Posted in Novel

YOU’RE THE INSPIRATION (part 19)

“Stop, Pak Hari.  Kita sudah sampai,” ujar Anton.

“Ini rumahmu?” Rini memperhatikan rumah kecil di depannya.

Anton mengangguk dan segera turun dari mobil.

“Assalamualaikum!”seru Anton sambil memasuki rumah yang tidak dikunci.

“Waalaikumsalam!”suara kakek terdengar samar-samar dari dalam kamarnya.

Di ruang tengah tampak Daniel ditemani Asih, sedang duduk di lantai dekat rak  majalah.  Anton mengajak Rini mendekati Daniel.

“Tuan putri, perkenalkan, ini Daniel,” Anton membungkukkan badannya dan mempersilakan Rini duduk di dekat Daniel.  Rini tersenyum geli melihat kelakuan Anton.   Sudah lama ia meminta Anton untuk mempertemukannya dengan bocah kecil itu.  Ia sangat penasaran setelah mendengar cerita-cerita Anton.

Rini tersenyum pada Asih lalu duduk di lantai dekat Daniel dan mengamati bocah itu yang sedang mengacak-acak majalah yang telah disusunnya, lalu bocah itu mengulangi lagi dari awal menyusun majalah-majalah  itu menjadi satu tumpukan.  Setelah itu diacak lagi dan ditumpuk lagi, diulang-ulang, sambil sesekali ia mengitari ruangan dan tertawa-tawa senang.

“Dia membuat pola,”desis Rini.

“Pola apa?”tanya Anton.

“Coba perhatikan majalah yang disusunnya,”Rini berkata antusias.

Anton memperhatikan, namun ia sama sekali tidak mengerti pola yang dimaksud Rini.  Ia pun mengangkat bahunya tanda menyerah.

“Dia tidak sembarangan menumpuk.  Sekalipun tumpukan buku itu diacak olehnya, namun ia selalu menyusunnya kembali sama seperti semula.”

Anton mencoba mengamati.  Tidak beberapa lama kemudian ia masuk ke dalam kamar  dan keluar membawa 3 buah majalah yang sama dengan majalah yang ditumpuk, tetapi edisi berbeda.  Ketika Daniel mengacak-acak tumpukannya, Anton secara diam-diam memasukkan majalah-majalah  yang baru dibawanya sehingga bercampur dengan majalah yang telah ada.  Bocah itu pun mulai menyusunnya lagi, sama persis seperti semula.  Dan ketika ia menemukan majalah-majalah  yang baru dimasukkan oleh Anton, ia mengamati sejenak, lalu melemparnya.  Anton terperangah.  Karena di rak tersebut ada sekitar 50 buah majalah!

“Daya ingatnya luar biasa!” Rini berkata dengan ekspresi wajah penuh kekaguman, lalu melihat ke arah Anton.

“Anton,  aku pernah membaca sebuah artikel mengenai masalah autis sewaktu di Inggris,”Rini berkata dengan antusias.

“Lalu….?” potong Anton.

“Sepertinya Daniel menderita autis.  Sebaiknya dia dibawa ke psikiater atau dokter tumbuh kembang anak untuk memastikannya.”

“Autis?  Apa itu?  Aku sama sekali belum pernah mendengarnya,” Anton mengerutkan dahinya.

“Autis merupakan gangguan perkembangan pada anak di mana penderitanya hidup dalam dunianya sendiri.“

“Apa alasanmu mencurigai Daniel menderita autis?”

“Karena ia  tidak dapat  berkomunikasi, tidak ada kontak mata,  senang mengulang-ulang sesuatu hal  dengan pola tertentu tanpa tujuan yang bermakna.  Dia juga hiperaktif…..dan bukankah katamu anak ini sangat tahan terhadap rasa sakit?”Rini menjelaskan.

“Kenapa ia bisa tahan terhadap rasa sakit?” tanya Anton penuh rasa ingin tahu.  Ia jadi teringat peristiwa ketika Daniel membentur-benturkan kepalanya di dinding.  Walau dahinya lebam, bocah itu tidak tampak kesakitan.

“Karena Daniel memiliki ambang rasa sakit yang tinggi akibat gangguan pengaturan impuls-impuls sensoris yang diterimanya. Hal ini cukup banyak dialami oleh para penderita autis,”ungkap Rini.

“Apakah Daniel akan segera sembuh bila  dibawa ke dokter?”tanya Anton lagi.

Rini menggeleng.

“Tidak semudah itu. Pada kasus tertentu, mungkin dokter akan memberikan obat-obatan dan suplemen serta menyarankan untuk diet dan mengikuti terapi khusus.  Namun untuk membimbing anak seperti ini memerlukan kerja keras.”

“Kenapa?”

“Karena untuk membimbingnya membutuhkan kesabaran, ketekunan serta waktu yang lama.  Di luar negeri, sudah cukup banyak institusi khusus untuk terapi anak-anak autis.  Setahuku, saat ini di Indonesia masih sangat jarang institusi seperti ini.”

Pembicaraan mereka terhenti karena kakek telah keluar dari kamar.   Anton memperkenalkan Rini pada beliau, dan mereka bertiga bercakap-cakap di ruang tamu.  Awalnya Rini tampak gugup dan canggung.  Berbicaranya pendek-pendek dan hanya bersuara bila ditanya.  Namun sikap kakek yang sangat ramah dan selalu berusaha membuat lawan bicaranya merasa nyaman, lama-lama membuat Rini lebih rileks dan bisa berbicara lebih banyak.

Melihat Rini sudah asyik ngobrol dengan kakeknya, Anton pun meninggalkan mereka berdua.   Ia berganti pakaian dan pergi ke dapur.  Ia ingin memberikan surprised untuk Rini.  Yaitu dengan menghidangkan makan siang buatannya.  Walaupun lelaki, ia pandai memasak.  Kepandaiannya ini berkat didikan ibunya.  Dan Anton sangat bangga dengan hal itu.

Anton mulai mempersiapkan bumbu dan memotong bahan-bahan.  Sekali-sekali ia mengintip ke luar.  Dilihatnya kakek dan Rini sudah pindah ke ruang tengah dan berinteraksi dengan Daniel.

Ketika Anton sedang asyik di dapur, tiba-tiba Rini muncul di depan pintu.

“Hai, aku sedang mempersiapkan kejutan untukmu!”kata Anton sambil nyengir, lalu matanya tertumbuk pada kemeja Rini yang basah.

“Kenapa bajumu?”tanya Anton.

Rini tertawa.

“Ketika Daniel berlari-lari, aku mencoba untuk merangkulnya.  Tahu-tahu….., ”Rini tertawa lagi lalu berbisik, “Dia mengompol di badanku.”

Anton tertawa terbahak-bahak.

“Apa aku bisa meminjam bajumu?” tanya Rini dengan malu-malu.

Anton mengangguk, lalu mengambilkan baju ganti.  Usai berganti pakaian, Rini muncul lagi di dapur.

“Aku tidak enak melihatmu sibuk sendirian.  Apa yang bisa kubantu?”

Anton tersenyum dan mengangguk.

“Tolong ambilkan wadah berisi merica di sana,”pinta Anton.

Tidak lama kemudian Rini datang membawakan wadah yang dimaksud.  Ketika Anton membukanya, ia langsung tertawa lebar.

“Tuan putri, kau tahu apa yang kau bawa?”

Rini kebingungan.

“Ini adalah ketumbar, bukan merica,”Anton menjelaskan sambil tidak dapat menahan gelinya.

“Maaf, aku memang tidak pernah memasak,”Rini tersipu malu.

“Kalau kau mau menikah denganku, kau harus pintar memasak!”Anton pura-pura mengancam Rini.

Rini terbelalak.

“Sungguhkan?” wajah Rini langsung pucat.  Namun sejurus kemudian wajahnya langsung merona merah.  Sepertinya ia merasa malu dengan reaksinya sendiri.

Anton tidak dapat menahan rasa gelinya.  Ia senang melihat Rini tersipu-sipu malu seperti itu.

“Tenang nona manis, aku hanya bercanda,”hibur Anton lembut.

Anton meneruskan kegiatan memasaknya dan Rini menonton di dekatnya.

“Aku  menyukai kakekmu,”puji Rini.

“Kenapa?”

“Beliau seseorang yang ramah dan penuh perhatian.  Kau sungguh-sungguh beruntung memiliki kakek seperti itu.”

Anton mengangguk tanda setuju.

Usai memasak, Anton mengajak kakek makan siang bertiga dengannya dan Rini.

“Ini namanya makan sore,”komentar kakek sambil terkekeh, karena jam telah menunjukkan pukul 15.00.

Mereka menyantap makanan sambil bercakap-cakap yang diselingi dengan canda dan tawa.   Kakek dan Rini tampak asyik bertukar cerita mengenai berbagai hal, termasuk tentang Daniel.

“Daniel tidak dapat berkomunikasi.  Bagaimana kakek dapat memahaminya?”tanya Rini.

Kakek meletakkan tangan kanannya di dadanya.

 “Menggunakan hati.”

Anton tidak benar-benar memahami perkataan kakeknya.  Namun ia melihat  Rini tampak sangat terharu dengan ucapan kakek tersebut.

“Bukankah kau mengatakan kalau kebanyakan penderita autis mengalami gangguan pengaturan impuls sensoris?”sela Anton.

Rini mengangguk.

“Bagaimana cara mengatasinya?”

“Ada terapi khusus untuk itu.  Dari literatur yang kubaca, ada beberapa kegiatan terapi yang dapat dilakukan oleh para orang tua.  Seperti berenang, bermain ayunan, hiking, dan sebagainya, ”ungkap Rini.

“Hiking?” tanya Anton.

Rini mengangguk lagi.

“Bagaimana kalau hari Minggu besok kita hiking bersama?”ajak Anton antusias.

“Hari Senin depan kita banyak ulangan.  Ulangan aljabar, kimia dan fisika,”protes Rini.

“Kalau begitu, minggu depannya lagi.  Pokoknya tetap harus hiking,”Anton tidak mau kalah.

Kakek tertawa melihat pertengkaran kedua remaja itu.

“Seandainya saya mampu, saya ingin sekali mendirikan tempat terapi untuk anak-anak seperti Daniel.  Dan akan saya habiskan masa tua saya di sana,” tutur kakek beberapa saat kemudian.  Wajahnya tampak bersungguh-sungguh.

“Bila hal itu terwujud, aku orang pertama yang akan mendampingi kakek!” Anton berkata dengan yakin, lalu mengangkat gelas di tangannya dan mengajak kakek untuk tos dengan menggunakan gelas,  sebagai tanda perjanjian antara mereka.

Suasana di meja makan siang itu menjadi semakin hangat. Percakapan antar mereka berganti topik demi topik.  Kakek pun tidak segan-segan menceritakan hal-hal lucu dan rahasia-rahasia kecil tentang Anton pada Rini, yang disambut oleh tawa geli gadis itu.

Usai makan, Rini pamit pulang.  Sebelum keluar rumah, ia sempat mencium dan memeluk Daniel walaupun hanya beberapa detik saja, karena seperti biasa Daniel tidak pernah mau berdiam diri lama.  Bocah itu segera melepaskan diri dari pelukan Rini lalu berlari dan berputar.

Di depan rumah Anton, Rini tertegun mengamati anak-anak lelaki kecil yang seperti biasa, di sore hari selalu bermain bola dengan riangnya.

“Mereka bermain bola  di tengah jalan?”tanya Rini heran.

Anton mengangguk.

“Ya, hampir setiap sore mereka bermain bola di depan rumahku. Di sini jarang dilewati kendaraan, jadi mereka bisa leluasa bermain. “

“Mereka pasti terganggu karena ada mobilku parkir di depan,”sesal Rini.

Anton tertawa.

“Tidak usah terlalu perasa seperti itu, donk.  Toh, mereka tetap kelihatan senang.”

Rini berdiri terus mengamati para Maradona dan Marco Van Basten kecil yang begitu asyik dengan permainannya.  Senyuman tersungging di bibirnya.

“Kau sungguh-sungguh beruntung,” cetus Rini.

“Kenapa?”

“Rumahmu seperti istana.”

“Hah, kau menyindirku, ya?”protes Anton.

Rini menggeleng.  Wajahnya tampak bersungguh-sungguh.

“Aku bersungguh-sungguh.  Rumahmu benar-benar seperti istana.  Dan jalanan ini seperti sebuah taman bunga.  Apakah kau tidak pernah menyadarinya?”

Anton mengernyitkan dahinya berusaha mencerna kata-kata Rini.  Beberapa detik kemudian ia baru menyadari, kalau ia tidak akan pernah menemukan jawabannya bila ia menggunakan logikanya.  Berbicara dengan Rini adalah berbicara dengan sebuah hati. Sehingga bahasa yang dipergunakan haruslah bahasa hati.

Tiba-tiba Anton teringat kisah dongeng karya Andersen mengenai seorang putri yang perasaannya sangat peka yang merupakan cerita favoritnya ketika kecil dulu.  Dahulu ia selalu berkhayal menjadi pangeran dalam kisah itu.   Dan kini, ia merasa khayalannya itu telah menjadi nyata.  Anton telah menemukan seorang putri yang perasaannya sangat peka.   Dan… putri sejati itu telah berdiri tepat di depannya sekarang.

Advertisements

Author:

I'm a lucky wife, very happy mom and grateful civil servant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s