Posted in Novel

YOU’RE THE INSPIRATION (part 15)

“Mas Anton… Non Rini sudah menunggu di mobil,” Pak Hari tergopoh-gopoh mendekati Anton yang telah menunggu di pinggir jalan sekitar 300 meter dari sekolah.

Anton berjalan mengikuti pak Hari menuju mobil yang diparkir di seberang jalan lalu mendekati  Rini yang tengah menunggunya di dalam mobil bagian belakang.   Ia mengetuk-ngetuk kaca Rini, memberi isyarat agar Rini membukanya.

“Bagaimana?  Apakah tuan putri sudah siap?”tanya Anton tepat setelah Rini membuka kaca jendelanya.

 Rini mengernyitkan dahinya, memandang Anton dengan bingung.

“Ayo!”suara Anton semakin dikeraskan, “Bila semakin siang mulainya, bisa-bisa kita tidak selesai melakukan surveynya!”

Rini semakin terperangah.  Sebelum gadis itu bersuara, Anton segera membuka pintu mobil dan menarik tangan Rini agar keluar dari mobil.  Tanpa banyak protes, Rini pun melangkah keluar dari mobil.

“Apa maksudmu?”bisik Rini di telinga Anton.

“Kau sudah pernah naik angkutan kota?” Anton balas berbisik.

Rini menggeleng.

“Aku ingin mengajakmu bertualang dengan angkutan kota!  Ayo!” ajak Anton sambil tersenyum lebar.

Dalam beberapa detik, mata Rini langsung berbinar-binar.  Ia tampak surprised sekaligus antusias mendengar ajakan Anton.

Anton berjalan mendekati Pak Hari dan berbicara dengan sopir tua yang sangat sopan itu.

“Pak Hari, kami mendapat tugas dari sekolah untuk melakukan survey terhadap penumpang angkutan kota.  Rini akan saya antar ke rumah dengan angkot, sekalian kami melakukan survey.  Boleh ya?”

Anton berusaha menenangkan dirinya yang merasa bersalah karena telah tega menipu orang tua yang baik hati itu.

Raut muka Pak Hari tampak  ragu-ragu namun akhirnya ia menganggukkan kepalanya.

“Saya akan mengikuti mas Anton dan non Rini dari belakang,”ujar Pak Hari dengan nada merendah tapi tegas.  Biar bagaimana pun ia mendapatkan amanat dari bos besarnya, Heru Herlambang, untuk selalu menjaga dan mengawasi Rini ke mana pun gadis itu pergi.

Anton dan Rini berdiri berdampingan menunggu angkot yang lewat.  Tidak beberapa lama kemudian sebuah angkot lewat.  Anton segera menarik tangan Rini agar segera masuk.  Mereka duduk  bersebelahan dan saling berdesak-desakan dengan orang-orang di dalam angkot itu. Sedangkan pak Hari menjalankan mobilnya mengikuti ke mana pun angkot yang dinaiki Anton dan Rini pergi, dan ikut berhenti bila angkot tersebut berhenti.

“Pak Hari mengawasi kita terus.  Kita harus pura-pura serius memegang kertas dan sekali-sekali mengajak bicara orang-orang di sekitar kita,” ujar Anton dengan nada takut-takut.

Rini mengeluarkan kertas dan pulpen dari dalam tasnya sambil tertawa geli.

“Kau lucu dan…..pintar ngerjain orang tua,”ungkap Rini sambil terus tertawa.  Matanya semakin berbinar-binar.

Anton tidak menjawab.  Ia sangat senang melihat  Rini tertawa.  Rasanya sulit dipercaya kalau gadis yang berada di hadapannya saat ini adalah gadis yang beberapa waktu lalu ia lihat berwajah begitu muram dan tidak pernah tersenyum maupun tertawa.

“Kenapa?” Rini menghentikan tawanya ketika menyadari Anton tengah memandanginya.

Anton menggeleng dan tersenyum.

“Tidak apa-apa.  Tertawamu sangat manis.  Kau harus lebih sering lagi tertawa.  Semua orang pasti akan senang melihatnya,” puji Anton tulus.

Rini tersipu-sipu, namun wajahnya menunjukkan kalau ia sangat senang mendapat pujian seperti itu.

Sepanjang jalan Anton dan Rini terus bercakap-cakap.  Mereka berbicara mengenai hal-hal yang ringan seperti film, buku dan tentu saja…..musik. Anton benar-benar senang melihat Rini begitu menikmati pengalaman barunya itu.  Gadis itu bolak balik memperhatikan wajah orang-orang yang naik turun, dan ajaibnya sekali dua kali ia menyunggingkan senyumnya pada orang yang hendak melewatinya.

Di sebuah persimpangan jalan, Anton menarik tangan Rini dan mengajaknya turun.  Mereka harus berganti angkot untuk menuju rumah Rini.   Pak Hari pun dengan setia menunggu mereka di pinggir jalan perempatan tersebut.

Tiba-tiba Rini menghentikan langkahnya.

 “Aku haus,”ujar Rini, “Apa ada restoran di dekat sini?”

Anton mengerutkan keningnya lalu melirik ke arah warung kecil di belakang mereka.

“Setahu saya, warung ini adalah restoran terbaik sepanjang jalan ini, tuan putri….”Anton berkata sigap seakan-akan sedang menjadi pengawal bagi seorang putri raja.

Sekali lagi Rini tertawa.  Ia mengangguk tanda setuju.

Mereka berdua pun berjalan menuju warung tersebut dan duduk di bangku kecil di depannya.  Rini memesan air mineral sedangkan Anton memilih soft drink.

Setelah minum beberapa tegukan, Rini meletakkan botol minuman di pangkuannya lalu melihat ke arah Anton selama beberapa saat.

“Ada yang salah dengan wajahku?”Anton tersenyum.

Wajah Rini memerah.  Dengan tersipu-sipu dipalingkan wajahnya.

“Ada yang ingin kau tanyakan?”ucap Anton ramah.

“Apakah setiap hari kau selalu naik angkot?”Rini bertanya malu-malu.

“Ya.”

“Apa selalu berdesak-desakan seperti tadi?”

“Di pagi hari bahkan lebih berdesak-desakan lagi.”

Rini tampak agak terkejut.

“Bukankah itu berbahaya?  Kau tidak takut?”

“Aku tidak punya pilihan lain,”Anton tersenyum pada Rini, “Nasibku tidak  seberuntung dirimu.  Aku tidak punya mobil ataupun motor.  Tidak seperti dirimu.  Kau memiliki beberapa mobil pribadi yang nyaman lengkap dengan supirnya.  Jadi kau tidak perlu berdesak-desakan dan berpanas-panasan seperti kami-kami ini.”

“Apakah aku orang yang beruntung?”

“Tentu saja.”

“Kenapa?”

“Karena kau memiliki segalanya yang orang lain impikan.”

“Apakah kau termasuk salah seorang yang bermimpi seperti itu?”

 “Ya, begitulah,”Anton tersenyum malu.

“Kenapa? Bukankah hidupmu sudah menyenangkan?”sorot mata Rini penuh rasa ingin tahu.

Anton tertawa. Ia jadi ingat percakapannya dengan Rini beberapa waktu yang lalu.  Anton pernah mengatakan kalau hidupnya menyenangkan.

“Kupikir hidupku akan lebih menyenangkan kalau aku memiliki banyak uang dan bisa membeli apa saja yang kuinginkan,”jawab Anton santai.

Rini tertegun.  Raut wajahnya yang sudah mulai ceria kembali muram seperti biasanya.

“Ada yang salah dengan ucapanku?”tanya Anton cemas.

Rini menggeleng perlahan.  Ia menarik nafasnya dalam.

“Tapi hartaku tidak bisa membuat dia kembali.”

Anton mulai bisa menebak siapa yang dimaksud Rini. Ditatapnya mata gadis itu dengan sepenuh hatinya.

“Kau pasti sangat rindu padanya,”Anton berkata dengan segenap perasaannya dan disambut dengan setetes air mata yang jatuh di pipi gadis itu.

“Mengapa dia tidak pernah kembali?  Mengapa dia pergi?”Rini berkata lirih sambil sekuat tenaga menahan tangisannya.

Hati Anton sangat trenyuh melihatnya.  Ia menggenggam tangan Rini sambil terus memandangi wajahnya tanpa  ada sepatah kata pun yang meluncur dari bibirnya.

Setelah Rini mulai terlihat tenang,  Anton  pun berdiri dan membayar dua botol minuman yang baru saja mereka beli.  Perlahan ia menarik tangan Rini dan mengajaknya berjalan sambil bergandengan tangan.

Anton menghentikan sebuah angkot yang lewat dan mengajak Rini naik.  Di muka jalan menuju rumah Rini mereka turun dan dari sana mereka masih harus berjalan kaki kira-kira 200 meter.  Pak Hari pun masih setia menjalankan mobilnya di belakang mereka berdua.  Lelaki tua itu tampak mulai gelisah melihat Anton yang tidak pernah melepaskan genggaman  tangannya sekejab pun dari tangan Rini.  Namun Anton sama sekali tidak peduli.  Ia hanya ingin menentramkan hati Rini serta meyakinkan gadis itu kalau ia tidak sendirian.

Sedikit demi sedikit Rini mulai terbuka pada Anton.  Ia menceritakan beberapa kenangan manisnya bersama almarhum kakaknya, Armand. Dari gerak geriknya dan pancaran matanya, terlihat jelas betapa Rini sangat mencintai dan mengagumi sosok Armand.

Sesampainya di depan rumah Rini, Anton melepaskan genggamannya.  Rini menatap Anton dengan tatapan penuh terima kasih.

Anton merasa kehangatan menjalar di seluruh tubuhnya. Ia semakin jelas melihat kecantikan yang terpendam dari dalam diri gadis itu.  Kesederhanaan serta kejujurannya dalam bersikap membuatnya tampak berbeda dibandingkan gadis-gadis lain yang pernah dikenal Anton.

“Aku akan menemanimu setiap kali kau merasa sedih,”ungkap Anton tulus.

Rini mengangguk pelan.

Mereka berjalan perlahan lalu menaiki tangga menuju perpustakaan.   Di sana mereka bercakap-cakap dan saling berbagi cerita.  Rini adalah pendengar yang baik dan ia pun sudah semakin leluasa untuk mengungkap cerita mengenai dirinya pada Anton.

Menjelang Magrib, Anton bersiap-siap untuk pulang.

“Rini….”

“Ya…”

“Hari Selasa besok aku ingin belajar kimia bersamamu di sini.  Boleh?”

            “Ya.  Aku tunggu.”

Jakarta, Agustus 1986

“Aku menemukan ini di kamarmu.”

“Hey…seharusnya kau tidak boleh begitu saja masuk ke kamarku.”

“Maaf, tadi malam aku tidak bisa tidur.  Aku mencarimu…dan tidak sengaja….”

“Sudahlah.  Tapi lain kali, kau tidak boleh begitu, ya.”

“Mas Armand…”

“Ya.”

“Kau sakit apa?”

“Hm…?!”

 “Mengapa jarum suntik ini ada  di kamarmu?”

“Rini….Please jangan bertanya seperti itu lagi.  Aku tidak suka.”

snow_white_and_prince

Sumber gambar : http://disney.wikia.com/wiki/File:Snow_white_and_prince.png

Advertisements

Author:

I'm a lucky wife, very happy mom and grateful civil servant

2 thoughts on “YOU’RE THE INSPIRATION (part 15)

  1. Sukaa dgn cerpen ini, romantis, edukatif juga.
    alur ceritanya mengalir dgn smooth tp banyak kejutan dgn kisah flashback di tiap bab yg tdk terduga sebelumnya.
    dibikin deg2an dgn ending krn sudh dikasih clue kalo endingnya bakalan ga happy..
    Can’t wait to read the sequel..hope it’ll be happy ending

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s