Posted in Novel

YOU’RE THE INSPIRATION (part 27)

Tiba di stasiun di kota Bandung, Anton segera pergi menuju rumah Rini.  Di depan rumah besar tersebut, ia melihat beberapa orang sedang duduk di depan pagar.  Sepertinya mereka adalah para wartawan, karena di tangannya memegang alat tulis dan kamera.

Ia mendekati Pak Dwi, satpam yang berjaga di depan.  Semua yang bekerja di rumah sudah mengenal baik dirinya.  Anton berbicara sangat pelan pada satpam tersebut, takut terdengar oleh para wartawan.  Ia menanyakan keberadaan Rini.  Namun Pak Dwi menggeleng.

“Saya sungguh-sungguh tidak tahu di mana Non Rini saat ini.  Kami sama sekali tidak bisa menghubunginya.”

“Bagaimana dengan Pak Dedi.  Apakah Pak Dedi sekarang ada?”tanya Anton ngotot.

“Pak Dedi juga sudah beberapa hari menyusul ke rumah di Jakarta.  Dan saya tidak tahu kabar terbarunya.”

Anton tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya.  Namun ia masih terhibur ketika Pak Dwi memberikan alamat rumah di Jakarta padanya.

Keluar dari rumah Rini, kumpulan wartawan itu segera mengerubunginya dan menanyakan berbagai hal padanya.  Mereka menanyakan hubungannya dengan keluarga Heru Herlambang; sejauh mana ia tahu mengenai hubungan gelap pengusaha itu dengan Anita Dewi, dan sebagainya.  Anton memilih untuk bungkam dan diam seribu bahasa.  Ia berjalan cepat menuju tempat kendaraan umum dan meninggalkan mereka semua.

Hari itu juga Anton memutuskan naik bus menuju Jakarta.  Ia sudah bertekad untuk bertemu dengan Rini.  Dan untuk itu, ia akan menempuh segala cara.

Sesampainya di Jakarta, hari sudah gelap.  Mau tidak mau ia harus menunda kepergiannya ke rumah Rini.  Ia menginap di rumah orang tuanya di Jakarta yang sangat terkejut dengan kedatangan putra sulungnya itu.

Keesokan harinya, dengan menggunakan vespa tua ayahnya, Anton menuju rumah Rini di Jakarta.  Sesampainya di sana, ia melihat kerumunan wartawan di depan pagar yang jumlahnya lebih banyak dibandingkan yang dilihatnya di  Bandung.

Anton segera menerobos kerumunan tersebut dan berdiri di depan pagar tepat di dekat satpam.  Ia meminta satpam tersebut untuk mempertemukannya dengan Rini. Namun kali ini ia harus sedikit memaksa, karena satpam itu sama sekali tidak mengenal dirinya.   Setelah beberapa lama bersilat lidah, akhirnya satpam itu mempercayainya dan memanggil salah seorang pembantu dari dalam rumah untuk menghubungi Pak Dedi yang merupakan kepala rumah tangga di rumah Bandung, dan sekarang tengah berada di Jakarta.

Tidak berapa lama kemudian, Pak Dedi keluar menemuinya.  Anton merasakan adanya secercah harapan.

“Pak Dedi, sekarang Rini ada di mana?”tanya Anton penuh pengharapan.

 Pak Dedi membisu beberapa saat, hanya memandang wajah Anton dengan rasa iba.

“Ada apa, Pak?  Apa yang sebenarnya terjadi pada Rini?” Anton merasa keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.

“Non Rini…,” Pak Dedi seperti ragu-ragu untuk berbicara, “Non Rini ada di suatu tempat yang sangat dirahasiakan.”

“Di mana?  Katakan padanya, saya ingin menemuinya.  Katakan, kekasihnya, Anton, mau bertemu dengannya.  Dia pasti ingin bertemu dengan saya,” paksa Anton.

“Mas Anton, pulanglah.  Saat ini non Rini tidak mau bertemu dengan siapa pun.  Maaf,” Pak Dedi segera beranjak pergi.

Anton tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.

“Pak Dedi, bila Rini tahu Anda tidak mengijinkan saya menemuinya, ia pasti akan sangat marah!  Ia tidak akan membiarkan Anda bekerja di rumahnya lagi!”ancam Anton berang.

Pak Dedi membalikkan badannya lalu menggelengkan kepalanya.

“Semua yang saya lakukan, atas perintah Non Rini sendiri.  Sekali lagi maaf.”

Anton tertegun.  Ia merasa sedang mimpi buruk.  Kakinya seperti melayang.  Dengan lemas ia pergi meninggalkan rumah kekasihnya itu.  Sekelompok wartawan yang mencoba mewawancarainya sama sekali tidak diperdulikannya.  Ia sudah tidak peduli apa pun.  Hatinya dipenuhi kekecewaan dan tanda tanya.

Hari itu juga Anton pulang ke kota Bandung.  Sesampainya di rumah, ia mengurung diri dalam kamar.  Berbagai pertanyaan muncul di benaknya.  Dan ia tidak pernah dapat menemukan jawabannya.  Apa yang sebenarnya terjadi?  Mengapa Rini tidak mau menemuinya? Mengapa Rini sama sekali tidak menghubunginya, padahal sudah berkali-kali ia mengirim pesan melalui pager gadis itu.  Ada apa dengan Rini?  Anton benar-benar merasa gundah.

ais drawing

Picture by : Aisyah Diah Larasati

Advertisements

Author:

I'm a lucky wife, very happy mom and grateful civil servant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s