Posted in Tak Berkategori

A LETTER FOR YOU : UNSPOKEN WORDS

 

Saya genggam erat tanganmu.  Dan bisa saya rasakan balasan yang sama darimu.  Genggaman yang lemah serta tatapan yang penuh ketegaran.  Kamu ingin meyakinkan bahwa kamu kuat untuk menjalani ini semua,  dan kamu menginginkan hal yang sama dari saya.  Ada gurat kemarahan di wajahmu, dan saya sudah hafal itu.  Kemarahan karena kecemasanmu yang seringkali saya lihat.  Saat itu saya tidak bisa menjelaskan panjang lebar mengenai kenekatan saya untuk menerobos berbagai barikade demi menemuimu.  Dan saya juga tidak mampu menenangkanmu dan mengatakan bahwa “Everything’s okay.  Nothing will happen. Saya masuk ke sini dengan perhitungan yang matang dan tangan Allah menolong saya”.  Yang saya lakukan hanya diam menatapmu, mencium tanganmu berkali-kali dan membisikkan telingamu bahwa kami selalu menyayangi dan mendoakanmu.  Kamu mengangguk berkali-kali dan tatapanmu berusaha meyakinkan bahwa kamu mengerti semua ucapan saya. 

Kebersamaan kita sejak kecil, adalah kenangan indah yang tidak pernah saya lupakan.  Kamu yang sangat galak di mata saya tapi sekaligus juga penyayang dan sentimentil.  Kamu yang sangat cerdas dan rasional tapi juga peka dan musikal.

Ada saat-saat kita begitu dekat, saling bercerita dan bercanda riang.  Namun kadang-kadang saya cukup kesulitan ketika melihatmu marah dan tanpa kamu sadari itu melukai hati saya.  Dan saya, dengan keangkuhan dan kekerasan hati saya, selalu berusaha menunjukkan padamu bahwa  “I’m strong and I’m okay”.  Dan kamu pun mengakui hal itu, kamu bilang “You’re a strong woman and also….stubborn… ”.

Tapi semua luka itu, tidak ada artinya dibandingkan cinta kasih dan perlindungan yang selalu kamu berikan pada saya.   Kamu yang menenangkan  saya saat saya ketakutan, kamu yang memeluk saya saat saya sedih dan kamu yang selalu bangga atas prestasi-prestasi saya.   Kamu adalah kakak penyayang yang secara diam-diam selalu saya kagumi dan banggakan.

Sakitnya papa dan mama dan kepergian mereka untuk selamanya merupakan pukulan berat untuk kita.  Saya harus menghadapi kenyataan bahwa hari-hari yang akan saya jalani ke depan sudah tidak sama lagi.  Saya kehilangan lautan cinta dan kasih sayang yang selama ini saya rasakan dari mereka, saya kehilangan guardian angels dan orang tua yang selalu berada di depan melindungi saya, saya kehilangan tempat mengadu, tempat berbagi kebahagiaan maupun kesedihan.  Saya frustrasi, terluka, depresi dan kehilangan semangat hidup saya.  Sesuatu hal yang tidak kamu sadari, karena saya menutup erat di balik topeng “strong woman”  yang selalu saya perlihatkan padamu.

Tiga bulan setelah mama menghadap yang maha kuasa, kamu memutuskan untuk menikahi wanita pilihanmu.  Entah mengapa, kamu semakin keras pada saya dan semakin sulit mempercayai saya.  Saya sangat mengerti dengan kecemasanmu terhadap saya dan itu membuatmu begitu emosional.   Hanya tidak mudah buat saya menjalani hari-hari saat itu.  Saya tinggal bersama dengan seorang kakak yang tidak percaya pada saya, sementara saya harus bergulat dengan kesedihan dan kehilangan saya yang begitu dalam.  Belum lagi kuliah kedokteran saya yang cukup berat dan saya juga punya masalah-masalah pribadi lainnya.

Sebenarnya, saat itu saya hanya ingin kamu memeluk saya.   Saya ingin kamu menenangkan hati saya dan meyakinkan saya bahwa kamu selalu ada untuk saya .  Dan saya akan luluh untuk kemdian mengungkapkan padamu, bahwa yang saya butuhkan adalah “waktu”.  Saya butuh waktu untuk mengobati kesedihan dan rasa kehilangan saya.  Dan akan saya sampaikan padamu, bahwa saya mencintai orang tua saya dan tidak akan melakukan hal-hal yang akan membuat mereka kecewa .  Masa-masa itu, pelarian saya adalah mendekatkan diri pada yang Maha Kuasa dan berusaha memahami segala perintah dan laranganNya.    Sayangnya, kalimat-kalimat ini tidak pernah saya ungkapkan padamu.  Karena saya terlalu sakit untuk melakukannya.  Juga karena saya terlalu angkuh untuk mengakuinya.

Tahun-tahun yang berat pun berlalu.  Hubungan kita semakin membaik.  Saya bisa merasakan kasih sayang, perhatian dan perlindunganmu.  Memang tidak seperti saat kita kecil maupun remaja dulu, tapi itu bukan masalah karena memang saat ini kehidupan kita telah berbeda.  Kita sama-sama telah memiliki keluarga kecil yang membutuhkan perhatian kita.  Deep in my heart, I was always happy for your happines.

Hingga tiba saat yang berat lagi.  Ketika ada cobaan yang besar menimpa keluarga kita.  Saya berusaha keras untuk bisa mendamaikan semuanya, tapi ternyata memang tidak mudah.  Dan mau tidak mau saya harus bersikap.  Saya tahu, sikap saya sangat menyakitkanmu.  Dan kamu tidak akan pernah tahu, betapa sakitnya saya saat itu, namun saya harus melakukan yang paling baik di antara pilihan-pilihan yang buruk.  Saya hanya berdoa dan berharap, mudah-mudahan yang saya lakukan akan membawa kebaikan untuk semuanya kelak walaupun itu menyakitkan di awalnya.

Sejak itu memang hubungan kita menjadi memburuk.  Tapi saya bukanlah saya yang dulu, yang mudah terluka ketika mendengar ucapan-ucapan marahmu.  Saya sudah cukup dewasa untuk memahamimu dan pantang menyerah untuk mendapatkan maaf darimu.   Pada akhirnya marahmu reda, tapi saya tahu semuanya sudah tidak sama lagi. Tapi percayalah, semua yang terjadi sama sekali tidak mampu mengikis rasa kasih sayang yang saya rasakan padamu.

Tujuh tahun kemudian,  saya diduga mengalami keganasan.  Saya tidak mengadu padamu, bukan karena saya tidak percaya padamu.  Tapi saya terlalu takut kamu akan mengira bahwa saya mendekatimu hanya karena saya butuh. Setelah semua yang terjadi, tidak mudah buat saya untuk bersikap di depanmu.   Tapi ternyata, Mas Iyang menyampaikan padamu dan kamu sempat merasa kecewa karena bukan saya sendiri yang menyampaikannya.  Maafkan saya…..

Di tengah kekecewaanmu, kamu tetap berusaha memberikan yang terbaik untuk saya.  Kamu meminta saya second opinion ke Singapur dan saya pun tidak menolaknya.   Semua kamu yang arrange dan biayai.

Tanggal 22 Februari 2013 kamu sedang memulai perjalanan dinas ke Barcelona dan memutuskan transit di Singapur untuk menemani saya melakukan  pemeriksaan di negara ini.  Kita makan di mall kemudian sempat berjalan-jalan untuk selanjutnya bersama-sama ke National University Hospital.  Kamu begitu lembut dan perhatian, sangat berbeda dengan sikap kerasmu kemarin-kemarin pada saya.  Percayakah kamu, di tengah keangkuhan saya untuk mengakui perasaan saya ke kamu,  sebenarnya saat itu sepanjang kita bersama mata saya selalu berkaca-kaca.  Saya begitu merindukanmu dan semua yang rasakan tidak bisa saya ungkapkan.  Kamu menemani saya sampai sore hingga selesai menjalani biopsi.  Dan setelah itu kita berpisah, kamu melanjutkan perjalanan ke Barcelona.  Ini adalah pertama kalinya sejak kamu menikah, kita bisa pergi berdua  Dan ternyata itu terakhir kalinya… karena setelah itu pertemuan kita selalu beramai-ramai, tidak pernah hanya berdua saja.

Akhir November 2016, kamu memanggil saya dan Mas Rizal, kakak sulung kita.  Saat itu kamu “declare” penyakitmu.    Betapa hancur hati saya dan saya menangis memelukmu. Saya tidak ingin kehilanganmu….. sungguh.  Kamu sangat tegar dan berusaha meyakinkan bahwa kamu bisa menghandle semua ini.  Saat itu sebenarnya saya ingin berteriak memintamu untuk fokus pada kesembuhanmu dan menghentikan semua aktivitasmu.  Tapi kamu sudah memilih dan saya tidak berdaya untuk melarangmu.

Minggu ketiga Mei 2017, itulah saat saya tahu kamu sudah begitu berat menanggung semua penyakitmu.  Saya memelukmu dalam tangis dan kamu menyampaikan pesan yang sangat penting untuk saya.  Pesan yang kamu sampaikan lagi di hari berikutnya.  Dan setelah itu perjalanan saya untuk menjalankan “pesan” itu dimulai.  Semakin jauh saya dalam perjalanan itu, semakin saya memahami semuanya dan tekad saya semakin kuat untuk melanjutkannya.

Perjalanan yang harus saya tempuh  harus melewati berbagai dinding tebal dan duri yang tajam.  Dan pada puncaknya saya harus memilih….  Berhenti berjalan dan melihatmu mendapatkan hal-hal yang tidak tepat.  Atau saya terus berjalan sesuai keinginanmu,  dengan segala risikonya.  Dan kamu pasti sudah bisa menebak, sebagai “strong and stubborn woman”, pilihan mana yang akan saya ambil.

Itu memang pilihan saya.  Kalau pada akhirnya, pintu-pintu kemudian tertutup untuk saya dan saya begitu sulit menemuimu, itu memang adalah risiko yang harus saya terima.

Dan, pada hari itu, saya berdiri di dekatmu. Mengejutkanmu sekaligus membuatmu cemas…. Kamu tidak perlu tahu bagaimana saya menembus semua ini.  Percayakan pada kekuatan dan kekuasaan Allah.  Saya hanya ingin menemuimu.  Saya ingin kamu tahu, bahwa kami semua tidak pernah meninggalkanmu.  Kami ikhlas menjalani segala rasa sakit dan luka ini demi yang terbaik untukmu.

Genggaman tanganmu , tatapan matamu dan anggukan-anggukan kepalamu yang lemah saat itu tidak akan pernah saya lupakan.  Saya tidak bisa berbicara banyak.  Mulut saya seperti tersekat dan saya terlalu takut menangis di depanmu.  Saya menggenggam tanganmu, berkali-kali menciumnya dan berharap kamu bisa merasakan cinta dan kekuatan dari situ.   Itu terakhir kali saya berjumpa denganmu.  Tepat 30 hari kemudian, pada jam yang hampir sama, kamu pergi meninggalkan kami semua untuk selamanya.

Walaupun terasa menyakitkan, di hari-hari akhirmu kami sepakat tidak akan fight untuk bertemu denganmu.  Pun saat kami mendengar kondisimu memburuk, kami hanya bisa menangis dan berdoa dari jauh.  Kami tidak ingin membuatmu  bersedih .  Kamu tidak harus memilih, karena tanpa dipilih pun kami akan tetap mencintaimu.

Goodbye my great and beloved brother.  Your sweet memories will remain forever in my heart.

With love,

Me

Advertisements