Posted in Novel

YOU’RE THE INSPIRATION (part 12)

“Apakah rasanya kurang enak?”tanya kakek sambil menghabiskan makanan di piringnya dengan lahap.

Anton segera tersadar dari lamunannya dan pelan-pelan menyantap hidangan di depannya. Kalau tidak ingat kakek telah susah payah memasak untuknya, ingin rasanya ia berhenti makan. Malam ini ia benar-benar merasa tidak lapar.

“Bagaimana di sekolah tadi?”kakek bertanya lagi.

“Ya, seperti biasanya.”

Kakek berhenti makan lalu memandang Anton dengan sorot tidak percaya.

“Sungguhkah?”suara bariton kakek terdengar pelan dan menyelidik.  Seperti biasa, perasaan lelaki tua itu sangat peka dan selalu saja dapat menangkap kegundahan di hatinya.

Anton meletakkan sendok dan garpunya lalu  menarik nafas dalam.

“Kakek ……….,”Anton merasa ragu melanjutkan ucapannya. Namun sorot mata kakeknya yang begitu bersahabat membuat keraguannya memudar.

“Saya mempunyai teman sekelas, perempuan.  Dia sangat tertutup, pendiam dan senang menyendiri, sama sekali tidak mempunyai teman.  Teman-teman sering mengejeknya dan menjulukinya Snow Black.“

“Hm…lalu….?”

“Ayah ibunya bercerai. Gosip yang beredar katanya perceraian mereka karena ibunya kawin lari dengan seorang bule.  Tiga tahun yang lalu, kakak satu-satunya yang sangat dekat dengannya meninggal dunia.  Kabarnya ia tewas karena overdosis.”

“Sekarang dia tinggal dengan siapa?”

“Dia tinggal di sebuah rumah yang sangat besar dengan beberapa orang pembantunya.  Ayahnya tinggal di Jakarta dan hanya sesekali menengoknya.”

 Anton menghentikan ceritanya dan merenung seperti memikirkan sesuatu.

“Apa yang ingin kau tanyakan?”sela kakek.

“Bagaimana dia bisa bertahan menjalani kehidupan yang seperti itu?  Mengapa ia kelihatan bukan seperti orang yang sedang menanggung beban berat?  Mengapa ia seperti tidak membutuhkan siapa pun?”

Anton menarik nafas sebentar sebelum melanjutkan ucapannya.

“Apa yang sebenarnya ia rasakan?  Apa yang ada dalam hatinya?”

 “Mengapa tidak kau tanyakan sendiri padanya?”kakek balik bertanya.

“Dia sangat acuh, dingin dan nyaris tidak pernah menatap ataupun membalas sapaan teman-temannya.  Sikapnya itu membuat kami malas berhubungan dengannya. Tapi anehnya…”

Tiba-tiba bayangan wajah Rini berkelebat di kepala Anton. Anton tidak dapat melupakan kejadian siang tadi, ketika gadis itu menitikkan air mata dan kelihatan begitu sedih  di hadapannya.  Sungguh kontras dengan sikapnya sehari-hari yang begitu acuh tak acuh dan seperti tidak membutuhkan siapa pun.

“Ada yang ingin kau ceritakan?”kakek memandang Anton lembut.

Akhirnya Anton menceritakan seluruh pengalamannya bersama Rini.  Sejak ia marah pada gadis itu karena menolak berpartisipasi menjadi anggota cepat tepat hingga kejadian selama ia main di rumah Rini.

Sosok Rini sangat unik sekaligus membingungkan bagi Anton.  Suatu waktu ia nampak seperti wanita berhati baja yang seolah-olah bisa meng-handle segala masalahnya seorang diri. Namun di lain waktu ia nampak begitu ringkih dan tidak berdaya, membuat orang yang berada di dekatnya ingin memeluk serta menentramkannya.

Pelan-pelan Anton mengangkat kepalanya lalu menatap kakek dengan wajah penuh ingin tahu.

“Menurut kakek, dia orangnya seperti apa?”

Kakek tidak langsung menjawab dan berpikir sejenak.

 “Sepertinya dia tidak jauh berbeda dibandingkan gadis remaja lain yang seusia dengannya,” komentar kakek.

Anton membelakkan matanya.

“Kenapa kakek berpendapat seperti itu?  Jelas-jelas dia sangat berbeda….”

“Dia juga punya perasaan seperti kalian semua.  Dia juga butuh kehadiran seorang teman, butuh untuk diperhatikan, didengarkan dan dimengerti. ”

 “Kalau begitu, mengapa ia malah menutup diri dari teman-temannya?”

 “Menurutmu apa yang harus ia lakukan?”

“Seandainya saja ia mau bersikap lebih ramah dan terbuka, tentu akan banyak teman yang bersimpati padanya.  Mereka pun pasti tidak akan pernah mengejek atau menertawakannya.”

“Bagaimana kalau ia tidak bisa?”

“Mengapa ia tidak bisa?”

“Tidak semua orang mampu mengungkapkan apa yang mereka rasakan. “

“Tapi sikapnya itu membuat orang jadi salah paham  padanya.”

Kakek tersenyum dan menatap Anton dalam.

“Bagaimana ia bisa berbagi rasa dengan orang-orang yang tidak pernah bersikap tulus dan selalu berprasangka buruk padanya? Apa reaksi kalian setelah mendengar gosip-gosip miring tentang keluarganya?  Apa kalian harus menunggu ia bersikap ramah terlebih dahulu baru bisa  merasakan kesedihannya?”

Anton memandang kakek dengan bingung.

“Saya tidak mengerti….”

Kakek menepuk-nepuk bahu Anton.

“Kau tidak akan pernah mengerti kalau kau tidak berusaha untuk mengerti.  Tetapi ketidakmengertianmu bukanlah alasan sehingga kau bisa berprasangka buruk padanya.”

“Saya ingin berteman dengannya.  Apa yang harus saya lakukan?”

“Bersikaplah tulus padanya.  Biarkan semua berjalan seperti air yang mengalir.  Bila ia merasa nyaman, tanpa dipaksa pun, ia akan bercerita banyak padamu.”

Anton tercenung.  Ucapan-ucapan kakek begitu mengena di hatinya.  Sepertinya kakek benar.

Sejurus kemudian kakek menatap Anton dengan pandangan menyelidik.

“Apakah kau menyukainya?”

Wajah Anton langsung memerah.  Ia tidak menduga akan langsung ditembak seperti itu.

“Tidak, saya hanya kasihan sama dia.  Tidak lebih.”

Melihat Anton gelagapan seperti itu, kakek terkekeh.  Beliau meneguk minuman di depannya lalu menatap Anton dengan tatapan penuh arti.

 “Sungguh?”

Anton mengangguk mantap.  Ia tidak pernah bermimpi sekali pun memiliki pacar berpenampilan tidak menarik dan sama sekali tidak mempunyai teman seperti Rini.  Apa kata teman-temannya nanti.

Di mata teman-temannya, Rini hanya memiliki 2 buah kelebihan, yaitu otaknya yang encer dan hartanya yang melimpah.  Selebihnya, Rini adalah gadis yang sama sekali tidak menarik, membosankan dan bahkan beberapa temannya menyebut gadis itu menyeramkan.  Jika ia sampai mempunyai hubungan khusus dengan putri konglomerat tersebut, ia pasti akan ditertawakan dan bukannya tidak mungkin mereka malah akan mencurigai  serta berpandangan miring terhadapnya. Seolah-olah ia hanya memanfaatkan kekayaan dan kepintaran gadis itu saja.  Tentu saja Anton tidak mau hal itu terjadi.

Kakek berdiri dan mengangkat piring-piring di atas meja.

“Kek, tadi pagi saya tidak melihat Daniel.”

“Tante Ledya hari ini cuti kerja.  Sejak pagi Daniel bermain dengan ibunya.”

“Kek, apa tante Ledya pernah membawa Daniel ke psikiater?”

“Ehm…sepertinya belum pernah.  Kenapa?”

“Ah, tidak.  Hanya ingin tahu.”

Advertisements

Author:

I'm a lucky wife, very happy mom and grateful civil servant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s