Posted in Novel

YOU’RE THE INSPIRATION (part 24)

Desember 1990

Hari-hari berlalu begitu cepat.  Tanpa terasa sekarang sudah di penghujung tahun.  Anton merenungi hari-hari yang telah dijalaninya.  Sejak kehadiran Rini di sisinya, ia benar-benar mendapatkan kebahagiaan yang seutuhnya.  Gadis itu begitu memahami dirinya dan selalu mendengarkan segala cerita maupun keluh kesahnya dengan penuh perhatian.

Bagi Anton, Rini ibarat sebuah rumah yang menjadi tempatnya pulang setelah bepergian ke mana pun.  Rumah yang menjadi tempatnya berteduh dan mencari kenyamanan bila ia merasa lelah.  Sebuah tempat di mana Anton tidak bisa berpura-pura dan selalu menjadi dirinya sendiri.  Dan sebuah tempat….. di mana Anton selalu ingin menjaganya serta merawatnya dengan baik.

Hubungannya dengan Rini berjalan sangat mulus, jauh lebih mulus daripada yang diduga sebelumnya.   Sebagian besar teman-temannya ternyata turut mendukung dan menghormati keputusannya untuk memilih Rini.  Hanya sebagian kecil yang memandang sinis kedekatannya dengan Rini, termasuk Fifi, dan teman-teman gank-nya.   Beberapa kali mereka berusaha untuk merecoki hubungan Anton dengan Rini, namun segala usaha mereka sia-sia saja.  Kekuatan cinta antara Anton dan Rini terlalu kuat untuk dipisahkan.

Yang lebih menyenangkan hati Anton adalah melihat perubahan pada diri kekasihnya itu.   Rini terlihat lebih ceria dan berusaha keras untuk berhubungan baik dengan semua teman Anton.  Walaupun sifat pendiam dan introvert gadis itu tetap tidak bisa disembunyikan, namun ia sudah dapat tersenyum, berbicara lebih banyak dan menatap orang lain dengan lebih ramah serta hangat.  Gelar Snow Black yang telah lama disandangnya pun perlahan memudar.

Kalaupun ada yang menggelisahkan Anton adalah keinginan ayah Rini untuk menyekolah putrinya ke luar negri tamat SMA nanti.  Namun Rini meyakinkan kekasihnya bahwa ia akan berusaha keras untuk membujuk ayahnya agar diperbolehkan kuliah di Indonesia.

“Kau katakan pada ayahmu akan kuliah di mana?”tanya Anton suatu ketika.

“Tentu saja di universitas negri yang terbaik di sini,”jawab Rini bersemangat.

“Kau akan mengambil jurusan apa?”

“Fakultas Ekonomi.  Itu keinginan papa.”

“Apakah kau menyukainya?”

“Aku akan berusaha.”

“Apakah kau tidak punya cita-cita?”

Rini berpikir sejenak, lalu tersenyum malu-malu.

“Sebelum bertemu denganmu, aku tidak punya cita-cita.  Namun setelah bertemu denganmu, ada sebuah cita-cita terlintas dalam pikiranku,”jawab gadis itu pelan.

“Apa itu?” Anton bertanya penuh rasa ingin tahu.

Rini menggeleng, lalu tersenyum misterius.

“Kapan-kapan akan kuberitahu.  Tetapi tidak sekarang,” jawabnya penuh rahasia.

Saat itu Anton pura-pura merajuk karena tidak diberitahu Rini.  Namun gadis itu membujuknya dan balik bertanya.

“Kau sendiri mau masuk jurusan apa?”tanya gadis itu.

“Aku tidak akan memberitahu.”

“Aku akan menebaknya.”

 “Kau tidak akan bisa menebak.”

“Kau orangnya apik dan pandai menggambar.  Kau cocok jadi………,”Rini pura-pura berpikir keras, lalu melanjutkan ucapannya,”Kau cocok jadi seorang Arsitek!”

Anton cukup ‘surprised’ mendengarnya.  Tebakan gadis itu sangat tepat.  Hasil psikotesnya beberapa waktu lalu memang menunjukkan bahwa ia sebaiknya memasuki jurusan teknik arsitektur dan kebetulan ia sangat berminat di bidang itu.

Rini memandang Anton dengan wajah penuh kemenangan.

“Tebakanku tepat, kan?”tanyanya dengan mata berbinar-binar, lalu tertawa kecil.

Anton tidak menjawab.  Ia selalu terpesona bila melihat  Rini tertawa.   Rini jarang tertawa di depan orang lain.  Namun di hadapannya, gadis  itu telah berulang kali menunjukkan tawanya yang khas.

Rini juga sudah beberapa kali mengunjungi Daniel dan kadang-kadang mengajaknya berjalan-jalan. Dari ekspresi wajahnya dapat dilihat bahwa perhatian yang diberikan kepada bocah itu  benar-benar tulus.

 “Kenapa kau menyukainya?”

 “Hm,  kau cemburu rupanya.”

 “Ya, setiap kali bertemu bocah itu kau pasti mengabaikan aku.”

 “Itu karena Daniel lebih tampan darimu.”

Setelah itu mereka tertawa bersama, saling bercanda dan bercakap-cakap tanpa pernah kehabisan bahan pembicaraan.

Di lain kesempatan, ketika sedang mendengarkan lagu-lagu The Beatles, Rini berbicara lirih dengan pandangan mata sendu.

“Daniel mengingatkan aku pada mas Armand.  Mereka berdua sebenarnya sangat membutuhkan bantuan.  Namun orang-orang di sekitarnya sulit sekali untuk memahaminya. ”

Anton memejamkan matanya dan mengingat berbagai  kenangan manis dan menyentuh hati bersama gadis pujaannya itu.  Mereka belum lama berhubungan, namun ia merasa seperti sudah bertahun-tahun mengenal gadis itu.

 Lamunan Anton terhenti ketika ia menyadari jam telah menunjukkan pukul 4 sore.  Saat ini ia sedang sibuk berkemas  mempersiapkan kepergiannya bersama beberapa orang teman seangkatannya yang juga menjadi anggota kelompok pecinta alam sekolahnya.  Ia mulai mengecek barang bawaannya satu persatu.  Rencananya, dalam rangka mengisi liburan semester 1, ia dan teman-temannya akan melakukan kegiatan mendaki Gunung Raung di Jawa Timur.  Pendakian ini merupakan acara  perpisahan karena setelah itu mereka akan vakum dari kegiatan pecinta alam dan mempersiapkan diri menghadapi Ebtanas serta ujian masuk perguruan tinggi.

Mereka akan berangkat naik kereta malam ini menuju Surabaya.   Hari ini orang tua  dan adik Anton khusus datang dari Jakarta untuk mengambil raport sekalian melepas kepergian putra sulung mereka untuk mendaki gunung.

Hasil raport yang diterima tadi pagi cukup membanggakan ayah serta ibunya.  Prestasinya meningkat  tajam di semester ini.  Ia berhasil meraih rangking 9 di kelasnya.  Memang masih kalah dibandingkan kekasihnya yang lagi-lagi meraih peringkat pertama di kelasnya sekaligus juara umum di sekolah.  Namun Anton merasa sangat senang karena telah bisa membuktikan pada keluarganya maupun teman-temannya, bahwa hubungannya dengan Rini telah banyak memberikan dampak positif bagi dirinya.

Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu di kamarnya.

“Kak Anton, ada temannya datang,”ujar Andika dari balik pintu.

“Siapa?”

“Kak Rini.”

Anton segera keluar kamar dan melihat kekasihnya itu sedang duduk di ruang tamu ditemani ayah dan ibunya.  Orang tuanya kelihatan sudah maklum dengan sikap Rini yang malu-malu dan tidak banyak bicara.  Mereka bersikap sangat ramah dan berusaha membuat Rini senyaman mungkin.  Selama ini Anton sudah banyak bercerita tentang Rini pada kedua orang tuanya.

Ketika menyadari kehadiran Anton, Rini langsung memandang ke arahnya dengan perasaan bersalah.

“Aku sangat gugup,”bisik Rini, “Aku jadi tidak bisa banyak bicara.”

“Tenang saja, ayah dan ibuku pasti mengerti,”Anton menenangkan.

“Mereka pasti menyesal mengapa kau memilih pacar seperti aku,” Rini mulai tampak panik.

Anton menggenggam tangan Rini, dan menatapnya lembut.

“Rini, mereka selalu bahagia bila melihat aku bahagia.  Aku sangat bahagia bila bersamamu.”

Rini mulai  terlihat tenang dan perlahan-lahan berusaha menguasai keadaan.  Anton pun segera membimbingnya menuju meja makan.  Di sana ayah, ibu, kakek dan Andika telah berkumpul.  Sore ini mereka mengadakan acara syukuran untuk melepas kepergiannya malam ini.

Sikap keluarga Anton yang sangat welcome pada Rini lama-lama membuatnya jadi lebih nyaman dan bisa bercakap-cakap lebih santai dengan mereka.  Berada di tengah-tengah mereka  membuatnya dapat merasakan apa yang ia dambakan selama ini, yaitu  sebuah kehangatan.  Ia pun jadi mengerti, mengapa sorot mata Anton begitu percaya diri dan senantiasa gembira.

“Hey, bukankah tiga  hari  lagi kau berulang tahun yang ke-18?  Jadi kau berniat merayakan ulang tahun di gunung ya?”seru ibu sambil pura-pura melotot pada Anton.

Anton mengangguk sambil nyengir.

“Ya sudah, kita rayakan sekarang saja!” timpal kakek sambil mengangkat gelas di tangannya seperti hendak bersulang.

Mereka semua tertawa.  Suasana di ruang makan yang kecil itu terasa semakin hangat dan hangat.

“Kau benar-benar beruntung,”ungkap Rini usai acara makan-makan.

Anton mengangguk.

 “Ya, sejak mengenalmu, aku jadi menyadari kalau aku  termasuk orang yang paling beruntung di dunia ini.  Karena memiliki keluarga yang sangat menyenangkan dan ………….,” Anton memegang kedua tangan Rini, lalu melanjutkan ucapannya, “Aku memiliki seorang kekasih yang sangat membahagiakanku.”

Rini tersenyum.

“Anton, aku ada sesuatu untukmu,” ucap Rini malu-malu.

“Oya?  Apa?”

Rini mengeluarkan bungkus kecil dari tasnya dan diberikannya panda Anton.

“Ini hadiah ulang tahun dariku.  Tolong simpan di ranselmu dan jangan dibuka sebelum hari ulang tahunmu tiba.  Kau harus berjanji padaku.”

Anton memandangi bungkus kecil di tangannya.  Ingin rasanya ia membuka kado itu sekarang juga.  Namun ia harus berjanji pada Rini.

“Oke, aku berjanji padamu, aku hanya akan membukanya di hari ulang tahunku.”

Rini tertawa senang.

“Oya, liburan ini kau ke mana?”tanya Anton.

“Besok pagi aku akan berangkat ke Jakarta.  Papa telah menungguku di sana.  Insya Allah dua hari lagi kami akan berangkat ke Brunei.  Kebetulan papa ada urusan bisnis di sana.  Aku ikut sekalian berlibur.”

Sebelum masuk ke mobilnya, Rini memandangi  Anton lama.  Wajahnya tampak khawatir.

“Anton, hati-hati, sekarang musim hujan.  Aku sangat mencemaskanmu,” ucapnya lirih.

Anton mengangguk dan balas menatap Rini lama.  Ini untuk pertama kalinya mereka akan berpisah cukup lama dan hatinya terasa berat .

“Aku pasti akan merindukanmu,” bisiknya di telinga Rini.

“Aku juga.”

“Aku cinta padamu.”

“Sama.”

Rini melambaikan tangannya tanda pamit pulang.  Mobil gadis itu segera meluncur pergi meninggalkan Anton yang entah kenapa tiba-tiba merasa sangat sedih.  Suatu kesedihan yang tidak jelas penyebabnya.

“Ada apa denganku?”Anton bertanya pada dirinya sendiri.

“Bukankah kami hanya akan berpisah selama seminggu?  Kenapa aku harus sesedih ini?” gumamnya heran.

Advertisements

Author:

I'm a lucky wife, very happy mom and grateful civil servant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s