Posted in Novel

YOU’RE THE INSPIRATION (part 23)

Bel berdentang.  Ini menandakan waktu pulang telah tiba.  Siang ini Anton ada janji dengan Fifi untuk bertemu di kantin.  Dan kebetulan karena hari Sabtu, beberapa orang teman pecinta alamnya pun ikut berkumpul di kantin sambil menunggu latihan sore  ini.

“Hai semua…”sapa Fifi.

“Halo Fifi….”serempak Anton dan kawan-kawannya menjawab.

“Heru, saya duduk di samping Anton ya,” rajuk Fifi dengan pandangan memohon pada Heru yang kebetulan duduk di dekat  Anton.

Heru langsung mencibir.

“Ya deh…. Kalau gadis cantik memang udah jatahnya Anton,”dengus Heru sambil berpindah tempat duduk yang kemudian disambut derai tawa teman-temannya.

Kehadiran Fifi menambah kemeriahan canda tawa yang ada.  Ia pandai bergaul dan sudah sering bergabung dengan Anton cs.  Namun tidak demikian dengan Anton.  Semakin Fifi mendekati dirinya, ia semakin merasa bersalah.

“Hai Rini…”pekikan Fifi membuat tenggorokan Anton tercekat.  Ia menatap nanar pada seraut wajah yang secara tidak terduga muncul di depan pintu kantin.  Tidak hanya Anton, semua yang duduk di meja itu pun menatap takjub karena tidak biasanya sosok introvert dan pendiam itu datang ke kantin.

“Ada apa?”mata Rini fokus menatap Fifi,  seolah-olah hanya ada Fifi di kantin tersebut.

“Iya, nanti kita ngobrol,”Fifi tersenyum ramah, “Kau ikut makan  yuk.  Ayo duduk di sini…”Fifi menunjuk tempat di sebelahnya sembari merapatkan tubuhnya ke dekat Anton sehingga tempat duduk  panjang tersebut menjadi cukup lengang untuk diduduki 1 orang lagi.

Kendati sempat ragu-ragu, akhirnya Rini menempati tempat duduk yang ditawarkan Fifi, namun ia menolak tawaran makanan dan minuman untuknya.  Wajahnya mulai menampakkan kegelisahan.   Ia merasa tidak nyaman berkumpul dengan orang-orang yang tidak begitu ia kenal.  Tidak hanya itu, tapi ……..

“Fifi, ada apa ini?”bisik Anton, ia mulai merasakan firasat tidak enak.

 “Tenang pangeran…. Aku hanya ingin membantu menyelesaikan masalahmu.” Fifi balas berbisik.

“Oya, aku tadi mengatakan ada hal penting yang ingin kubicarakan di kantin denganmu ya….”  Fifi mengalihkan pandangannya pada Rini lagi.

Rini mengangguk.  Kepalanya menunduk dan tidak membalas tatapan mata Fifi.

“Aku hanya ingin kau berkenalan dengan teman-teman Anton.  Selama ini Anton belum pernah memperkenalkan mereka padamu kan?”

Rini mengangguk sambil tersenyum kecil pada  orang-orang yang diperkenalkan padanya.

“Dulu saat aku masih berpacaran dengan Anton,  ia selalu memperkenalkan semua teman-temannya padaku,”cetus Fifi tenang, “ Yah, setelah beberapa bulan putus, sekarang kami sepakat untuk jalan bareng lagi…”

“Apa-apaan kau Fi?”sela Anton tegang.  Darahnya mulai mendidih apalagi melihat wajah Rini yang memucat.

“Lho, memang benar kan?  Kau sendiri mengaku masih menyukaiku dan kita sudah beberapa kali jalan bareng,”sahut Fifi tanpa perasaan bersalah.

  “Itu tidak seperti yang kau pikirkan!”erang Anton.

“Yang aku ucapkan tadi semuanya adalah fakta, bukan hanya sekedar pemikiranku saja!” Fifi balas menantang.

Anton kehilangan kata-kata.  Ditatapnya  mata Rini selama beberapa saat.  Sakit rasanya melihat luka di mata gadis itu.  Ia menyesali  kepengecutannya selama ini.  Kini ia harus menerima hukumannya.

“Ya, supaya kau tahu saja.  Anton memang senang bergaul.  Tapi dari sekian banyak gadis yang ia dekati, tentu saja ada yang paling istimewa.  Dan gadis itulah yang ia perkenalkan pada teman-temannya,”Fifi menambahkan.

“Itu saja?” Rini bertanya pelan pada Fifi.  Fifi mengangguk sambil tersenyum penuh kemenangan.  Rini pun beranjak pergi.  Ia sempat tersenyum kecil pada Anton sebelum akhirnya benar-benar hilang dari pandangan mata.

Anton tidak dapat menahan amarahnya. “Ternyata kau memang belum berubah!”seru Anton geram.

“Justru aku merasa kasihan padanya.  Aku tidak ingin dia berharap terlalu banyak darimu!”Fifi tersenyum mengejek, ”Seseorang yang tidak pernah bergaul seperti dia, didekati lelaki tampan seperti dirimu, pasti hatinya sangat berbunga-bunga.  Padahal kau hanya penasaran  dengannya dan merasa iba setelah mendengar kisah keluarganya yang tragis itu.  Betul kan?”

“Kau tahu apa tentang keluarganya?  Kau tahu apa tentang kami berdua?  Dan kau tahu apa tentang perasaanku?”Anton menatap Fifi tajam.

“Kisah keluarganya sudah menjadi rahasia umum.   Sebagaimana kisah kalian berdua yang selalu berusaha kau tutupi.  Akhirnya terbongkar juga kan?  Dan kau… seandainya kau benar-benar menyukainya, kenapa harus back street  di hadapan teman-temanmu sendiri? Bahkan pada sahabat karibmu sendiri, kau pun malu untuk mengakuinya, kan?”

Anton melirik Ino.

“Sorry Ton, aku kelepasan…”desis Ino dengan wajah pucat.

Anton mulai merasa muak.  Ia marah pada Fifi, pada Ino dan pada dirinya sendiri.  Takut emosinya akan meledak, Anton segera  berjalan cepat keluar kantin.

“Anton, mau ke mana?”Fifi mengejarnya.

“Aku mau bertemu Rini.  Aku akan menjelaskan semuanya.”

“Untuk apa?”

“Karena aku sayang sama dia.  Aku jatuh cinta padanya,”jawab Anton pasti.

Fifi terbelalak tak percaya.

“Tidak mungkin, kau tidak mungkin jatuh cinta padanya,”suara Fifi bergetar.  Ia berusaha menghalangi langkah pria itu.

“Atau jangan-jangan……. Kau hanya menyukai hartanya?  Kau berharap bisa menjadi seorang pewaris tahta kerajaan?”

“Kau keterlaluan !”

“Kau yang keterlaluan!  Kau mendekati Rini dan pada saat yang bersamaan kau masih berhubungan denganku.  Kau pun mengakui kan, kalau kau masih menyukaiku?  Kau memang lelaki serakah.”

Anton tidak menjawab.  Ia semakin mempercepat langkahnya.  Namun sekali lagi Fifi berteriak memanggilnya dan ia pun terpaksa menghentikan langkahnya.

“Lalu, bagaimana dengan aku?  Bukankah kau masih menyukaiku?”seru Fifi dengan wajah frustrasi.

Anton menarik nafas panjang.  Butuh keberanian dan kekuatan yang besar dalam dirinya untuk mengatakan yang sebenarnya.

“Ya, aku memang menyukaimu.  Aku mengagumi kecantikanmu.  Sebagai wanita, kau sangat menarik.  Namun….. Saat ini hanya Rini satu-satunya wanita yang kuinginkan,”Anton pun langsung membalikkan badannya dan meninggalkan Fifi.

Secara  fisik, Fifi nyaris sempurna di matanya. Hampir semua kriteria yang diinginkannya dari seorang gadis, ada pada diri Fifi.  Tetapi, kini semua telah berubah.  Karena sekarang ia sudah tidak peduli dengan semua itu. Ia hanya menginginkan Rini Handayani.  Hanya Rini seorang.  Dan saat ini ia merasa sangat takut.  Ia takut Rini akan meninggalkannya.  Ia takut tidak dapat memiliki Rini.  Ia menyesali keangkuhan dan rasa takutnya selama ini.

Kini ia sudah tidak peduli lagi dengan pandangan orang lain.  Karena, membayangkan kehilangan Rini, ternyata jauh lebih menyakitkan dibandingkan segalanya.

Anton berlari mencari Rini di tempat parkir mobil.  Ia melihat sedan mewah gadis itu hampir beranjak pergi.   Anton mengejarnya serta mengetok kaca jendela mobil dan Rini pun membukanya.

Anton tertegun sejenak mengamati gadis di depannya itu.  Dua bulan sudah ia berhubungan dekat dengan Rini, sehingga ia dapat mengenali bahwa saat ini sorot mata gadis itu menyiratkan sebuah luka.  Ia benar-benar merasa bersalah.

“Bisa turun sebentar?  Aku ingin berbicara,” ujar Anton.

Rini terlihat ragu-ragu, namun akhirnya turun dari mobil lalu bersandar di badan mobil dan berdiri menyamping dari Anton.  Matanya menatap lurus ke depan, seolah-olah sedang menghindari tatapan mata Anton.

“Rini…. ,” suara Anton bergetar, “Aku sakit sekali melihat cara Fifi memperlakukanmu tadi.”

Anton terdiam, menunggu komentar dari Rini.  Namun, gadis itu diam seribu bahasa.

“Aku memang masih berhubungan dengan Fifi.  Aku juga beberapa kali jalan dengannya.  Tapi sungguh, kami hanya berteman.  Aku tidak punya perasaan khusus padanya.  Percayalah padaku,” lanjut Anton lagi.

Rini tetap tidak bersuara.

“Aku…. Aku … memang pengecut.  Aku tidak berani mengungkapkan hubungan kita di depan teman-temanku.  Aku tidak pernah membelamu ketika kau diejek dan dipermainkan.  Itu karena aku takut….  Aku takut kehilangan teman-temanku bila  mengetahui perasaanku yang sebenarnya padamu.”

Anton memandangi wajah Rini dan ia merasakan getar-getar di dadanya sudah tak terbendung lagi.  Hingga akhirnya ia pun mengucapkan kata-kata yang selama ini disimpannya.

“Tapi, sekarang aku sudah tidak takut lagi.  Aku sudah tidak peduli apa kata orang.  Karena membayangkan kehilanganmu jauh lebih menyakitkan daripada semua itu.  Rini….., kaulah satu-satunya orang yang kucintai selama ini.  Tolong jangan tinggalkan aku.”

Rini menundukkan kepalanya.   Perlahan dua tetes air mata mengalir di pipi gadis itu.

Anton memperhatikan wajah Rini dengan sungguh-sungguh.  Hatinya diliputi perasaan menyesal karena telah menyakiti hati seseorang yang sangat ia kasihi.

“Rini, maafkan keangkuhanku selama ini.  Maafkan aku yang telah mempermainkan perasaanmu…. Tapi sungguh, aku…….,” Anton berhenti berbicara, karena tiba-tiba Rini meletakkan jari telunjuknya di bibir Anton.

“Aku mengerti,” bisik Rini.

Rini menatap Anton lembut.

“Apakah kau mau memaafkanku?”tanya Anton dengan agak terbata-bata.

Rini mengangguk perlahan, matanya menyiratkan kesungguhan, “Semua itu tidak ada artinya dibandingkan apa yang telah kau berikan padaku.”

“Apa… Apa yang telah kuberikan padamu?”

“Kau membuatku hidup kembali.  Terima kasih, Anton…”

 Anton tertegun, nyaris tidak percaya dengan apa yang telah didengarnya.

Rini membalikkan badannya dan hendak memasuki mobilnya kembali.  Namun Anton menarik tangan gadis itu.

“Apa kau juga mencintaiku?”bisik Anton.

Rini tidak menjawab dan hanya menatap Anton dengan tatapan penuh kasih.  Anton bisa merasakan getar-getar cinta di sana.  Namun ia belum yakin.

“Please, jawab……”

“Ya…”

Tiba-tiba Anton merasa dadanya seolah-olah akan meledak.  Rasa  haru dan bahagia bercampur baur menyelimutinya.  Perlahan ia menyorongkan tubuhnya serta memeluk gadis di hadapannya itu dengan penuh kasih.

Sekejab kemudian  terdengar suara Pak Hari terbatuk-batuk keras dari dalam mobil.  Anton melepaskan pelukannya dan  baru menyadari bahwa ternyata ada beberapa pasang mata teman-temannya di lapangan parkir itu yang sedang memperhatikan dengan antusias apa-apa yang baru ia lakukan.  Mereka semua tampak takjub, seolah-olah tidak percaya dengan adegan yang baru saja mereka saksikan.

Anton tersenyum dan setelah itu merangkul Rini yang tampak salah tingkah.  Ia memandang ke arah teman-temannya yang tengah berdiri  memperhatikan dirinya dan Rini.

“Rini adalah satu-satunya wanita yang kucintai.  Aku akan selalu menyayangi serta melindunginya.  Jadi, siapa pun yang berani menyakiti gadisku ini…… dia akan berhadapan denganku,”ujar Anton tegas.  Ia sudah sangat yakin dengan kata hatinya.  Dan apa pun rintangannya, termasuk pandangan aneh dari teman-temannya, akan ia hadapi dengan gagah berani.  Semua karena cintanya pada seorang gadis yang begitu menyentuh hatinya.  Seorang gadis yang bernama….. Rini Handayani.

 

Agustus 1977

“Apa maumu?  Mengapa kau menyakiti putrimu sendiri?”

“Dia bukan putriku!”

“Dia putri kandungmu.  Kau lihat sendiri, ia mirip sekali denganmu!”

“Kenapa dia pintar bermain piano?  Garis darah keluargaku dan keluargamu tidak ada satu pun yang bisa bermain musik!!!”

“Tetapi dia benar-benar putrimu.  Aku berani bersumpah!”

“Perempuan murahan seperti dirimu mana mungkin bisa dipercaya.”

“Kau bedebah!  Kau boleh membenciku, tapi jangan kau sakiti anak kandungmu sendiri.  Sudah cukup Armand yang menjadi korbanmu!”

“Armand bukan putraku.  Dia sudah ada di janinmu sebelum kita menikah.”

“Kenapa kau selalu mengungkit-ungkit itu?  Bukankah kau sudah tahu sebelumnya dan tidak ada seorang pun  yang memaksamu untuk menikahiku?”

“Betul.  Aku melakukannya hanya untuk membalas jasa ayahmu.  Kasihan…………., beliau sangat menderita melihat keliaran putrinya.”

“Bohong!  Kau hanya menginginkan harta papaku.  Bila papa masih hidup, beliau pasti menyesal telah menikahkan aku denganmu!”

Advertisements

Author:

I'm a lucky wife, very happy mom and grateful civil servant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s