Posted in Novel

YOU’RE THE INSPIRATION (part 26)

“Anton, bangun!  Kita sudah sampai!”seru Ino sambil mengguncang-guncang badan Anton.

Perlahan-lahan Anton membuka matanya yang masih terasa berat.  Dari balik kaca kereta, ia jadi tahu bahwa mereka telah sampai di stasiun kereta api Gubeng di Surabaya.   Suasana di luar sana tidak jauh beda dengan suasana kereta yang ditumpanginya.  Sangat ramai dan banyak orang yang berdesak-desakan, sebagaimana biasanya bila musim liburan tiba.  Bahkan banyak orang yang rela tidur di lantai kereta.

Anton mengalihkan pandangannya dan memperhatikan Ino serta ke-6 orang temannya yang lain, yaitu Feri, Ali, Budi, Kiky, Leo dan Heru, yang tampak mulai sibuk menyiapkan barang bawaannya masing-masing.  Mereka tampak bergoyang-goyang di matanya.  Kepala Anton terasa pusing, sehingga ia pun memejamkan matanya kembali.

“Hai Ton, kau tidak sakit khan?”Feri menepuk bahunya.  Ia terlihat khawatir.

Kali ini Anton benar-benar membuka lebar matanya dan dengan lesu mulai mengemasi barang-barangnya.  Rasa pusing di kepalanya belum hilang benar.  Badannya pun seperti tidak bertenaga.  Tetapi ia memaksakan diri untuk terus bergerak.

“Kau sakit?” Ino memegang dahi kepala Anton dengan cemas.  Tetapi badan Anton sama sekali tidak panas.

“Aku tidak apa-apa,”sahut Anton lesu.  Ia juga tidak tahu apa yang terjadi pada tubuhnya.  Ia berpikir mungkin ia sedang kelelahan.

Tidak berapa lama kemudian, Anton dan teman- temannya turun dari kereta serta keluar dari stasiun menuju tempat pemberhentian kendaraan umum.  Pagi ini mereka akan beristirahat di rumah eyang Cipto, eyangnya Ali.  Sore hari mereka akan menggunakan kereta menuju Banyuwangi.

Sesampainya di tempat tujuan, mereka disambut oleh kedua eyang Cipto yang nampaknya sudah sangat sepuh.  Mereka mandi dan beristirahat di pavilion di belakang rumah.

“Ali, di dekat sini ada wartel?”tanya Anton usai mandi.  Badannya sudah lebih segar dan pusingnya sudah mulai berkurang.

Ali mengangguk.

“Di ujung jalan ini.  Kira-kira 100 meter dari sini.”

Anton bergegas menuju wartel yang dimaksud.  Ia sudah berjanji pada keluarganya, bila telah sampai di Surabaya akan menelpon mereka.

Terdengar suara adiknya, Andika, mengangkat telpon.

“Hallo Andika, ini Kak Anton. “

“O, Kak Anton.  Apa sudah sampai di Surabaya?”

“Alhamdulillah sudah sampai.  Bapak dan Ibu ada ?”

“Mereka sedang pergi bersama kakek.  Mengantar tetangga yang sakit.”

“Tetangga yang mana?”

“Sebelah rumah.  Anak kecil dan ibunya.”

“Oh, maksudmu Daniel dan tante Ledya?”

“Ya, betul, anak kecil itu bernama Daniel!”

“Sakit apa Daniel?”

“Dia jatuh dari atas lemari.”

Anton merasa frekuensi detak jantungnya mulai meningkat.

“Bagaimana kondisinya?”

Aku tidak tahu.  Pembantu mereka tadi malam menggedor rumah lalu kakek bersama bapak dan ibu segera mengantar mereka ke rumah sakit.  Tetapi, sepintas kudengar, kondisi ibunya lebih parah.“

“Ada apa dengan tante Ledya?”

“Melihat anaknya jatuh dari atas lemari, tante Ledya mencoba bunuh diri.  Ia mengiris urat nadi tangannya dengan pisau.”

Tiba-tiba Anton merasa tenggorokannya tercekat dan lidahnya menjadi kelu.  Perasaannya campur aduk tidak karuan.  Matanya panas.  Wajah Daniel dan tante Ledya terbayang di pelupuk matanya.   Sudah hampir 10 bulan mereka berdua menjadi bagian dari kehidupan di rumahnya.  Dan kehadiran mereka selama 10 bulan itu ternyata cukup memberi arti mendalam baginya.  Saat ini ia merasa sangat cemas dan sedih.

“Hallo, hallo…! Kak Anton…!”Andika memanggilnya.

“Ya.  Andika, tolong cari info secepatnya mengenai kondisi mereka terakhir.  Bila sudah dapat, tolong hubungi aku di rumah eyangnya Ali.”

Anton meletakkan telponnya.  Sejak tadi malam ia memang merasa hatinya gundah dan perasaannya tidak enak.  Rupanya memang telah terjadi sesuatu.

Ia memutar nomor telpon lagi.  Kali ini ia menghubungi Rini.  Ketika mendengar suara Rini, ia tidak kuasa menahan rasa sedih dan khawatirnya.  Suaranya bergetar menahan tangis.

“Anton, ada apa?”suara Rini terdengar sangat lembut.

“Rini, Daniel kecelakaan,” suaranya tersendat, “Ia jatuh dari atas lemari.”

“Dan, tante Ledya……,” lanjutnya lagi, “Tante Ledya mencoba bunuh diri setelah melihat anaknya jatuh.”

Mereka hening sejenak.  Rini sepertinya juga kaget mendengar berita tersebut.

“Anton……,” ucap Rini lirih, “Apakah kau baik-baik saja?”

“Aku takut terjadi sesuatu dengan mereka.”

“Anton, berdoalah.  Semoga mereka berdua diberi kesembuhan.”

Anton merasa hatinya lebih tenang.  Suara Rini sangat lembut dan menyejukkan hatinya.  Ia pun segera menyudahi percakapan dan segera kembali ke tempat teman-temannya berkumpul.  Kepada teman-temannya ia menceritakan permasalahannya dan niatnya untuk kembali ke Bandung bila kondisi Daniel dan ibunya semakin memburuk.  Mereka semua memahaminya dan ikut menunggu kabar dari Andika.

Tiga jam kemudian Andika menelponnya.

“Tante Ledya dan Daniel baik-baik saja.  Mereka sudah melewati masa-masa kritis,” nada suara Andika terdengar bersungguh-sungguh.

Andika juga menceritakan kronologis kejadiannya.  Tadi malam rupanya tante Ledya sangat lelah ketika pulang kerja.  Namun ia memaksakan diri untuk menemani Daniel yang saat itu berlari-lari dan berputar terus di kamar tanpa lelah hingga tengah malam.  Tanpa sengaja, tante Ledya tertidur.  Dan ketika ia bangun, Daniel sudah memanjat ke atas lemari pakaian dan ia melihat putra tunggalnya itu tergelincir jatuh hingga tak sadarkan diri.  Tante Ledya sangat panik dan merasa bersalah, dan mungkin kondisi jiwanya saat itu sedang tidak stabil, hingga ia berbuat nekat dengan mencoba bunuh diri.

“Tetapi kejadian ini membawa hikmah yang besar,”tutur Andika ,”Karena sekarang keluarga tante Ledya berkumpul di rumah sakit.  Mereka sudah mau berdamai dengan tante Ledya dan Daniel.  Dan nampaknya mereka mau menangani Daniel dengan lebih serius.”

Anton bernafas lega.  Usai berbicara dengan Andika, ia pun segera mengirim pesan pada Rini melalui pager untuk mengabarkan  berita gembira itu.  Saat ini Rini  sedang dalam perjalanan dari Bandung menuju Jakarta.

Sore hari, Anton dan teman-temannya melanjutkan perjalanan mereka.   Mereka naik kereta menuju Banyuwangi.   Sesampainya di Banyuwangi, mereka beristirahat di sebuah mesjid, dan ketika pagi tiba, mereka pun pergi menuju gunung yang dituju.  Tiba di gunung tersebut, mereka segera melakukan pendakian.

Semuanya terlihat gembira dan bersemangat, kecuali Anton.  Entah kenapa, ia merasa pikirannya sangat kacau.  Ia juga tidak mengerti mengapa ia menjadi seperti itu.  Terbersit dalam pikirannya,  apakah mungkin Andika membohonginya.  Benarkah Daniel dan Tante Ledya baik-baik saja, atau justru sebaliknya.  Namun pikiran itu segera ditepisnya.  Dan ia berkonsentrasi melanjutkan perjalanannya.

Malamnya, di dalam tenda, Anton bermimpi.  Ia melihat Daniel dan tante Ledya tubuhnya berdarah-darah.  Di dekat mereka ada dirinya, kakek, ayah dan ibunya serta Andika.  Dari jauh ia melihat Rini sedang berjalan mencarinya.  Anton hendak mengejar gadis itu, namun Daniel dan ibunya menarik kakinya dan meminta tolong.  Anton menolak, karena ia hendak menyusul kekasihnya itu.  Ia berusaha melepaskan diri dan mencoba berlari mengejar Rini.  Namun seluruh keluarganya ikut menahan dirinya.  Tiba-tiba muncul ayah Rini di hadapannya dengan membawa ember berisi air lalu menyiramkan ke wajahnya.

Anton segera terbangun.  Nafasnya terengah-engah.  Ia merasa mukanya basah.  Dan ketika mengangkat kepalanya, ia melihat Ino sedang memegang sebuah gayung dan ke-5 orang teman lainnya berdiri di luar tenda sambil tertawa.

“Happy Birthday!!!!!” sorak mereka.

Anton melirik ke arah jam di tangannya, tepat pukul 12 malam.  Ia tersenyum pada teman-temannya.   Rupanya mereka sedang membuat kejutan untuknya.  Diusapnya mukanya yang basah.

“Untung kau tidak menyiramkan air ke seluruh tubuhku.  Aku bisa mati karena hipotermi,”omelnya, yang disambut dengan tawa lebar seluruh temannya.

Malam itu, ulang tahunnya dirayakan di depan api unggun bersama ke-7 orang teman karibnya.  Ia meniup sebatang lilin dan memotong kue bolu kecil yang telah mereka persiapkan.  Semua tertawa dan bergembira.  Namun, Anton tidak dapat menikmati keriangan di malam hari itu.  Ia merasa tubuhnya seperti melayang di udara.  Semua yang dilihatnya seperti bayang-bayang.

“Apa yang sebenarnya terjadi?” bisiknya dalam hati.  Hatinya merasa gelisah dan sedih.  Diam-diam ia menghapus setetes air yang jatuh dari sudut matanya.

Hanya dua hari mereka berada di atas gunung.  Hari ketiga mereka telah turun dan melanjutkan perjalanan untuk kembali ke kota Surabaya.  Perjalanan sempat terhenti beberapa kali , karena  turun hujan deras.

Sesampainya di kota Surabaya,  mereka langsung beristirahat di rumah eyang Cipto.   Malamnya mereka berjalan-jalan berkeliling kota menggunakan mobil eyang Cipto lalu dilanjutkan  keesokan harinya.  Mereka seperti tidak puas-puasnya menikmati kehidupan di ibukota Jawa Timur tersebut.  Dan ketika tengah hari tiba, Anton dan teman-temannya mampir di sebuah rumah makan untuk makan siang.

Saat semua temannya sibuk memilih menu makanan, Anton pamit hendak pergi ke toilet.  Ketika ia berjalan, seorang anak kecil penjual koran dan majalah mendekati dirinya dan menawarkan koran dan majalahnya pada Anton.  Terpikir selintas olehnya bahwa ia telah melewati 5 hari tanpa mengetahui berita terbaru.   Namun keinginannya untuk pergi ke toilet sudah tidak tertahankan lagi, sehingga ia urung  melihat-lihat koran dan majalah yang ditawarkan padanya.  Ia segera mempercepat langkahnya menuju kamar kecil tersebut.

Keluar dari toilet, anak kecil penjaja koran dan majalah itu sudah tidak ada.  Anton pun segera kembali ke meja makan tempat teman-temannya berkumpul.  Dari jauh Anton melihat teman-temannya sedang serius berdiskusi.  Ia pun segera mendekati mereka.  Melihat kedatangan Anton, semua temannya segera menghentikan pembicaraannya dan terdiam.  Suasana menjadi hening.  Anton menatap mereka semua dengan heran.

“Ada apa?”tanya Anton.  Ia bingung melihat keanehan sikap teman-temannya.

Namun tidak ada seorang pun yang menjawab.

Tiba-tiba Anton melihat sebuah majalah yang dipegang Feri dan seperti hendak disembunyikan olehnya.    Ia segera merebut majalah tersebut dari tangan Feri.  Majalah ini merupakan majalah yang menyajikan berita-berita teraktual terutama masalah politik dan ekonomi.  Tanggal yang tertera di covernya menunjukkan bahwa majalah itu diterbitkan hari ini.  Matanya tertumbuk pada headline yang tertulis besar-besar di cover.

KONGLOMERAT HERU HERLAMBANG DAN BINTANG FILM TERKENAL ANITA DEWI TERTANGKAP BASAH DI KAMAR HOTEL

Anton segera membuka halaman yang memuat judul tersebut dan dengan hati-hati membaca tulisan demi tulisan di dalamnya.  Ketika seorang tukang koran dan majalah melewati mejanya,  Anton segera memanggilnya dan membeli semua majalah dan koran terbitan terbaru.  Dan ia menemukan bahwa semua majalah memuat berita yang sama sebagai headline.  Koran-koran sudah tidak menempatkannya sebagai headline, namun tetap menyajikan kabar terbaru mengenai kelanjutan kisah  tersebut dan menyebutnya sebagai skandal  terbesar di penghujung tahun ini, karena sangat mengejutkan khayalak ramai.

Anton melihat tanggal kejadian, rupanya tepat 4 hari yang lalu.  Malam  hari  ketika ia memulai perjalanannya menuju Banyuwangi.  Dan 12 jam setelah ia bercakap-cakap dengan Rini melalui telpon mengenai kondisi Daniel serta tante Ledya.

Setelah membaca dengan teliti semua artikel yang memuat berita tersebut, ia pun dapat menarik kesimpulan.  Rupanya, Wildan, suami Anita Dewi, produser film ternama itu, mengajak sejumlah wartawan serta polisi menggeledah sebuah kamar hotel di Jakarta, tempat Heru Herlambang dan Anita Dewi menginap.  Di dalam kamar mereka menemukan Anita Dewi dan Heru Herlambang sedang berduaan.

Yang menyakitkan, mereka tidak hanya membahas perselingkuhan tersebut.  Kehidupan pribadi pengusaha besar terkenal itu yang selama ini tidak banyak diketahui publik, mulai diperbincangkan.  Istrinya yang berselingkuh dengan seorang bule dan kabur ke Inggris serta putra sulungnya yang pecandu narkoba dan tewas overdosis.  Intinya, semua media membahas bahwa di balik kewibawaan seorang Heru Herlambang tersimpan banyak cerita miring yang sangat menarik untuk  dikonsumsi publik.

Kabar terakhir, rupanya pengusaha itu sempat ditahan di kantor polisi selama beberapa hari, dan sekarang sudah dibebaskan dengan jaminan.

Usai membaca, Anton segera meninggalkan teman-temannya serta makanan pesanannya, dan langsung mencari wartel terdekat.  Ia memutar nomor telepon rumah Rini, baik yang di Jakarta maupun Bandung.  Namun tidak ada yang mengangkatnya dan hanya terdengar suara answering machine.  Anton menitip pesan lewat answering machine tersebut dan juga lewat pager kekasihnya itu.  Pesannya hanya satu : Rini, kau ada di mana?  Aku sangat cemas.  I miss you.

Hari itu juga, dengan menggunakan kereta,  Anton segera pulang ke Bandung.   Ia ingin bertemu Rini.  Gadis itu pasti sangat sedih dan terguncang.  Ia ingin memeluknya dan menghiburnya.

Sepanjang perjalan telinganya terasa panas, karena orang-orang yang duduk di dekatnya tampak asyik membahas skandal yang menghebohkan dan memalukan itu.

“Rini, jangan bersedih.  Aku akan segera menemanimu,”bisiknya berulang kali.  Ia berharap, kekasihnya itu dapat mendengar suara hatinya.

 

Jakarta, Agustus 1985

“Hey, siapa itu?”

“Hallo Pa!  Ini aku, Armand.   Ha…. Surprise sekali.  Halo tante Erni apa kabar?  Wah, maaf, rupanya aku mengganggu keasyikan kalian.” 

“Kau…???!! Bagaimana kau bisa masuk ke sini?…Hh…. Simon! Simon!”

“Tenang, Pa. Simon tidak bersalah.  Aku yang membohongi dia.  Aku bilang Papa menyuruhku datang.”

“Apa maumu?”

“Aku mau minta uang.”

“Untuk apa?”

“Aku mau jalan-jalan ke Bali.”

“Hanya untuk itu buat apa ke mari?  Kau kan punya uang sendiri.”

“Tabunganku habis dan uang bulananku tidak cukup.”

“Kenapa?”

“Karena aku mau ke Bali bersama 7 orang teman-temanku.”

“Lalu…?”

“Aku sudah berjanji pada mereka untuk menanggung semua biaya transport, penginapan, makan, jalan-jalan dan bahkan oleh-oleh.”

“Anak tidak tahu diri!  Memangnya kau sudah bisa mencari uang sendiri?  Berani sekali kau ….”

“Tenang, Pa.  Ingat, aku banyak mengetahui rahasia-rahasia kecil papa dan aku belum pernah membocorkannya.  Kecuali….”

“Dasar bangsat!  Anak kurang ajar!  Kau berani mengancamku, ya?”

“Bukankah lebih baik begitu.  Aku seorang bangsat dan semua orang melihatku sebagai bangsat. Atau aku harus seperti papa.  Di depan orang lain seperti orang suci, padahal sebenarnya …….papa tidak lebih dari seorang bajingan.  Betul kan?”

”Keluar kau dari sini dan jangan pernah muncul di hadapanku lagi!  Tidak akan kuberikan uangku  sesen pun padamu!”

“Papa tidak takut aku akan membongkar seluruh rahasia papa?”

“Hahaha….. Tidak akan ada orang yang mau mempercayai omongan kutu busuk sepertimu!”

“Heh….Aku sudah kebal mendengar hinaanmu.  Oke, aku pergi. Semoga Tuhan membalas segala hinaan dan caci makimu selama ini padaku.  Suatu saat aibmu akan terbuka dan kau akan merasakan menjadi orang terhina dan terkucil seperti aku.  “

Advertisements

Author:

I'm a lucky wife, very happy mom and grateful civil servant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s