Posted in Novel

YOU’RE THE INSPIRATION (part 28) -finale-

Sudah seminggu kegiatan belajar mengajar semester genap dimulai., dan Rini sama sekali tidak tampak batang hidungnya.  Tidak ada seorang pun yang mengetahui keberadaannya.  Gadis itu seperti lenyap ditelan bumi.

Setiap pulang sekolah Anton langsung mengurung diri di dalam kamar.  Ia tidak punya semangat untuk melakukan apa pun.   Malas makan, malas bertemu orang dan malas segalanya.

Kakek adalah orang yang paling khawatir dengan kondisi Anton.  Setiap hari beliau senantiasa menghibur cucunya itu dan menasihatinya.

“Berikan waktu bagi Rini untuk berpikir,” ini kata-kata yang acapkali diucapkan kakek.

Anton belum bisa menerima pendapat kakek tersebut.  Baginya, bila Rini ingin berpikir, seharusnya melibatkan dirinya, karena mereka adalah sepasang kekasih.

Cerita mengenai skandal ayahnya Rini, Heru Herlambang, dan bintang film terkenal Anita  Dewi, masih hangat dibicarakan oleh berbagai kalangan.  Walaupun suami Anita Dewi sudah mencabut laporannya di kepolisian, namun orang-orang masih belum puas dan ingin terus menelanjangi kehidupan pribadi kedua orang public figure tersebut.  Bahkan sebuah majalah terkenal membuat artikel yang mengupas lengkap kehidupan pribadi Heru Herlambang maupun Anita Dewi, termasuk sisi-sisi gelapnya.  Di sana juga menyinggung sedikit soal Rini.  Putri tunggal pengusaha itu dikabarkan mempunyai karakter aneh dan dijauhi oleh teman-temannya.

Anton memahami sepenuhnya betapa shock dan malunya Rini saat ini.  Namun ia tidak mengerti, mengapa Rini harus menghindarinya?  Mengapa Rini tidak mempercayainya?  Ia benar-benar ingin mendapatkan jawaban dari mulut gadis itu.

“Anton….!” kakek memanggilnya dari balik pintu.

Anton segera membuka pintu kamar .

“Ada telpon untukmu,” ujar kakek, sorot matanya seperti menyimpan sesuatu.

“Dari siapa?” tanya Anton acuh tak acuh.

Kakek tidak menjawab, hanya menepuk-nepuk bahu Anton.

“Cinta kadang-kadang sulit dipahami.  Namun yang pasti, ia dapat dirasakan dengan hati.  Dengarkan kata hatimu,” bisik kakek seraya melangkahkan kakinya pergi.

Anton mengangkat telpon dan ia merasakan debaran kencang di dadanya ketika mengetahui siapa yang tengah menelponnya.

“Anton….”suara Rini nyaris tak terdengar.

”Kau ada di mana?” Anton berusaha menguasai emosinya.

Rini tidak menjawab.  Hanya terdengar suara isakan.

“Rini, apa yang sebenarnya terjadi?  Mengapa kau tidak pernah menghubungiku?”Anton mulai melunakkan suaranya.

“Maafkan aku.  Aku sekarang bersama ibuku di Inggris.”

“Inggris?” Anton menahan nafasnya.  Ia benar-benar terkejut mendengarnya.

“Kapan pulang?”suara Anton mulai merendah.

Sekali lagi terdengar suara isakan.

“Rini, tolong jawab pertanyaanku.  Kapan kau akan pulang ke Indonesia?  Aku ingin bertemu denganmu,” Anton mulai tidak sabar.

“Aku tidak akan pulang.  Aku akan menetap di sini bersama ibuku.”

 “Kenapa?  Apakah ayah atau ibumu melarangmu kembali ke Indonesia?”

“Tidak, mereka sama sekali tidak pernah melarang.  Ini keputusanku sendiri.”

“Apa maksudmu? Lalu bagaimana dengan hubungan kita?”

“Anton……,” Rini menghentikan ucapannya, seperti sedang menenangkan diri, “Kita putus saja.  Lupakan aku.  ”

“Maksudmu……….., kau ingin berpisah denganku?  Kenapa kau lakukan ini?” Anton merasa dadanya sesak.

“Maafkan aku.  Aku tidak ada pilihan lain,” isak Rini.

Anton merasa sangat marah, kecewa dan tidak mengerti.  Ternyata gadis yang ia cintai itu mengambil keputusan begitu saja tanpa berdiskusi dengannya.

“Apa maksudmu dengan tidak ada pilihan lain?  Kenapa kau mengambil keputusan seorang diri?  Beri aku penjelasan!”

Rini tidak menjawab.

“Apa yang kau takutkan?  Kau takut dengan pemberitaan di media?  Kau takut dengan cemoohan teman-temanmu?  Apakah itu lebih menakutkan dibandingkan kehilangan diriku?”

Tidak ada jawaban.  Hanya terdengar suara isakan halus.

“Atau kau tidak percaya padaku?  Kau pikir aku akan meninggalkanmu gara-gara peristiwa ini?  Kau pikir aku akan membiarkanmu menghadapi semua masalah ini sendirian?”

Tetap tidak ada jawaban.

“Rini, berikan aku sebuah penjelasan.  Aku mohon,” suara Anton melemah.  Ia mulai merasa putus asa.

“Maafkan aku, Anton.  Aku tidak mempunyai penjelasan apa pun.   Aku hanya ingin melihatmu bahagia.”

“Bahagia?” suara Anton mulai meninggi, “Apa kau pikir setelah kau meninggalkan aku begitu saja, kemudian aku akan merasa bahagia?”

“Anton, aku sungguh-sungguh minta maaf padamu.”

“Tidak…!”suara Anton bergetar, “Aku tidak akan pernah memaafkanmu.”

Anton meletakkan gagang telpon dengan rasa marah, lalu melangkah cepat menuju kamarnya.    Perasaan marah dan kecewa dalam dirinya sulit dibendung.  Ia mengepalkan tangannya berkali-kali dan berusaha menahan emosinya.  Matanya terasa panas.  Yang terjadi sungguh-sungguh antiklimaks dibandingkan dengan manisnya hubungan mereka selama ini.  Tidak disangka, ternyata cinta Rini padanya sangat dangkal.

Semua kenangan manisnya dengan Rini melintas terus di benaknya.  Dan gadis itu memilih untuk mengakhiri segalanya.  Anton merasa hatinya hancur.  Mengapa Rini melakukan semua ini  padanya?  Mengapa tiba-tiba gadis itu menyerah?  Mengapa mereka harus berpisah? Mengapa Rini mengatakan tidak ada pilihan lain?  Mengapa gadis itu tidak mau memberi penjelasan?  Mengapa gadis yang sangat ia cintai itu tega menyakiti hatinya?  Mengapa?  Anton sungguh-sungguh tidak dapat mengerti.

Tiba-tiba pandangan Anton tertumbuk pada tas ranselnya.  Ia teringat sesuatu.  Perlahan ia membuka kantong bagian depan dan ia menemukan sebuah kado kecil.  Hadiah ulang tahun dari Rini yang lupa ia buka.

Dengan tangan bergetar disobeknya kertas pembungkus kado tersebut dan ia mendapati sebuah kaset yang direkam sendiri oleh Rini.  Cover depannya diketik menggunakan komputer.  Ada gambar hati dan tulisan : Just For Anton.  You’re The  Inspiration!  Anton membuka tutup kaset dan ada selembar kertas kecil jatuh.  Ia membaca tulisan di kertas tersebut.

Dear Anton. Selamat ulang tahun yang ke-18.  Semoga kau selalu mendapatkan rahmat dan lindungan-Nya. 

Semua lagu   instrumental di kaset ini merupakan hasil karyaku (kecuali lagu terakhir).  Terima kasih telah menjadi inspirasiku.  Kuharap kau menyukainya.  I love you so much.  (Rini)  NB: Lagu terakhir merupakan lagu Chicago favoritku.  Lagu itu selalu mengingatkan aku padamu.

Anton memasang kaset tersebut di dalam tape dan menyalakannya.   Lagu pertama berjudul I know It’s Love.   Anton memejamkan matanya dan mencoba menghayati lagu ini.  Nada-nadanya begitu lembut, ceria, dan menyiratkan kebahagiaan.  Ia bisa merasakan getar-getar cinta melalui lagu ini.  Sungguh-sungguh indah.  Tiba-tiba ia merasa matanya basah.  Ada kerinduan yang amat sangat di hatinya.  Rasa rindu, kecewa, marah dan cinta berbaur menjadi satu.

Ada enam lagu instrumental lainnya yang direkam di kaset tersebut.  Semua lagu  menyiratkan hal yang sama, yaitu  CINTA.  Sebagai lagu penutup, Rini memainkan sebuah lagu yang dimainkan oleh grup musik terkenal, Chicago dengan vokalisnya Peter Cetera, yaitu lagu You’re the Inspiration.

Setelah satu kaset selesai didengarkan, Anton segera menggantinya dengan kaset Chicago miliknya.  Diputarnya lagu You’re the Inspiration.

You know our love was meant to be

A kind of love that last forever

And I want you here with me

From tonight until the end of time

You should know, everywhere I go, you’re always on my mind, in my heart, in my soul , baby…

Reff:

You’re the meaning in my life, you’re the inspiration

You bring feeling to my life, you’re the inspiration

I wanna have you near me,

I wanna have you near me sayin’

No one needs you more than I need you

…………………………….

……………………………

Suara Peter Cetera terdengar jelas di telinganya.  Setetes air mata mengalir di pipinya.  Ia teringat percakapannya dulu dengan Rini ketika pertama kali datang ke rumah gadis itu.

“Apakah sampai sekarang kau masih suka menciptakan lagu?”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Tidak ada inspirasi.”

 ‘Cinta kadang-kadang sulit dipahami.  Namun yang pasti, ia dapat dirasakan dengan hati.  Dengarkan kata hatimu’. Ucapan kakek tadi, terngiang di telinga Anton.

Keputusan Rini untuk berpisah sungguh sangat sulit dipahami.  Namun, Anton tidak dapat menolak kata hatinya yang mengatakan bahwa sesungguhnya gadis itu benar-benar sangat mencintainya.  Ia bisa  merasakannya.

Anton menundukkan kepalanya dan membiarkan air matanya terus mengalir membasahi wajahnya.  Mendengarkan lagu-lagu di kaset tersebut membuat hatinya sangat sedih.  Ia dapat merasakan ungkapan cinta yang mendalam dari gadis pujaannya itu.  Begitu berartikah dirinya bagi Rini?  Apakah gadis itu sungguh-sungguh mencintainya? Bila Rini mencintainya, mengapa harus meninggalkannya?   Apakah Rini merasakan kesedihan yang sama seperti yang ia rasakan saat ini?

 Mengapa semuanya harus berakhir ketika bunga cinta tengah bermekaran di hatinya? Berapa lamakah ia harus menunggu untuk mendapatkan kembali hatinya yang menghilang? Apakah setahun lagi, dua tahun lagi,  lima tahun lagi,  atau …… 15 tahun lagi?  Atau….ia harus berhenti berharap dan semuanya memang benar-benar telah berakhir?

*****#####*****

 

Jakarta, Maret 1986

“Kenapa….?  Kenapa mama melakukan ini padaku?”

“Maafkan mama, sayang.  Ini yang terbaik untuk kita semua.”

“Terbaik?  Setelah mama bercinta dengan bule sialan itu, kemudian meninggalkan aku dan Rini, mama bisa mengatakan kalau ini yang terbaik untuk kita semua?”

“Armand, kau tidak mengerti apa yang mama rasakan selama ini.  Mama sangat menyayangi kalian.  Tapi…”

“Bagaimana dengan aku?  Bagaimana dengan Rini?  Pernahkah kau mencoba mengerti kami?”

“Maafkan mama, Nak.  Maafkan mama…”

“Tidak!  Aku benci padamu!  Aku tidak akan pernah memaafkanmu!”  

****#######*****

Bersambung ke ARMAND, THIS IS WHERE THE STORY BEGIN dan MEET AGAIN.

YTI cover (4)

Picture drawn by Aisyah Diah Larasati.  

Poster was designed by Shinta Asiah Bilqis

Advertisements

Author:

I'm a lucky wife, very happy mom and grateful civil servant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s