Posted in Novel

YOU’RE THE INSPIRATION (part 22)

Seharusnya Bu Laksmi guru Geografi, menjadi pengajar terakhir siang itu.  Namun beliau tidak masuk dan hanya menitipkan beberapa soal buat murid-murid kelas 3 Fisika 2 untuk dikerjakan.  Tidak sampai satu jam, para siswa telah menyelesaikan tugas yang diberikan dan setelah itu mereka pun diserang eforia karena jarang sekali ada kesempatan untuk bebas seperti saat itu.   Anton sebagai ketua kelas sudah tidak mampu mengendalikan teman-temannya.  Bahkan ia pun akhirnya ikut larut dengan suasana kelas yang penuh canda tawa sambil menunggu bel pulang berdentang.

Siang itu, Afandi, lelaki bertubuh gendut yang suka melucu namun sangat pemalu terhadap  wanita yang menjadi idamannya.  Mereka mengejek Afandi yang dianggap tidak mempunyai nyali, sehingga statusnya selalu menjomblo hingga saat ini.

“Kita jodohin Fandi yuk!”celetuk Leo yang kemudian diamini oleh hampir seluruh teman-temannya.

“Kayaknya Fandi cocok nih sama Snowblack,”seru Robi keras.

Hampir seluruh kelas tertawa mendengarnya.

“Setuju, setuju!”ujar Leo semangat, “Ayo Fan, kalau kamu sama dia, masa depan kamu terjamin!”

“Iya, hanya modal dengkul saja kamu bisa jadi bos besar!”sahut Wawan.

Fandi langsung merengut.

“Mendingan aku jadi jomblo terus,”sungut Fandi yang disambut dengan tawa cekikikan teman-temannya.

Anton duduk di kursinya sambil menundukkan kepalanya.  Ia berusaha menahan kemarahan yang membumbung di dadanya.  Ia ingin berteriak menyuruh teman-temannya berhenti tertawa.  Ia ingin meninju Leo, Fandi, Robi dan semua orang yang menjadikan Rini sebagai lelucon.  Ia ingin menarik Rini dari kursinya dan mengajak gadis itu keluar kelas agar bisa melepaskan diri dari kekejaman teman-temannya.  Namun, tubuh dan mulut Anton terasa kaku.  Dan sebagaimana yang sudah-sudah, ia hanya duduk terpekur dan bersikap seolah-olah tidak tahu apa-apa.  Dan membiarkan tawa, canda dan sahut menyahut di antara teman-temannya  berjalan terus.

“Atau jangan-jangan kau, Leo, yang diam-diam naksir Snowblack,”Afandi balas menyerang.

 Badan kurus Leo langsung gemetaran dengan wajah seolah-olah  ketakutan.

“Tidak…. Tidak…,”erang Leo, “Aku masih waras.”

Gemuruh tawa benar-benar membuat panas kuping Anton.  Ia sudah tidak tahan lagi dan langsung berjalan meninggalkan kelas.

Anton berjalan menuju markas pecinta alam dan duduk seorang diri di sana.  Ia berusaha keras menurunkan emosinya.  Rasa marah, sedih, dan benci pada dirinya sendiri berbaur menjadi satu di kepalanya.

Anton mengambil makalah mengenai navigasi dan berusaha serius mempelajari makalah tersebut.  Kebetulan Sabtu besok ia mendapat giliran untuk mengajar tentang navigasi kepada para siswa yang sedang mengikuti masa pendidikan  dan pelatihan sebelum dilantik menjadi anggota tetap.  Anton berharap dengan membaca ia dapat melupakan keresahannya.

Namun usahanya tidak berjalan mulus.  Berulang kali ia berusaha keras untuk memusatkan konsentrasinya membaca, namun tiap kali pula pikirannya terpecah.  Wajah Rini melintas terus di pikirannya.  Rasa sesal semakin menyelimutinya.

Anton terjaga dari lamunannya ketika terdengar suara pintu terbuka.  Tampak Ino sahabat karibnya memasuki ruangan.

“Kau sedang apa?  Kenapa tiba-tiba keluar kelas?” Ino bertanya sambil duduk di sebelahnya.

“Aku sedang menyiapkan bahan-bahan buat mengajar besok,”sahut Anton tanpa menoleh.

“Menyiapkan bahan atau …..….. menyiapkan bahan?” sindir Ino.

Anton tidak menjawab.  Ia terus membaca.

“Atau jangan-jangan berita yang  kudengar itu benar….?” Ino mengerling penuh arti.

“Apa maksudmu?” tanya Anton acuh tak acuh.

“Sepertinya sekarang kau punya kesibukan baru.   Sebuah misi rahasia,” Ino terkekeh.

Muka Anton memerah, namun ia tetap tidak mau menanggapi.  Ino pun menghentikan tawanya dan melanjutkan ucapannya.

“Ada beberapa orang yang memberitahu bahwa mereka beberapa kali melihat kamu di aula bersama Miss Snow Black.  Bahkan ada yang pernah melihat kalian pergi bersama menaiki sedan mewahnya.  Apa betul….?  Begitu rahasianyakah, sehingga aku pun tidak kau beri tahu?” Ino memandang Anton dengan sorot mata protes.

“Tidak.”

“Tidak apa…?  Tidak benar atau tidak salah?”

“Tidak mau jawab.”

“Kalau tidak mau menjawab, itu artinya kalian berdua memang memiliki hubungan khusus.  Aku memang sudah curiga.  Karena beberapa kali aku melihatmu sedang mencuri pandang ke arah gadis itu. “

“Kami hanya berteman.  Dia bukan tipeku.  Aku hanya penasaran dan kasihan sama dia,” jawab Anton datar.

“Kasihan?  Dia memiliki segalanya.   Sepertinya dia bukan orang yang patut untuk dikasihani.”

Anton menatap Ino tajam.  Tiba-tiba ia merasa marah.

“Ino, …….. apakah orang kaya tidak berhak merasa sedih bila kehilangan keutuhan keluarganya serta orang yang sangat disayanginya?”

Ino membelalakkan matanya.  Ia tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya.

“Apakah gosip yang beredar itu benar?  Benarkah ibunya meninggalkannya dan kawin lari dengan seorang bule?  Benarkah kakaknya tewas karena overdosis?”

Anton bungkam dan pura-pura sibuk membaca.  Padahal konsentrasinya sudah benar-benar buyar.

“Anton!  Aku serius.  Kau keluar kelas karena kau marah pada teman-temanmu, kan?  Kau tidak suka melihat mereka mengejek Rini.  Ya kan?”

Anton tidak bergeming.

“Hey, kau masih bisa mendengar suaraku kan?”Ino mulai tampak kesal, “Ayolah, jujur padaku.  Siapa yang sebenarnya ingin kau dekati?  Fifi atau Rini?”

Wajah Anton mulai terlihat serius.

“Ino, apa kau pernah melihat aku jatuh cinta?”

“Sering sekali.  Kau selalu jatuh cinta pada setiap gadis cantik yang kau temui,” Ino tersenyum nakal.

“Aku serius!” bibir Anton bersungut-sungut, “Kau tahu kan, aku sudah beberapa kali menjalin hubungan dengan cewek.   Menurutmu, apakah saat itu aku benar-benar sedang jatuh cinta?”

“Aku tidak tahu isi hatimu.  Yang jelas, kulihat kau sangat mengagumi gadis-gadismu itu.”

Wajah Ino mulai terlihat serius.

“Tetapi…,” Ino melanjutkan ucapannya.

“Tetapi apa?”

“Sikapmu akhir-akhir ini tampak aneh…”

 “Aneh bagaimana?”

“Kau sering melamun,  jarang berkumpul dengan teman-temanmu seperti dulu dan selalu ada saja alasanmu.  Satu lagi, sikapmu sangat aneh bila bersama Fifi.  Kau seperti tertekan.”

Ino menatap dalam mata Anton.

“Anton, tolong jawab dengan jujur. Bagaimana sebenarnya  perasaanmu ke Rini? Diakah yang membuatmu seperti ini? Sebenarnya dia kan yang kau suka dan bukan Fifi?”

Anton membisu beberapa saat., lalu menjawab pelan.

“Aku tidak tahu. “

Ino mengamati wajah Anton , seolah-olah sedang berusaha menyelami isi hatinya.

“Kau bukannya tidak tahu, kau hanya tidak mau mengakuinya,” ujar Ino yakin.

Anton terdiam.  Wajah Rini mulai menghiasinya isi kepalanya. Saat ini, di mana pun dan kapan pun, pikirannya selalu tertuju pada gadis itu.  Bahkan, detak jantungnya pun tak henti-hentinya menyebut nama gadis itu.

“Kenapa?  Apakah kau malu menyukai seorang wanita berkulit gelap, berkarakter aneh dan tidak punya teman?” tanya Ino lagi, sambil memandang Anton dengan tajam.

Anton  membisu.

“Atau, kau takut orang-orang menuduhmu telah menjadi seorang pria materialistis dan memanfaatkan gadis itu?”tebak Ino.

Anton tetap membisu.

“Heh, kau ternyata seorang pria yang angkuh dan pengecut.  Bahkan ketika dia ditertawakan dan diejek oleh teman-temanmu pun kau tidak pernah membelanya.  Ck…ck…ck… memalukan sekali,” Ino mencemooh.

 “Kau jangan menuduh sembarangan!” tukas Anton ketus.

Ino tertawa keras.  Lalu berjalan keluar meninggalkan markas sambil bersenandung.

When I fall in love, it will be forever…..  Or I’ll never fall in love…..”

 “Ino!  Suaramu fals, tahu!!” teriak Anton kesal.

Setelah suara Ino tak terdengar lagi, Anton termenung seorang diri.  Dalam hati, ia mengakui kebenaran kata-kata sahabatnya itu.  Namun  semuanya tidak semudah yang dipikirkan Ino.  Menumbuhkan keberanian serta keyakinan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.

Alone-Man-Standing-on-Top-Mountain.jpg

Sumber : http://love.catchsmile.com/wp-content/uploads/2016/06/Alone-Man-Standing-on-Top-Mountain.jpg

Advertisements

Author:

I'm a lucky wife, very happy mom and grateful civil servant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s