengapa piring-piring dipecahkan?  Kita tidak pernah seperti itu bila sedang berbeda pendapat.””

“Kita bukan suami istri. ”

”Kalau begitu, aku tidak mau menikah.”

“Jangan begitu.  Suatu saat kau akan menemukan pangeran pujaanmu dan kalian akan hidup bahagia untuk selamanya.”

“Aku takut.”

“Tidak ada yang perlu kau takutkan.  Semua akan baik-baik saja.”

“Jangan tinggalkan aku.”

“Tidak akan.  Aku sangat menyayangimu.”

flower

Sumber gambar : http://image.desk7.net/Flower%20Wallpapers/11818_1280x800.jpg

Advertisements

Author:

I'm a lucky wife, very happy mom and grateful civil servant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s