Posted in Novel

YOU’RE THE INSPIRATION (part 20)

Di hari Minggu pagi yang cerah, Anton tengah menunggu Rini di rumah Daniel.  Hari ini mereka telah berjanji untuk pergi hiking bersama. Tante Ledya tampak sibuk mempersiapkan Daniel.

Seminggu yang lalu, mengikuti saran Rini, tante Ledya telah membawa putra tunggalnya itu ke seorang psikiater.  Saat itu Daniel positif didiagnosis sebagai penderita autis dan seminggu sekali ia harus kembali untuk menjalani terapi.  Psikiater itu pun menyarankan untuk diet serta memberikan beberapa program untuk dijalankan di rumah.  Ia juga  menganjurkan supaya bocah tersebut  sering melakukan kegiatan seperti hiking, berenang atau berkuda untuk membantu memperbaiki gangguan integrasi sensorisnya.

Tante Ledya menyambut baik keinginan Anton dan Rini untuk mengajak Daniel hiking ke Dago Pakar.  Namun ia tidak bisa ikut, dan menugaskan Asih untuk menemani Daniel.

Jam 06.30 tepat, Anton melihat mobil Rini telah tiba.  Kali ini Rini membawa mobil yang berbeda, lebih besar daripada yang biasanya ia bawa.   Anton pun keluar menyambut gadis itu dan   mengajaknya menemui tante Ledya.  Mereka berbasa-basi sebentar lalu segera pergi menuju Dago Pakar.

“Tante Ledya terlihat sangat pucat,”ujar Rini ketika di dalam mobil.

“Mungkin Ibu Ledya kelelahan,”sahut Asih yang duduk di belakangnya,”Hampir setiap hari Daniel tidur tengah malam dan bangun dini hari. “

Anton memperhatikan Rini yang tampak memikirkan sesuatu.

“Ada apa?”tanya Anton.

Rini menghela nafas.  Wajahnya tampak cemas.

“Menjadi seorang single parent yang memiliki seorang anak penderita autis, bukanlah hal yang mudah.  Sepertinya tante Ledya sudah mulai kehabisan tenaga,”ungkap Rini.

Anton  menggeleng.

“Tidak akan.  Ia seorang wanita yang sangat tegar.  Kau tidak usah khawatir,”katanya menenangkan.

Mobil meluncur cepat.  Anton melirik ke arah Daniel dengan perasaan lega.  Bocah itu tampak duduk manis sambil melihat ke arah jalan tanpa berkedip.

Sesampainya di tempat tujuan, mereka segera turun dari mobil dan memulai kegiatan hiking.  Pak Hari turut serta mengikuti mereka.   Tangannya menggenggam alat komunikasi HT.

“Apakah Pak Hari harus selalu mengikuti ke mana pun kamu pergi?”protes Anton pelan.

“Ssst….dia  ditugaskan ayahku untuk menjagaku,”Rini menaruh jari telunjuk di bibirnya.

“Tetapi, aku jadi tidak bebas.  Rasanya seperti sedang dimata-matai,”Anton merajuk yang disambut dengan derai tawa Rini.

Mula-mula Daniel digandeng oleh Asih yang tampaknya sudah mulai terbiasa dan tidak panik lagi mengasuh bocah itu.  Namun  Daniel tampak masih sulit untuk memusatkan perhatiannya dan acapkali mencoba melepaskan gandengannya dan berlari ke mana saja yang menarik minatnya.  Lama-lama Asih mulai kewalahan.  Anton dan Rini pun turun tangan.  Mereka menggandeng Daniel di tengah-tengah mereka berdua.

Beberapa kali Anton dan Rini digiring ke sana ke mari oleh bocah yang tenaganya kuat itu.  Rini, walaupun terlihat tidak banyak bicara, tampak sangat menikmati kebersamaannya dengan Daniel.

“Tidak kuduga, tenagamu kuat juga,”Anton menggoda Rini.

“Ya, donk!  Aku kan rajin berenang,“ tukas Rini bangga.

Di tengah jalan Asih berhenti.  Kakinya terkilir dan terasa sakit bila dipakai berjalan.  Pak Hari membantu Asih  duduk dan memijat-mijat kakinya

Anton dan Rini berdiri menunggu mereka.  Namun tiba-tiba Daniel melepaskan gandengannya dan berlari meninggalkan mereka.  Larinya sangat cepat.  Anton segera mengejar Daniel dan ketika sudah di dekatnya ia mendekap bocah itu sekuat tenaga.  Rini menyusul di belakangnya.

“Sepertinya Daniel tidak mau berhenti,”kata Anton sambil terengah-engah.  Ia terus memeluk Daniel yang terus berusaha melepaskan diri.

“Jadi…..? “tanya Rini.

“Kita jalan terus!”

“Asih dan Pak Hari bagaimana?” Rini terlihat cemas.

Anton tidak sempat menjawab, karena Daniel sudah lepas dari pelukannya dan mulai berlari lagi.  Anton dan Rini mengejarnya lagi dan mereka memegang erat tangan kanan dan kiri Daniel.

“Kita kembali ke tempat Asih dan Pak Hari,”pinta Rini.

“Jangan meminta kepadaku!  Mintalah pada Daniel!”seru Anton.  Ia mulai merasa panik karena Daniel mulai tidak dapat dikendalikan.

Rini menarik tangan Daniel untuk kembali ke jalan sebelumnya.  Namun Daniel meronta-ronta tidak mau.

“Dia  tidak mau melewati jalan yang sama!  Dia ingat dengan jalan yang pernah dilaluinya.  Kita harus mencari jalan lain untuk kembali ke tempat semula,”seru Anton lagi.

Rini pun menyerah.  Mereka berjalan terus melewati jalan yang berbeda, atau tepatnya melalui jalan yang ditentukan oleh Daniel.  Bocah itu mulai tenang dan menunjukkan rasa senangnya karena bisa menjadi King of the game dalam perjalanan itu.

Sebenarnya secara diam-diam Anton merasa berterima kasih pada Daniel.  Bocah itu telah membantunya melepaskan diri dari seorang mata-mata terhebat yang pernah ditemuinya, yaitu Pak Hari.  Dan kini ia bisa berjalan-jalan dengan Rini tanpa ada yang mengawasinya.

Sepanjang jalan Anton mencoba mengajari Daniel bernyanyi maupun berbicara.  Namun bocah itu tampak acuh dan lebih tertarik memperhatikan pepohonan yang dilewatinya.  Anton menjadi tidak habis pikir, bagaimana mungkin kakeknya selama ini bisa begitu sabar menghadapi dan mengajari anak ini.

“Kita seperti sepasang suami istri dengan seorang anak yang sama sekali tidak bisa diatur,”keluh Anton pada Rini.

Di tengah jalan, hujan rintik-rintik mulai turun.  Anton dan Rini berlari mencari tempat berteduh.  Tentunya dengan susah payah, karena harus membawa serta Daniel yang begitu sulit untuk dikendalikan. Mereka menemukan sebuah saung dan berteduh di dalamnya.  Tak lama kemudian, turun hujan lebat.

Daniel mula-mula memberontak dan ingin keluar dari saung.  Rini dan Anton harus berjuang keras menahan anak itu agar tidak lari.  Namun tiba-tiba sorot mata Daniel terpaku pada tetesan air dari atap yang bocor yang secara teratur jatuh ke lantai.  Bocah itu duduk di lantai dan matanya terus mengamati dengan serius.

Rini duduk di sebelah Daniel dan ikut memperhatikan tetesan air yang jatuh.

“Apa yang dia lihat?  Kenapa dia begitu tertarik?”bisik Anton.

“Tetesan air yang jatuh begitu teratur, seperti sebuah pola.  Daniel menyukainya,”Rini balas berbisik.

Sambil menunggu hujan reda, Rini memberi Daniel minuman dan roti yang dibawanya.  Bocah itu makan dengan lahap dan tak lama kemudian ia tampak mengantuk hingga akhirnya tertidur di pangkuan Rini.

Anton mendekati Rini dan duduk di sebelahnya.    Beberapa saat mereka saling berdiam diri.  Suhu udara terasa semakin dingin.  Anton menengok ke arah Rini.  Gadis itu hanya mengenakan kaos lengan panjang yang tipis dan tampak kedinginan.  Anton melepaskan jaketnya dan memakaikannya ke tubuh Rini.

“Kau tidak kedinginan?”tanya Rini cemas.

“Tidak.  Aku sudah biasa tidur di gunung,” Anton menjawab santai sambil memperhatikan hujan yang turun.

Rini mengamati wajah Anton, untuk memastikan pria itu tidak sedang berbohong. Beberapa saat kemudian Anton memalingkan wajahnya ke arah Rini dan mereka pun saling berhadapan.  Wajah mereka sangat dekat.  Begitu dekat.  Dan tiba-tiba Rini merasa bibir Anton telah menyentuh keningnya.  Sangat lembut.  Hanya dua detik.  Tetapi Rini butuh waktu bermenit-menit untuk menenangkan gemuruh di dadanya.  Ia sangat gugup dan tidak sanggup menatap mata Anton.

Anton menarik dagu Rini pelan dan menatapnya penuh penyesalan.

“Kau marah?” tanya Anton.  Perasaan bersalah menyergap dirinya.  Ia tidak tahu kenapa sampai nekad melakukan itu.

Rini menggeleng.

 “Maaf, aku tidak sengaja,” sesal Anton.  Ia benar-benar merasa telah berbuat lancang.

Rini mengangguk.

“Tidak apa-apa,” sahut gadis itu sambil  menunduk.

Satu jam kemudian hujan reda dan akhirnya berhenti.  Daniel pun telah bangun.  Mereka berjalan bersama menuju tempat parkir mobil.  Di sana Pak Hari dan Asih telah menunggu.  Pak Hari terlihat sangat cemas, tangannya sedang memegang HT yang tampaknya baru saja ia pergunakan.  –Rupanya dia sudah meminta bantuan  lewat HT – pikir Anton.  Anton pun meminta maaf padanya dan menjelaskan apa yang telah terjadi.

Mula-mula mereka mengantar Asih dan Daniel pulang.  Sedangkan Anton tetap di dalam mobil dan ikut mengantarkan Rini pulang ke rumahnya.

Sesampainya di rumah Rini,  mereka mendapatkan kejutan karena mobil Heru Herlambang ternyata telah diparkir di halaman.  Rini sama sekali tidak tahu kalau ayahnya akan datang hari ini.

Heru Herlambang sedang duduk-duduk di ruang keluarga ketika Anton masuk. Rini mengajak Anton mendekati ayahnya dan memperkenalkannya.

“Papa, ini Anton,”ucap Rini.

Anton mendekati Om Heru, begitu ia menyebutnya,  dan menyalaminya.  Heru Herlambang menatap Anton  lama, sorot matanya menghujam seperti hendak menelanjangi dan setelah itu ia pun mempersilakan Anton untuk duduk kembali.

Diam-diam Anton memperhatikan lelaki separuh baya tersebut.  Selama ini ia hanya mengetahui sosok Heru Herlambang lewat foto di majalah dan koran atau di televisi.  Wajah asli lelaki itu terlihat lebih muda, walaupun kerut-kerut halus di mukanya tidak dapat menyembunyikan usianya yang sudah mendekati kepala enam.  Kulitnya gelap seperti Rini.   Sikap dan ekspresi wajahnya pun mirip putri semata wayangnya itu, sama-sama mengesankan pendiam dan introvert.   Namun sorot mata mereka berdua sangat berbeda.  Mata Rini menyiratkan pribadinya yang rendah hati, sedangkan ayahnya terlihat percaya diri dan angkuh.

Heru Herlambang memulai percakapan dengan bertanya mengenai keluarga Anton serta kegiatan  yang dilakukannya di luar sekolah.  Mereka berbicara hanya sebentar.  Setelah itu beliau mengalihkan pandangannya pada Rini dan menanyakan keadaannya serta sekolahnya.  Itu pun dengan bahasa yang pendek-pendek dan dijawab dengan pendek juga oleh Rini.   Anton berusaha menyimpan keheranannya di dalam hati melihat cara berkomunikasi ayah dan anak tersebut.   Mereka sepertinya merasa asing satu sama lainnya.

Setelah  berbincang-bincang hampir satu jam yang kemudian diikuti dengan makan siang, Heru Herlambang pun pamit pergi karena harus segera kembali ke Jakarta.  Sebelum pulang, beliau bersalaman dengan Anton.  Sorot matanya terlihat lebih ramah dibandingkan ketika pertama kali bertemu tadi.  Entah kenapa, Anton merasa sepertinya pria itu sedang berterima kasih padanya.

“Apakah kalian selalu seperti ini kalau berkomunikasi?” bisik Anton ketika mengantarkan Heru Herlambang menuju mobil.

“Ya.  Kau bingung ya?” Rini balas berbisik sambil tersenyum maklum.

Anton menggeleng.

“Aku kagum padamu.  Kau benar-benar gadis yang hebat,” puji Anton tulus.

Ketika pintu mobil dibuka, Anton melihat seorang wanita di dalamnya.  Hanya sekejab.  Karena Heru Herlambang segera masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya dengan cepat.    Mobil pun meluncur pergi.

 “Rini…..,” wajah Anton menunjukkan rasa heran dan takjub.

 “Ada apa?” Rini terlihat bingung dengan sikap Anton.

“Bukankah wanita yang di dalam mobil tadi seorang bintang film terkenal, Anita Dewi?” Anton bertanya dengan hati-hati.

Rini mengangguk pelan.

“Dia kekasih papa,” ucapnya datar.

Anton menatap Rini seolah-olah tidak percaya dengan apa yang telah didengarnya.  Anita Dewi adalah bintang film dan foto model terkenal saat ini.  Namun ia sudah bersuami dan mempunyai seorang anak.  Suaminya pun seorang produser film terkenal.  Mereka telah menikah selama 10 tahun dan dikenal sebagai pasangan yang serasi.  Sedikit pun tidak ada gosip miring tentang pernikahan mereka.   Mereka senantiasa menjadi contoh pasangan yang harmonis di media.

“Sudah berapa lama mereka berhubungan?” tanya Anton lagi.

“Sudah hampir lima bulan,” Rini melihat ke arah Anton, “Kenapa?  Kamu heran karena tidak ada satu media pun yang mencium hubungan mereka?”

Anton tidak menjawab.  Matanya memandang terus ke arah Rini.

“Itulah kehebatan Papa!” lanjut Rini sambil tersenyum getir.

“Apakah kau tidak kecewa pada ayahmu?”

“Aku tidak bisa melarang ayahku berhubungan dengan wanita yang dicintainya,” jawab Rini sambil tersenyum.

Anton memutar dagu Rini lalu memandangnya dengan sungguh-sungguh.

“Sungguh?  Kau tidak apa-apa?” Anton tidak dapat menyembunyikan kecemasannya.

Rini mengangguk tegas.  Sorot mata gadis itu menunjukkan ketegaran.  Anton merasakan keharuan di dadanya serta gejolak yang tumbuh di hatinya semakin tak terbendung. Perlahan Anton memeluk Rini erat. Sekarang ia semakin memahami betapa menderitanya batin Rini selama ini.  Dan ia pun semakin mengerti mengapa almarhum Armand begitu menyayangi dan melindungi adiknya, namun ia menghancurkan dirinya sendiri.

“Anton, ada apa?” Rini terlihat gugup sekaligus bingung melihat reaksi Anton.

Anton tidak peduli.  Ia terus memeluk Rini.

“Apakah sangat sulit bagimu  untuk menangis?”tanya Anton lembut.

“Anton, ucapanmu malah membuatku ingin menangis.”

“Kalau begitu menangislah.  Aku akan menemanimu.”

Anton tidak dapat melihat wajah Rini.  Namun samar-samar didengarnya isakan halus yang semakin lama semakin kuat.  Ini untuk pertama kalinya Rini menangis terisak-isak di depannya.  Rini  sepertinya sedang menumpahkan segala kesedihan dan kegundahan yang dipendamnya selama ini.  Anton semakin mempererat pelukannya dan dibiarkan dadanya dibasahi air mata gadis itu.

Anton merasa tidak perlu berkata apa-apa lagi.  Rasa sayang dan kagumnya pada gadis itu semakin bertambah.  Ia pun berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan selalu berada di sisi Rini selamanya serta menjaga hatinya.

Advertisements

Author:

I'm a lucky wife, very happy mom and grateful civil servant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s