Posted in Novel

YOU’RE THE INSPIRATION (part 21)

“Ayo, Anton!  Cepat!  Nanti kita kesorean,” Fifi menarik tangan Anton setengah memaksa.

Dengan langkah berat Anton mengikuti Fifi berjalan ke luar sekolah dan menunggu kendaraan umum di pinggir jalan.  Anton terus menundukkan kepalanya.  Ia seperti sedang bermain kucing-kucingan.  Ia takut sekali bila Rini memergokinya tengah berjalan berdua dengan Fifi.

Tadi malam, Fifi menelponnya dan meminta tolong untuk ditemani ke toko buku usai pulang sekolah. Awalnya, dengan berbagai alasan Anton menolak ajakan Fifi.  Namun, satu jam kemudian Anton berubah pikiran. Ia balik menelpon Fifi dan menyatakan kesediaannya untuk menemani gadis itu.

Ini saat yang tepat baginya untuk bersikap jujur pada Fifi, pikir Anton.  Ia harus menegaskan agar Fifi tidak mengharapkan dirinya lagi.  Ia sudah lelah dengan permainannya selama ini dan ia pun merasa bersalah karena telah mempermainkan perasaan dua orang wanita.

“Anton, kenapa diam saja sejak tadi?”bisik Fifi ketika sudah duduk dalam kendaraan umum.

Anton menggeleng lesu.  Sejak tadi hatinya bimbang. Ketika di rumah Anton sudah mantap dengan keputusannya untuk berterus terang. Hatinya sudah jelas condong ke arah mana dan ia sudah yakin benar dengan pilihannya.  Ia akan mengungkapkannya pada  Fifi dan bahkan pada semua temannya.  Namun entah kenapa sekarang hatinya diliputi keraguan.  Tiba-tiba ia merasa tidak siap.  Ia tidak siap dengan reaksi Fifi dan ia pun tidak siap dengan reaksi teman-temannya nanti.

“Pasti ada yang kau pikirkan.  Dari tadi kau melamun terus,”desak Fifi.

“Fifi, aku…,” Anton berusaha keras mengumpulkan segala keberaniannya.  Namun sebelum Anton melanjutkan ucapannya, tiba-tiba Fifi memotongnya.

“Eh, kita harus turun.  Ini toko bukunya,”ujar Fifi sambil mengajak Anton untuk turun.

Mereka berdua turun dan berjalan memasuki halaman sebuah toko buku besar yang terkenal dengan kelengkapan buku-bukunya.

Hampir satu jam Fifi berputar-putar mencari buku yang dibutuhkannya.   Bahkan sepertinya ia lupa akan pertanyaannya tadi pada Anton.

Usai membayar pada kasir, Anton menarik tangan Fifi dan mengajaknya masuk ke dalam kantin yang terletak di lantai dasar toko buku tersebut.

“Anton, kau membuatku penasaran.  Ada apa? Tumben sekali kau mengajakku makan,”Fifi tertawa.

Anton menyeruput minuman dingin di depannya.  Tenggorokannya terasa kering dan segelas air dingin yang diminum pun rasanya tidak mampu menghilangkan rasa dahaganya.  Bayangan wajah Rini berkelebat berganti-ganti dengan bayangan wajah teman-temannya yang sering mengolok-olok gadis itu.

“Fifi…., kau sangat baik padaku, tapi…..” Anton menarik nafasnya dalam dan berusaha sekuat tenaga untuk melanjutkan ucapannya.

“Tapi apa?” sela Fifi tidak sabar.

“Tapi aku…aku tidak mau mengecewakanmu.”

“Maksudmu?”

“Aku tidak bisa berjanji apa-apa padamu.  Aku mohon kau jangan berharap banyak dariku.”

Fifi tersenyum.

“Kalimat itu dulu sudah pernah kau ucapkan padaku.  Dan bukankah aku sudah menjawabnya…. Aku akan menunggu sampai kau siap.”

“Jangan… Kau akan terombang-ambing dalam ketidakpastian.  Dan aku jadi merasa bersalah.”

“Tidak apa-apa.  Demi kau, apa pun akan kulakukan,”Fifi menjawab mantap.

Anton tidak tahu harus berkata apa lagi.  Ia mulai merasa putus asa.

“Kau masih suka padaku kan?” Fifi menatap Anton dengan penuh harap .

Anton tertegun memandangi Fifi.   Mata gadis itu sangat indah dan senyumnya pun sangat manis. Teman-temannya selalu menunjukkan rasa iri tiap kali melihat Fifi mendekatinya dan Anton tidak memungkiri kalau ia begitu menikmati pandangan iri teman-temannya itu.   Lagipula, Fifi sangat memujanya.  Perlakuan gadis itu padanya membuat Anton sungguh-sungguh merasa tersanjung.

“Anton, kau masih menyukaiku kan?”Fifi mengulangi pertanyaannya.

Lidah Anton terasa kelu.  Ia tidak tahu harus menjawab apa.  Rasa ragu semakin erat mencengkeram dirinya.  Ia tidak tega bila harus mengecewakan Fifi.

“Atau…. Apakah ada wanita lain yang kau suka saat ini?”ucapan Fifi bagaikan peluru tajam yang tepat sasaran bagi Anton.   Tiba-tiba Anton merasa sangat gugup.

Anton menatap Fifi nanar sambil berulang kali menelan ludahnya.  Luluh sudah seluruh kekuatan yang ia bangun sejak dari rumah.  Anton tidak berdaya melawan kemunafikannya sendiri.

“Tidak ada.  Tidak ada wanita lain,”tiba-tiba kalimat-kalimat tersebut meluncur di bibir Anton. Begitu cepat bagai kilat dan ia pun tidak sepenuhnya sadar dengan ucapannya sendiri.

Fifi menarik  nafas panjang sambil tersenyum lega.

“Kalau begitu, aku akan menunggumu.  Suatu saat kau pasti akan kembali padaku.”

dark-forest-3

http://wallpaper-gallery.net

Advertisements

Author:

I'm a lucky wife, very happy mom and grateful civil servant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s