Posted in Novel

YOU’RE THE INSPIRATION (part 25)

Pagi hari tiba. Dan tidak seperti beberapa bulan sebelumnya. Kini, setiap pagi hari terasa begitu indah di mata Rini.  Bangun tidur menjadi saat yang amat menyenangkan.

Rini berjalan ke balkon kamarnya dan mengamati ke bawah. Siang ini ia akan pergi ke Jakarta. Dan sebelum berangkat, Rini ingin menikmati sekali lagi pemandangan indah halaman belakang rumahnya. Dulu ayahnya khusus memanggil perancang taman terkemuka untuk men-design tamannya sehingga terlihat indah.  Dan selama 3 tahun tinggal di rumah ini, baru sekarang ia menyadari betapa indah pemandangan di halaman rumahnya.  Sebuah kolam renang, pepohonan, bunga dan rerumputan, sungguh merupakan perpaduan yang serasi.

Anton Ananta.  Sekali lagi nama itu terucap di hatinya.  Ada debar halus di dadanya setiap kali mengingat nama itu.  Sudah beberapa bulan ini lelaki itu menjadi sosok yang istimewa di hatinya.  Dan semakin waktu berjalan, semakin ia menyadari bahwa hatinya semakin banyak dipenuhi oleh bunga.  Dunia terasa lebih cerah, tidak muram dan gelap sebagaimana yang dulu ia rasakan.

Anton begitu percaya diri, periang, ramah, dan ia merasakan sebuah ketulusan setiap kali lelaki itu berbicara dengannya.   Lelaki itu pun mampu membuatnya tersenyum dan tertawa lepas.

Beberapa kali Anton menyinggung soal mas Armand di depannya.   Hal itu membuatnya tidak habis pikir.  Karena selama ini ayahnya selalu melarangnya mengingat-ingat mas Armand.  Rini pun  berusaha keras untuk menuruti permintaan ayahnya itu,   karena ia percaya bahwa ayahnya pasti benar.  Hingga akhirnya Anton datang.  Membuka kembali luka lamanya serta memaksanya untuk menghadapi semua itu sebagai kenyataan hidupnya.   Anton juga mengajarinya untuk menangis dan mengeluarkan seluruh kesedihannya.

Kenangan 3 tahun yang lalu, merupakan kenyataan paling pahit dalam hidupnya.

Siang itu Rini sedang mengikuti pelajaran Biologi di sekolahnya.  Tiba-tiba wali kelasnya masuk dan menyuruhnya pulang.  Di depan sekolah, Pak Hari telah datang menjemputnya.   Wajah sopirnya itu terlihat tegang.

Sesampainya di rumah, ia melihat sebuah bendera kuning dan  halamannya dipenuhi orang yang lalu lalang.   Ia berjalan memasuki rumahnya dengan hati dipenuhi tanda tanya.

Di dalam rumah, ayahnya dan beberapa orang kerabatnya tengah duduk di atas karpet.  Mereka semua mengenakan baju berwarna gelap dengan wajah yang dipenuhi duka.  Di hadapan mereka ada seseorang yang terbujur kaku dibalut kain kafan.

Perlahan Rini mendekat dan mendekat.  Ia melihat wajah orang itu dengan jelas.  Wajah yang sangat dikenalnya.  Wajah yang selalu ada di hatinya.  Namun, tidak seperti yang lainnya, tidak ada setetes pun air mata mengalir di pipinya.  Karena ia sudah terbiasa melihatnya.  Ia sudah biasa melihat mas Armand tidur dengan pulas.  Tidak ada yang perlu ditangisi.

Tiga hari sebelumnya,  Mas Armand ditemukan ayahnya dalam kondisi tidak sadarkan diri di kamarnya dengan mulut berbusa.  Saat itu juga beliau membawa Mas Armand ke rumah sakit dan dirawat di sana.  Dokter menyatakan bahwa kakaknya itu  keracunan obat-obatan terlarang.  Dan ternyata sudah lama mas Armand kecanduan barang-barang haram tersebut.

Menjelang pemakaman, ibunya datang dari Inggris.  Dengan perut membuncit, karena sedang hamil, ibunya berlari dan menangis memeluk tubuh  Armand. Ibunya sudah terbang dari Inggris  sejak mendengar Mas Armand dirawat, namun kedatangannya terlambat, karena ketika ia tiba, putranya tersebut sudah tiada.

Saat pemakaman, semua orang menangis  kecuali dirinya.  Dan ia pun dilupakan.  Semua orang hanya menghibur ayah dan ibunya.

Seminggu kemudian ibunya kembali ke Inggris.  Ayahnya pun kembali sibuk dengan bisnisnya.  Dan tinggallah Rini seorang diri di rumah. Setiap hari ia membeli nasi uduk, makanan favorit mas Armand, dan meletakkannya di kamar kakaknya itu.  Kemudian ia memasang lagu-lagu The Beatles serta memutar berulang kali  lagu “Hey Jude” yang merupakan lagu favorit mas Armand.  Mas Armand sering pergi selama berhari-hari.  Namun ia selalu pulang.  Begitu pula sekarang.  Rini yakin kakaknya pasti akan pulang.  Dan ia akan dengan sabar menunggunya.

Hingga 5 hari kemudian ayahnya memergoki Rini yang sedang menunggu mas Armand pulang.  Ayahnya tidak mengatakan apa-apa.  Tetapi, hari itu juga semua foto mas Armand dan barang-barang miliknya dipindahkan ke gudang.

Keesokan harinya Rini dibawa ke seorang psikolog.  Di depan psikolog selama dua jam ia hanya duduk membisu dan tidak mau berbicara sepatah kata pun.

Seminggu kemudian, ayahnya memindahkannya dari Jakarta ke Bandung dan menaruh pembantu-pembantu terbaiknya untuk menjaga Rini di rumah barunya  itu.  Semua yang bekerja di situ adalah orang-orang yang minimal telah mengabdi selama 5 tahun di keluarga mereka.   Mereka semua mempunyai tugas tambahan, yaitu mengawasi dirinya.

Sebelum pergi ayahnya berpesan agar ia harus terus berprestasi di sekolahnya dan ia harus melupakan mas Armand, karena kakaknya tidak akan pernah kembali lagi.

Rini sangat mencintai dan mengasihi ayahnya.  Ia   mengetahui kalau beliau  sangat terpukul dan sedih dengan kepergian mas Armand.  Ia pun berjuang keras mengikuti pesan ayahnya itu.  Ia berprestasi di sekolahnya dan berusaha melupakan mas Armand.

Namun………..dari hari ke hari ia merasa dunianya semakin terpisah dengan orang-orang di sekitarnya.  Ia seperti hidup dalam tabung kaca dan tidak dapat keluar dari dalamnya.  Dunia menjadi sangat kelam dan muram di matanya.  Tetapi anehnya, ia tidak dapat menangis.  Hanya pianonya yang menjadi saksi kegalauannya itu.

Rini berjalan ke perpustakaan, mencari rak yang berisi buku-buku dongeng.  Dulu, sewaktu ia kecil, mas Armand sering membacakan dongeng untuknya.

Rini mengambil sebuah bingkai foto yang sengaja ia simpan di dalam rak buku tersebut 3 tahun yang lalu.  Satu-satunya foto yang masih tersisa.

Memandang wajah mas Armand, hatinya terasa pedih.  Air matanya perlahan turun.   Dan akhirnya ia terisak.  Ia menangis. Menangis yang sangat lama. Tangisan yang disimpannya selama 3 thn.

Ia menangis terus hingga rasa sesak dan luka di dadanya berkurang. Mas Armand memang benar-benar telah pergi meninggalkannya.  Pergi dengan meninggalkan berbagai pertanyaan dan penyesalan dalam dirinya.  Mengapa mas Armand melakukan semua ini?  Mengapa ia tidak dapat menolongnya?  Mengapa semua ini terjadi?  Pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah ia temukan jawabannya.  Suatu kenyataan yang selama bertahun-tahun selalu dihindarinya.  Dan ketika ia menyadarinya, hatinya menjadi amat sangat terluka.

Namun kini ia berusaha keras keluar dari tabung kaca yang selama ini membelenggunya.   Dan itu semua karena Anton.  Anton pulalah yang membuatnya kuat untuk menerima semua kenyataan yang menimpanya.

Anton adalah orang pertama yang mampu membuatnya tertawa dan Anton pula satu-satunya orang yang mampu membuatnya menangis.  Dengan ada Anton di sisinya, Rini yakin ia tidak akan sendirian menghadapi semua gelombang hidupnya.  Ada seseorang yang siap menjadi tempatnya berteduh ketika cuaca panas menerpanya.  Ada seseorang yang akan memayungi saat hujan membasahi tubuhnya.  Seseorang yang sangat berarti baginya.  Dan Rini pun selalu berharap, Anton akan berada di sisinya untuk selama-lamanya.

Rini meletakkan kembali foto mas Armand di tengah-tengah buku dongengnya.  Ia bertekad, setelah ini ia benar-benar harus keluar dari belenggu dukanya dan menyambut hari esok yang cerah.  Ia akan menyusun mimpi-mimpinya dan berjuang keras meraih segala cita-citanya.  Ia mencintai kehidupannya dan akan menjalaninya dengan bahagia.

“Selamat tinggal kegelapan. Selamat datang matahari.”

 

Jakarta, 27 Februari 1987 malam

 “Rini, apa pun yang terjadi kamu harus tetap tegar, okey?”

“Aku tidak mengerti.”

“Aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu.”

 “Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa sikap Mas  Armand aneh sekali?”

“Tidak ada apa-apa.  Terima kasih sudah menjadi adikku.  Kau adalah peri kecilku. Aku sayang padamu……”

(In Memoriam Muhammad Armand.  Lahir : Jakarta, 4 November 1962.  Meninggal : Jakarta, 3 Maret 1987) 

Blast of Yellow Sunflowers

Sumber : http://1.bp.blogspot.com/_eW76PIli8Tw/TJOX4474RxI/AAAAAAAAE14/S2QagwWWogk/s1600/Blast+of+Yellow+Sunflowers.jpg

Advertisements

Author:

I'm a lucky wife, very happy mom and grateful civil servant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s