Posted in Novel

YOU’RE THE INSPIRATION (part 18)

Akhir September 1990

Satu bulan lebih telah berlalu.  Hubungan Anton  dengan Rini menjadi semakin dekat.  Kadang kala mereka bertemu pada pagi hari di aula. Beberapa kali pula Anton bermain ke rumah Rini.  Perpustakaan serta ruang musik di rumah Rini adalah tempat favorit mereka.  Belajar bersama, bermain piano, berbagi cerita.   Bahkan pernah sekali mereka bersama-sama pergi ke Tangkuban Perahu.  Menikmati indahnya alam sambil bertukar cerita.  Pak Hari, sopir Rini serta mobil sedan mewah Rini, menjadi saksi  kedekatan mereka.

Hal yang paling menggembirakan Anton adalah, saat ini Rini sudah semakin sering tersenyum dan tertawa.  Sinar matanya pun sudah semakin cerah dan tidak ragu-ragu lagi menatap mata Anton bila sedang bercakap-cakap.

Kedekatan mereka telah berhasil menguak beberapa hal yang selama ini disimpan oleh Rini dan membuat Anton semakin memahami sosok gadis itu.

 

“Uncle Larry adalah rekan bisnis papa di London.  Dia sangat tampan, gagah dan ramah.  Suatu hari, ia dengan istri dan anak tunggalnya berkunjung ke Indonesia.  Selama 2 minggu mereka bersama mama dan papa traveling mengelilingi kota-kota di Indonesia.  Di hari akhir perjalanan mereka, Papa memergoki uncle Larry tidur dengan mama.”

“Lalu, bagaimana reaksi papamu?”

“Papa sangat marah dan hampir saja membunuh mereka berdua.  Untungnya mereka masih sempat  menyelamatkan diri.  Hari itu juga mama dibawa uncle Larry ke Inggris.   Seminggu kemudian uncle Larry bercerai dengan istrinya. Sebulan kemudian…….ia menikahi mama.”

“Kau tentunya sangat sedih saat itu.”

“Ya.“

“Bagaimana dengan mas  Armand?  Ia pasti tidak akan membiarkanmu bersedih.”

“Ya.  Ia selalu memeluk dan menghiburku.  Dan aku sungguh-sungguh menyesal.“

“Kenapa?”

“Sebenarnya ia tidak perlu memelukku.  Akulah yang seharusnya memeluknya….”

Semakin jauh Anton mengenal Rini, semakin jauh ia terseret ke dalam suatu rasa yang tidak ia mengerti.  Di dalam diri Rini, ia menemukan nuansa yang tidak pernah ia temukan dari semua gadis yang pernah dikenalnya.  Gadis itu sangat dewasa dan  merupakan perpaduan antara sebuah kelembutan, kepekaan serta sebuah kekuatan yang luar biasa.

Rini adalah seseorang yang sangat tabah dan sabar menghadapi berbagai cobaan hidupnya. Begitu berat masalah yang dihadapinya, namun ia berusaha menghadapinya sekuat tenaga dan …… seorang diri!  Orang-orang di sekitarnya tidak ada yang mau mengerti dirinya, namun ia tidak pernah mengeluh ataupun marah, bahkan selalu memaafkan dan berusaha memahaminya. Sekarang,  ia hanya terlihat lelah.  Sangat lelah dan nyaris putus asa.  Tenaganya pun sudah mulai habis

Bila awalnya Anton lebih banyak merasa penasaran dan kasihan pada gadis itu, lama-lama, ….. ia merasa butuh.  Butuh melihat Rini, melihat senyumnya, mendengar suaranya, melihat matanya, merasakan kehadirannya dan berada di dekatnya.   Tutur kata Rini yang lembut, sorot matanya yang muram, serta  bicaranya yang pendek-pendek, sering mengusik lamunannya dan  mulai mengacaukan hati serta pikirannya. Dan ia pun dapat merasakan bahwa sepertinya Rini pun menyimpan getar-getar yang sama seperti dirinya.

Hubungannya dengan Rini sangatlah dirahasiakan.  Bahkan, Ino, sahabatnya pun tidak tahu.  Bila di kelas, Anton selalu bersikap seolah-olah tidak kenal dekat dengan Rini. Bahkan jika teman-temannya mengejek Rini, Anton pun tidak pernah membela ataupun menegur mereka.  Ia selalu bersikap pura-pura tidak tahu walaupun sebenarnya hati kecilnya sangat marah.

Rini sama sekali tidak pernah bertanya ataupun protes dengan sikap Anton.  Gadis itu tampak pasrah dengan semua perlakuan Anton padanya.

Sikap pasrah RIni seringkali membuat Anton terharu dan merasa bersalah dengan kemunafikannya sendiri.  Namun, saat ini rasa gengsinya jauh lebih besar menguasai dirinya.

Ia memang masih meragukan seberapa besar rasa sukanya pada Rini.  Apakah ia benar-benar jatuh cinta pada gadis itu?  Dan apakah ia akan sanggup menjadi bahan tertawaan teman-temannya?  Atau apakah ia akan sanggup mendapat cemooh banyak orang karena dianggap menjual cintanya pada seorang anak konglomerat?

Lagipula,  angan-angannya sejak dulu tentang gadis cantik berkulit putih dan energik masih belum hilang benar dari pikirannya. Apakah ia sanggup meninggalkan angan-angannya dan  menempuh segala resiko demi rasa cintanya pada Rini?  Ia masih belum tahu jawabannya.

Pada saat yang bersamaan, Fifi semakin agresif mendekati Anton. Anton pun tidak pernah tegas menunjukkan penolakan.  Hampir tiap hari gadis itu menelpon ke rumahnya, memberinya berbagai hadiah kecil dan mereka pun beberapa kali pergi bersama.

Anton tidak pernah terang-terangan menunjukkan kedekatannya kembali dengan Fifi di sekolah.  Hubungannya dengan gadis itu hanya diketahui oleh teman-teman dekatnya saja.  Jauh di lubuk hatinya, sebetulnya Anton mengakui kalau hubungannya dengan Fifi hanya demi menunjukkan prestise-nya di depan teman-temannya serta menutupi kedekatannya dengan Rini.

“Apakah aku seorang laki-laki?  Kenapa aku begitu bimbang?  Kenapa aku begitu penakut?  Apa Kakek bisa merasakan apa yang kurasakan saat ini?”keluh Anton suatu hari pada kakeknya.

“Apakah aku benar-benar jatuh cinta padanya?  Atau jangan-jangan, ini hanya perasaan sesaat karena kasihan padanya?”

Seperti biasa, kakek tidak pernah menyalahkan ataupun menghakimi.  Beliau hanya mendengarkan dengan penuh pengertian dan setelah itu sedikit memberikan komentar.

“Tentu saja kau seorang laki-laki, Nak.  Namun untuk menjadi seorang lelaki dewasa tidak hanya melalui satu atau dua langkah.  Butuh proses yang cukup panjang.  Kau sedang berada dalam proses itu.”

“Apa yang harus saya lakukan?”

“Ikuti kata hatimu dan jangan pernah ragu-ragu untuk mempertahankan prinsipmu, sekalipun itu tidak sama dengan orang-orang di sekitarmu.”

Advertisements

Author:

I'm a lucky wife, very happy mom and grateful civil servant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s