Posted in Novel

YOU’RE THE INSPIRATION (part 13)

Sudah empat hari berlalu semenjak kedatangan Anton ke rumah Rini.  Dan itu artinya, sudah empat malam Anton sulit tidur karena bayang-bayang gadis itu tidak pernah mau pergi dari kepalanya. Semua yang dialaminya bersama gadis itu, terutama ketika Anton bermain ke rumahnya, sangat berkesan bagi Anton.  Dan kini ia begitu merindukan saat-saat seperti itu dapat terulang kembali.   Namun ia tidak tahu bagaimana caranya dapat kontak lagi dengan Rini.

Sebenarnya, sejak kemarin  Anton selalu datang cepat ke sekolah dan menunggu Rini di aula.  Namun ia harus gigit jari karena Rini sama sekali tidak muncul.   Dan Anton benar-benar dibuat senewen karenanya.

Ia tidak tahu nomor telpon Rini.  Sedangkan untuk menegur gadis itu di kelas, Anton sama sekali tidak berani.  Ia malu pada teman-temannya.  Di dalam kelas, Anton hanya berani memandangi Rini dari kejauhan dan berharap akan ada keajaiban hingga ia bisa berhubungan kembali dengan gadis itu.

  “Heh, kerjain yang benar ya, nanti aku nyontek,”bisikan Ino yang duduk di dekatnya menyadarkan Anton dari lamunannya.

Anton membuka kertas ulangan geometri yang baru saja dibagikan di atas mejanya.  Di  depan kelas tampak Pak Dawud, guru geometri tengah duduk di meja guru sambil mengawasi murid-muridnya mengerjakan soal-soal ulangan yang ia berikan.  Matanya sangat tajam, seolah-olah siap menerkam siapa saja yang berani menyontek atau membuka buku.

Anton menggaruk-garukkan kepalanya.  Ia mulai mengerjakan soal-soal ulangan satu demi satu.  Tadi malam ia sudah berusaha keras untuk belajar, namun ia sulit untuk berkonsentrasi sehingga sekarang pun ia kesulitan untuk mengerjakan soal-soal tersebut.  Dalam hati ia menyumpah-nyumpah, bagaimana mungkin dengan soal sesulit ini mereka hanya diberi waktu 1 jam untuk mengerjakannya.

Anton berhenti mengerjakan soal ketika didengarnya teman-temannya ribut.  Rupanya mereka sedang terheran-heran bercampur takjub.  Tidak sampai 40 menit, Rini telah menyelesaikan ulangannya dan menyerahkannya lembaran kertas ulangan pada Pak Dawud sebelum ia ke luar kelas.

“Gile!  Si Snow Black memang jenius,”komentar Hari yang duduk tidak jauh dari Anton.

“Ya, karena terlalu jenius sampai sulit menatap mata orang lain!”timpal Leo, yang diikuti cekikikan teman-teman sekelas lainnya.

Rini tampak tidak peduli mendengar celetukan-celetukan usil yang ditujukan padanya.  Ia melangkah ke luar kelas dengan wajah tanpa ekspresi.

Melihat Rini berjalan sendirian dan suasana di luar kelas begitu sepi siang itu, tiba-tiba Anton seperti melihat sebuah celah.  Setelah memantapkan hatinya, Anton pun maju ke depan kelas.

“Mau ke mana?”tanya pak Dawud dengan pandangan menyelidik.

“Ini Pak, eee….saya kebelet,”jawab Anton gugup. Tangannya memegang perutnya seolah-olah sedang menahan untuk ke belakang.

“Bohong Pak, dia mau nyontek, Pak!”

“Iya, Pak.  Jangan  boleh ke belakang, Pak!” teriakan teman-teman sekelasnya bersahut-sahutan memekakkan telinga Anton..

Anton melotot pada teman-temannya namun mereka malah semakin seru menggodanya.

Pak Dawud memukul-mukul meja di depannya beberapa kali dengan raut wajah marah.

“Hey, kalian ini anak-anak TK atau SMA?”seru Pak Dawud.

Suasana kelas sontak menjadi hening.  Siapa yang tidak kenal Pak Dawud, guru paling sadis di sekolah itu.

Pak Dawud melihat ke arah Anton, “Kamu boleh ke kamar mandi.  Tapi jangan lama-lama, ya!  Dan kalau sampai ketahuan kamu menyontek…. Tidak ada ampun.  Mengerti?”

Anton mengangguk dan  dengan senyum kemenangan ia pun pergi keluar kelas.   Anton berjalan cepat mencari jejak Rini.  Dan seperti yang sudah ia duga,  Rini tampak sedang membaca buku di perpustakaan sekolah.

Perpustakaan siang itu sepi, sehingga Anton pun memberanikan diri mendekati Rini dan berdiri di dekat gadis itu.  Rini tampak terkejut melihat kehadiran Anton.

“Kapan main piano di aula lagi?”tanya Anton cepat.

“Eh…aku tidak tahu,”sahut Rini.

“Bagaimana kalau besok pagi. Kamu bisa kan?Please….”pinta Anton terburu-buru.

Rini mengangguk dengan wajah bingung.

Anton tersenyum senang lalu pamit pada Rini.  Ia cepat-cepat berjalan ke luar dari perpustakaan dan kembali ke kelasnya.

Hatinya berbunga-bunga.  Ia merasa senang sekali.  Dengan semangat ia mengerjakan soal-soal geometri yang belum ia selesaikan.  Entah kenapa, tiba-tiba otaknya menjadi begitu encer dan soal-soal di hadapannya menjadi begitu mudah.  Ia pun dapat menyelesaikannya dengan cepat.

aiss-picture

Picture by Aisyah Diah Larasati

Advertisements

Author:

I'm a lucky wife, very happy mom and grateful civil servant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s