Blog

Posted in Tak Berkategori

A LETTER FOR YOU : UNSPOKEN WORDS

 

Saya genggam erat tanganmu.  Dan bisa saya rasakan balasan yang sama darimu.  Genggaman yang lemah serta tatapan yang penuh ketegaran.  Kamu ingin meyakinkan bahwa kamu kuat untuk menjalani ini semua,  dan kamu menginginkan hal yang sama dari saya.  Ada gurat kemarahan di wajahmu, dan saya sudah hafal itu.  Kemarahan karena kecemasanmu yang seringkali saya lihat.  Saat itu saya tidak bisa menjelaskan panjang lebar mengenai kenekatan saya untuk menerobos berbagai barikade demi menemuimu.  Dan saya juga tidak mampu menenangkanmu dan mengatakan bahwa “Everything’s okay.  Nothing will happen. Saya masuk ke sini dengan perhitungan yang matang dan tangan Allah menolong saya”.  Yang saya lakukan hanya diam menatapmu, mencium tanganmu berkali-kali dan membisikkan telingamu bahwa kami selalu menyayangi dan mendoakanmu.  Kamu mengangguk berkali-kali dan tatapanmu berusaha meyakinkan bahwa kamu mengerti semua ucapan saya. 

Kebersamaan kita sejak kecil, adalah kenangan indah yang tidak pernah saya lupakan.  Kamu yang sangat galak di mata saya tapi sekaligus juga penyayang dan sentimentil.  Kamu yang sangat cerdas dan rasional tapi juga peka dan musikal.

Ada saat-saat kita begitu dekat, saling bercerita dan bercanda riang.  Namun kadang-kadang saya cukup kesulitan ketika melihatmu marah dan tanpa kamu sadari itu melukai hati saya.  Dan saya, dengan keangkuhan dan kekerasan hati saya, selalu berusaha menunjukkan padamu bahwa  “I’m strong and I’m okay”.  Dan kamu pun mengakui hal itu, kamu bilang “You’re a strong woman and also….stubborn… ”.

Tapi semua luka itu, tidak ada artinya dibandingkan cinta kasih dan perlindungan yang selalu kamu berikan pada saya.   Kamu yang menenangkan  saya saat saya ketakutan, kamu yang memeluk saya saat saya sedih dan kamu yang selalu bangga atas prestasi-prestasi saya.   Kamu adalah kakak penyayang yang secara diam-diam selalu saya kagumi dan banggakan.

Sakitnya papa dan mama dan kepergian mereka untuk selamanya merupakan pukulan berat untuk kita.  Saya harus menghadapi kenyataan bahwa hari-hari yang akan saya jalani ke depan sudah tidak sama lagi.  Saya kehilangan lautan cinta dan kasih sayang yang selama ini saya rasakan dari mereka, saya kehilangan guardian angels dan orang tua yang selalu berada di depan melindungi saya, saya kehilangan tempat mengadu, tempat berbagi kebahagiaan maupun kesedihan.  Saya frustrasi, terluka, depresi dan kehilangan semangat hidup saya.  Sesuatu hal yang tidak kamu sadari, karena saya menutup erat di balik topeng “strong woman”  yang selalu saya perlihatkan padamu.

Tiga bulan setelah mama menghadap yang maha kuasa, kamu memutuskan untuk menikahi wanita pilihanmu.  Entah mengapa, kamu semakin keras pada saya dan semakin sulit mempercayai saya.  Saya sangat mengerti dengan kecemasanmu terhadap saya dan itu membuatmu begitu emosional.   Hanya tidak mudah buat saya menjalani hari-hari saat itu.  Saya tinggal bersama dengan seorang kakak yang tidak percaya pada saya, sementara saya harus bergulat dengan kesedihan dan kehilangan saya yang begitu dalam.  Belum lagi kuliah kedokteran saya yang cukup berat dan saya juga punya masalah-masalah pribadi lainnya.

Sebenarnya, saat itu saya hanya ingin kamu memeluk saya.   Saya ingin kamu menenangkan hati saya dan meyakinkan saya bahwa kamu selalu ada untuk saya .  Dan saya akan luluh untuk kemdian mengungkapkan padamu, bahwa yang saya butuhkan adalah “waktu”.  Saya butuh waktu untuk mengobati kesedihan dan rasa kehilangan saya.  Dan akan saya sampaikan padamu, bahwa saya mencintai orang tua saya dan tidak akan melakukan hal-hal yang akan membuat mereka kecewa .  Masa-masa itu, pelarian saya adalah mendekatkan diri pada yang Maha Kuasa dan berusaha memahami segala perintah dan laranganNya.    Sayangnya, kalimat-kalimat ini tidak pernah saya ungkapkan padamu.  Karena saya terlalu sakit untuk melakukannya.  Juga karena saya terlalu angkuh untuk mengakuinya.

Tahun-tahun yang berat pun berlalu.  Hubungan kita semakin membaik.  Saya bisa merasakan kasih sayang, perhatian dan perlindunganmu.  Memang tidak seperti saat kita kecil maupun remaja dulu, tapi itu bukan masalah karena memang saat ini kehidupan kita telah berbeda.  Kita sama-sama telah memiliki keluarga kecil yang membutuhkan perhatian kita.  Deep in my heart, I was always happy for your happines.

Hingga tiba saat yang berat lagi.  Ketika ada cobaan yang besar menimpa keluarga kita.  Saya berusaha keras untuk bisa mendamaikan semuanya, tapi ternyata memang tidak mudah.  Dan mau tidak mau saya harus bersikap.  Saya tahu, sikap saya sangat menyakitkanmu.  Dan kamu tidak akan pernah tahu, betapa sakitnya saya saat itu, namun saya harus melakukan yang paling baik di antara pilihan-pilihan yang buruk.  Saya hanya berdoa dan berharap, mudah-mudahan yang saya lakukan akan membawa kebaikan untuk semuanya kelak walaupun itu menyakitkan di awalnya.

Sejak itu memang hubungan kita menjadi memburuk.  Tapi saya bukanlah saya yang dulu, yang mudah terluka ketika mendengar ucapan-ucapan marahmu.  Saya sudah cukup dewasa untuk memahamimu dan pantang menyerah untuk mendapatkan maaf darimu.   Pada akhirnya marahmu reda, tapi saya tahu semuanya sudah tidak sama lagi. Tapi percayalah, semua yang terjadi sama sekali tidak mampu mengikis rasa kasih sayang yang saya rasakan padamu.

Tujuh tahun kemudian,  saya diduga mengalami keganasan.  Saya tidak mengadu padamu, bukan karena saya tidak percaya padamu.  Tapi saya terlalu takut kamu akan mengira bahwa saya mendekatimu hanya karena saya butuh. Setelah semua yang terjadi, tidak mudah buat saya untuk bersikap di depanmu.   Tapi ternyata, Mas Iyang menyampaikan padamu dan kamu sempat merasa kecewa karena bukan saya sendiri yang menyampaikannya.  Maafkan saya…..

Di tengah kekecewaanmu, kamu tetap berusaha memberikan yang terbaik untuk saya.  Kamu meminta saya second opinion ke Singapur dan saya pun tidak menolaknya.   Semua kamu yang arrange dan biayai.

Tanggal 22 Februari 2013 kamu sedang memulai perjalanan dinas ke Barcelona dan memutuskan transit di Singapur untuk menemani saya melakukan  pemeriksaan di negara ini.  Kita makan di mall kemudian sempat berjalan-jalan untuk selanjutnya bersama-sama ke National University Hospital.  Kamu begitu lembut dan perhatian, sangat berbeda dengan sikap kerasmu kemarin-kemarin pada saya.  Percayakah kamu, di tengah keangkuhan saya untuk mengakui perasaan saya ke kamu,  sebenarnya saat itu sepanjang kita bersama mata saya selalu berkaca-kaca.  Saya begitu merindukanmu dan semua yang rasakan tidak bisa saya ungkapkan.  Kamu menemani saya sampai sore hingga selesai menjalani biopsi.  Dan setelah itu kita berpisah, kamu melanjutkan perjalanan ke Barcelona.  Ini adalah pertama kalinya sejak kamu menikah, kita bisa pergi berdua  Dan ternyata itu terakhir kalinya… karena setelah itu pertemuan kita selalu beramai-ramai, tidak pernah hanya berdua saja.

Akhir November 2016, kamu memanggil saya dan Mas Rizal, kakak sulung kita.  Saat itu kamu “declare” penyakitmu.    Betapa hancur hati saya dan saya menangis memelukmu. Saya tidak ingin kehilanganmu….. sungguh.  Kamu sangat tegar dan berusaha meyakinkan bahwa kamu bisa menghandle semua ini.  Saat itu sebenarnya saya ingin berteriak memintamu untuk fokus pada kesembuhanmu dan menghentikan semua aktivitasmu.  Tapi kamu sudah memilih dan saya tidak berdaya untuk melarangmu.

Minggu ketiga Mei 2017, itulah saat saya tahu kamu sudah begitu berat menanggung semua penyakitmu.  Saya memelukmu dalam tangis dan kamu menyampaikan pesan yang sangat penting untuk saya.  Pesan yang kamu sampaikan lagi di hari berikutnya.  Dan setelah itu perjalanan saya untuk menjalankan “pesan” itu dimulai.  Semakin jauh saya dalam perjalanan itu, semakin saya memahami semuanya dan tekad saya semakin kuat untuk melanjutkannya.

Perjalanan yang harus saya tempuh  harus melewati berbagai dinding tebal dan duri yang tajam.  Dan pada puncaknya saya harus memilih….  Berhenti berjalan dan melihatmu mendapatkan hal-hal yang tidak tepat.  Atau saya terus berjalan sesuai keinginanmu,  dengan segala risikonya.  Dan kamu pasti sudah bisa menebak, sebagai “strong and stubborn woman”, pilihan mana yang akan saya ambil.

Itu memang pilihan saya.  Kalau pada akhirnya, pintu-pintu kemudian tertutup untuk saya dan saya begitu sulit menemuimu, itu memang adalah risiko yang harus saya terima.

Dan, pada hari itu, saya berdiri di dekatmu. Mengejutkanmu sekaligus membuatmu cemas…. Kamu tidak perlu tahu bagaimana saya menembus semua ini.  Percayakan pada kekuatan dan kekuasaan Allah.  Saya hanya ingin menemuimu.  Saya ingin kamu tahu, bahwa kami semua tidak pernah meninggalkanmu.  Kami ikhlas menjalani segala rasa sakit dan luka ini demi yang terbaik untukmu.

Genggaman tanganmu , tatapan matamu dan anggukan-anggukan kepalamu yang lemah saat itu tidak akan pernah saya lupakan.  Saya tidak bisa berbicara banyak.  Mulut saya seperti tersekat dan saya terlalu takut menangis di depanmu.  Saya menggenggam tanganmu, berkali-kali menciumnya dan berharap kamu bisa merasakan cinta dan kekuatan dari situ.   Itu terakhir kali saya berjumpa denganmu.  Tepat 30 hari kemudian, pada jam yang hampir sama, kamu pergi meninggalkan kami semua untuk selamanya.

Walaupun terasa menyakitkan, di hari-hari akhirmu kami sepakat tidak akan fight untuk bertemu denganmu.  Pun saat kami mendengar kondisimu memburuk, kami hanya bisa menangis dan berdoa dari jauh.  Kami tidak ingin membuatmu  bersedih .  Kamu tidak harus memilih, karena tanpa dipilih pun kami akan tetap mencintaimu.

Goodbye my great and beloved brother.  Your sweet memories will remain forever in my heart.

With love,

Me

Posted in Novel

YOU’RE THE INSPIRATION (part 28) -finale-

Sudah seminggu kegiatan belajar mengajar semester genap dimulai., dan Rini sama sekali tidak tampak batang hidungnya.  Tidak ada seorang pun yang mengetahui keberadaannya.  Gadis itu seperti lenyap ditelan bumi.

Setiap pulang sekolah Anton langsung mengurung diri di dalam kamar.  Ia tidak punya semangat untuk melakukan apa pun.   Malas makan, malas bertemu orang dan malas segalanya.

Kakek adalah orang yang paling khawatir dengan kondisi Anton.  Setiap hari beliau senantiasa menghibur cucunya itu dan menasihatinya.

“Berikan waktu bagi Rini untuk berpikir,” ini kata-kata yang acapkali diucapkan kakek.

Anton belum bisa menerima pendapat kakek tersebut.  Baginya, bila Rini ingin berpikir, seharusnya melibatkan dirinya, karena mereka adalah sepasang kekasih.

Cerita mengenai skandal ayahnya Rini, Heru Herlambang, dan bintang film terkenal Anita  Dewi, masih hangat dibicarakan oleh berbagai kalangan.  Walaupun suami Anita Dewi sudah mencabut laporannya di kepolisian, namun orang-orang masih belum puas dan ingin terus menelanjangi kehidupan pribadi kedua orang public figure tersebut.  Bahkan sebuah majalah terkenal membuat artikel yang mengupas lengkap kehidupan pribadi Heru Herlambang maupun Anita Dewi, termasuk sisi-sisi gelapnya.  Di sana juga menyinggung sedikit soal Rini.  Putri tunggal pengusaha itu dikabarkan mempunyai karakter aneh dan dijauhi oleh teman-temannya.

Anton memahami sepenuhnya betapa shock dan malunya Rini saat ini.  Namun ia tidak mengerti, mengapa Rini harus menghindarinya?  Mengapa Rini tidak mempercayainya?  Ia benar-benar ingin mendapatkan jawaban dari mulut gadis itu.

“Anton….!” kakek memanggilnya dari balik pintu.

Anton segera membuka pintu kamar .

“Ada telpon untukmu,” ujar kakek, sorot matanya seperti menyimpan sesuatu.

“Dari siapa?” tanya Anton acuh tak acuh.

Kakek tidak menjawab, hanya menepuk-nepuk bahu Anton.

“Cinta kadang-kadang sulit dipahami.  Namun yang pasti, ia dapat dirasakan dengan hati.  Dengarkan kata hatimu,” bisik kakek seraya melangkahkan kakinya pergi.

Anton mengangkat telpon dan ia merasakan debaran kencang di dadanya ketika mengetahui siapa yang tengah menelponnya.

“Anton….”suara Rini nyaris tak terdengar.

”Kau ada di mana?” Anton berusaha menguasai emosinya.

Rini tidak menjawab.  Hanya terdengar suara isakan.

“Rini, apa yang sebenarnya terjadi?  Mengapa kau tidak pernah menghubungiku?”Anton mulai melunakkan suaranya.

“Maafkan aku.  Aku sekarang bersama ibuku di Inggris.”

“Inggris?” Anton menahan nafasnya.  Ia benar-benar terkejut mendengarnya.

“Kapan pulang?”suara Anton mulai merendah.

Sekali lagi terdengar suara isakan.

“Rini, tolong jawab pertanyaanku.  Kapan kau akan pulang ke Indonesia?  Aku ingin bertemu denganmu,” Anton mulai tidak sabar.

“Aku tidak akan pulang.  Aku akan menetap di sini bersama ibuku.”

 “Kenapa?  Apakah ayah atau ibumu melarangmu kembali ke Indonesia?”

“Tidak, mereka sama sekali tidak pernah melarang.  Ini keputusanku sendiri.”

“Apa maksudmu? Lalu bagaimana dengan hubungan kita?”

“Anton……,” Rini menghentikan ucapannya, seperti sedang menenangkan diri, “Kita putus saja.  Lupakan aku.  ”

“Maksudmu……….., kau ingin berpisah denganku?  Kenapa kau lakukan ini?” Anton merasa dadanya sesak.

“Maafkan aku.  Aku tidak ada pilihan lain,” isak Rini.

Anton merasa sangat marah, kecewa dan tidak mengerti.  Ternyata gadis yang ia cintai itu mengambil keputusan begitu saja tanpa berdiskusi dengannya.

“Apa maksudmu dengan tidak ada pilihan lain?  Kenapa kau mengambil keputusan seorang diri?  Beri aku penjelasan!”

Rini tidak menjawab.

“Apa yang kau takutkan?  Kau takut dengan pemberitaan di media?  Kau takut dengan cemoohan teman-temanmu?  Apakah itu lebih menakutkan dibandingkan kehilangan diriku?”

Tidak ada jawaban.  Hanya terdengar suara isakan halus.

“Atau kau tidak percaya padaku?  Kau pikir aku akan meninggalkanmu gara-gara peristiwa ini?  Kau pikir aku akan membiarkanmu menghadapi semua masalah ini sendirian?”

Tetap tidak ada jawaban.

“Rini, berikan aku sebuah penjelasan.  Aku mohon,” suara Anton melemah.  Ia mulai merasa putus asa.

“Maafkan aku, Anton.  Aku tidak mempunyai penjelasan apa pun.   Aku hanya ingin melihatmu bahagia.”

“Bahagia?” suara Anton mulai meninggi, “Apa kau pikir setelah kau meninggalkan aku begitu saja, kemudian aku akan merasa bahagia?”

“Anton, aku sungguh-sungguh minta maaf padamu.”

“Tidak…!”suara Anton bergetar, “Aku tidak akan pernah memaafkanmu.”

Anton meletakkan gagang telpon dengan rasa marah, lalu melangkah cepat menuju kamarnya.    Perasaan marah dan kecewa dalam dirinya sulit dibendung.  Ia mengepalkan tangannya berkali-kali dan berusaha menahan emosinya.  Matanya terasa panas.  Yang terjadi sungguh-sungguh antiklimaks dibandingkan dengan manisnya hubungan mereka selama ini.  Tidak disangka, ternyata cinta Rini padanya sangat dangkal.

Semua kenangan manisnya dengan Rini melintas terus di benaknya.  Dan gadis itu memilih untuk mengakhiri segalanya.  Anton merasa hatinya hancur.  Mengapa Rini melakukan semua ini  padanya?  Mengapa tiba-tiba gadis itu menyerah?  Mengapa mereka harus berpisah? Mengapa Rini mengatakan tidak ada pilihan lain?  Mengapa gadis itu tidak mau memberi penjelasan?  Mengapa gadis yang sangat ia cintai itu tega menyakiti hatinya?  Mengapa?  Anton sungguh-sungguh tidak dapat mengerti.

Tiba-tiba pandangan Anton tertumbuk pada tas ranselnya.  Ia teringat sesuatu.  Perlahan ia membuka kantong bagian depan dan ia menemukan sebuah kado kecil.  Hadiah ulang tahun dari Rini yang lupa ia buka.

Dengan tangan bergetar disobeknya kertas pembungkus kado tersebut dan ia mendapati sebuah kaset yang direkam sendiri oleh Rini.  Cover depannya diketik menggunakan komputer.  Ada gambar hati dan tulisan : Just For Anton.  You’re The  Inspiration!  Anton membuka tutup kaset dan ada selembar kertas kecil jatuh.  Ia membaca tulisan di kertas tersebut.

Dear Anton. Selamat ulang tahun yang ke-18.  Semoga kau selalu mendapatkan rahmat dan lindungan-Nya. 

Semua lagu   instrumental di kaset ini merupakan hasil karyaku (kecuali lagu terakhir).  Terima kasih telah menjadi inspirasiku.  Kuharap kau menyukainya.  I love you so much.  (Rini)  NB: Lagu terakhir merupakan lagu Chicago favoritku.  Lagu itu selalu mengingatkan aku padamu.

Anton memasang kaset tersebut di dalam tape dan menyalakannya.   Lagu pertama berjudul I know It’s Love.   Anton memejamkan matanya dan mencoba menghayati lagu ini.  Nada-nadanya begitu lembut, ceria, dan menyiratkan kebahagiaan.  Ia bisa merasakan getar-getar cinta melalui lagu ini.  Sungguh-sungguh indah.  Tiba-tiba ia merasa matanya basah.  Ada kerinduan yang amat sangat di hatinya.  Rasa rindu, kecewa, marah dan cinta berbaur menjadi satu.

Ada enam lagu instrumental lainnya yang direkam di kaset tersebut.  Semua lagu  menyiratkan hal yang sama, yaitu  CINTA.  Sebagai lagu penutup, Rini memainkan sebuah lagu yang dimainkan oleh grup musik terkenal, Chicago dengan vokalisnya Peter Cetera, yaitu lagu You’re the Inspiration.

Setelah satu kaset selesai didengarkan, Anton segera menggantinya dengan kaset Chicago miliknya.  Diputarnya lagu You’re the Inspiration.

You know our love was meant to be

A kind of love that last forever

And I want you here with me

From tonight until the end of time

You should know, everywhere I go, you’re always on my mind, in my heart, in my soul , baby…

Reff:

You’re the meaning in my life, you’re the inspiration

You bring feeling to my life, you’re the inspiration

I wanna have you near me,

I wanna have you near me sayin’

No one needs you more than I need you

…………………………….

……………………………

Suara Peter Cetera terdengar jelas di telinganya.  Setetes air mata mengalir di pipinya.  Ia teringat percakapannya dulu dengan Rini ketika pertama kali datang ke rumah gadis itu.

“Apakah sampai sekarang kau masih suka menciptakan lagu?”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Tidak ada inspirasi.”

 ‘Cinta kadang-kadang sulit dipahami.  Namun yang pasti, ia dapat dirasakan dengan hati.  Dengarkan kata hatimu’. Ucapan kakek tadi, terngiang di telinga Anton.

Keputusan Rini untuk berpisah sungguh sangat sulit dipahami.  Namun, Anton tidak dapat menolak kata hatinya yang mengatakan bahwa sesungguhnya gadis itu benar-benar sangat mencintainya.  Ia bisa  merasakannya.

Anton menundukkan kepalanya dan membiarkan air matanya terus mengalir membasahi wajahnya.  Mendengarkan lagu-lagu di kaset tersebut membuat hatinya sangat sedih.  Ia dapat merasakan ungkapan cinta yang mendalam dari gadis pujaannya itu.  Begitu berartikah dirinya bagi Rini?  Apakah gadis itu sungguh-sungguh mencintainya? Bila Rini mencintainya, mengapa harus meninggalkannya?   Apakah Rini merasakan kesedihan yang sama seperti yang ia rasakan saat ini?

 Mengapa semuanya harus berakhir ketika bunga cinta tengah bermekaran di hatinya? Berapa lamakah ia harus menunggu untuk mendapatkan kembali hatinya yang menghilang? Apakah setahun lagi, dua tahun lagi,  lima tahun lagi,  atau …… 15 tahun lagi?  Atau….ia harus berhenti berharap dan semuanya memang benar-benar telah berakhir?

*****#####*****

 

Jakarta, Maret 1986

“Kenapa….?  Kenapa mama melakukan ini padaku?”

“Maafkan mama, sayang.  Ini yang terbaik untuk kita semua.”

“Terbaik?  Setelah mama bercinta dengan bule sialan itu, kemudian meninggalkan aku dan Rini, mama bisa mengatakan kalau ini yang terbaik untuk kita semua?”

“Armand, kau tidak mengerti apa yang mama rasakan selama ini.  Mama sangat menyayangi kalian.  Tapi…”

“Bagaimana dengan aku?  Bagaimana dengan Rini?  Pernahkah kau mencoba mengerti kami?”

“Maafkan mama, Nak.  Maafkan mama…”

“Tidak!  Aku benci padamu!  Aku tidak akan pernah memaafkanmu!”  

****#######*****

Bersambung ke ARMAND, THIS IS WHERE THE STORY BEGIN dan MEET AGAIN.

YTI cover (4)

Picture drawn by Aisyah Diah Larasati.  

Poster was designed by Shinta Asiah Bilqis

Posted in Novel

YOU’RE THE INSPIRATION (part 27)

Tiba di stasiun di kota Bandung, Anton segera pergi menuju rumah Rini.  Di depan rumah besar tersebut, ia melihat beberapa orang sedang duduk di depan pagar.  Sepertinya mereka adalah para wartawan, karena di tangannya memegang alat tulis dan kamera.

Ia mendekati Pak Dwi, satpam yang berjaga di depan.  Semua yang bekerja di rumah sudah mengenal baik dirinya.  Anton berbicara sangat pelan pada satpam tersebut, takut terdengar oleh para wartawan.  Ia menanyakan keberadaan Rini.  Namun Pak Dwi menggeleng.

“Saya sungguh-sungguh tidak tahu di mana Non Rini saat ini.  Kami sama sekali tidak bisa menghubunginya.”

“Bagaimana dengan Pak Dedi.  Apakah Pak Dedi sekarang ada?”tanya Anton ngotot.

“Pak Dedi juga sudah beberapa hari menyusul ke rumah di Jakarta.  Dan saya tidak tahu kabar terbarunya.”

Anton tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya.  Namun ia masih terhibur ketika Pak Dwi memberikan alamat rumah di Jakarta padanya.

Keluar dari rumah Rini, kumpulan wartawan itu segera mengerubunginya dan menanyakan berbagai hal padanya.  Mereka menanyakan hubungannya dengan keluarga Heru Herlambang; sejauh mana ia tahu mengenai hubungan gelap pengusaha itu dengan Anita Dewi, dan sebagainya.  Anton memilih untuk bungkam dan diam seribu bahasa.  Ia berjalan cepat menuju tempat kendaraan umum dan meninggalkan mereka semua.

Hari itu juga Anton memutuskan naik bus menuju Jakarta.  Ia sudah bertekad untuk bertemu dengan Rini.  Dan untuk itu, ia akan menempuh segala cara.

Sesampainya di Jakarta, hari sudah gelap.  Mau tidak mau ia harus menunda kepergiannya ke rumah Rini.  Ia menginap di rumah orang tuanya di Jakarta yang sangat terkejut dengan kedatangan putra sulungnya itu.

Keesokan harinya, dengan menggunakan vespa tua ayahnya, Anton menuju rumah Rini di Jakarta.  Sesampainya di sana, ia melihat kerumunan wartawan di depan pagar yang jumlahnya lebih banyak dibandingkan yang dilihatnya di  Bandung.

Anton segera menerobos kerumunan tersebut dan berdiri di depan pagar tepat di dekat satpam.  Ia meminta satpam tersebut untuk mempertemukannya dengan Rini. Namun kali ini ia harus sedikit memaksa, karena satpam itu sama sekali tidak mengenal dirinya.   Setelah beberapa lama bersilat lidah, akhirnya satpam itu mempercayainya dan memanggil salah seorang pembantu dari dalam rumah untuk menghubungi Pak Dedi yang merupakan kepala rumah tangga di rumah Bandung, dan sekarang tengah berada di Jakarta.

Tidak berapa lama kemudian, Pak Dedi keluar menemuinya.  Anton merasakan adanya secercah harapan.

“Pak Dedi, sekarang Rini ada di mana?”tanya Anton penuh pengharapan.

 Pak Dedi membisu beberapa saat, hanya memandang wajah Anton dengan rasa iba.

“Ada apa, Pak?  Apa yang sebenarnya terjadi pada Rini?” Anton merasa keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.

“Non Rini…,” Pak Dedi seperti ragu-ragu untuk berbicara, “Non Rini ada di suatu tempat yang sangat dirahasiakan.”

“Di mana?  Katakan padanya, saya ingin menemuinya.  Katakan, kekasihnya, Anton, mau bertemu dengannya.  Dia pasti ingin bertemu dengan saya,” paksa Anton.

“Mas Anton, pulanglah.  Saat ini non Rini tidak mau bertemu dengan siapa pun.  Maaf,” Pak Dedi segera beranjak pergi.

Anton tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.

“Pak Dedi, bila Rini tahu Anda tidak mengijinkan saya menemuinya, ia pasti akan sangat marah!  Ia tidak akan membiarkan Anda bekerja di rumahnya lagi!”ancam Anton berang.

Pak Dedi membalikkan badannya lalu menggelengkan kepalanya.

“Semua yang saya lakukan, atas perintah Non Rini sendiri.  Sekali lagi maaf.”

Anton tertegun.  Ia merasa sedang mimpi buruk.  Kakinya seperti melayang.  Dengan lemas ia pergi meninggalkan rumah kekasihnya itu.  Sekelompok wartawan yang mencoba mewawancarainya sama sekali tidak diperdulikannya.  Ia sudah tidak peduli apa pun.  Hatinya dipenuhi kekecewaan dan tanda tanya.

Hari itu juga Anton pulang ke kota Bandung.  Sesampainya di rumah, ia mengurung diri dalam kamar.  Berbagai pertanyaan muncul di benaknya.  Dan ia tidak pernah dapat menemukan jawabannya.  Apa yang sebenarnya terjadi?  Mengapa Rini tidak mau menemuinya? Mengapa Rini sama sekali tidak menghubunginya, padahal sudah berkali-kali ia mengirim pesan melalui pager gadis itu.  Ada apa dengan Rini?  Anton benar-benar merasa gundah.

ais drawing

Picture by : Aisyah Diah Larasati

Posted in Novel

YOU’RE THE INSPIRATION (part 26)

“Anton, bangun!  Kita sudah sampai!”seru Ino sambil mengguncang-guncang badan Anton.

Perlahan-lahan Anton membuka matanya yang masih terasa berat.  Dari balik kaca kereta, ia jadi tahu bahwa mereka telah sampai di stasiun kereta api Gubeng di Surabaya.   Suasana di luar sana tidak jauh beda dengan suasana kereta yang ditumpanginya.  Sangat ramai dan banyak orang yang berdesak-desakan, sebagaimana biasanya bila musim liburan tiba.  Bahkan banyak orang yang rela tidur di lantai kereta.

Anton mengalihkan pandangannya dan memperhatikan Ino serta ke-6 orang temannya yang lain, yaitu Feri, Ali, Budi, Kiky, Leo dan Heru, yang tampak mulai sibuk menyiapkan barang bawaannya masing-masing.  Mereka tampak bergoyang-goyang di matanya.  Kepala Anton terasa pusing, sehingga ia pun memejamkan matanya kembali.

“Hai Ton, kau tidak sakit khan?”Feri menepuk bahunya.  Ia terlihat khawatir.

Kali ini Anton benar-benar membuka lebar matanya dan dengan lesu mulai mengemasi barang-barangnya.  Rasa pusing di kepalanya belum hilang benar.  Badannya pun seperti tidak bertenaga.  Tetapi ia memaksakan diri untuk terus bergerak.

“Kau sakit?” Ino memegang dahi kepala Anton dengan cemas.  Tetapi badan Anton sama sekali tidak panas.

“Aku tidak apa-apa,”sahut Anton lesu.  Ia juga tidak tahu apa yang terjadi pada tubuhnya.  Ia berpikir mungkin ia sedang kelelahan.

Tidak berapa lama kemudian, Anton dan teman- temannya turun dari kereta serta keluar dari stasiun menuju tempat pemberhentian kendaraan umum.  Pagi ini mereka akan beristirahat di rumah eyang Cipto, eyangnya Ali.  Sore hari mereka akan menggunakan kereta menuju Banyuwangi.

Sesampainya di tempat tujuan, mereka disambut oleh kedua eyang Cipto yang nampaknya sudah sangat sepuh.  Mereka mandi dan beristirahat di pavilion di belakang rumah.

“Ali, di dekat sini ada wartel?”tanya Anton usai mandi.  Badannya sudah lebih segar dan pusingnya sudah mulai berkurang.

Ali mengangguk.

“Di ujung jalan ini.  Kira-kira 100 meter dari sini.”

Anton bergegas menuju wartel yang dimaksud.  Ia sudah berjanji pada keluarganya, bila telah sampai di Surabaya akan menelpon mereka.

Terdengar suara adiknya, Andika, mengangkat telpon.

“Hallo Andika, ini Kak Anton. “

“O, Kak Anton.  Apa sudah sampai di Surabaya?”

“Alhamdulillah sudah sampai.  Bapak dan Ibu ada ?”

“Mereka sedang pergi bersama kakek.  Mengantar tetangga yang sakit.”

“Tetangga yang mana?”

“Sebelah rumah.  Anak kecil dan ibunya.”

“Oh, maksudmu Daniel dan tante Ledya?”

“Ya, betul, anak kecil itu bernama Daniel!”

“Sakit apa Daniel?”

“Dia jatuh dari atas lemari.”

Anton merasa frekuensi detak jantungnya mulai meningkat.

“Bagaimana kondisinya?”

Aku tidak tahu.  Pembantu mereka tadi malam menggedor rumah lalu kakek bersama bapak dan ibu segera mengantar mereka ke rumah sakit.  Tetapi, sepintas kudengar, kondisi ibunya lebih parah.“

“Ada apa dengan tante Ledya?”

“Melihat anaknya jatuh dari atas lemari, tante Ledya mencoba bunuh diri.  Ia mengiris urat nadi tangannya dengan pisau.”

Tiba-tiba Anton merasa tenggorokannya tercekat dan lidahnya menjadi kelu.  Perasaannya campur aduk tidak karuan.  Matanya panas.  Wajah Daniel dan tante Ledya terbayang di pelupuk matanya.   Sudah hampir 10 bulan mereka berdua menjadi bagian dari kehidupan di rumahnya.  Dan kehadiran mereka selama 10 bulan itu ternyata cukup memberi arti mendalam baginya.  Saat ini ia merasa sangat cemas dan sedih.

“Hallo, hallo…! Kak Anton…!”Andika memanggilnya.

“Ya.  Andika, tolong cari info secepatnya mengenai kondisi mereka terakhir.  Bila sudah dapat, tolong hubungi aku di rumah eyangnya Ali.”

Anton meletakkan telponnya.  Sejak tadi malam ia memang merasa hatinya gundah dan perasaannya tidak enak.  Rupanya memang telah terjadi sesuatu.

Ia memutar nomor telpon lagi.  Kali ini ia menghubungi Rini.  Ketika mendengar suara Rini, ia tidak kuasa menahan rasa sedih dan khawatirnya.  Suaranya bergetar menahan tangis.

“Anton, ada apa?”suara Rini terdengar sangat lembut.

“Rini, Daniel kecelakaan,” suaranya tersendat, “Ia jatuh dari atas lemari.”

“Dan, tante Ledya……,” lanjutnya lagi, “Tante Ledya mencoba bunuh diri setelah melihat anaknya jatuh.”

Mereka hening sejenak.  Rini sepertinya juga kaget mendengar berita tersebut.

“Anton……,” ucap Rini lirih, “Apakah kau baik-baik saja?”

“Aku takut terjadi sesuatu dengan mereka.”

“Anton, berdoalah.  Semoga mereka berdua diberi kesembuhan.”

Anton merasa hatinya lebih tenang.  Suara Rini sangat lembut dan menyejukkan hatinya.  Ia pun segera menyudahi percakapan dan segera kembali ke tempat teman-temannya berkumpul.  Kepada teman-temannya ia menceritakan permasalahannya dan niatnya untuk kembali ke Bandung bila kondisi Daniel dan ibunya semakin memburuk.  Mereka semua memahaminya dan ikut menunggu kabar dari Andika.

Tiga jam kemudian Andika menelponnya.

“Tante Ledya dan Daniel baik-baik saja.  Mereka sudah melewati masa-masa kritis,” nada suara Andika terdengar bersungguh-sungguh.

Andika juga menceritakan kronologis kejadiannya.  Tadi malam rupanya tante Ledya sangat lelah ketika pulang kerja.  Namun ia memaksakan diri untuk menemani Daniel yang saat itu berlari-lari dan berputar terus di kamar tanpa lelah hingga tengah malam.  Tanpa sengaja, tante Ledya tertidur.  Dan ketika ia bangun, Daniel sudah memanjat ke atas lemari pakaian dan ia melihat putra tunggalnya itu tergelincir jatuh hingga tak sadarkan diri.  Tante Ledya sangat panik dan merasa bersalah, dan mungkin kondisi jiwanya saat itu sedang tidak stabil, hingga ia berbuat nekat dengan mencoba bunuh diri.

“Tetapi kejadian ini membawa hikmah yang besar,”tutur Andika ,”Karena sekarang keluarga tante Ledya berkumpul di rumah sakit.  Mereka sudah mau berdamai dengan tante Ledya dan Daniel.  Dan nampaknya mereka mau menangani Daniel dengan lebih serius.”

Anton bernafas lega.  Usai berbicara dengan Andika, ia pun segera mengirim pesan pada Rini melalui pager untuk mengabarkan  berita gembira itu.  Saat ini Rini  sedang dalam perjalanan dari Bandung menuju Jakarta.

Sore hari, Anton dan teman-temannya melanjutkan perjalanan mereka.   Mereka naik kereta menuju Banyuwangi.   Sesampainya di Banyuwangi, mereka beristirahat di sebuah mesjid, dan ketika pagi tiba, mereka pun pergi menuju gunung yang dituju.  Tiba di gunung tersebut, mereka segera melakukan pendakian.

Semuanya terlihat gembira dan bersemangat, kecuali Anton.  Entah kenapa, ia merasa pikirannya sangat kacau.  Ia juga tidak mengerti mengapa ia menjadi seperti itu.  Terbersit dalam pikirannya,  apakah mungkin Andika membohonginya.  Benarkah Daniel dan Tante Ledya baik-baik saja, atau justru sebaliknya.  Namun pikiran itu segera ditepisnya.  Dan ia berkonsentrasi melanjutkan perjalanannya.

Malamnya, di dalam tenda, Anton bermimpi.  Ia melihat Daniel dan tante Ledya tubuhnya berdarah-darah.  Di dekat mereka ada dirinya, kakek, ayah dan ibunya serta Andika.  Dari jauh ia melihat Rini sedang berjalan mencarinya.  Anton hendak mengejar gadis itu, namun Daniel dan ibunya menarik kakinya dan meminta tolong.  Anton menolak, karena ia hendak menyusul kekasihnya itu.  Ia berusaha melepaskan diri dan mencoba berlari mengejar Rini.  Namun seluruh keluarganya ikut menahan dirinya.  Tiba-tiba muncul ayah Rini di hadapannya dengan membawa ember berisi air lalu menyiramkan ke wajahnya.

Anton segera terbangun.  Nafasnya terengah-engah.  Ia merasa mukanya basah.  Dan ketika mengangkat kepalanya, ia melihat Ino sedang memegang sebuah gayung dan ke-5 orang teman lainnya berdiri di luar tenda sambil tertawa.

“Happy Birthday!!!!!” sorak mereka.

Anton melirik ke arah jam di tangannya, tepat pukul 12 malam.  Ia tersenyum pada teman-temannya.   Rupanya mereka sedang membuat kejutan untuknya.  Diusapnya mukanya yang basah.

“Untung kau tidak menyiramkan air ke seluruh tubuhku.  Aku bisa mati karena hipotermi,”omelnya, yang disambut dengan tawa lebar seluruh temannya.

Malam itu, ulang tahunnya dirayakan di depan api unggun bersama ke-7 orang teman karibnya.  Ia meniup sebatang lilin dan memotong kue bolu kecil yang telah mereka persiapkan.  Semua tertawa dan bergembira.  Namun, Anton tidak dapat menikmati keriangan di malam hari itu.  Ia merasa tubuhnya seperti melayang di udara.  Semua yang dilihatnya seperti bayang-bayang.

“Apa yang sebenarnya terjadi?” bisiknya dalam hati.  Hatinya merasa gelisah dan sedih.  Diam-diam ia menghapus setetes air yang jatuh dari sudut matanya.

Hanya dua hari mereka berada di atas gunung.  Hari ketiga mereka telah turun dan melanjutkan perjalanan untuk kembali ke kota Surabaya.  Perjalanan sempat terhenti beberapa kali , karena  turun hujan deras.

Sesampainya di kota Surabaya,  mereka langsung beristirahat di rumah eyang Cipto.   Malamnya mereka berjalan-jalan berkeliling kota menggunakan mobil eyang Cipto lalu dilanjutkan  keesokan harinya.  Mereka seperti tidak puas-puasnya menikmati kehidupan di ibukota Jawa Timur tersebut.  Dan ketika tengah hari tiba, Anton dan teman-temannya mampir di sebuah rumah makan untuk makan siang.

Saat semua temannya sibuk memilih menu makanan, Anton pamit hendak pergi ke toilet.  Ketika ia berjalan, seorang anak kecil penjual koran dan majalah mendekati dirinya dan menawarkan koran dan majalahnya pada Anton.  Terpikir selintas olehnya bahwa ia telah melewati 5 hari tanpa mengetahui berita terbaru.   Namun keinginannya untuk pergi ke toilet sudah tidak tertahankan lagi, sehingga ia urung  melihat-lihat koran dan majalah yang ditawarkan padanya.  Ia segera mempercepat langkahnya menuju kamar kecil tersebut.

Keluar dari toilet, anak kecil penjaja koran dan majalah itu sudah tidak ada.  Anton pun segera kembali ke meja makan tempat teman-temannya berkumpul.  Dari jauh Anton melihat teman-temannya sedang serius berdiskusi.  Ia pun segera mendekati mereka.  Melihat kedatangan Anton, semua temannya segera menghentikan pembicaraannya dan terdiam.  Suasana menjadi hening.  Anton menatap mereka semua dengan heran.

“Ada apa?”tanya Anton.  Ia bingung melihat keanehan sikap teman-temannya.

Namun tidak ada seorang pun yang menjawab.

Tiba-tiba Anton melihat sebuah majalah yang dipegang Feri dan seperti hendak disembunyikan olehnya.    Ia segera merebut majalah tersebut dari tangan Feri.  Majalah ini merupakan majalah yang menyajikan berita-berita teraktual terutama masalah politik dan ekonomi.  Tanggal yang tertera di covernya menunjukkan bahwa majalah itu diterbitkan hari ini.  Matanya tertumbuk pada headline yang tertulis besar-besar di cover.

KONGLOMERAT HERU HERLAMBANG DAN BINTANG FILM TERKENAL ANITA DEWI TERTANGKAP BASAH DI KAMAR HOTEL

Anton segera membuka halaman yang memuat judul tersebut dan dengan hati-hati membaca tulisan demi tulisan di dalamnya.  Ketika seorang tukang koran dan majalah melewati mejanya,  Anton segera memanggilnya dan membeli semua majalah dan koran terbitan terbaru.  Dan ia menemukan bahwa semua majalah memuat berita yang sama sebagai headline.  Koran-koran sudah tidak menempatkannya sebagai headline, namun tetap menyajikan kabar terbaru mengenai kelanjutan kisah  tersebut dan menyebutnya sebagai skandal  terbesar di penghujung tahun ini, karena sangat mengejutkan khayalak ramai.

Anton melihat tanggal kejadian, rupanya tepat 4 hari yang lalu.  Malam  hari  ketika ia memulai perjalanannya menuju Banyuwangi.  Dan 12 jam setelah ia bercakap-cakap dengan Rini melalui telpon mengenai kondisi Daniel serta tante Ledya.

Setelah membaca dengan teliti semua artikel yang memuat berita tersebut, ia pun dapat menarik kesimpulan.  Rupanya, Wildan, suami Anita Dewi, produser film ternama itu, mengajak sejumlah wartawan serta polisi menggeledah sebuah kamar hotel di Jakarta, tempat Heru Herlambang dan Anita Dewi menginap.  Di dalam kamar mereka menemukan Anita Dewi dan Heru Herlambang sedang berduaan.

Yang menyakitkan, mereka tidak hanya membahas perselingkuhan tersebut.  Kehidupan pribadi pengusaha besar terkenal itu yang selama ini tidak banyak diketahui publik, mulai diperbincangkan.  Istrinya yang berselingkuh dengan seorang bule dan kabur ke Inggris serta putra sulungnya yang pecandu narkoba dan tewas overdosis.  Intinya, semua media membahas bahwa di balik kewibawaan seorang Heru Herlambang tersimpan banyak cerita miring yang sangat menarik untuk  dikonsumsi publik.

Kabar terakhir, rupanya pengusaha itu sempat ditahan di kantor polisi selama beberapa hari, dan sekarang sudah dibebaskan dengan jaminan.

Usai membaca, Anton segera meninggalkan teman-temannya serta makanan pesanannya, dan langsung mencari wartel terdekat.  Ia memutar nomor telepon rumah Rini, baik yang di Jakarta maupun Bandung.  Namun tidak ada yang mengangkatnya dan hanya terdengar suara answering machine.  Anton menitip pesan lewat answering machine tersebut dan juga lewat pager kekasihnya itu.  Pesannya hanya satu : Rini, kau ada di mana?  Aku sangat cemas.  I miss you.

Hari itu juga, dengan menggunakan kereta,  Anton segera pulang ke Bandung.   Ia ingin bertemu Rini.  Gadis itu pasti sangat sedih dan terguncang.  Ia ingin memeluknya dan menghiburnya.

Sepanjang perjalan telinganya terasa panas, karena orang-orang yang duduk di dekatnya tampak asyik membahas skandal yang menghebohkan dan memalukan itu.

“Rini, jangan bersedih.  Aku akan segera menemanimu,”bisiknya berulang kali.  Ia berharap, kekasihnya itu dapat mendengar suara hatinya.

 

Jakarta, Agustus 1985

“Hey, siapa itu?”

“Hallo Pa!  Ini aku, Armand.   Ha…. Surprise sekali.  Halo tante Erni apa kabar?  Wah, maaf, rupanya aku mengganggu keasyikan kalian.” 

“Kau…???!! Bagaimana kau bisa masuk ke sini?…Hh…. Simon! Simon!”

“Tenang, Pa. Simon tidak bersalah.  Aku yang membohongi dia.  Aku bilang Papa menyuruhku datang.”

“Apa maumu?”

“Aku mau minta uang.”

“Untuk apa?”

“Aku mau jalan-jalan ke Bali.”

“Hanya untuk itu buat apa ke mari?  Kau kan punya uang sendiri.”

“Tabunganku habis dan uang bulananku tidak cukup.”

“Kenapa?”

“Karena aku mau ke Bali bersama 7 orang teman-temanku.”

“Lalu…?”

“Aku sudah berjanji pada mereka untuk menanggung semua biaya transport, penginapan, makan, jalan-jalan dan bahkan oleh-oleh.”

“Anak tidak tahu diri!  Memangnya kau sudah bisa mencari uang sendiri?  Berani sekali kau ….”

“Tenang, Pa.  Ingat, aku banyak mengetahui rahasia-rahasia kecil papa dan aku belum pernah membocorkannya.  Kecuali….”

“Dasar bangsat!  Anak kurang ajar!  Kau berani mengancamku, ya?”

“Bukankah lebih baik begitu.  Aku seorang bangsat dan semua orang melihatku sebagai bangsat. Atau aku harus seperti papa.  Di depan orang lain seperti orang suci, padahal sebenarnya …….papa tidak lebih dari seorang bajingan.  Betul kan?”

”Keluar kau dari sini dan jangan pernah muncul di hadapanku lagi!  Tidak akan kuberikan uangku  sesen pun padamu!”

“Papa tidak takut aku akan membongkar seluruh rahasia papa?”

“Hahaha….. Tidak akan ada orang yang mau mempercayai omongan kutu busuk sepertimu!”

“Heh….Aku sudah kebal mendengar hinaanmu.  Oke, aku pergi. Semoga Tuhan membalas segala hinaan dan caci makimu selama ini padaku.  Suatu saat aibmu akan terbuka dan kau akan merasakan menjadi orang terhina dan terkucil seperti aku.  “

Posted in Novel

YOU’RE THE INSPIRATION (part 25)

Pagi hari tiba. Dan tidak seperti beberapa bulan sebelumnya. Kini, setiap pagi hari terasa begitu indah di mata Rini.  Bangun tidur menjadi saat yang amat menyenangkan.

Rini berjalan ke balkon kamarnya dan mengamati ke bawah. Siang ini ia akan pergi ke Jakarta. Dan sebelum berangkat, Rini ingin menikmati sekali lagi pemandangan indah halaman belakang rumahnya. Dulu ayahnya khusus memanggil perancang taman terkemuka untuk men-design tamannya sehingga terlihat indah.  Dan selama 3 tahun tinggal di rumah ini, baru sekarang ia menyadari betapa indah pemandangan di halaman rumahnya.  Sebuah kolam renang, pepohonan, bunga dan rerumputan, sungguh merupakan perpaduan yang serasi.

Anton Ananta.  Sekali lagi nama itu terucap di hatinya.  Ada debar halus di dadanya setiap kali mengingat nama itu.  Sudah beberapa bulan ini lelaki itu menjadi sosok yang istimewa di hatinya.  Dan semakin waktu berjalan, semakin ia menyadari bahwa hatinya semakin banyak dipenuhi oleh bunga.  Dunia terasa lebih cerah, tidak muram dan gelap sebagaimana yang dulu ia rasakan.

Anton begitu percaya diri, periang, ramah, dan ia merasakan sebuah ketulusan setiap kali lelaki itu berbicara dengannya.   Lelaki itu pun mampu membuatnya tersenyum dan tertawa lepas.

Beberapa kali Anton menyinggung soal mas Armand di depannya.   Hal itu membuatnya tidak habis pikir.  Karena selama ini ayahnya selalu melarangnya mengingat-ingat mas Armand.  Rini pun  berusaha keras untuk menuruti permintaan ayahnya itu,   karena ia percaya bahwa ayahnya pasti benar.  Hingga akhirnya Anton datang.  Membuka kembali luka lamanya serta memaksanya untuk menghadapi semua itu sebagai kenyataan hidupnya.   Anton juga mengajarinya untuk menangis dan mengeluarkan seluruh kesedihannya.

Kenangan 3 tahun yang lalu, merupakan kenyataan paling pahit dalam hidupnya.

Siang itu Rini sedang mengikuti pelajaran Biologi di sekolahnya.  Tiba-tiba wali kelasnya masuk dan menyuruhnya pulang.  Di depan sekolah, Pak Hari telah datang menjemputnya.   Wajah sopirnya itu terlihat tegang.

Sesampainya di rumah, ia melihat sebuah bendera kuning dan  halamannya dipenuhi orang yang lalu lalang.   Ia berjalan memasuki rumahnya dengan hati dipenuhi tanda tanya.

Di dalam rumah, ayahnya dan beberapa orang kerabatnya tengah duduk di atas karpet.  Mereka semua mengenakan baju berwarna gelap dengan wajah yang dipenuhi duka.  Di hadapan mereka ada seseorang yang terbujur kaku dibalut kain kafan.

Perlahan Rini mendekat dan mendekat.  Ia melihat wajah orang itu dengan jelas.  Wajah yang sangat dikenalnya.  Wajah yang selalu ada di hatinya.  Namun, tidak seperti yang lainnya, tidak ada setetes pun air mata mengalir di pipinya.  Karena ia sudah terbiasa melihatnya.  Ia sudah biasa melihat mas Armand tidur dengan pulas.  Tidak ada yang perlu ditangisi.

Tiga hari sebelumnya,  Mas Armand ditemukan ayahnya dalam kondisi tidak sadarkan diri di kamarnya dengan mulut berbusa.  Saat itu juga beliau membawa Mas Armand ke rumah sakit dan dirawat di sana.  Dokter menyatakan bahwa kakaknya itu  keracunan obat-obatan terlarang.  Dan ternyata sudah lama mas Armand kecanduan barang-barang haram tersebut.

Menjelang pemakaman, ibunya datang dari Inggris.  Dengan perut membuncit, karena sedang hamil, ibunya berlari dan menangis memeluk tubuh  Armand. Ibunya sudah terbang dari Inggris  sejak mendengar Mas Armand dirawat, namun kedatangannya terlambat, karena ketika ia tiba, putranya tersebut sudah tiada.

Saat pemakaman, semua orang menangis  kecuali dirinya.  Dan ia pun dilupakan.  Semua orang hanya menghibur ayah dan ibunya.

Seminggu kemudian ibunya kembali ke Inggris.  Ayahnya pun kembali sibuk dengan bisnisnya.  Dan tinggallah Rini seorang diri di rumah. Setiap hari ia membeli nasi uduk, makanan favorit mas Armand, dan meletakkannya di kamar kakaknya itu.  Kemudian ia memasang lagu-lagu The Beatles serta memutar berulang kali  lagu “Hey Jude” yang merupakan lagu favorit mas Armand.  Mas Armand sering pergi selama berhari-hari.  Namun ia selalu pulang.  Begitu pula sekarang.  Rini yakin kakaknya pasti akan pulang.  Dan ia akan dengan sabar menunggunya.

Hingga 5 hari kemudian ayahnya memergoki Rini yang sedang menunggu mas Armand pulang.  Ayahnya tidak mengatakan apa-apa.  Tetapi, hari itu juga semua foto mas Armand dan barang-barang miliknya dipindahkan ke gudang.

Keesokan harinya Rini dibawa ke seorang psikolog.  Di depan psikolog selama dua jam ia hanya duduk membisu dan tidak mau berbicara sepatah kata pun.

Seminggu kemudian, ayahnya memindahkannya dari Jakarta ke Bandung dan menaruh pembantu-pembantu terbaiknya untuk menjaga Rini di rumah barunya  itu.  Semua yang bekerja di situ adalah orang-orang yang minimal telah mengabdi selama 5 tahun di keluarga mereka.   Mereka semua mempunyai tugas tambahan, yaitu mengawasi dirinya.

Sebelum pergi ayahnya berpesan agar ia harus terus berprestasi di sekolahnya dan ia harus melupakan mas Armand, karena kakaknya tidak akan pernah kembali lagi.

Rini sangat mencintai dan mengasihi ayahnya.  Ia   mengetahui kalau beliau  sangat terpukul dan sedih dengan kepergian mas Armand.  Ia pun berjuang keras mengikuti pesan ayahnya itu.  Ia berprestasi di sekolahnya dan berusaha melupakan mas Armand.

Namun………..dari hari ke hari ia merasa dunianya semakin terpisah dengan orang-orang di sekitarnya.  Ia seperti hidup dalam tabung kaca dan tidak dapat keluar dari dalamnya.  Dunia menjadi sangat kelam dan muram di matanya.  Tetapi anehnya, ia tidak dapat menangis.  Hanya pianonya yang menjadi saksi kegalauannya itu.

Rini berjalan ke perpustakaan, mencari rak yang berisi buku-buku dongeng.  Dulu, sewaktu ia kecil, mas Armand sering membacakan dongeng untuknya.

Rini mengambil sebuah bingkai foto yang sengaja ia simpan di dalam rak buku tersebut 3 tahun yang lalu.  Satu-satunya foto yang masih tersisa.

Memandang wajah mas Armand, hatinya terasa pedih.  Air matanya perlahan turun.   Dan akhirnya ia terisak.  Ia menangis. Menangis yang sangat lama. Tangisan yang disimpannya selama 3 thn.

Ia menangis terus hingga rasa sesak dan luka di dadanya berkurang. Mas Armand memang benar-benar telah pergi meninggalkannya.  Pergi dengan meninggalkan berbagai pertanyaan dan penyesalan dalam dirinya.  Mengapa mas Armand melakukan semua ini?  Mengapa ia tidak dapat menolongnya?  Mengapa semua ini terjadi?  Pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah ia temukan jawabannya.  Suatu kenyataan yang selama bertahun-tahun selalu dihindarinya.  Dan ketika ia menyadarinya, hatinya menjadi amat sangat terluka.

Namun kini ia berusaha keras keluar dari tabung kaca yang selama ini membelenggunya.   Dan itu semua karena Anton.  Anton pulalah yang membuatnya kuat untuk menerima semua kenyataan yang menimpanya.

Anton adalah orang pertama yang mampu membuatnya tertawa dan Anton pula satu-satunya orang yang mampu membuatnya menangis.  Dengan ada Anton di sisinya, Rini yakin ia tidak akan sendirian menghadapi semua gelombang hidupnya.  Ada seseorang yang siap menjadi tempatnya berteduh ketika cuaca panas menerpanya.  Ada seseorang yang akan memayungi saat hujan membasahi tubuhnya.  Seseorang yang sangat berarti baginya.  Dan Rini pun selalu berharap, Anton akan berada di sisinya untuk selama-lamanya.

Rini meletakkan kembali foto mas Armand di tengah-tengah buku dongengnya.  Ia bertekad, setelah ini ia benar-benar harus keluar dari belenggu dukanya dan menyambut hari esok yang cerah.  Ia akan menyusun mimpi-mimpinya dan berjuang keras meraih segala cita-citanya.  Ia mencintai kehidupannya dan akan menjalaninya dengan bahagia.

“Selamat tinggal kegelapan. Selamat datang matahari.”

 

Jakarta, 27 Februari 1987 malam

 “Rini, apa pun yang terjadi kamu harus tetap tegar, okey?”

“Aku tidak mengerti.”

“Aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu.”

 “Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa sikap Mas  Armand aneh sekali?”

“Tidak ada apa-apa.  Terima kasih sudah menjadi adikku.  Kau adalah peri kecilku. Aku sayang padamu……”

(In Memoriam Muhammad Armand.  Lahir : Jakarta, 4 November 1962.  Meninggal : Jakarta, 3 Maret 1987) 

Blast of Yellow Sunflowers

Sumber : http://1.bp.blogspot.com/_eW76PIli8Tw/TJOX4474RxI/AAAAAAAAE14/S2QagwWWogk/s1600/Blast+of+Yellow+Sunflowers.jpg

Posted in Novel

YOU’RE THE INSPIRATION (part 24)

Desember 1990

Hari-hari berlalu begitu cepat.  Tanpa terasa sekarang sudah di penghujung tahun.  Anton merenungi hari-hari yang telah dijalaninya.  Sejak kehadiran Rini di sisinya, ia benar-benar mendapatkan kebahagiaan yang seutuhnya.  Gadis itu begitu memahami dirinya dan selalu mendengarkan segala cerita maupun keluh kesahnya dengan penuh perhatian.

Bagi Anton, Rini ibarat sebuah rumah yang menjadi tempatnya pulang setelah bepergian ke mana pun.  Rumah yang menjadi tempatnya berteduh dan mencari kenyamanan bila ia merasa lelah.  Sebuah tempat di mana Anton tidak bisa berpura-pura dan selalu menjadi dirinya sendiri.  Dan sebuah tempat….. di mana Anton selalu ingin menjaganya serta merawatnya dengan baik.

Hubungannya dengan Rini berjalan sangat mulus, jauh lebih mulus daripada yang diduga sebelumnya.   Sebagian besar teman-temannya ternyata turut mendukung dan menghormati keputusannya untuk memilih Rini.  Hanya sebagian kecil yang memandang sinis kedekatannya dengan Rini, termasuk Fifi, dan teman-teman gank-nya.   Beberapa kali mereka berusaha untuk merecoki hubungan Anton dengan Rini, namun segala usaha mereka sia-sia saja.  Kekuatan cinta antara Anton dan Rini terlalu kuat untuk dipisahkan.

Yang lebih menyenangkan hati Anton adalah melihat perubahan pada diri kekasihnya itu.   Rini terlihat lebih ceria dan berusaha keras untuk berhubungan baik dengan semua teman Anton.  Walaupun sifat pendiam dan introvert gadis itu tetap tidak bisa disembunyikan, namun ia sudah dapat tersenyum, berbicara lebih banyak dan menatap orang lain dengan lebih ramah serta hangat.  Gelar Snow Black yang telah lama disandangnya pun perlahan memudar.

Kalaupun ada yang menggelisahkan Anton adalah keinginan ayah Rini untuk menyekolah putrinya ke luar negri tamat SMA nanti.  Namun Rini meyakinkan kekasihnya bahwa ia akan berusaha keras untuk membujuk ayahnya agar diperbolehkan kuliah di Indonesia.

“Kau katakan pada ayahmu akan kuliah di mana?”tanya Anton suatu ketika.

“Tentu saja di universitas negri yang terbaik di sini,”jawab Rini bersemangat.

“Kau akan mengambil jurusan apa?”

“Fakultas Ekonomi.  Itu keinginan papa.”

“Apakah kau menyukainya?”

“Aku akan berusaha.”

“Apakah kau tidak punya cita-cita?”

Rini berpikir sejenak, lalu tersenyum malu-malu.

“Sebelum bertemu denganmu, aku tidak punya cita-cita.  Namun setelah bertemu denganmu, ada sebuah cita-cita terlintas dalam pikiranku,”jawab gadis itu pelan.

“Apa itu?” Anton bertanya penuh rasa ingin tahu.

Rini menggeleng, lalu tersenyum misterius.

“Kapan-kapan akan kuberitahu.  Tetapi tidak sekarang,” jawabnya penuh rahasia.

Saat itu Anton pura-pura merajuk karena tidak diberitahu Rini.  Namun gadis itu membujuknya dan balik bertanya.

“Kau sendiri mau masuk jurusan apa?”tanya gadis itu.

“Aku tidak akan memberitahu.”

“Aku akan menebaknya.”

 “Kau tidak akan bisa menebak.”

“Kau orangnya apik dan pandai menggambar.  Kau cocok jadi………,”Rini pura-pura berpikir keras, lalu melanjutkan ucapannya,”Kau cocok jadi seorang Arsitek!”

Anton cukup ‘surprised’ mendengarnya.  Tebakan gadis itu sangat tepat.  Hasil psikotesnya beberapa waktu lalu memang menunjukkan bahwa ia sebaiknya memasuki jurusan teknik arsitektur dan kebetulan ia sangat berminat di bidang itu.

Rini memandang Anton dengan wajah penuh kemenangan.

“Tebakanku tepat, kan?”tanyanya dengan mata berbinar-binar, lalu tertawa kecil.

Anton tidak menjawab.  Ia selalu terpesona bila melihat  Rini tertawa.   Rini jarang tertawa di depan orang lain.  Namun di hadapannya, gadis  itu telah berulang kali menunjukkan tawanya yang khas.

Rini juga sudah beberapa kali mengunjungi Daniel dan kadang-kadang mengajaknya berjalan-jalan. Dari ekspresi wajahnya dapat dilihat bahwa perhatian yang diberikan kepada bocah itu  benar-benar tulus.

 “Kenapa kau menyukainya?”

 “Hm,  kau cemburu rupanya.”

 “Ya, setiap kali bertemu bocah itu kau pasti mengabaikan aku.”

 “Itu karena Daniel lebih tampan darimu.”

Setelah itu mereka tertawa bersama, saling bercanda dan bercakap-cakap tanpa pernah kehabisan bahan pembicaraan.

Di lain kesempatan, ketika sedang mendengarkan lagu-lagu The Beatles, Rini berbicara lirih dengan pandangan mata sendu.

“Daniel mengingatkan aku pada mas Armand.  Mereka berdua sebenarnya sangat membutuhkan bantuan.  Namun orang-orang di sekitarnya sulit sekali untuk memahaminya. ”

Anton memejamkan matanya dan mengingat berbagai  kenangan manis dan menyentuh hati bersama gadis pujaannya itu.  Mereka belum lama berhubungan, namun ia merasa seperti sudah bertahun-tahun mengenal gadis itu.

 Lamunan Anton terhenti ketika ia menyadari jam telah menunjukkan pukul 4 sore.  Saat ini ia sedang sibuk berkemas  mempersiapkan kepergiannya bersama beberapa orang teman seangkatannya yang juga menjadi anggota kelompok pecinta alam sekolahnya.  Ia mulai mengecek barang bawaannya satu persatu.  Rencananya, dalam rangka mengisi liburan semester 1, ia dan teman-temannya akan melakukan kegiatan mendaki Gunung Raung di Jawa Timur.  Pendakian ini merupakan acara  perpisahan karena setelah itu mereka akan vakum dari kegiatan pecinta alam dan mempersiapkan diri menghadapi Ebtanas serta ujian masuk perguruan tinggi.

Mereka akan berangkat naik kereta malam ini menuju Surabaya.   Hari ini orang tua  dan adik Anton khusus datang dari Jakarta untuk mengambil raport sekalian melepas kepergian putra sulung mereka untuk mendaki gunung.

Hasil raport yang diterima tadi pagi cukup membanggakan ayah serta ibunya.  Prestasinya meningkat  tajam di semester ini.  Ia berhasil meraih rangking 9 di kelasnya.  Memang masih kalah dibandingkan kekasihnya yang lagi-lagi meraih peringkat pertama di kelasnya sekaligus juara umum di sekolah.  Namun Anton merasa sangat senang karena telah bisa membuktikan pada keluarganya maupun teman-temannya, bahwa hubungannya dengan Rini telah banyak memberikan dampak positif bagi dirinya.

Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu di kamarnya.

“Kak Anton, ada temannya datang,”ujar Andika dari balik pintu.

“Siapa?”

“Kak Rini.”

Anton segera keluar kamar dan melihat kekasihnya itu sedang duduk di ruang tamu ditemani ayah dan ibunya.  Orang tuanya kelihatan sudah maklum dengan sikap Rini yang malu-malu dan tidak banyak bicara.  Mereka bersikap sangat ramah dan berusaha membuat Rini senyaman mungkin.  Selama ini Anton sudah banyak bercerita tentang Rini pada kedua orang tuanya.

Ketika menyadari kehadiran Anton, Rini langsung memandang ke arahnya dengan perasaan bersalah.

“Aku sangat gugup,”bisik Rini, “Aku jadi tidak bisa banyak bicara.”

“Tenang saja, ayah dan ibuku pasti mengerti,”Anton menenangkan.

“Mereka pasti menyesal mengapa kau memilih pacar seperti aku,” Rini mulai tampak panik.

Anton menggenggam tangan Rini, dan menatapnya lembut.

“Rini, mereka selalu bahagia bila melihat aku bahagia.  Aku sangat bahagia bila bersamamu.”

Rini mulai  terlihat tenang dan perlahan-lahan berusaha menguasai keadaan.  Anton pun segera membimbingnya menuju meja makan.  Di sana ayah, ibu, kakek dan Andika telah berkumpul.  Sore ini mereka mengadakan acara syukuran untuk melepas kepergiannya malam ini.

Sikap keluarga Anton yang sangat welcome pada Rini lama-lama membuatnya jadi lebih nyaman dan bisa bercakap-cakap lebih santai dengan mereka.  Berada di tengah-tengah mereka  membuatnya dapat merasakan apa yang ia dambakan selama ini, yaitu  sebuah kehangatan.  Ia pun jadi mengerti, mengapa sorot mata Anton begitu percaya diri dan senantiasa gembira.

“Hey, bukankah tiga  hari  lagi kau berulang tahun yang ke-18?  Jadi kau berniat merayakan ulang tahun di gunung ya?”seru ibu sambil pura-pura melotot pada Anton.

Anton mengangguk sambil nyengir.

“Ya sudah, kita rayakan sekarang saja!” timpal kakek sambil mengangkat gelas di tangannya seperti hendak bersulang.

Mereka semua tertawa.  Suasana di ruang makan yang kecil itu terasa semakin hangat dan hangat.

“Kau benar-benar beruntung,”ungkap Rini usai acara makan-makan.

Anton mengangguk.

 “Ya, sejak mengenalmu, aku jadi menyadari kalau aku  termasuk orang yang paling beruntung di dunia ini.  Karena memiliki keluarga yang sangat menyenangkan dan ………….,” Anton memegang kedua tangan Rini, lalu melanjutkan ucapannya, “Aku memiliki seorang kekasih yang sangat membahagiakanku.”

Rini tersenyum.

“Anton, aku ada sesuatu untukmu,” ucap Rini malu-malu.

“Oya?  Apa?”

Rini mengeluarkan bungkus kecil dari tasnya dan diberikannya panda Anton.

“Ini hadiah ulang tahun dariku.  Tolong simpan di ranselmu dan jangan dibuka sebelum hari ulang tahunmu tiba.  Kau harus berjanji padaku.”

Anton memandangi bungkus kecil di tangannya.  Ingin rasanya ia membuka kado itu sekarang juga.  Namun ia harus berjanji pada Rini.

“Oke, aku berjanji padamu, aku hanya akan membukanya di hari ulang tahunku.”

Rini tertawa senang.

“Oya, liburan ini kau ke mana?”tanya Anton.

“Besok pagi aku akan berangkat ke Jakarta.  Papa telah menungguku di sana.  Insya Allah dua hari lagi kami akan berangkat ke Brunei.  Kebetulan papa ada urusan bisnis di sana.  Aku ikut sekalian berlibur.”

Sebelum masuk ke mobilnya, Rini memandangi  Anton lama.  Wajahnya tampak khawatir.

“Anton, hati-hati, sekarang musim hujan.  Aku sangat mencemaskanmu,” ucapnya lirih.

Anton mengangguk dan balas menatap Rini lama.  Ini untuk pertama kalinya mereka akan berpisah cukup lama dan hatinya terasa berat .

“Aku pasti akan merindukanmu,” bisiknya di telinga Rini.

“Aku juga.”

“Aku cinta padamu.”

“Sama.”

Rini melambaikan tangannya tanda pamit pulang.  Mobil gadis itu segera meluncur pergi meninggalkan Anton yang entah kenapa tiba-tiba merasa sangat sedih.  Suatu kesedihan yang tidak jelas penyebabnya.

“Ada apa denganku?”Anton bertanya pada dirinya sendiri.

“Bukankah kami hanya akan berpisah selama seminggu?  Kenapa aku harus sesedih ini?” gumamnya heran.

Posted in Novel

YOU’RE THE INSPIRATION (part 23)

Bel berdentang.  Ini menandakan waktu pulang telah tiba.  Siang ini Anton ada janji dengan Fifi untuk bertemu di kantin.  Dan kebetulan karena hari Sabtu, beberapa orang teman pecinta alamnya pun ikut berkumpul di kantin sambil menunggu latihan sore  ini.

“Hai semua…”sapa Fifi.

“Halo Fifi….”serempak Anton dan kawan-kawannya menjawab.

“Heru, saya duduk di samping Anton ya,” rajuk Fifi dengan pandangan memohon pada Heru yang kebetulan duduk di dekat  Anton.

Heru langsung mencibir.

“Ya deh…. Kalau gadis cantik memang udah jatahnya Anton,”dengus Heru sambil berpindah tempat duduk yang kemudian disambut derai tawa teman-temannya.

Kehadiran Fifi menambah kemeriahan canda tawa yang ada.  Ia pandai bergaul dan sudah sering bergabung dengan Anton cs.  Namun tidak demikian dengan Anton.  Semakin Fifi mendekati dirinya, ia semakin merasa bersalah.

“Hai Rini…”pekikan Fifi membuat tenggorokan Anton tercekat.  Ia menatap nanar pada seraut wajah yang secara tidak terduga muncul di depan pintu kantin.  Tidak hanya Anton, semua yang duduk di meja itu pun menatap takjub karena tidak biasanya sosok introvert dan pendiam itu datang ke kantin.

“Ada apa?”mata Rini fokus menatap Fifi,  seolah-olah hanya ada Fifi di kantin tersebut.

“Iya, nanti kita ngobrol,”Fifi tersenyum ramah, “Kau ikut makan  yuk.  Ayo duduk di sini…”Fifi menunjuk tempat di sebelahnya sembari merapatkan tubuhnya ke dekat Anton sehingga tempat duduk  panjang tersebut menjadi cukup lengang untuk diduduki 1 orang lagi.

Kendati sempat ragu-ragu, akhirnya Rini menempati tempat duduk yang ditawarkan Fifi, namun ia menolak tawaran makanan dan minuman untuknya.  Wajahnya mulai menampakkan kegelisahan.   Ia merasa tidak nyaman berkumpul dengan orang-orang yang tidak begitu ia kenal.  Tidak hanya itu, tapi ……..

“Fifi, ada apa ini?”bisik Anton, ia mulai merasakan firasat tidak enak.

 “Tenang pangeran…. Aku hanya ingin membantu menyelesaikan masalahmu.” Fifi balas berbisik.

“Oya, aku tadi mengatakan ada hal penting yang ingin kubicarakan di kantin denganmu ya….”  Fifi mengalihkan pandangannya pada Rini lagi.

Rini mengangguk.  Kepalanya menunduk dan tidak membalas tatapan mata Fifi.

“Aku hanya ingin kau berkenalan dengan teman-teman Anton.  Selama ini Anton belum pernah memperkenalkan mereka padamu kan?”

Rini mengangguk sambil tersenyum kecil pada  orang-orang yang diperkenalkan padanya.

“Dulu saat aku masih berpacaran dengan Anton,  ia selalu memperkenalkan semua teman-temannya padaku,”cetus Fifi tenang, “ Yah, setelah beberapa bulan putus, sekarang kami sepakat untuk jalan bareng lagi…”

“Apa-apaan kau Fi?”sela Anton tegang.  Darahnya mulai mendidih apalagi melihat wajah Rini yang memucat.

“Lho, memang benar kan?  Kau sendiri mengaku masih menyukaiku dan kita sudah beberapa kali jalan bareng,”sahut Fifi tanpa perasaan bersalah.

  “Itu tidak seperti yang kau pikirkan!”erang Anton.

“Yang aku ucapkan tadi semuanya adalah fakta, bukan hanya sekedar pemikiranku saja!” Fifi balas menantang.

Anton kehilangan kata-kata.  Ditatapnya  mata Rini selama beberapa saat.  Sakit rasanya melihat luka di mata gadis itu.  Ia menyesali  kepengecutannya selama ini.  Kini ia harus menerima hukumannya.

“Ya, supaya kau tahu saja.  Anton memang senang bergaul.  Tapi dari sekian banyak gadis yang ia dekati, tentu saja ada yang paling istimewa.  Dan gadis itulah yang ia perkenalkan pada teman-temannya,”Fifi menambahkan.

“Itu saja?” Rini bertanya pelan pada Fifi.  Fifi mengangguk sambil tersenyum penuh kemenangan.  Rini pun beranjak pergi.  Ia sempat tersenyum kecil pada Anton sebelum akhirnya benar-benar hilang dari pandangan mata.

Anton tidak dapat menahan amarahnya. “Ternyata kau memang belum berubah!”seru Anton geram.

“Justru aku merasa kasihan padanya.  Aku tidak ingin dia berharap terlalu banyak darimu!”Fifi tersenyum mengejek, ”Seseorang yang tidak pernah bergaul seperti dia, didekati lelaki tampan seperti dirimu, pasti hatinya sangat berbunga-bunga.  Padahal kau hanya penasaran  dengannya dan merasa iba setelah mendengar kisah keluarganya yang tragis itu.  Betul kan?”

“Kau tahu apa tentang keluarganya?  Kau tahu apa tentang kami berdua?  Dan kau tahu apa tentang perasaanku?”Anton menatap Fifi tajam.

“Kisah keluarganya sudah menjadi rahasia umum.   Sebagaimana kisah kalian berdua yang selalu berusaha kau tutupi.  Akhirnya terbongkar juga kan?  Dan kau… seandainya kau benar-benar menyukainya, kenapa harus back street  di hadapan teman-temanmu sendiri? Bahkan pada sahabat karibmu sendiri, kau pun malu untuk mengakuinya, kan?”

Anton melirik Ino.

“Sorry Ton, aku kelepasan…”desis Ino dengan wajah pucat.

Anton mulai merasa muak.  Ia marah pada Fifi, pada Ino dan pada dirinya sendiri.  Takut emosinya akan meledak, Anton segera  berjalan cepat keluar kantin.

“Anton, mau ke mana?”Fifi mengejarnya.

“Aku mau bertemu Rini.  Aku akan menjelaskan semuanya.”

“Untuk apa?”

“Karena aku sayang sama dia.  Aku jatuh cinta padanya,”jawab Anton pasti.

Fifi terbelalak tak percaya.

“Tidak mungkin, kau tidak mungkin jatuh cinta padanya,”suara Fifi bergetar.  Ia berusaha menghalangi langkah pria itu.

“Atau jangan-jangan……. Kau hanya menyukai hartanya?  Kau berharap bisa menjadi seorang pewaris tahta kerajaan?”

“Kau keterlaluan !”

“Kau yang keterlaluan!  Kau mendekati Rini dan pada saat yang bersamaan kau masih berhubungan denganku.  Kau pun mengakui kan, kalau kau masih menyukaiku?  Kau memang lelaki serakah.”

Anton tidak menjawab.  Ia semakin mempercepat langkahnya.  Namun sekali lagi Fifi berteriak memanggilnya dan ia pun terpaksa menghentikan langkahnya.

“Lalu, bagaimana dengan aku?  Bukankah kau masih menyukaiku?”seru Fifi dengan wajah frustrasi.

Anton menarik nafas panjang.  Butuh keberanian dan kekuatan yang besar dalam dirinya untuk mengatakan yang sebenarnya.

“Ya, aku memang menyukaimu.  Aku mengagumi kecantikanmu.  Sebagai wanita, kau sangat menarik.  Namun….. Saat ini hanya Rini satu-satunya wanita yang kuinginkan,”Anton pun langsung membalikkan badannya dan meninggalkan Fifi.

Secara  fisik, Fifi nyaris sempurna di matanya. Hampir semua kriteria yang diinginkannya dari seorang gadis, ada pada diri Fifi.  Tetapi, kini semua telah berubah.  Karena sekarang ia sudah tidak peduli dengan semua itu. Ia hanya menginginkan Rini Handayani.  Hanya Rini seorang.  Dan saat ini ia merasa sangat takut.  Ia takut Rini akan meninggalkannya.  Ia takut tidak dapat memiliki Rini.  Ia menyesali keangkuhan dan rasa takutnya selama ini.

Kini ia sudah tidak peduli lagi dengan pandangan orang lain.  Karena, membayangkan kehilangan Rini, ternyata jauh lebih menyakitkan dibandingkan segalanya.

Anton berlari mencari Rini di tempat parkir mobil.  Ia melihat sedan mewah gadis itu hampir beranjak pergi.   Anton mengejarnya serta mengetok kaca jendela mobil dan Rini pun membukanya.

Anton tertegun sejenak mengamati gadis di depannya itu.  Dua bulan sudah ia berhubungan dekat dengan Rini, sehingga ia dapat mengenali bahwa saat ini sorot mata gadis itu menyiratkan sebuah luka.  Ia benar-benar merasa bersalah.

“Bisa turun sebentar?  Aku ingin berbicara,” ujar Anton.

Rini terlihat ragu-ragu, namun akhirnya turun dari mobil lalu bersandar di badan mobil dan berdiri menyamping dari Anton.  Matanya menatap lurus ke depan, seolah-olah sedang menghindari tatapan mata Anton.

“Rini…. ,” suara Anton bergetar, “Aku sakit sekali melihat cara Fifi memperlakukanmu tadi.”

Anton terdiam, menunggu komentar dari Rini.  Namun, gadis itu diam seribu bahasa.

“Aku memang masih berhubungan dengan Fifi.  Aku juga beberapa kali jalan dengannya.  Tapi sungguh, kami hanya berteman.  Aku tidak punya perasaan khusus padanya.  Percayalah padaku,” lanjut Anton lagi.

Rini tetap tidak bersuara.

“Aku…. Aku … memang pengecut.  Aku tidak berani mengungkapkan hubungan kita di depan teman-temanku.  Aku tidak pernah membelamu ketika kau diejek dan dipermainkan.  Itu karena aku takut….  Aku takut kehilangan teman-temanku bila  mengetahui perasaanku yang sebenarnya padamu.”

Anton memandangi wajah Rini dan ia merasakan getar-getar di dadanya sudah tak terbendung lagi.  Hingga akhirnya ia pun mengucapkan kata-kata yang selama ini disimpannya.

“Tapi, sekarang aku sudah tidak takut lagi.  Aku sudah tidak peduli apa kata orang.  Karena membayangkan kehilanganmu jauh lebih menyakitkan daripada semua itu.  Rini….., kaulah satu-satunya orang yang kucintai selama ini.  Tolong jangan tinggalkan aku.”

Rini menundukkan kepalanya.   Perlahan dua tetes air mata mengalir di pipi gadis itu.

Anton memperhatikan wajah Rini dengan sungguh-sungguh.  Hatinya diliputi perasaan menyesal karena telah menyakiti hati seseorang yang sangat ia kasihi.

“Rini, maafkan keangkuhanku selama ini.  Maafkan aku yang telah mempermainkan perasaanmu…. Tapi sungguh, aku…….,” Anton berhenti berbicara, karena tiba-tiba Rini meletakkan jari telunjuknya di bibir Anton.

“Aku mengerti,” bisik Rini.

Rini menatap Anton lembut.

“Apakah kau mau memaafkanku?”tanya Anton dengan agak terbata-bata.

Rini mengangguk perlahan, matanya menyiratkan kesungguhan, “Semua itu tidak ada artinya dibandingkan apa yang telah kau berikan padaku.”

“Apa… Apa yang telah kuberikan padamu?”

“Kau membuatku hidup kembali.  Terima kasih, Anton…”

 Anton tertegun, nyaris tidak percaya dengan apa yang telah didengarnya.

Rini membalikkan badannya dan hendak memasuki mobilnya kembali.  Namun Anton menarik tangan gadis itu.

“Apa kau juga mencintaiku?”bisik Anton.

Rini tidak menjawab dan hanya menatap Anton dengan tatapan penuh kasih.  Anton bisa merasakan getar-getar cinta di sana.  Namun ia belum yakin.

“Please, jawab……”

“Ya…”

Tiba-tiba Anton merasa dadanya seolah-olah akan meledak.  Rasa  haru dan bahagia bercampur baur menyelimutinya.  Perlahan ia menyorongkan tubuhnya serta memeluk gadis di hadapannya itu dengan penuh kasih.

Sekejab kemudian  terdengar suara Pak Hari terbatuk-batuk keras dari dalam mobil.  Anton melepaskan pelukannya dan  baru menyadari bahwa ternyata ada beberapa pasang mata teman-temannya di lapangan parkir itu yang sedang memperhatikan dengan antusias apa-apa yang baru ia lakukan.  Mereka semua tampak takjub, seolah-olah tidak percaya dengan adegan yang baru saja mereka saksikan.

Anton tersenyum dan setelah itu merangkul Rini yang tampak salah tingkah.  Ia memandang ke arah teman-temannya yang tengah berdiri  memperhatikan dirinya dan Rini.

“Rini adalah satu-satunya wanita yang kucintai.  Aku akan selalu menyayangi serta melindunginya.  Jadi, siapa pun yang berani menyakiti gadisku ini…… dia akan berhadapan denganku,”ujar Anton tegas.  Ia sudah sangat yakin dengan kata hatinya.  Dan apa pun rintangannya, termasuk pandangan aneh dari teman-temannya, akan ia hadapi dengan gagah berani.  Semua karena cintanya pada seorang gadis yang begitu menyentuh hatinya.  Seorang gadis yang bernama….. Rini Handayani.

 

Agustus 1977

“Apa maumu?  Mengapa kau menyakiti putrimu sendiri?”

“Dia bukan putriku!”

“Dia putri kandungmu.  Kau lihat sendiri, ia mirip sekali denganmu!”

“Kenapa dia pintar bermain piano?  Garis darah keluargaku dan keluargamu tidak ada satu pun yang bisa bermain musik!!!”

“Tetapi dia benar-benar putrimu.  Aku berani bersumpah!”

“Perempuan murahan seperti dirimu mana mungkin bisa dipercaya.”

“Kau bedebah!  Kau boleh membenciku, tapi jangan kau sakiti anak kandungmu sendiri.  Sudah cukup Armand yang menjadi korbanmu!”

“Armand bukan putraku.  Dia sudah ada di janinmu sebelum kita menikah.”

“Kenapa kau selalu mengungkit-ungkit itu?  Bukankah kau sudah tahu sebelumnya dan tidak ada seorang pun  yang memaksamu untuk menikahiku?”

“Betul.  Aku melakukannya hanya untuk membalas jasa ayahmu.  Kasihan…………., beliau sangat menderita melihat keliaran putrinya.”

“Bohong!  Kau hanya menginginkan harta papaku.  Bila papa masih hidup, beliau pasti menyesal telah menikahkan aku denganmu!”

Posted in Novel

YOU’RE THE INSPIRATION (part 22)

Seharusnya Bu Laksmi guru Geografi, menjadi pengajar terakhir siang itu.  Namun beliau tidak masuk dan hanya menitipkan beberapa soal buat murid-murid kelas 3 Fisika 2 untuk dikerjakan.  Tidak sampai satu jam, para siswa telah menyelesaikan tugas yang diberikan dan setelah itu mereka pun diserang eforia karena jarang sekali ada kesempatan untuk bebas seperti saat itu.   Anton sebagai ketua kelas sudah tidak mampu mengendalikan teman-temannya.  Bahkan ia pun akhirnya ikut larut dengan suasana kelas yang penuh canda tawa sambil menunggu bel pulang berdentang.

Siang itu, Afandi, lelaki bertubuh gendut yang suka melucu namun sangat pemalu terhadap  wanita yang menjadi idamannya.  Mereka mengejek Afandi yang dianggap tidak mempunyai nyali, sehingga statusnya selalu menjomblo hingga saat ini.

“Kita jodohin Fandi yuk!”celetuk Leo yang kemudian diamini oleh hampir seluruh teman-temannya.

“Kayaknya Fandi cocok nih sama Snowblack,”seru Robi keras.

Hampir seluruh kelas tertawa mendengarnya.

“Setuju, setuju!”ujar Leo semangat, “Ayo Fan, kalau kamu sama dia, masa depan kamu terjamin!”

“Iya, hanya modal dengkul saja kamu bisa jadi bos besar!”sahut Wawan.

Fandi langsung merengut.

“Mendingan aku jadi jomblo terus,”sungut Fandi yang disambut dengan tawa cekikikan teman-temannya.

Anton duduk di kursinya sambil menundukkan kepalanya.  Ia berusaha menahan kemarahan yang membumbung di dadanya.  Ia ingin berteriak menyuruh teman-temannya berhenti tertawa.  Ia ingin meninju Leo, Fandi, Robi dan semua orang yang menjadikan Rini sebagai lelucon.  Ia ingin menarik Rini dari kursinya dan mengajak gadis itu keluar kelas agar bisa melepaskan diri dari kekejaman teman-temannya.  Namun, tubuh dan mulut Anton terasa kaku.  Dan sebagaimana yang sudah-sudah, ia hanya duduk terpekur dan bersikap seolah-olah tidak tahu apa-apa.  Dan membiarkan tawa, canda dan sahut menyahut di antara teman-temannya  berjalan terus.

“Atau jangan-jangan kau, Leo, yang diam-diam naksir Snowblack,”Afandi balas menyerang.

 Badan kurus Leo langsung gemetaran dengan wajah seolah-olah  ketakutan.

“Tidak…. Tidak…,”erang Leo, “Aku masih waras.”

Gemuruh tawa benar-benar membuat panas kuping Anton.  Ia sudah tidak tahan lagi dan langsung berjalan meninggalkan kelas.

Anton berjalan menuju markas pecinta alam dan duduk seorang diri di sana.  Ia berusaha keras menurunkan emosinya.  Rasa marah, sedih, dan benci pada dirinya sendiri berbaur menjadi satu di kepalanya.

Anton mengambil makalah mengenai navigasi dan berusaha serius mempelajari makalah tersebut.  Kebetulan Sabtu besok ia mendapat giliran untuk mengajar tentang navigasi kepada para siswa yang sedang mengikuti masa pendidikan  dan pelatihan sebelum dilantik menjadi anggota tetap.  Anton berharap dengan membaca ia dapat melupakan keresahannya.

Namun usahanya tidak berjalan mulus.  Berulang kali ia berusaha keras untuk memusatkan konsentrasinya membaca, namun tiap kali pula pikirannya terpecah.  Wajah Rini melintas terus di pikirannya.  Rasa sesal semakin menyelimutinya.

Anton terjaga dari lamunannya ketika terdengar suara pintu terbuka.  Tampak Ino sahabat karibnya memasuki ruangan.

“Kau sedang apa?  Kenapa tiba-tiba keluar kelas?” Ino bertanya sambil duduk di sebelahnya.

“Aku sedang menyiapkan bahan-bahan buat mengajar besok,”sahut Anton tanpa menoleh.

“Menyiapkan bahan atau …..….. menyiapkan bahan?” sindir Ino.

Anton tidak menjawab.  Ia terus membaca.

“Atau jangan-jangan berita yang  kudengar itu benar….?” Ino mengerling penuh arti.

“Apa maksudmu?” tanya Anton acuh tak acuh.

“Sepertinya sekarang kau punya kesibukan baru.   Sebuah misi rahasia,” Ino terkekeh.

Muka Anton memerah, namun ia tetap tidak mau menanggapi.  Ino pun menghentikan tawanya dan melanjutkan ucapannya.

“Ada beberapa orang yang memberitahu bahwa mereka beberapa kali melihat kamu di aula bersama Miss Snow Black.  Bahkan ada yang pernah melihat kalian pergi bersama menaiki sedan mewahnya.  Apa betul….?  Begitu rahasianyakah, sehingga aku pun tidak kau beri tahu?” Ino memandang Anton dengan sorot mata protes.

“Tidak.”

“Tidak apa…?  Tidak benar atau tidak salah?”

“Tidak mau jawab.”

“Kalau tidak mau menjawab, itu artinya kalian berdua memang memiliki hubungan khusus.  Aku memang sudah curiga.  Karena beberapa kali aku melihatmu sedang mencuri pandang ke arah gadis itu. “

“Kami hanya berteman.  Dia bukan tipeku.  Aku hanya penasaran dan kasihan sama dia,” jawab Anton datar.

“Kasihan?  Dia memiliki segalanya.   Sepertinya dia bukan orang yang patut untuk dikasihani.”

Anton menatap Ino tajam.  Tiba-tiba ia merasa marah.

“Ino, …….. apakah orang kaya tidak berhak merasa sedih bila kehilangan keutuhan keluarganya serta orang yang sangat disayanginya?”

Ino membelalakkan matanya.  Ia tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya.

“Apakah gosip yang beredar itu benar?  Benarkah ibunya meninggalkannya dan kawin lari dengan seorang bule?  Benarkah kakaknya tewas karena overdosis?”

Anton bungkam dan pura-pura sibuk membaca.  Padahal konsentrasinya sudah benar-benar buyar.

“Anton!  Aku serius.  Kau keluar kelas karena kau marah pada teman-temanmu, kan?  Kau tidak suka melihat mereka mengejek Rini.  Ya kan?”

Anton tidak bergeming.

“Hey, kau masih bisa mendengar suaraku kan?”Ino mulai tampak kesal, “Ayolah, jujur padaku.  Siapa yang sebenarnya ingin kau dekati?  Fifi atau Rini?”

Wajah Anton mulai terlihat serius.

“Ino, apa kau pernah melihat aku jatuh cinta?”

“Sering sekali.  Kau selalu jatuh cinta pada setiap gadis cantik yang kau temui,” Ino tersenyum nakal.

“Aku serius!” bibir Anton bersungut-sungut, “Kau tahu kan, aku sudah beberapa kali menjalin hubungan dengan cewek.   Menurutmu, apakah saat itu aku benar-benar sedang jatuh cinta?”

“Aku tidak tahu isi hatimu.  Yang jelas, kulihat kau sangat mengagumi gadis-gadismu itu.”

Wajah Ino mulai terlihat serius.

“Tetapi…,” Ino melanjutkan ucapannya.

“Tetapi apa?”

“Sikapmu akhir-akhir ini tampak aneh…”

 “Aneh bagaimana?”

“Kau sering melamun,  jarang berkumpul dengan teman-temanmu seperti dulu dan selalu ada saja alasanmu.  Satu lagi, sikapmu sangat aneh bila bersama Fifi.  Kau seperti tertekan.”

Ino menatap dalam mata Anton.

“Anton, tolong jawab dengan jujur. Bagaimana sebenarnya  perasaanmu ke Rini? Diakah yang membuatmu seperti ini? Sebenarnya dia kan yang kau suka dan bukan Fifi?”

Anton membisu beberapa saat., lalu menjawab pelan.

“Aku tidak tahu. “

Ino mengamati wajah Anton , seolah-olah sedang berusaha menyelami isi hatinya.

“Kau bukannya tidak tahu, kau hanya tidak mau mengakuinya,” ujar Ino yakin.

Anton terdiam.  Wajah Rini mulai menghiasinya isi kepalanya. Saat ini, di mana pun dan kapan pun, pikirannya selalu tertuju pada gadis itu.  Bahkan, detak jantungnya pun tak henti-hentinya menyebut nama gadis itu.

“Kenapa?  Apakah kau malu menyukai seorang wanita berkulit gelap, berkarakter aneh dan tidak punya teman?” tanya Ino lagi, sambil memandang Anton dengan tajam.

Anton  membisu.

“Atau, kau takut orang-orang menuduhmu telah menjadi seorang pria materialistis dan memanfaatkan gadis itu?”tebak Ino.

Anton tetap membisu.

“Heh, kau ternyata seorang pria yang angkuh dan pengecut.  Bahkan ketika dia ditertawakan dan diejek oleh teman-temanmu pun kau tidak pernah membelanya.  Ck…ck…ck… memalukan sekali,” Ino mencemooh.

 “Kau jangan menuduh sembarangan!” tukas Anton ketus.

Ino tertawa keras.  Lalu berjalan keluar meninggalkan markas sambil bersenandung.

When I fall in love, it will be forever…..  Or I’ll never fall in love…..”

 “Ino!  Suaramu fals, tahu!!” teriak Anton kesal.

Setelah suara Ino tak terdengar lagi, Anton termenung seorang diri.  Dalam hati, ia mengakui kebenaran kata-kata sahabatnya itu.  Namun  semuanya tidak semudah yang dipikirkan Ino.  Menumbuhkan keberanian serta keyakinan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.

Alone-Man-Standing-on-Top-Mountain.jpg

Sumber : http://love.catchsmile.com/wp-content/uploads/2016/06/Alone-Man-Standing-on-Top-Mountain.jpg

Posted in Novel

YOU’RE THE INSPIRATION (part 21)

“Ayo, Anton!  Cepat!  Nanti kita kesorean,” Fifi menarik tangan Anton setengah memaksa.

Dengan langkah berat Anton mengikuti Fifi berjalan ke luar sekolah dan menunggu kendaraan umum di pinggir jalan.  Anton terus menundukkan kepalanya.  Ia seperti sedang bermain kucing-kucingan.  Ia takut sekali bila Rini memergokinya tengah berjalan berdua dengan Fifi.

Tadi malam, Fifi menelponnya dan meminta tolong untuk ditemani ke toko buku usai pulang sekolah. Awalnya, dengan berbagai alasan Anton menolak ajakan Fifi.  Namun, satu jam kemudian Anton berubah pikiran. Ia balik menelpon Fifi dan menyatakan kesediaannya untuk menemani gadis itu.

Ini saat yang tepat baginya untuk bersikap jujur pada Fifi, pikir Anton.  Ia harus menegaskan agar Fifi tidak mengharapkan dirinya lagi.  Ia sudah lelah dengan permainannya selama ini dan ia pun merasa bersalah karena telah mempermainkan perasaan dua orang wanita.

“Anton, kenapa diam saja sejak tadi?”bisik Fifi ketika sudah duduk dalam kendaraan umum.

Anton menggeleng lesu.  Sejak tadi hatinya bimbang. Ketika di rumah Anton sudah mantap dengan keputusannya untuk berterus terang. Hatinya sudah jelas condong ke arah mana dan ia sudah yakin benar dengan pilihannya.  Ia akan mengungkapkannya pada  Fifi dan bahkan pada semua temannya.  Namun entah kenapa sekarang hatinya diliputi keraguan.  Tiba-tiba ia merasa tidak siap.  Ia tidak siap dengan reaksi Fifi dan ia pun tidak siap dengan reaksi teman-temannya nanti.

“Pasti ada yang kau pikirkan.  Dari tadi kau melamun terus,”desak Fifi.

“Fifi, aku…,” Anton berusaha keras mengumpulkan segala keberaniannya.  Namun sebelum Anton melanjutkan ucapannya, tiba-tiba Fifi memotongnya.

“Eh, kita harus turun.  Ini toko bukunya,”ujar Fifi sambil mengajak Anton untuk turun.

Mereka berdua turun dan berjalan memasuki halaman sebuah toko buku besar yang terkenal dengan kelengkapan buku-bukunya.

Hampir satu jam Fifi berputar-putar mencari buku yang dibutuhkannya.   Bahkan sepertinya ia lupa akan pertanyaannya tadi pada Anton.

Usai membayar pada kasir, Anton menarik tangan Fifi dan mengajaknya masuk ke dalam kantin yang terletak di lantai dasar toko buku tersebut.

“Anton, kau membuatku penasaran.  Ada apa? Tumben sekali kau mengajakku makan,”Fifi tertawa.

Anton menyeruput minuman dingin di depannya.  Tenggorokannya terasa kering dan segelas air dingin yang diminum pun rasanya tidak mampu menghilangkan rasa dahaganya.  Bayangan wajah Rini berkelebat berganti-ganti dengan bayangan wajah teman-temannya yang sering mengolok-olok gadis itu.

“Fifi…., kau sangat baik padaku, tapi…..” Anton menarik nafasnya dalam dan berusaha sekuat tenaga untuk melanjutkan ucapannya.

“Tapi apa?” sela Fifi tidak sabar.

“Tapi aku…aku tidak mau mengecewakanmu.”

“Maksudmu?”

“Aku tidak bisa berjanji apa-apa padamu.  Aku mohon kau jangan berharap banyak dariku.”

Fifi tersenyum.

“Kalimat itu dulu sudah pernah kau ucapkan padaku.  Dan bukankah aku sudah menjawabnya…. Aku akan menunggu sampai kau siap.”

“Jangan… Kau akan terombang-ambing dalam ketidakpastian.  Dan aku jadi merasa bersalah.”

“Tidak apa-apa.  Demi kau, apa pun akan kulakukan,”Fifi menjawab mantap.

Anton tidak tahu harus berkata apa lagi.  Ia mulai merasa putus asa.

“Kau masih suka padaku kan?” Fifi menatap Anton dengan penuh harap .

Anton tertegun memandangi Fifi.   Mata gadis itu sangat indah dan senyumnya pun sangat manis. Teman-temannya selalu menunjukkan rasa iri tiap kali melihat Fifi mendekatinya dan Anton tidak memungkiri kalau ia begitu menikmati pandangan iri teman-temannya itu.   Lagipula, Fifi sangat memujanya.  Perlakuan gadis itu padanya membuat Anton sungguh-sungguh merasa tersanjung.

“Anton, kau masih menyukaiku kan?”Fifi mengulangi pertanyaannya.

Lidah Anton terasa kelu.  Ia tidak tahu harus menjawab apa.  Rasa ragu semakin erat mencengkeram dirinya.  Ia tidak tega bila harus mengecewakan Fifi.

“Atau…. Apakah ada wanita lain yang kau suka saat ini?”ucapan Fifi bagaikan peluru tajam yang tepat sasaran bagi Anton.   Tiba-tiba Anton merasa sangat gugup.

Anton menatap Fifi nanar sambil berulang kali menelan ludahnya.  Luluh sudah seluruh kekuatan yang ia bangun sejak dari rumah.  Anton tidak berdaya melawan kemunafikannya sendiri.

“Tidak ada.  Tidak ada wanita lain,”tiba-tiba kalimat-kalimat tersebut meluncur di bibir Anton. Begitu cepat bagai kilat dan ia pun tidak sepenuhnya sadar dengan ucapannya sendiri.

Fifi menarik  nafas panjang sambil tersenyum lega.

“Kalau begitu, aku akan menunggumu.  Suatu saat kau pasti akan kembali padaku.”

dark-forest-3

http://wallpaper-gallery.net

Posted in Novel

YOU’RE THE INSPIRATION (part 20)

Di hari Minggu pagi yang cerah, Anton tengah menunggu Rini di rumah Daniel.  Hari ini mereka telah berjanji untuk pergi hiking bersama. Tante Ledya tampak sibuk mempersiapkan Daniel.

Seminggu yang lalu, mengikuti saran Rini, tante Ledya telah membawa putra tunggalnya itu ke seorang psikiater.  Saat itu Daniel positif didiagnosis sebagai penderita autis dan seminggu sekali ia harus kembali untuk menjalani terapi.  Psikiater itu pun menyarankan untuk diet serta memberikan beberapa program untuk dijalankan di rumah.  Ia juga  menganjurkan supaya bocah tersebut  sering melakukan kegiatan seperti hiking, berenang atau berkuda untuk membantu memperbaiki gangguan integrasi sensorisnya.

Tante Ledya menyambut baik keinginan Anton dan Rini untuk mengajak Daniel hiking ke Dago Pakar.  Namun ia tidak bisa ikut, dan menugaskan Asih untuk menemani Daniel.

Jam 06.30 tepat, Anton melihat mobil Rini telah tiba.  Kali ini Rini membawa mobil yang berbeda, lebih besar daripada yang biasanya ia bawa.   Anton pun keluar menyambut gadis itu dan   mengajaknya menemui tante Ledya.  Mereka berbasa-basi sebentar lalu segera pergi menuju Dago Pakar.

“Tante Ledya terlihat sangat pucat,”ujar Rini ketika di dalam mobil.

“Mungkin Ibu Ledya kelelahan,”sahut Asih yang duduk di belakangnya,”Hampir setiap hari Daniel tidur tengah malam dan bangun dini hari. “

Anton memperhatikan Rini yang tampak memikirkan sesuatu.

“Ada apa?”tanya Anton.

Rini menghela nafas.  Wajahnya tampak cemas.

“Menjadi seorang single parent yang memiliki seorang anak penderita autis, bukanlah hal yang mudah.  Sepertinya tante Ledya sudah mulai kehabisan tenaga,”ungkap Rini.

Anton  menggeleng.

“Tidak akan.  Ia seorang wanita yang sangat tegar.  Kau tidak usah khawatir,”katanya menenangkan.

Mobil meluncur cepat.  Anton melirik ke arah Daniel dengan perasaan lega.  Bocah itu tampak duduk manis sambil melihat ke arah jalan tanpa berkedip.

Sesampainya di tempat tujuan, mereka segera turun dari mobil dan memulai kegiatan hiking.  Pak Hari turut serta mengikuti mereka.   Tangannya menggenggam alat komunikasi HT.

“Apakah Pak Hari harus selalu mengikuti ke mana pun kamu pergi?”protes Anton pelan.

“Ssst….dia  ditugaskan ayahku untuk menjagaku,”Rini menaruh jari telunjuk di bibirnya.

“Tetapi, aku jadi tidak bebas.  Rasanya seperti sedang dimata-matai,”Anton merajuk yang disambut dengan derai tawa Rini.

Mula-mula Daniel digandeng oleh Asih yang tampaknya sudah mulai terbiasa dan tidak panik lagi mengasuh bocah itu.  Namun  Daniel tampak masih sulit untuk memusatkan perhatiannya dan acapkali mencoba melepaskan gandengannya dan berlari ke mana saja yang menarik minatnya.  Lama-lama Asih mulai kewalahan.  Anton dan Rini pun turun tangan.  Mereka menggandeng Daniel di tengah-tengah mereka berdua.

Beberapa kali Anton dan Rini digiring ke sana ke mari oleh bocah yang tenaganya kuat itu.  Rini, walaupun terlihat tidak banyak bicara, tampak sangat menikmati kebersamaannya dengan Daniel.

“Tidak kuduga, tenagamu kuat juga,”Anton menggoda Rini.

“Ya, donk!  Aku kan rajin berenang,“ tukas Rini bangga.

Di tengah jalan Asih berhenti.  Kakinya terkilir dan terasa sakit bila dipakai berjalan.  Pak Hari membantu Asih  duduk dan memijat-mijat kakinya

Anton dan Rini berdiri menunggu mereka.  Namun tiba-tiba Daniel melepaskan gandengannya dan berlari meninggalkan mereka.  Larinya sangat cepat.  Anton segera mengejar Daniel dan ketika sudah di dekatnya ia mendekap bocah itu sekuat tenaga.  Rini menyusul di belakangnya.

“Sepertinya Daniel tidak mau berhenti,”kata Anton sambil terengah-engah.  Ia terus memeluk Daniel yang terus berusaha melepaskan diri.

“Jadi…..? “tanya Rini.

“Kita jalan terus!”

“Asih dan Pak Hari bagaimana?” Rini terlihat cemas.

Anton tidak sempat menjawab, karena Daniel sudah lepas dari pelukannya dan mulai berlari lagi.  Anton dan Rini mengejarnya lagi dan mereka memegang erat tangan kanan dan kiri Daniel.

“Kita kembali ke tempat Asih dan Pak Hari,”pinta Rini.

“Jangan meminta kepadaku!  Mintalah pada Daniel!”seru Anton.  Ia mulai merasa panik karena Daniel mulai tidak dapat dikendalikan.

Rini menarik tangan Daniel untuk kembali ke jalan sebelumnya.  Namun Daniel meronta-ronta tidak mau.

“Dia  tidak mau melewati jalan yang sama!  Dia ingat dengan jalan yang pernah dilaluinya.  Kita harus mencari jalan lain untuk kembali ke tempat semula,”seru Anton lagi.

Rini pun menyerah.  Mereka berjalan terus melewati jalan yang berbeda, atau tepatnya melalui jalan yang ditentukan oleh Daniel.  Bocah itu mulai tenang dan menunjukkan rasa senangnya karena bisa menjadi King of the game dalam perjalanan itu.

Sebenarnya secara diam-diam Anton merasa berterima kasih pada Daniel.  Bocah itu telah membantunya melepaskan diri dari seorang mata-mata terhebat yang pernah ditemuinya, yaitu Pak Hari.  Dan kini ia bisa berjalan-jalan dengan Rini tanpa ada yang mengawasinya.

Sepanjang jalan Anton mencoba mengajari Daniel bernyanyi maupun berbicara.  Namun bocah itu tampak acuh dan lebih tertarik memperhatikan pepohonan yang dilewatinya.  Anton menjadi tidak habis pikir, bagaimana mungkin kakeknya selama ini bisa begitu sabar menghadapi dan mengajari anak ini.

“Kita seperti sepasang suami istri dengan seorang anak yang sama sekali tidak bisa diatur,”keluh Anton pada Rini.

Di tengah jalan, hujan rintik-rintik mulai turun.  Anton dan Rini berlari mencari tempat berteduh.  Tentunya dengan susah payah, karena harus membawa serta Daniel yang begitu sulit untuk dikendalikan. Mereka menemukan sebuah saung dan berteduh di dalamnya.  Tak lama kemudian, turun hujan lebat.

Daniel mula-mula memberontak dan ingin keluar dari saung.  Rini dan Anton harus berjuang keras menahan anak itu agar tidak lari.  Namun tiba-tiba sorot mata Daniel terpaku pada tetesan air dari atap yang bocor yang secara teratur jatuh ke lantai.  Bocah itu duduk di lantai dan matanya terus mengamati dengan serius.

Rini duduk di sebelah Daniel dan ikut memperhatikan tetesan air yang jatuh.

“Apa yang dia lihat?  Kenapa dia begitu tertarik?”bisik Anton.

“Tetesan air yang jatuh begitu teratur, seperti sebuah pola.  Daniel menyukainya,”Rini balas berbisik.

Sambil menunggu hujan reda, Rini memberi Daniel minuman dan roti yang dibawanya.  Bocah itu makan dengan lahap dan tak lama kemudian ia tampak mengantuk hingga akhirnya tertidur di pangkuan Rini.

Anton mendekati Rini dan duduk di sebelahnya.    Beberapa saat mereka saling berdiam diri.  Suhu udara terasa semakin dingin.  Anton menengok ke arah Rini.  Gadis itu hanya mengenakan kaos lengan panjang yang tipis dan tampak kedinginan.  Anton melepaskan jaketnya dan memakaikannya ke tubuh Rini.

“Kau tidak kedinginan?”tanya Rini cemas.

“Tidak.  Aku sudah biasa tidur di gunung,” Anton menjawab santai sambil memperhatikan hujan yang turun.

Rini mengamati wajah Anton, untuk memastikan pria itu tidak sedang berbohong. Beberapa saat kemudian Anton memalingkan wajahnya ke arah Rini dan mereka pun saling berhadapan.  Wajah mereka sangat dekat.  Begitu dekat.  Dan tiba-tiba Rini merasa bibir Anton telah menyentuh keningnya.  Sangat lembut.  Hanya dua detik.  Tetapi Rini butuh waktu bermenit-menit untuk menenangkan gemuruh di dadanya.  Ia sangat gugup dan tidak sanggup menatap mata Anton.

Anton menarik dagu Rini pelan dan menatapnya penuh penyesalan.

“Kau marah?” tanya Anton.  Perasaan bersalah menyergap dirinya.  Ia tidak tahu kenapa sampai nekad melakukan itu.

Rini menggeleng.

 “Maaf, aku tidak sengaja,” sesal Anton.  Ia benar-benar merasa telah berbuat lancang.

Rini mengangguk.

“Tidak apa-apa,” sahut gadis itu sambil  menunduk.

Satu jam kemudian hujan reda dan akhirnya berhenti.  Daniel pun telah bangun.  Mereka berjalan bersama menuju tempat parkir mobil.  Di sana Pak Hari dan Asih telah menunggu.  Pak Hari terlihat sangat cemas, tangannya sedang memegang HT yang tampaknya baru saja ia pergunakan.  –Rupanya dia sudah meminta bantuan  lewat HT – pikir Anton.  Anton pun meminta maaf padanya dan menjelaskan apa yang telah terjadi.

Mula-mula mereka mengantar Asih dan Daniel pulang.  Sedangkan Anton tetap di dalam mobil dan ikut mengantarkan Rini pulang ke rumahnya.

Sesampainya di rumah Rini,  mereka mendapatkan kejutan karena mobil Heru Herlambang ternyata telah diparkir di halaman.  Rini sama sekali tidak tahu kalau ayahnya akan datang hari ini.

Heru Herlambang sedang duduk-duduk di ruang keluarga ketika Anton masuk. Rini mengajak Anton mendekati ayahnya dan memperkenalkannya.

“Papa, ini Anton,”ucap Rini.

Anton mendekati Om Heru, begitu ia menyebutnya,  dan menyalaminya.  Heru Herlambang menatap Anton  lama, sorot matanya menghujam seperti hendak menelanjangi dan setelah itu ia pun mempersilakan Anton untuk duduk kembali.

Diam-diam Anton memperhatikan lelaki separuh baya tersebut.  Selama ini ia hanya mengetahui sosok Heru Herlambang lewat foto di majalah dan koran atau di televisi.  Wajah asli lelaki itu terlihat lebih muda, walaupun kerut-kerut halus di mukanya tidak dapat menyembunyikan usianya yang sudah mendekati kepala enam.  Kulitnya gelap seperti Rini.   Sikap dan ekspresi wajahnya pun mirip putri semata wayangnya itu, sama-sama mengesankan pendiam dan introvert.   Namun sorot mata mereka berdua sangat berbeda.  Mata Rini menyiratkan pribadinya yang rendah hati, sedangkan ayahnya terlihat percaya diri dan angkuh.

Heru Herlambang memulai percakapan dengan bertanya mengenai keluarga Anton serta kegiatan  yang dilakukannya di luar sekolah.  Mereka berbicara hanya sebentar.  Setelah itu beliau mengalihkan pandangannya pada Rini dan menanyakan keadaannya serta sekolahnya.  Itu pun dengan bahasa yang pendek-pendek dan dijawab dengan pendek juga oleh Rini.   Anton berusaha menyimpan keheranannya di dalam hati melihat cara berkomunikasi ayah dan anak tersebut.   Mereka sepertinya merasa asing satu sama lainnya.

Setelah  berbincang-bincang hampir satu jam yang kemudian diikuti dengan makan siang, Heru Herlambang pun pamit pergi karena harus segera kembali ke Jakarta.  Sebelum pulang, beliau bersalaman dengan Anton.  Sorot matanya terlihat lebih ramah dibandingkan ketika pertama kali bertemu tadi.  Entah kenapa, Anton merasa sepertinya pria itu sedang berterima kasih padanya.

“Apakah kalian selalu seperti ini kalau berkomunikasi?” bisik Anton ketika mengantarkan Heru Herlambang menuju mobil.

“Ya.  Kau bingung ya?” Rini balas berbisik sambil tersenyum maklum.

Anton menggeleng.

“Aku kagum padamu.  Kau benar-benar gadis yang hebat,” puji Anton tulus.

Ketika pintu mobil dibuka, Anton melihat seorang wanita di dalamnya.  Hanya sekejab.  Karena Heru Herlambang segera masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya dengan cepat.    Mobil pun meluncur pergi.

 “Rini…..,” wajah Anton menunjukkan rasa heran dan takjub.

 “Ada apa?” Rini terlihat bingung dengan sikap Anton.

“Bukankah wanita yang di dalam mobil tadi seorang bintang film terkenal, Anita Dewi?” Anton bertanya dengan hati-hati.

Rini mengangguk pelan.

“Dia kekasih papa,” ucapnya datar.

Anton menatap Rini seolah-olah tidak percaya dengan apa yang telah didengarnya.  Anita Dewi adalah bintang film dan foto model terkenal saat ini.  Namun ia sudah bersuami dan mempunyai seorang anak.  Suaminya pun seorang produser film terkenal.  Mereka telah menikah selama 10 tahun dan dikenal sebagai pasangan yang serasi.  Sedikit pun tidak ada gosip miring tentang pernikahan mereka.   Mereka senantiasa menjadi contoh pasangan yang harmonis di media.

“Sudah berapa lama mereka berhubungan?” tanya Anton lagi.

“Sudah hampir lima bulan,” Rini melihat ke arah Anton, “Kenapa?  Kamu heran karena tidak ada satu media pun yang mencium hubungan mereka?”

Anton tidak menjawab.  Matanya memandang terus ke arah Rini.

“Itulah kehebatan Papa!” lanjut Rini sambil tersenyum getir.

“Apakah kau tidak kecewa pada ayahmu?”

“Aku tidak bisa melarang ayahku berhubungan dengan wanita yang dicintainya,” jawab Rini sambil tersenyum.

Anton memutar dagu Rini lalu memandangnya dengan sungguh-sungguh.

“Sungguh?  Kau tidak apa-apa?” Anton tidak dapat menyembunyikan kecemasannya.

Rini mengangguk tegas.  Sorot mata gadis itu menunjukkan ketegaran.  Anton merasakan keharuan di dadanya serta gejolak yang tumbuh di hatinya semakin tak terbendung. Perlahan Anton memeluk Rini erat. Sekarang ia semakin memahami betapa menderitanya batin Rini selama ini.  Dan ia pun semakin mengerti mengapa almarhum Armand begitu menyayangi dan melindungi adiknya, namun ia menghancurkan dirinya sendiri.

“Anton, ada apa?” Rini terlihat gugup sekaligus bingung melihat reaksi Anton.

Anton tidak peduli.  Ia terus memeluk Rini.

“Apakah sangat sulit bagimu  untuk menangis?”tanya Anton lembut.

“Anton, ucapanmu malah membuatku ingin menangis.”

“Kalau begitu menangislah.  Aku akan menemanimu.”

Anton tidak dapat melihat wajah Rini.  Namun samar-samar didengarnya isakan halus yang semakin lama semakin kuat.  Ini untuk pertama kalinya Rini menangis terisak-isak di depannya.  Rini  sepertinya sedang menumpahkan segala kesedihan dan kegundahan yang dipendamnya selama ini.  Anton semakin mempererat pelukannya dan dibiarkan dadanya dibasahi air mata gadis itu.

Anton merasa tidak perlu berkata apa-apa lagi.  Rasa sayang dan kagumnya pada gadis itu semakin bertambah.  Ia pun berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan selalu berada di sisi Rini selamanya serta menjaga hatinya.