Posted in Novel

YOU’RE THE INSPIRATION (part 17)

“Silakan masuk, Tuan.”

Pak Hari, dengan gaya hormat sebagaimana seorang abdi dalem, membukakan  pintu mobil sedan mewah bagi bos besarnya.  Heru Herlambang dengan cepat menaiki mobil tersebut dan memberi isyarat pada Pak Hari agar segera melajukan kendaraannya.

Cuaca di kota Bandung sore itu sangat mendung.  Langit gelap dan udara terasa dingin.  Heru Herlambang memperbaiki letak syal di lehernya.  Sebenarnya kondisi tubuhnya sedang kurang sehat.  Kesibukannya beberapa minggu terakhir ini betul-betul membuat tulang badannya terasa remuk.  Namun kerinduannya pada putri semata wayangnya memang sudah tak tertahankan.  Hampir sebulan mereka tidak berjumpa.  Ada perasaan bersalah hinggap di dirinya. Ia seolah-olah telah mengabaikan putri tunggalnya itu.  Sehingga sekalipun lelah karena baru pulang dari beberapa kota di Eropa, namun setibanya di Jakarta,  ia pun  langsung naik pesawat menuju Bandung.

“Bagaimana, Pak Hari?  Apa semuanya berjalan lancar?”suara berat Heru Herlambang dengan gaya bicaranya yang dingin dan cepat memecahkan keheningan di dalam mobil.

“Ya, Tuan.  Ibu Anita sudah dijemput Pak Udin dan sekarang tinggal di hotel….”

“Bukan itu,”nada suara Heru Herlambang terdengar kesal, “Bagaimana Rini?”

“Oh, Non Rini…ehm…Dia baik-baik saja.   Sekarang Non Rini sedang les bahasa Inggris di rumah,”Pak Hari menjawab dengan agak tergagap.

“Bagaimana dengan teman prianya?”

“Teman prianya?”Pak Hari merasa lehernya seperti tercekik.  Ia tidak menduga akan mendapat pertanyaan seperti itu.

Heru Herlambang mengernyitkan dahinya dan wajahnya langsung menegang.  Pak Hari langsung mahfum karena hal itu menandakan kalau bos besarnya itu  tidak suka dengan sikap pura-pura ia tunjukkan tadi.

 -Sudah ada orang rumah yang membocorkan kepadanya-ujar pak Hari dalam hati.

“Oh, maksud Tuan mungkin mas Anton?”

“Hm…” Heru Herlambang menganggukkan kepalanya sekali.  Wajahnya dingin namun sebenarnya hatinya dipenuhi rasa ingin tahu.

“Mas Anton sangat baik pada Non Rini…”

“Hm….  Apa pekerjaan orang tuanya?”

“Kalau tidak salah ayahnya seorang guru SMA.”

“Punya nyali juga, dia,”komentar Heru sambil tertawa sinis.

Pak Hari menarik nafas sebentar dan berusaha mengumpulkan seluruh keberaniannya.

“Tuan…. Maaf kalau saya lancang,”tutur pak Hari sesopan mungkin.

“Kenapa?”

“Sepertinya, sejak berteman dengan Mas Anton, Non Rini kelihatan lebih ceria dan ia sudah bisa berbicara lebih banyak.”

-Lebih ceria?  Berbicara lebih banyak? Seperti apa princess-ku saat ini? –  gumam Heru dalam hati.  Seminggu yang lalu ia sempat menelpon Rini dari Paris.  Walau hanya sekedar ber-say hello, Heru bisa menangkap adanya perubahan dalam nada suara putrinya itu.  Seperti kata pak Hari, terdengar lebih lepas dan ceria.

-Sialan, kenapa perjalanan ini lama sekali.  Aku ingin terbang.  Di mana kau putri kecilku?  Aku tidak sabar ingin melihatmu.-

*****#########*****

Pintu ruang tamu sudah terbuka ketika Heru Herlambang datang.  Tiga orang pembantu rumah tangganya telah berjajar di dekat pintu menunggu kehadirannya.  Dengan sigap mereka mengambil barang-barang bawaannya, menyimpan sepatu yang dipakainya dan diganti dengan sandal rumah, serta siap mengerjakan apa-apa saja yang ia perintahkan.

Heru Herlambang berjalan terus menuju tangga.  Ia sempat melirik meja di ruang tengah.  Seperti biasa di sana telah tersedia secangkir kopi dan beberapa kue kecil kesukaannya.  Semua pembantu di rumah telah hafal benar dengan kebiasaan-kebiasaannya. Walaupun menggugah seleranya, namun Heru sama sekali tidak berniat menyentuh minuman dan makanan ringan itu.  Ada hal lain yang lebih penting.

Heru menaiki tangga satu demi satu dengan anggun.  Bila tidak karena hendak menjaga wibawanya, ingin rasanya ia berlari cepat, melesat menuju ke atas.

-Ada cinta yang tak terucapkan.  Ada kasih yang tak bisa dinyatakan.  Ada kerinduan yang tidak tahu bagaimana mengungkapkannya.  Dan…..  ada gerakan tubuh yang tidak sesuai dengan gerakan hati.-

“Papa…..”

Suara lirih seorang gadis remaja terdengar setelah Heru Herlambang perlahan membuka pintu perpustakaan.  Ditatapnya sepasang mata jernih di hadapannya.  Benar kata orang-orang, sinar matanya sudah jauh berubah, tidak semuram dulu.

Rini datang mendekat dan Heru membiarkan tangannya disalami serta dicium bibir putri semata wayangnya itu.   Kerinduan dan kekesalan bercampur baur di dadanya.  Ia kesal, kenapa perjalanannya begitu lama.  Bahkan ia tidak mampu membuka pintu perpustakaan dengan lebih cepat.

“Mrs Nancy sudah pulang?” –Apa kabar? Kau sedang apa?-

“Ya.”

“Nanti malam, kita dinner bersama tante Anita di hotel.” –Papa ingin sekali bisa berdekatan denganmu. –

 “Ya.”

“Ya sudah, papa ke kamar dulu.” –Papa rindu padamu.  Papa ingin memelukmu. –

“Ya.”

Heru Herlambang membalikkan badannya, melangkah tegak ke luar ruangan perpustakaan dan menutup pintunya dengan perlahan.  Dan sekali lagi ia merasakan sebuah kegagalan dalam hidupnya.   Dengan lunglai ia menuruni tangga satu demi satu.

– Dasar bodoh!  Bodoh!  Bodoooooh!  Mengapa selalu begini?  Mengapa tidak pernah bisa?  Mengapa mulut dan tubuhku terasa kaku?  Mengapa selalu saja ada dinding yang menghalangi?  Anita….. .Aku harus bertemu denganmu sekarang juga.   Hanya kau satu-satunya orang yang bisa mengerti aku.-

Jakarta, Mei 1962

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.  Hei, masuk, Nak.”

“Katanya Bapak mencari saya? ”

“Ya.  Duduk, Nak.  Bagaimana tugas-tugasmu?”

“Alhamdulillah, pihak supplier mau menunda keinginannya menaikkan harga.  Beberapa pihak sudah menawarkan diri untuk memasarkan barang kita, termasuk dari Jepang dan Thailand.”

“Kau memang pintar, tekun dan pantang menyerah.  Aku kagum padamu.  Masa depanmu cerah, anakku .”

“Terima kasih.  Ini semua berkat bimbingan Bapak.”

“Bagaimana kabar ibumu?”

“Alhamdulillah, sudah banyak perbaikan. Terima kasih atas bantuan Bapak selama ini .”

“Nak Heru, Bapak punya masalah yang sangat berat.”

“Boleh saya tahu, Pak?”

“Siska hamil.”

“Oh……”

“Lelaki brengsek bernama Joni itu yang menghamilinya.”

“Bapak hendak menikahkan mereka?”

“Tidak akan pernah.  Putriku sedang dimabuk cinta.  Dia tidak menyadari yang tengah dilakukannya.  Joni, bukanlah pasangan yang tepat untuknya. ”

“Lalu, apa rencana Bapak?”

“Aku ingin kau mencarikan calon suami untuknya.”

“Apa syaratnya?”

“Dia harus pintar, tekun, pantang menyerah dan memiliki masa depan yang cerah.  Aku baru merasa aman bila menyerahkan putriku pada pria seperti itu. Bagaimana? Apakah permintaanku terlalu berlebihan?”

“Tidak.”

“Apakah ada pria seperti itu yang bersedia untuk menikahi putriku minggu depan?”

“Putri Bapak sangat cantik dan berkelas.  Hanya pria bodoh yang menolak menikahinya.”

father-and-daughterSumber gambar : https://id.pinterest.com

Advertisements

Author:

I'm a lucky wife, very happy mom and grateful civil servant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s